Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Sama-sama Lelah


__ADS_3


...***...


Melihat perubahan wajah Delfin, Ziya dan Bagus terlibat saling pandang. Mereka yang awalnya berniat masuk ke dalam mobil pun terpaksa menunda, saat melihat rahang Delfin yang mengeras.


Setelah terdiam cukup lama, Delfin pun langsung masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Ziya dan Bagus. Tidak hanya itu, pintu mobil pun dibanting dengan sangat keras, membuat Ziya dan Bagus berjingkat kaget.


Selama perjalanan, di dalam mobil pun tidak ada yang berani bersuara. Bagus hanya fokus mengemudi walaupun sesekali melihat ke arah spion depan, demi melihat tangan Delfin yang berulang kali memukul kaca pintu mobil. Mulutnya pun berulang kali melontarkan umpatan, entah pada lelaki yang bersama Cia, atau pun pada keadaan rumah tangganya.


Ziya pun memilih duduk di belakang bersama Delfin. Sebenarnya tujuan utamanya adalah ingin menenangkan Delfin. Namun, melihat kondisi Delfin yang begitu emosi, Ziya pun tidak berani melakukan apa-apa.


"Fin ...." Ziya mencoba membuka suaranya, tetapi tidak ditanggapi sama sekali oleh Delfin.


"Gus, antarkan saya ke apartemen!" perintah Delfin tegas.


"Ba-baik, Mas," jawab Bagus gugup.


Sampai di parkiran apartemen Delfin, suasana di dalam mobil masih sangat tegang. Delfin pun langsung keluar dari mobil dan kembali membanting pintunya.


Ziya dan Bagus kembali memperhatikan Delfin yang perlahan menjauh dan tidak terlihat lagi. "Mas, Delfin kenapa, ya?" tanya Ziya setelah ia berpindah posisi untuk duduk di samping Bagus.


"Nggak tau, ya, Mbak. Mas Delfin berubah setelah saya lihat sedang baca pesan masuk di ponselnya. Kira-kira ada apa ya, Mbak? Apa mungkin ada sesuatu dengan Mbak Cia?"


Ziya pun menahan senyum senangnya. "Apakah ini karena sikapku tadi? Lalu Bu Cia marah-marah?" batin Ziya penuh kemenangan, meski ada rasa sesak juga yang menghimpit hatinya.


...*** ...


Delfin yang baru memasuki apartemennya langsung membanting tubuhnya di atas sofa ruang tamu. "****! Mengapa Cia tidak mendengarkan perintahku? Aku sebagai suami merasa tidak dihargai sama sekali. Dia seperti merendahkanku. Aarrgh!!" geram Delfin sambil menjambak rambutnya.

__ADS_1


Sudah satu jam berlalu, yang Delfin lakukan hanyalah mondar mandir. Pergi ke kamar, lalu kembali ke ruang tamu. Saat belum menemukan Cia, ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Tidak ia hiraukan lagi tubuhnya yang penuh keringat. Ia hanya menunggu istrinya dan ingin mengintrogasi terkait foto yang dikirimkan Farah. Ia sudah mengirim pesan pada Cia jika ia menunggu di apartemen, bukan di rumah.


Delfin mengembuskan napasnya kasar, lalu kembali membanting tubuhnya ke atas sofa. Tak lama, ia mendengar pintunya terbuka. Menampilkan sosok istrinya dengan wajah yang lelah. Delfin langsung bangkit dan menghampiri istrinya.


"Kamu dari mana, Sayang?" tanya Delfin lembut sambil membelai pipinya.


"Aku habis jalan-jalan sama kakek," jawab Cia.


"Oh ya?" Delfin kembali bertanya sambil menyeringai. Melihat tatapan Delfin, Cia mulai curiga.


"Kamu kenapa? Kok, lihat aku kayak gitu?"


"Sepertinya Kakek Pram sangat perhatian sama kamu, ya?"


"Maksud kamu apa, sih, Sayang?"


"Bukankah, tadi Kakek Pram mengusap bibir ini dengan lembut?" Delfin menyentuh bibir Cia dengan ibu jarinya, dan kembali menunjukan seringainya.


Cia terdiam mendapat tatapan dari Delfin. "Aku nggak paham sama kamu!" Cia pun mencoba pergi dari hadapan Delfin.


Delfin segera mengambil ponselnya, lalu mengejar Cia. Ia menunjukkan gambar yang dikirimkan oleh Farah pada Cia setelah berhasil menghadangnya. "Ini yang kamu sebut jalan-jalan sama kakek?"


