Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3


...***...


Suara deru mobil berhenti di depan bangunan rumah yang begitu megah. Setelah dibukakan pintu pagar oleh satpam rumah, mobil itu segera masuk dan berhenti tepat di depan teras. Meski ragu, ia tetap melangkahkan kakinya untuk mengetuk pintu rumah itu. Rasa tidak tenang membuat hatinya dituntun untuk berkunjung.


“Eh, Mas Delfin,” sapa Lea.


“Cia, ada, Bi?”


“Nona muda dirawat di rumah sakit, Mas.” Tersirat kesedihan di wajah tua itu mengingat kondisi nona mudanya.


“Dirawat?”


“Iya, Mas. Yang saya dengar Nona muda pingsan di butik. Terus di bawa ke rumah sakit sejak kemarin.”


Tubuh Delfin menegang seketika. Benar firasatnya bahwa Cia sedang tidak baik-baik saja. Istri yang sebentar lagi berubah status menjadi mantan istri itu sudah menunjukkan kondisi lemah sejak berkunjung ke apartemennya. Setelah meminta alamat rumah sakit pada Lea, Delfin segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit yang disebut.


“Meski aku tahu kehadiranku tak lagi berarti buat kamu, setidaknya, izinkan aku memberi sedikit perhatianku buat kamu di saat-saat terakhir kita bersama, Ci,” monolognya.


Ada rasa perih yang tak dapat ia hindari di saat kalimat itu meluncur dengan bebas. Sungguh, Delfin tidak pernah mengira akan seperti ini nasib rumah tangganya. Ia pikir, setelah ia berhasil menikahi gadis pujaannya dan semua perjuangan yang telah ia lakukan, ia akan mereguk bahagia bersama cinta pertamanya.


Akan tetapi, takdir berkata lain. Ia sudah pasrah. Cinta dan perjuangannya sia-sia. Gugatan cerai sudah mulai diproses dan kenyataan Cia hamil anak Farel sudah menghancurkan hatinya menjadi berkeping-keping. Sakit yang ia rasakan sungguh menyiksa hati setiap kali ia mengingat kisah cintanya bersama Cia.


Sejenak Delfin merasa ragu untuk masuk, saat mobil yang ia kendarai sudah terparkir dengan cantik di tempat parkir rumah sakit, di mana Cia tengah dirawat. “Mungkin, ini untuk terakhir kalinya aku berada di sisimu, sebelum pengadilan mengetuk palu untuk mengakhiri kisah kita, Ci.”


Delfin melangkah dengan gamang. Usai menanyakan kamar rawat inap Cia, ia segera menuju kamar yang disebut. Tidak lupa buah tangan sudah ada di genggaman. Black forest kesukaan Cia, sang istri tercinta. Sekali lagi ia memantapkan hati. Seandainya ada Pram ataupun Farel, mereka tidak bisa menghalangi Delfin untuk menjenguk Cia, karena bagaimanapun, ia masih suami Cia secara hukum.


Setelah mendengar suara Cia yang menyuruhnya masuk, Delfin gegas membuka pintu kamar rawat inap Cia. “Hai,” sapanya dengan senyum yang tetap menawan. Pandangan ia sapu ke segala arah. Ia tak menemukan siapa-siapa.


“Hai, Fin.” Cia balas tersenyum.


“Kamu sendiri?” Delfin mengambil duduk di sebelah ranjang Cia.


“Iya.”

__ADS_1


“Kakek?”


Cia mendengkus. Rasa kecewa masih menyelubungi relung jiwa. Setelah ia sadar dari pingsan kemarin, ia marah pada kakeknya. Cia tidak mau bertemu dengan Pram. Cia tidak mau mendengar penjelasan apa pun dari Pram dan demi kondisi Cia dan calon bayinya, Pram mengalah. Ia akan memberi ruang pada Cia.


Membiarkan Cia mengungkapkan kekesalannya.


Tanpa terasa bulir bening menetes dari sudut matanya. “Hei, kamu nangis?” Delfin bergegas menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Cia semakin sesenggukan dengan perhatian yang diberikan oleh Delfin. “Kamu kenapa, Sayang?” Delfin memeluk tubuh lemah itu. Berharap memberi ketenangan pada sang istri tercinta.


“Maaf,” ucapnya parau dalam dekapan Delfin. Ia rindu ini. Rindu aroma Delfin. Rindu pelukan hangat sang suami. Rindu perhatian dari Delfin-nya. Tangis itu bukan semakin mereda justru semakin menjadi. Kenangan indah bersama Delfin melintas silih berganti. Berjejalan semakin mendesak membuat hati Cia semakin sesak.


Delfin mengusap lembut surai hitam sang istri.


Kristal bening itu juga mulai menetes dari sudut matanya. Ada rasa tidak rela saat perpisahan sudah berada di pelupuk mata. Ia menyesali semua yang telah terjadi, tapi ia bisa apa? Sekarang semua sudah terlambat. Sekeras apa pun Delfin berusaha, ia tak akan lagi mampu menggapai Cia. Ada benih milik orang lain di perut sang istri. Dadanya kembali bergemuruh hebat mengingat hal itu. Andai ia tak abai, Cia tidak mungkin melakukan kesalahan itu.


