Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Menjelaskan Pada Delfin


__ADS_3


...***...


Cia tidak peduli dengan teriakan Pram yang mengejarnya. Dengan kondisi tubuh yang masih lemah dan berbalut seragam pasien, Cia berjalan tertatih keluar dari rumah sakit. Baginya saat ini yang terpenting adalah menjelaskan semua kebenaran kepada Delfin. Ia tidak peduli dengan larangan perawat yang menyuruhnya kembali ke kamar perawatan. Cia terus memberontak dan berjalan keluar menuju lobi rumah sakit untuk mencari taksi.


“A-aku harus menemui Delfin,” ucap Cia saat tiba di depan lobi.


Kebetulan saat itu ada sebuah taksi yang tinggal. Tanpa peduli teriakan Pram yang berada beberapa meter di belakangnya, Cia masuk ke dalam taksi tersebut.


“Pak, tolong jalan sekarang juga!” Setelah memberitahukan alamat yang dituju, taksi tersebut meninggalkan rumah sakit.


Sementara Pramono bergegas menelepon sopir pribadinya agar menyusul Cia menemui Delfin.


Di dalam taksi, Cia terus menerus memegang amplop yang menjadi bukti anak yang dikandungnya adalah anak Delfin. Rasanya ia tidak percaya dengan apa yang dilakukan kakeknya selama ini untuk memisahkannya dengan Delfin.


Cia tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi ia senang dengan kabar kehamilan yang ternyata anak tersebut adalah anak Delfin. Di sisi lain, ia juga sangat marah dan kecewa karena Pram dengan sengaja menyembunyikan fakta kehamilan yang sebenarnya. Sehingga rumah tangganya semakin hari semakin jauh dari kata tentram. Apalagi sejak Delfin mengetahui anak yang dikandung Cia ternyata bukanlah anaknya, membuat raut wajah laki-laki itu penuh dengan amarah dan tidak ingin melihatnya lagi sebagai seorang istri.


Taksi berwarna putih berhenti di lobi apartemen mewah. “Tunggu sebentar, ya Pak,” kata Cia keluar dari taksi berjalan menuju pos satpam yang berjaga. Berhubung dengan kondisinya yang tidak membawa uang sepersen pun, ia pun meminjam uang seratus ribu kepada satpam yang dikenalinya.


“Ini, Mba Cia,” ujar satpam tersebut menyerahkan uang berwarna merah dari saku kantongnya. Walau dalam benak satpam tersebut bertanya-tanya dengan penampilan Cia yang pucat pasi dan berseragam pasien, ia urungkan karena melihat kondisi Cia yang kurang sehat.


“Terima kasih, Pak. Nanti aku ganti lima kali lipat.” Cia buru-buru mengambil uang tersebut kemudian membayar taksinya. Kebetulan saat itu Pramono belum sampai di apartemen, sehingga dengan terpaksa Cia mengutang pada satpam.

__ADS_1


Dengan langkah tertatih sembari memegang perutnya, Cia menuju lift yang akan membawanya menuju unit Delfin.


...***...


Di saat yang bersamaan, Delfin yang tengah berada di dalam kamarnya merasa tidak tenang. Seperti sesuatu akan datang kepadanya. Namun, entah apa, dia pun tidak tahu. Semenjak mengetahui perihal kehamilan Cia yang mengandung bukan darah dagingnya, Delfin seolah tidak peduli lagi perihal kehidupan sang istri. Di saat dirinya tengah duduk termenung menenangkan diri yang sejak tadi gelisah, suara pintu terbuka pertanda seseorang masuk ke dalam unitnya.


Delfin pun segera keluar dari kamar dan mengecek siapa yang datang. Tidak mungkin Ziya, pikirnya.


Alangkah terkejutnya Delfin saat tahu siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.


Dengan kondisi tubuh yang lemah, Cia menghambur masuk ke dalam pelukan Delfin.


“Fin, a—ku ingin bicara.” Dengan napas tersengal Cia berkata pada lelaki yang tidak bereaksi apa pun dalam pelukannya tersebut.


“Apa lagi yang kau ingin bicarakan? Bukankah semuanya sudah usai. Dan sekarang kenapa kamu ke sini? Bukannya kamu sedang sakit?” tanya Delfin, sembari mengurai pelukan Cia.


Sampai Cia angkat suara barulah Delfin menoleh.


“Sayang, buka amplop ini. Di situ tertulis bahwa anak yang aku kandung adalah anak kamu, bukan anak Farel," ungkap Cia dengan air mata yang menganak sungai membasahi wajah pucatnya.