"Oh, jadi adik kamu itu ngadu ke kamu?"


"Itu tidak penting! Yang penting adalah tindakan Farel ke kamu yang nggak bisa aku terima, Cia! Dan kamu sudah berjanji untuk tidak mendekatinya."


Cia memejamkan matanya. Ia meraup udara lalu mengembuskan perlahan."Terus apa yang kamu inginkan, Fin? Penjelasan? Udahlah, Fin, nggak ada yang perlu dijelasin di sini!"


Cia kemudian melangkah pergi dari hadapan Delfin. Ia sudah menduga bahwa pasti Farah-lah yang mengirimkan foto itu pada Delfin. Adiknya itu memang sayang sekali dengan kakaknya.

__ADS_1


Cia merasa capek ketika datang ke apartemen hanya untuk bertengkar dengan suaminya. Ia hanya ingin istirahat.


Saat Cia hendak memegang handel pintu, ia dikejutkan dengan tangan Delfin yang menarik tangannya. "Apalagi, Fin?"


"Kita belum selesai bicara, Cia!"


"Aku tanya sama kamu, apakah adik kesayanganmu itu juga tahu bahwa aku datang bersama kakek? Apakah dia ada berkata seperti itu? Nggak, kan? Nggak ada gunanya, Fin, penjelasanku?"


"Kamu menyebut orang lain j*l*ng, tetapi kamu sendiri seperti itu? Walau sebenarnya sebutan itu tak pantas untuk Ziya."


Cia membulatkan kedua matanya. Tidak menyangka jika Delfin dengan tega menyebutnya demikian.


"Dengan kata lain kamu menyebutku j*l*ng, hah? Kamu keterlaluan, Fin! Jangan kamu hanya bisa menyalahkanku, sedangkan kamu sendiri bermesraan di warung dengan manajer j*langmu itu. Kamu juga sudah melanggar janjimu. Kita sama-sama bersalah di sini!" Cia pun ikut tersulut emosi saat mendengar suaminya menyamakannya dengan Ziya. "Jangan kamu pikir aku tidak tau ya, Fin, apa yang kamu lakukan tanpa aku!"


Perlahan, sudut mata Cia berair. Ia sudah menahannya sejak melihat kemesraan antara suaminya dan Ziya. Kini, ia meluapkan semuanya di depan suaminya. "Aku sakit, Fin. Sakit lihat kamu sama Ziya. Aku cemburu. Aku takut kehilangan kamu. Wanita itu sudah merayumu. Wanita itu pelan-pelan mendekati kamu, Fin. Kamu sudah dibodohi, Fin! Apa kamu tidak sadar?" bentak Cia.


“Ziya tidak pernah merayuku!” tegas Delfin.


“Oh, ya? Kamu benar-benar buta dengan rayuannya sampai kamu selalu membelanya.” Cia benar-benar geram dengan yang dilakukan Delfin. Delfin selalu membela wanita licik itu. “Kamu sudah menyakitiku, Fin. Dan aku sudah muak dengan semua sikapmu ini.”


“Aku gak pernah ingin menyakiti kamu, Ci. Kalau kamu sakit, aku juga sakit. Tapi percayalah, Ziya tidak seperti yang kamu pikirkan,” mohon Delfin.


Hati Cia dan Delfin sama-sama sakit. Mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain. Mereka pikir, cinta mereka begitu kuat, ternyata pondasi yang mereka buat tidak cukup untuk membangun rumah tangga. Kenyataannya tidak semudah itu mempertahankan sebuah rumah ketika pondasi yang mereka buat tidak bisa kokoh untuk menopangnya.


Cia menangisi kehidupan rumah tangganya yang perlahan memburuk. Ia semakin lelah saat keduanya hanya bertemu untuk beradu mulut dan tidak menyelesaikan permasalahan, justru semakin menambah masalah. Suaminya yang tidak sadar dengan adanya duri di dalam rumah tangganya, dan kakek yang selalu memojokkan suaminya. Semuanya memenuhi isi kepalanya, hingga membuat kepalanya terasa seakan mau pecah.


Delfin juga sama lelahnya dengan Cia. Ia hanya ingin rumah tangganya kembali seperti dulu. Saat hanya ada mereka berdua yang selalu mesra. Namun, rasanya semuanya sudah berubah semenjak Cia sering berkunjung ke rumah kakeknya. Delfin berpikir, jika Pram masih terus berusaha untuk membuat Cia meninggalkan dirinya.


...***...

__ADS_1



...Jangan lupa dukungannya, ya 🙏...


__ADS_2