Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Membandingkan


__ADS_3


...***...


Sudah hampir seminggu berlalu, selama itu pula Delfin dan Cia tidak bertemu. Mereka juga tidak pernah bertukar kabar. Mereka berdua masih sama-sama mempertahankan ego masing-masing.


"Delfin, apa kamu benar-benar sudah melupakan aku? Aku kangen kamu, Fin. Kenapa sekarang justru Farel yang selalu ada buat aku. Farel yang selalu mendengar keluh kesahku, Farel yang selalu menghiburku, Fin. Meskipun ia tahu aku wanita bersuami, tapi ia selalu meluangkan waktu untukku," batin Cia, ia masih memandang jam tangan mewah yang melingkar indah di pergelangan tangannya.


"Kenapa, Ci?" tanya Farel, ia meraih dan mengelus lembut jemari Cia. "Kamu nggak suka sama model jam tangan ini? Aku bisa ganti, kok, kalau emang kamu nggak suka, atau kita pergi langsung aja ke tokonya, nanti kamu bisa pilih sendiri sesuai yang kamu inginkan,” tutur Farel, ia takut Cia tidak menyukai pemberiannya.


"Ehm ... enggak. Bukan begitu, Rel." Cia tergagap menjawab pertanyaan Farel. "Aku suka banget sama jam ini. Ini series terbaru, kan, dari Channal? Mana mungkin aku nggak suka. Makasih, ya. I like it," tutur Cia menampilkan senyumnya yang cantik dan menawan dengan deretan giginya yang rapi. Farel pun ikuta tersenyum.


"Syukurlah, kalau kamu suka, Ci," ucap Farel.


"Iya Rel, makasih ya. Kamu beneran baik banget, deh. Udah, yuk, kita lanjutin makan siangnya, nanti keburu dingin enggak enak, Rel," tutur Cia lagi.


Cia tidak ingin membuat Farel kecewa. Entahlah, dulu awalnya Cia tidak begitu menyukai Farel. Hingga lama-kelamaan perhatian dan sikap lemah lembut Farel berhasil meruntuhkan benteng pertahanan hati Cia. Ditambah lagi dengan sikap Delfin yang tak acuh akhir-akhir ini. Delfin selalu mengabaikan Cia.


Hingga tanpa Delfin sadari, kesempatan itu memberi celah Farel menjadi semakin dekat dengan Cia.


...***...


Selama Delfin menginap di rumah keluarganya, Ziya jadi sering berkunjung ke rumah itu. Entah untuk urusan pekerjaan atau hanya sekedar mampir saat mengantar Delfin pulang. Papa dan Mama Delfin sangat menyukai Ziya. Di mata mereka Ziya adalah sosok yang baik, lembut dan sopan. Tidak pernah ada sedikit pun pikiran bahwa Ziya adalah seorang wanita penggoda seperti yang Cia tuduhkan.

__ADS_1


Hari ini Delfin pulang dari studio lebih awal. Pukul 03.00 WIB ia sudah sampai di rumahnya. "Gus, mobilnya bawa saja nanti Ziya biar aku yang antar,” ucap Delfin saat akan turun dari mobilnya.


"Siap, Mas,” jawab Bagus.


"Fin, aku langsung pulang saja, ya. Nggak enak sama keluarga kamu. Masa hampir setiap hari aku ke sini. Lagian ini juga malam Minggu, Fin. Barangkali saja kalian mau me time sama keluarga." Ziya mencoba menolak ajakan Delfin, Karena ia tak enak dengan Bagus.


Hampir setiap hari Bagus pulang ke studio sendiri. Delfin selalu mengajak Ziya mampir ke rumahnya, jika mereka pulang dari studio lebih awal. Delfin sangat senang karena papa, mama, dan juga adiknya sangat menyukai Ziya.


"Mereka justru senang dengan kedatangan kamu. Ayo turun, Zi! Farah pasti senang kamu datang." Delfin membukakan pintu penumpang dan segera mengajak Ziya masuk ke rumahnya.


Ziya tidak lagi bisa berkutik saat Delfin menggenggam erat tangannya. Desir aneh itu semakin meraja di hati Delfin dan Ziya. Sekuat hati mereka menguatkan iman agar tak goyah oleh rasa yang dapat membuat binasa. Rasa cinta yang buta mampu membinasakan akal pikiran hingga mampu membuat orang menjadi gila. Menghalalkan segala cara untuk sebuah rasa yang tak pernah kekal.


