
...***...
"Zi? Kamu kenapa?" Melihat Ziya hanya tercenung mendengar ceritanya, Delfin pun bertanya heran.
"Ah, aku nggak pa-pa. Hanya nggak habis pikir saja sama kakeknya Bu Cia. Padahal dia sudah kaya raya, masih saja mempermasalahkan punya menantu orang tak punya. Padahal tinggal dia wariskan saja hartanya itu sama cucunya, suaminya juga pasti akan ikutan kaya."
Mendengar itu Delfin jadi tertawa. "Kamu ini ada-ada saja. Pemikiran orang kaya dan orang seperti kita itu beda," pungkas Delfin di sela tawanya.
"Loh, bukannya perkataanku benar?" Ziya masih kekeuh dengan argumennya. Delfin pun menggelengkan kepalanya dengan kepolosan perempuan itu.
"Iya, benar menurut kamu, tapi menurut kakeknya Cia itu sangat salah," sanggah Delfin.
"Tapi–"
"Udah, lah. Jangan dibahas lagi! Biarkan itu menjadi penyemangatku untuk membuktikan cintaku buat Cia. Aku ingin membuktikan pada kakeknya Cia, jika aku bisa berhasil tanpa bantuan dari hartanya." Ucapan Ziya terpotong oleh penjelasan Delfin yang lagi-lagi membuat hatinya terenyuh dan tersentuh.
"Kita ke arah mana?" Delfin bertanya saat mereka menemukan jalan persimpangan tiga.
Ziya sontak menolehkan kepalanya ke arah depan. "Belok kanan," jawabnya kemudian.
Delfin membanting setir ke arah kanan, dan mobil pun mengarah ke arah yang ditunjuk oleh Ziya. Beberapa menit kemudian mereka sampai di panti asuhan tempat Ziya tinggal. Delfin pun mampir dan berkenalan dengan semua penghuni panti tersebut, lalu berbincang sejenak dengan Erna tentang masalah yang sedang melanda panti.
...***...
__ADS_1
Seminggu kemudian, Delfin ada acara pentas di luar kota. Acara tersebut berjalan dengan lancar tanpa ada halangan. Setelah acara selesai, pihak panitia penyelenggara acara pentas tersebut mengajak Delfin untuk makan dan minum bersama di sebuah bar guna merayakan kesuksesan pentas mereka.
Delfin ingin menolak, tetapi ia merasa tidak enak. Akhirnya dia bersedia dan mengajak Ziya ikut serta. Hingar bingar suasana bar sungguh membuat Ziya tidak nyaman, begitu pun dengan Delfin. Awalnya, Ziya mengira Delfin sudah terbiasa ke tempat seperti itu sebelum Ziya menjadi manajernya. Namun, pikiran itu segera ditepis oleh Ziya manakala Ziya melihat dengan mata kepalanya sendiri, Delfin menolak tegas tawaran untuk meminum minuman beralkohol dari ketua panitia acara yang bernama Jamal.
"Maaf, Pak. Saya tidak minum minuman itu. Saya minta jus jeruk saja, pesankan dua untuk manager saya juga," pinta Delfin kepada Jamal.
"Oh, oke. Saya nggak nyangka artis kita ini anti alkohol," cetus Jamal sambil tertawa kecil. Dari penampilan Delfin dan sikapnya yang terlihat tengil, membuat Jamal berpikir jika Delfin adalah lelaki yang yang bisa diajak clubbing.
Semua itu tak luput dari perhatian Ziya. Perempuan itu masih enggan berkomentar dan masih memperhatikan sikap Delfin yang sangat berbanding terbalik dengan apa ia kira sebelumnya. Semakin ia mendalami sosok lelaki itu, semakin ia tahu jika Delfin tidak seperti apa yang dituduhkan Pram tempo lalu.
"Halo, Mas Delfin." Kedatangan dua orang perempuan cantik dengan mengenakan baju sexy dan mini menjadi sorotan Ziya selanjutnya. Kedua perempuan yang dikenal sebagai kupu-kupu malam itu mendekati Delfin dan langsung bergelayut manja di kedua sisi tangannya.
"Maaf, jangan kayak gini! Saya risih." Delfin dengan tegas menolak kedua perempuan itu.
"Kalian sengaja dibayar buat menggoda saya?" berang Delfin langsung beranjak berdiri. Pandangannya langsung beralih pada Jamal. "Anda sengaja?" tanyanya kesal.
Ziya ingin sekali menahan Delfin, tetapi pertunjukan ini terlalu asyik untuk dia tonton. Bukan, ia hanya ingin memastikan lagi, jika seorang Delfin memang bukan playboy seperti yang dikatakan Pram.
"Maaf, Mas. Kami hanya ingin membuat Mas Delfin senang. Ini hanya ungkapan terima kasih dari kami saja," kilah Jamal membuat alasan.
