
...***...
"Apa yang kamu lakukan?" Cia tersentak manakala Delfin merebut lalu melemparkan tas hadiah dari Farel dengan kasar. Perempuan itu berjalan mendekati tas tersebut lalu mengambilnya.
"Kenapa? Kamu nggak rela hadiah mahal dari Farel itu aku lempar? Apa itu terlalu berharga? Lebih berharga dari janji kamu?" sungut Delfin.
"Apa maksud kamu? Janji apa?" Cia mengernyit bingung. Sepertinya dia belum sadar akan kesalahannya tersebut.
"Kamu sudah janji tidak akan berhubungan dengan Farel lagi, Cia. Apa kamu lupa, atau pura-pura lupa?"
Cia terdiam mendengar itu. Dia baru sadar jika suaminya cemburu.
"Kami hanya bertemu sebentar. Dia baru pulang dari Australia, dan ingin memberikan aku hadiah. Memangnya kamu pernah memberikan aku hadiah mewah?"
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Aku memang tidak sekaya Farel, tapi bagaimanapun juga aku ini suami kamu. Seharusnya kamu hargai aku!"
Cia tersenyum miris. Terlihat meremehkan di mata Delfin. Entah kenapa hatinya lebih sakit melihat itu, seolah istrinya sedang menunjukkan jati dirinya yang hanya orang biasa saja.
"Aku harus apa untuk bisa menghargai kamu?" Cia bertanya seolah menantang. Gayanya yang angkuh memperlihatkan betapa berbedanya kasta di antara mereka sekarang.
"Seharusnya kamu bilang sama aku ke mana pun kamu pergi. Bukannya langsung pergi begitu saja saat Farel menghubungi kamu pagi-pagi. Apa kamu begitu merindukan dia, hingga kamu lupa dengan suamimu ini?"
"Delfin!" Cia membentak. Napasnya menggebu menahan amarah yang sudah memburu. Keduanya sejenak diam dengan tatapan tajam penuh keegoisan.
"Apa kamu pikir aku juga nggak cemburu dengan kemesraan kamu dengan manajer kamu? Kalian begitu menjiwai memerankan peran sebagai pasangan di konser tadi malam," imbuh Cia membalas kesal.
"Itu hanya sebuah konser, Cia. Hanya tuntutan peran, dan aku harus profesional."
"Tapi tidak harus semesra itu!"
__ADS_1
Delfin mengusap wajahnya kasar, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Merasa tidak habis pikir dengan kecemburuan Cia yang tidak masuk akal. Kenapa dia tidak mengerti jika seorang artis harus bersikap profesional di depan para penggemar.
"Apa kamu mencoba mengalihkan kesalahan kamu dengan membahas pekerjaan aku?" Delfin menghunuskan tatapan curiga terhadap Cia.
Cia berdecak karenanya. "Buat apa? Aku nggak merasa salah."
"Egois!" Delfin berucap sinis.
"Kamu yang egois! Kamu nggak ngerti sama perasaan istri kamu sendiri. Istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain di depan umum. Bahkan semua orang mengelukan jika kalian adalah pasangan yang sempurna. Lalu aku ini apa? Kamu pikir aku hanya lemari pajangan yang hanya kamu simpan di rumah sebagai hiasan ...?"
Terjeda sejenak, Cia mengolah pernapasannya yang hampir kehabisan oksigen karena amarah.
"Apa kamu pernah memperkenalkan aku sebagai istri kamu di hadapan media, di hadapan para fans kamu itu?"
Delfin terdiam. Raut bersalah terlihat mengantikan ekspresi kesal di wajah Delfin. Ia ingat jika dirinya memang belum pernah membawa Cia ke depan media. Bukannya apa-apa. Delfin hanya tidak mau Cia dipuja oleh laki-laki di luar sana. Cukup dirinya yang mengagumi Cia. Seegois itu memang cintanya.
"Sayang ...."
"Hubungan kita sudah nggak sehat, Delfin. Sebaiknya kita nggak perlu bertemu untuk beberapa waktu. Kita butuh waktu untuk memantapkan hati kita. Apa masih ada cinta untuk kita berdua di dalamnya."
"Enggak, Sayang." Delfin menggelengkan kepalanya. Kakinya melangkah maju mendekati istrinya. Tentu saja Cia bergerak menjauhinya.
"Sebelum kamu yakin jika perasaan yang kamu simpan untuk perempuan itu hanya sebatas pekerjaan, jangan pernah menghubungi aku atau menjemputku pulang! Aku yakin kamu ada perasaan dengan perempuan itu. Jika tidak, kamu tidak akan keberatan jika harus mempunyai manajer baru."