"Netizen memang benar. Mas Delfin sama mbak Ziya memang pasangan yang serasi. Yang satu ganteng yang satunya juga cantik. Apa mungkin mereka nanti berjodoh, ya? Lalu aku patah hati, dong.” Bagus terlihat gusar dengan pikirannya sendiri. “Astaghfirullah ... mikir opo to, Gus. Bisa dibejek-bejek sama Bu Cia kalo itu benar terjadi." Bagus menggelengkan kepala, menertawakan pikiran bodohnya. Ia segera melajukan mobil kembali setelah Delfin dan Ziya masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum. Ma, ada Ziya, nih. Kangen sama mama katanya," ucap Delfin lalu meraih dan mencium punggung tangan Farida. Ziya melebarkan kedua mata mendengar penuturan Delfin, sedangkan Delfin hanya tersenyum jahil ke arahnya. Hal itu tentu saja membuat Ziya gemas.


"Malam, Tante.” Ziya mencium punggung tangan Farida. Ia mencari keberadaan Farah–adik Delfin, karena biasanya Farah yang paling antusias menyambut kedatangannya. “Farahnya ke mana, Tan, tumben nggak kelihatan?”


"Kebetulan Tante sedang membuat kue, Zi. Farah lagi bantuin tante di dapur tadi. Ziya mau bantu, juga?" tawar Farida.


"Kak Ziya ….” Suara lantang itu terdengar dari balik punggung Farida sebelum Ziya menjawab pertanyaan Farida. Terlihat Farah tengah berlari ke arah Ziya. “Wah, senengnya ada Kakak di sini. Yuk ikutan kita bikin kue, Kak." Farah langsung saja menarik tangan Ziya menuju ke dapur, usai memberikan pelukan hangat untuk wanita cantik itu.


Delfin yang melihat kehebohan sang adik hanya mengulas senyum sambil menggelengkan kepala. Begitu juga Farida. Farida pun mengekori langkah dua gadis di depannya.

__ADS_1


"Kak Ziya harus sering-sering ke sini biar bisa mencicipi lezatnya kue buatan mama. Mama paling jago kalau bikin kue, loh," ucap Farah saat mereka bertiga sedang asyik membuat adonan kue.


“Tumben muji-muji kue buatan mama, pasti ada maunya, ya?” selidik Farida. Kedua matanya memicing menatap anak gadisnya.


Mendengar pertanyaan sang mama, Farah mencebikkan bibir. Ziya hanya tersenyum melihat tingkah Farah.


"Mama, ih, suudzon aja sama aku.”


“Bukan suudzon, tapi memang biasanya seperti itu. Kamu, tuh, suka puji-puji kalo lagi ada maunya.”


“Kali ini tulus, Ma. Eh, Ma, Kak Ziya cantik, ya. Udah gitu baik lagi. Nggak seperti Kak Cia yang hobinya marah-marah. Bikin Kak Delfin galau aja," tutur Farah lagi.


"Farah, nggak boleh gitu. Cia itu kakak ipar kamu, Sayang." Farida memperingatkan Farah. Ia tidak enak hati karena ada Ziya di situ.


"Emang kenyataannya begitu, Ma. Kak Cia itu egois. Pokoknya Farah sebel sama Kak Cia." Farah memanyunkan bibir, mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat ia melihat Cia bersama Farel. Ingin ia mengatakan hal itu pada mamanya, tetapi Farah tidak mau membuat sang mama ikut kepikiran.


“Farah, bagaimanapun juga Kak Cia itu kakak ipar kamu. Wanita yang dicintai kakak kamu. Kamu nggak boleh seperti itu sama Kak Cia.”


Kalimat panjang dari Farida membuat dada Ziya tiba-tiba sesak. Farida seakan mengingatkan posisinya. Benar, Cia-lah wanita yang dicintai Delfin, hingga membuat Delfin begitu semangat untuk meraih sukses agar bisa membuat Cia bahagia.


“Kubur dalam-dalam rasa yang tumbuh di hati kamu, Zi, sebelum kamu terluka semakin parah. Ingat, kamu bukan siapa-siapa buat Delfin. Tugasmu hanya membuat Cia dan Delfin berpisah, bukan untuk merebut Delfin dari Cia,” batin Ziya.


...***...

__ADS_1



...Jangan lupa dukungannya. Klik tombol like, komentar, dan favorit, ya ❤...


__ADS_2