Delfin semakin geram, raut wajahnya terlihat merah padam menahan rasa kesal. Ya, Delfin tidak boleh gegabah, sebisanya dia harus menahan amarah. Bagaimanapun dia adalah publik figur, yang segala aktivitasnya akan langsung menjadi tranding topik jika dirinya berbuat onar. Apalagi kalau sampai memukuli orang, pasti langsung jadi hot news di semua beranda media sosial.
"Anda, kan, tahu saya ini publik figur? Kenapa Anda berani melakukan ini? Bagaimana kalau tersebar ke media dan menjadi bahan fitnah? Itu akan mencoreng nama baik saya!"
Sial! Ziya tertipu lagi. Ternyata Delfin menolak semua yang diberikan oleh Jamal hanya karena takut ketahuan media, dan image-nya akan hancur sebagai artis terkenal. Bukan karena setia pada istrinya. Dasar playboy kelas kakap! Bisa-bisanya tadi Ziya sempat terpana. "Brengsek! Bisa-bisanya aku tertipu. Aku mau lihat sampai di mana pertahanan kamu sama godaan perempuan sexy itu, Delfin? Atau jangan-jangan, di belakang layar nanti kamu akan meminta Jamal untuk menyiapkan perempuan itu agar langsung masuk kamar?" batin Ziya bersungut-sungut.
__ADS_1
Namun, di luar dugaan Ziya. Perkataan Delfin selanjutnya membuat praduga itu seolah beterbangan tertiup angin ketulusan dan kesetiaan yang diembuskan oleh Delfin dengan lantang. "Asal Anda tahu Pak Jamal. Saya adalah lelaki beristri. Istri saya bahkan lebih cantik dan lebih sexy daripada perempuan-perempuan ini. Saya sudah cukup puas dengan bayaran yang Anda berikan. Tidak perlu Anda menambahkan bonus konyol seperti ini. Mohon maaf saya harus pulang, besok masih ada jadwal yang harus saya kerjakan. Permisi."
Setelah berkata seperti itu, Delfin menarik tangan Ziya lalu pergi begitu saja. Semua orang di sana masih tercengang dengan pengakuan Delfin. Termasuk Ziya. Di sela langkahnya, ia masih sempat mencuri pandang menatap wajah tampan sosok artis dalam manajemennya tersebut.
Delfin masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di area club malam tersebut. Sudah ada Bagus yang setia menunggu di balik kemudi mobil. "Sekarang kita ke mana, Pak?" tanya Bagus pada Delfin yang sudah masuk ke dalam mobil bersama Ziya. Delfin duduk di kursi penumpang, sedangkan Ziya duduk di samping Bagus.
"Kita balik ke hotel aja! Para kru yang lain juga mungkin sudah balik ke sana. Karena besok masih ada jadwal manggung di kota lain. Iya, kan, Zi?" Delfin bertanya pada manajernya tentang jadwal manggungnya lagi.
"I–iya, Fin," jawab Ziya gugup. Ia masih belum move-on dari sikap gentleman seorang Delfin di club tadi.
"Kamu kenapa, Zi? Kayak gugup gitu?" tanya Delfin yang merasa heran dengan sikap Ziya.
"Nggak apa-apa, kok. Aku cuma kaget aja tadi. Aku nggak nyangka kalau panitia penyelenggara acara itu sudah menyiapkan hadiah yang 'bagus' buat kamu," cetus Ziya sembari terkekeh meledek Delfin.
Delfin mendengus sebal. "Bagus apanya?! Kalau saja Cia tahu, dia pasti akan langsung menggugat cerai aku. Dan kamu tahu? Saat itu bukan hanya karirku yang hancur, tapi jiwa dan ragaku juga pasti ikutan hancur. Aku tidak akan bisa hidup tanpa Cia. Dia segalanya buat aku. Kalau dia ninggalin aku, mungkin aku nggak akan punya semangat buat melanjutkan hidupku lagi."
Lagi, Ziya tersesat dengan perasaannya sendiri. Andai saja dia bertemu Delfin lebih dulu daripada Cia. Andai saja dia tidak punya masalah keuangan dan berakhir menjadi seorang penggoda. Andai saja yang dicintai oleh Delfin adalah dirinya. Andai saja ....
Pikiran Ziya dipenuhi oleh pengandaian yang menyesatkan. Membuat rasa kesalnya terhadap takdir Tuhan semakin muncul ke permukaan. Ziya mengolah kata 'andai' dengan pikiran yang gamang, sembari menatap sosok Delfin yang diam-diam dia idamkan.
...***...
...Jangan lupa dukungan kalian. Klik tombol like, komentar, dan favoritnya, ya ❤...
__ADS_1