Kalimat panjang lebar itu menjadi kalimat perpisahan sebelum Cia memutuskan untuk pergi. Dia tidak peduli dengan Delfin yang terus memanggil namanya, tetapi tidak berusaha untuk mengejarnya. Delfin tahu hal itu akan percuma, karena Cia terkenal keras kepala.
...***...
"Hei, Sayang. Pagi-pagi udah cemberut aja. Kenapa? Berantem lagi dengan suamimu?" Pram bertanya ketika Cia telah sampai di rumahnya. Raut wajahnya yang kusut tidak bisa menyembunyikan betapa kacau hati perempuan tersebut.
"Aku kesel banget sama Delfin, Kek. Dia masih saja mempertahankan manajernya itu." Cia menghempaskan tubuhnya di sofa, berdampingan dengan kakeknya yang juga duduk di sana.
__ADS_1
"Kakek udah bilang berkali-kali, tinggalkan dia! Masih banyak laki-laki yang lebih baik di luar sana. Kamu itu cantik, Sayang. Pasti gampang untuk mencari pasangan walaupun dengan status cerai."
Cia menghela napasnya mendengar usul sang kakek. Merasa jenuh karena kakeknya yang selalu memberikan solusi seperti itu. Walaupun kemungkinan perpisahan akan terjadi dalam konflik rumah tangganya, hal itu akan menjadi solusi terakhir yang akan diambil Cia. Bagaimanapun Cia masih sangat mencintai suaminya, sebisa mungkin ia ingin mempertahankan rumah tangganya.
"Kamu itu terlalu dibutakan oleh cinta. Suami udah jelas selingkuh masih saja dimaafkan." Melihat jika cucunya terkesan tidak suka dengan ucapannya, Pram malah menambah bumbu kebencian di hati Cia.
Kepala Cia yang bersandar di sandaran sofa menoleh pada kakeknya. Sedikit menggigit bibir bawahnya, seolah ragu untuk mengutarakan sesuatu. Bicara soal selingkuh, sepertinya Cia juga begitu. Perbuatannya dengan Farel mungkin lebih keterlaluan dari apa yang Delfin lakukan. Atau mungkin saja mereka imbang.
"Aku ke kamar dulu, Kek." Cia beranjak berdiri. Berbincang dengan kakeknya tidak akan mendapatkan solusi. Cia hanya ingin menenangkan diri. Dia juga tidak ingin menceritakan tentang kejadian tercela yang dilakukannya bersama Farel kepada kakeknya. Yang ada, pasti kakeknya itu akan langsung menikahkan mereka.
"Kamu tahu Farel sudah pulang dari Australia?"
Langkah Cia terhenti ketika Pram bertanya.Tubuh Cia berbalik lagi menghadap kakeknya. "Aku sudah tahu. Kami sudah bertemu dan dia memberikan hadiah ini buat aku." Cia mengacungkan tas mahal pemberian Farel ke udara, tepat di hadapan Pram.
Pram tersenyum. "Farel memang lelaki pengertian. Kakek setuju jika kalian menjadi pasangan."
"Kakek ngomong apa? Aku masih istrinya Delfin." Cia menyanggah tidak suka.
"Sebentar lagi juga bukan. Kakek tidak yakin jika suamimu itu akan memilih kamu. Dia pasti memilih selingkuhannya itu."
Cia tidak lagi menyangkal apa kata kakeknya. Memang benar, dia juga ragu dengan perasaan suaminya sendiri. Delfin juga tidak pernah mau mendengar permintaannya selama ini.
"Kita lihat saja nanti. Aku yakin Delfin masih mencintai aku," ucap Cia. Masih tetap dengan pendiriannya.
"Kakek, sih, terserah kamu. Yang penting kamu bahagia, kakek juga ikut bahagia." Pram mengulas senyuman palsu. Ia tidak boleh dibenci oleh sang cucu, "apa kakek perlu melakukan sesuatu lagi sama manajernya Delfin itu?" Pram pura-pura peduli dengan menawarkan bantuan memberikan pelajaran kepada Ziya. Yang padahal adalah orang suruhannya yang pura-pura menjadi penggoda.
"Nggak usah, Kek. Biarin aja! Kali ini aku mau melihat kesungguhan Delfin sendiri. Kalau memang dia masih mencintai aku, dia pasti akan memenuhi keinginan aku untuk menjauhi perempuan itu."
...***...
__ADS_1
...Kira-kira Delfin pilih siapa, Readers? Jawab di kolom komentar, yuk. 🤗...