“Aku juga minta maaf. Maaf aku sudah mengacuhkanmu. Maaf aku terlalu sibuk mengejar duniaku hingga mengabaikanmu. Maafkan aku belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu, Ci. Maaf untuk semua luka yang aku torehkan di hati kamu.”


Cia menggeleng-gelengkan kepalanya dalam dekapan Delfin. Mereka berdua larut dalam tangis. Menyelami setiap rasa sakit yang menggores hati. Meremukkan hingga tak berbentuk. Seakan takdir begitu kejam dengan kisah cinta mereka. Setelah beberapa saat, tangis mereka mereda. Delfin pun mengurai pelukannya. Mengambil tisu untuk membersihkan ingus mereka berdua.


“Maafkan aku yang cengeng ini,” ucap Delfin setelah beberapa saat. Ia usap pucuk kepala Cia dengan sayang. “Bahagialah setelah ini, Ci. Kamu layak mendapatkan kebahagiaan. Sekali lagi aku minta maaf untuk semuanya.”


Delfin termangu melihat Cia yang kembali sesenggukan. “A-apa kamu sudah tahu kebenarannya, Ci?”


“Ziya yang menceritakan semuanya. Ziya mengungkap semua kebusukan kakekku sendiri.”


Delfin kembali memeluk Cia. Ia tarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan secara pelan-pelan. Meski Cia sudah tahu kebenarannya, itu tak lantas merubah kenyataan. Perceraian Delfin dan Cia, itu sudah harga mati. Tidak lagi bisa ditawar.


“Ikhlaskan kisah kita, Ci. Mungkin, memang harus cukup sampai di sini kebersamaan kita.


Seandainya Farel menolak bayi itu, aku masih bisa mempertimbangkan bayi itu untuk aku anggap sebagai anakku dan perceraian ini tidak akan terjadi. Tetapi sayangnya, Farel menginginkan kamu dan juga anaknya.”


Cia semakin dirundung duka dan Delfin masih setia menenangkan Cia.


...***...


“Kenapa kamu lakukan itu, Zi?”

__ADS_1


Setelah pulang dari rumah sakit, Delfin meminta Ziya untuk bertemu di kafe langganan mereka. Pandangannya tajam menatap wanita cantik yang juga dirundung penyesalan.


“Aku hanya berusaha mengungkap fakta. Bagaimanapun, Bu Cia harus tahu bahwa kakeknya adalah dalang dari semua ini.”


“Dan itu tidak merubah apa pun.” Perkataan Delfin telak memukul nurani Ziya. Membuat Ziya semakin dalam penyesalan.


“Aku tahu. Tapi seenggaknya kakek Pram harus diberi sedikit pelajaran agar tidak selalu semena-mena.”


“Lalu panti?”


“Sudah pasti panti akan digusur. Kami akan mencari rumah sewa sementara sambil menunggu aku dapat pekerjaan lagi.”


Delfin diam sejenak. Ia tidak menyalahkan Ziya karena Ziya hanyalah pion Pram yang membantu memuluskan rencananya. Justru ia sedikit beruntung, wanita yang dipilih oleh Pram adalah Ziya. Bukan wanita liar yang benar-benar akan menggodanya dan belum puas jika belum sampai ke ranjang.


“Aku akan membantumu mencari rumah sewa.”


“Tidak perlu. Selama ini aku sudah cukup merepotkanmu. Aku sudah jahat sama kamu. Jadi kamu nggak perlu berbuat baik lagi sama aku dan keluarga panti. Biar aku sendiri yang menanggung semuanya.”


“Apa ada alasan lain kenapa kamu melakukan ini semua? Dengan kamu berkata jujur sama aku dan juga Cia, pasti kakek Pram tidak akan melepaskan kamu.”


“Biar kakek Pram, menjadi urusanku. Kamu tidak perlu khawatir.”


Hening. Jika selama ini mereka berdua bisa mengobrol sambil tertawa, yang ada kini hanya kekakuan. Ziya tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Delfin sekarang dan Delfin juga masih merasa sedikit kecewa pada Ziya.


“Ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Fin? Jika tidak, aku pamit undur diri.”


“Kamu belum jawab pertanyaan aku, Zi.”


Ziya terdiam. Haruskah ia mengatakan alasannya? Setelah berbagai pertimbangan, mungkin ia merasa perlu menyampaikan apa yang ada di hati dan pikirannya. Mungkin setelah ini, ia dan Delfin tidak akan pernah bertemu lagi.


“Karena aku nggak mau lihat orang yang aku cintai semakin terpuruk dalam kesedihan. Hatiku sakit saat melihat kamu hancur karena perceraianmu dengan Bu Cia. Sungguh. Hatiku tidak bisa menerimanya. Kesakitanmu jauh lebih sakit aku rasakan, karena rasa sakitmu berasal dariku. Maafkan aku, Fin.”


Suasana kembali hening. Delfin masih berusaha mencerna apa yang baru saja ia tangkap di Indra pendengarannya. “Semoga setelah ini kamu berbahagia, Fin. Kamu orang baik, pasti akan mendapatkan yang terbaik. Percayalah.” Senyum tulus ia berikan untuk Delfin. Ia bingkai wajah Delfin dalam diam. Menyimpannya dalam memori yang terdalam.


...***...

__ADS_1



__ADS_2