"Siapa yang memberikan surat itu?" Delfin tak lantas mengambil suratnya. Ia curiga hal itu hanya akal-akalan kakeknya saja.


"Dari kakek."

__ADS_1


Jawaban Cia membuat Delfin menampilkan senyum smirk-nya. Laki-laki ganteng itu tidak percaya dengan ucapan Cia yang menurutnya membual. Bukankah selama ini Delfin selalu diperalat oleh Pramono. Sehingga apa pun yang Delfin lakukan semuanya tidak ternilai di mata kakek tua itu.


“Apakah karena Farel tidak mau bertanggung jawab menikahimu, lalu kakek limpahkan anak ini kepadaku dan membuat cerita baru? Jangan gila, Cia. Aku sudah bukan Delfin yang dulu lagi yang bisa kakekmu anggap sebagai bidak caturnya. Aku tidak peduli lagi itu anak siapa. Lagipula kamu juga sudah mengaku pernah tidur dengan lelaki itu. Jadi, berhentilah mengarang cerita baru dan segera pergi dari apartemen ini!” usir Delfin dengan raut wajah memerah. Ia tidak tahan menatap Cia yang terus menerus menangis. Jujur hatinya sakit melihat orang yang dicintainya terpuruk. Bukan berarti Delfin mudah luluh. Ia hanya berusaha mengontrol emosinya saja.


Cia menggeleng. Ia berusaha meraih tangan Delfin. “Aku tahu selama ini kakek selalu mengelabui kita untuk memisahkan kita demi ambisinya. Namun, sejak beberapa hari kemarin aku di rawat di rumah sakit, kakek menguak fakta mengejutkan ini. Anak yang aku kandung adalah darah dagingmu, Delfin. Darah daging kamu.” Cia mengungkapkan itu dengan deraian air mata bahagia, tetapi Delfin masih belum memercayainya.


“Sudah cukup, Cia! Aku tidak mau menjadi korban kelicikan kakekmu lagi. Cepat keluar dari sini. Kamu harus segera kembali ke rumah sakit." Delfin melepaskan genggaman tangan Cia.


“Apa yang dikatakan Cia memang benar, Delfin.” Pramono yang baru tiba langsung masuk ke dalam apartemen Delfin. Berusaha membantu Cia untuk menjelaskan semuanya.


Tatapan Delfin beralih pada kakek Pramono yang berdiri di belakang Cia.


“Drama baru apalagi yang sedang kakek mainkan saat ini?” sarkas Delfin. Kini Delfin sudah tidak berucap sopan lagi pada Pramono semenjak kehadiran laki-laki tua itu menghancurkan rumah tangganya, Delfin sudah tidak memiliki rasa hormat pada laki-laki renta di depannya saat ini.


Dengan tubuh yang kaku dan renta, kakek Pramono menekukkan kedua kakinya ke lantai dan bersimpuh di depan Delfin.


“Kakek tahu diri jika perbuatan kakek tidak bisa termaafkan. Kamu bisa menghukum kakek sepuas kamu. Tetapi tolong, demi Cia dan anakmu yang ada di dalam kandungannya, kakek mohon maafkan Cia. Ia juga menjadi korban dari keegoisan kakek. Selama di rawat di rumah sakit kondisi Cia terus drop, tapi setelah kakek mengungkapkan kebenaran tentang kehamilannya ia bersikukuh untuk menemuimu dan menjelaskannya. Jika kamu tidak percaya dengan semua ucapan kakek kamu bisa menghubungi dokter yang memeriksa kehamilan Cia pertama kali,” ungkap Pramono panjang lebar.


Delfin tertegun melihat Pram yang bersedia bersimpuh di depannya dengan kedua tangan yang mengatup di depan dada. Bukan seperti Pramono yang dikenalnya selama ini. Apakah kali ini dia tidak berbohong lagi?


Delfin menatap Cia dan Pramono bergantian. Hingga beberapa saat waktu berjalan dalam keheningan, akhirnya hati Delfin luluh juga. Dengan tangan yang bergetar, Delfin meraih amplop coklat yang masih dipegang Cia, lalu membaca isinya. Hati Delfin bergemuruh ketika membaca laporan itu. Air matanya mengalir tanpa diminta, hatinya meyakini hal itu benar adanya. Ia terharu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Delfin langsung meraih Cia ke dalam pelukannya. Sebelumnya, ia sudah meminta kakek Pram berdiri dari posisinya. Kini, kakek tua itu tersenyum melihat cucunya kembali tertawa.


...***...

__ADS_1



...Bentar lagi mau end, ya, Readers. Kasih like sama komentarnya, dong. Buat kenang-kenangan othor 🥰...


__ADS_2