
...***...
Masih dalam diamnya, Ziya bingung harus melakukan hal apa untuk menghadapi Kakek Pramono dan semua anak buahnya yang bengis dan kejam. Mereka pasti tak akan tinggal diam untuk meluluhlantahkan panti asuhan Kasih Bunda. Tempat Ziya dan adik-adiknya mendapatkan kasih sayang dari wanita paruh baya yang berhati malaikat. Bu Erna adalah sosok wanita tanpa anak yang begitu telaten mengajarkan dan mendidik semua anak di sana. Haruskah semuanya hancur sebab ulahnya Ziya? Ziya merasa dilema. Menangis pun sudah tak dapat ia lakukan untuk saat ini.
Pikirannya terus berputar apa yang harus dia perbuat. Dengan langkah gontai, ia pun berjalan keluar restoran mewah tersebut dan tak lupa memesan ojek online. Dia bingung harus ke mana untuk saat ini, sedangkan pikirannya masih gamang dan bingung sendiri.
"Delfin, Bu Cia ... maafkan aku, untuk semua luka yang telah kugoreskan di hati kalian berdua. Aku melakukan hal ini sebab terpaksa," gumam Ziya. Akan tetapi, ia tidak akan membenarkan kesalahan yang ia lakukan, dengan alasan apa pun. Direnungi semua peristiwa demi peristiwa yang dilalui Ziya saat sengaja masuk ke dalam hubungan suami istri yang harmonis kala itu.
Tanpa terasa ia pun sampai di depan bangunan sederhana, yang dalam waktu dekat akan rata dengan tanah. Ancaman Pram saat mendengungkan hal itu masih terekam jelas dalam otaknya. Dengan wajah murung ia melangkah perlahan. Diperhatikan setiap sudut rumah itu. Tempat ia ditemukan dan dirawat dengan kasih sayang. Air mata jatuh berderai membasahi pipi yang terlihat sedikit kusam. Ditambah luka lebam yang masih sedikit tersisa bekas tamparan Cia di pipi belum juga hilang. Ziya menerima dengan ikhlas, anggap saja itu adalah hukuman untuknya yang dengan sadar melakukan kesalahan fatal.
Erna yang melihat anaknya tidak bersemangat dan sedih pun merasa heran. Ia pun menghampirinya, lalu bertanya.
"Ziya, kamu kenapa, Nak? Bunda lihat wajahmu terlihat sedih? Cerita sama bunda, siapa tahu bisa membuat hatimu sedikit tenang," todong Erna merasa khawatir.
Ziya pun ragu ingin menceritakan semuanya kepada ibu asuhnya tersebut, karena selama ini ia melakukan sesuatu yang salah. Ia khawatir jika Erna tahu, wanita paruh baya itu akan kepikiran dan membuatnya jatuh sakit. Namun, cepat atau lambat Erna harus tahu semuanya. Setidaknya dia tidak akan kaget saat Pram merealisasikan ancamannya. Saat ini Ziya merasa serba salah.
__ADS_1
Embusan napas kasar pun terlontar dari indera pernapasan Ziya. Ziya pun memberi penjelasan pada Erna dengan perlahan, agar perempuan itu tidak emosional. Ia pun bercerita sedari awal tanpa ada yang ditutupi. Semuanya mengalir begitu saja, niatnya hanya ingin membuat adik-adik pantinya bahagia, tetapi caranya salah.
Setelah mendengarkan penjelasan Ziya, Erna pun membuka suara. “Tidak ada yang salah, Nak. Kamu sudah berusaha untuk mempertahankan rumah ini dan kesejahteraan panti, tapi bunda tetap tidak bisa membenarkan semua yang kamu lakukan. Kalau sudah seperti ini kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Sayang. Semoga semuanya akan baik-baik saja, ya. Bunda akan mencoba berbicara dengan Tuan Pramono, agar dia memberikan waktu lagi kepada kita untuk mencari tempat tinggal sementara, sebelum panti ini benar-benar digusur olehnya." Dengan sabar Bu Erna membelai kepala Ziya. Tetap memberikan nasihat yang membuat hati Ziya nyaman serta damai. Ziya hanya bisa pasrah dengan keadaan.
...***...
Beda halnya dengan Cia, ia begitu frustrasi dan sangat menyesal dengan sikapnya selama ini kepada Delfin. Ternyata suaminya itu tak pernah berbuat yang ia tuduhkan, tetapi dirinyalah yang telah mengkhianati Delfin. Cia sungguh menyesal kenapa ia tega berbuat hal seperti itu.
Setelah bosan berada di taman, ia pun melajukan mobilnya dengan santai menuju apartemen Delfin. Ia ingin mengenang semua kisah cintanya yang sangat indah bersama Delfin. Sekaligus ingin bertemu lelaki itu, tiba-tiba dirinya begitu rindu.
Beberapa kali memencet bel pintu tanpa sahutan dari dalam, membuat Cia yakin jika suaminya sedang berada di luar. Ia pun mencoba memencet kode akses pintu tersebut agar terbuka, dan ternyata Defin belum mengantinya. Cia dengan perlahan masuk ke dalamnya. Sesaat terdiam, Cia menghirup aroma ruangan yang membuatnya tenang. Merasakan setiap kenangan manis yang tersimpan di setiap sudut ruangan.
Berjalan menyusuri setiap detail ruangan ini. Tidak ada satu pun yang diubah oleh penghuninya, semua masih sama seperti dua tahun yang lalu. Letak poto pernikahan mereka yang dipajang rapi dan berukuran besar masih terpampang di dinding ruang utama. Vas bunga cantik hadiah ulang tahun Cia kala itu masih berada di tempatnya. Cia pikir Delfin akan membuangnya.
Mengingat semua itu, hati Cia semakin teriris sakit. Semuanya hancur oleh ulahnya sendiri. Membuka pintu balkon lalu berdiri di antara pembatas pagar. Termenung sejenak sebelum Cia tiba-tiba berteriak,
"Mengapa ini terjadi pada kisah cinta kita, Fin?" Cia menangis sejadi-jadinya. Sedikit lama, hingga suara tangis itu perlahan melemah dengan sisa isakan dan tubuh yang masih bergetar.
__ADS_1
"Aku sangat mencintai kamu, tapi aku malu. Aku bisa apa tanpamu, Fin. Tolong bantu aku untuk bangkit dari rasa kecewa ini! Bantu aku ...." Ucapan Cia kali ini terdengar begitu lirih. Diiringi butiran bening yang masih mengalir melewati pipi.
Cia benar-benar merutuki kebodohannya. Ia yang tak pernah bersyukur atas semua kehidupannya, suami yang sangat mencintainya, tetapi kenapa dengan mudahnya berpaling hati. Penyesalan datang setelah semuanya terjadi, penyesalan yang tiada bertepi.
Apalagi dilengkapi dengan kenyataan, jika kakek yang begitu dicintainya telah menghancurkan rumah tangganya yang ia bangun dengan cinta dan perjuangan. Perlahan Cia menyentuh perutnya. Ada janin di dalamnya yang diakui milik Farel. Cia meringis perih, seandainya itu adalah janin milik Delfin, sangat dipastikan mereka berdua akan berbahagia.
Rasanya Cia berdosa besar kepada suaminya karena sudah menuduhnya sangat kejam. Andaikan ia tidak mendengarkan omongan kakeknya, mungkin hal menyakitkan ini tidak akan pernah terjadi. Dan posisi Delfin masih terus menjadi suaminya. Namun, apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Kini ia malah terjebak dengan permainannya sendiri. Mengandung benih dari laki-laki lain yang bukan darah daging Delfin.
Sesal tiada henti menggelayuti hati dan pikiran Cia. Semakin hari kondisi wanita hamil itu makin buruk diakibatkan morning sickness yang menyiksanya. Hati Cia kembali berdenyut tatkala mengingat semua perlakuan Delfin jika dirinya kurang sehat. Delfin dengan setia menjaganya, mendampinginya, bahkan laki-laki itu rela begadang demi kesembuhan sang istri. Namun, kini sudah tidak berlaku lagi.
Delfinnya sudah tiada sejak fakta yang menyakitkan mencuak ke permukaan mengenai anak yang dikandung Cia. Delfin benar-benar marah dan meninggalkan Cia begitu saja. Mengingat kenyataan itu membuat darah Cia kembali bergerumuh, rasa panas membakar hatinya. Rasa sesak tiada terkira membelenggu jantungnya. Hingga tubuhnya tidak mampu menahan itu semua.
"Cia!" Seseorang menangkap tubuh Cia yang terkulai tidak berdaya. Tentu saja itu suaminya.
...***...
__ADS_1