
...***...
Cia pun dibawa pulang ke rumah Pram. Lelaki tua itu sama sekali tidak terganggu dan keberatan dengan tingkah cucunya yang pulang dalam keadaan mabuk. Walau dalam hatinya sedikit kesal, karena cucunya harus bertindak seperti ini untuk melampiaskan kemarahan.
...***...
Sore ini Delfin berniat untuk menemui Cia di butiknya. Ia yakin istrinya pasti ada di sana, setelah mengonfirmasi pada asisten rumah tangganya, dan mengetahui istrinya tidak ada di rumah. Raut khawatir dan takut menghiasi wajah tampan Delfin. Ia takut Cia tidak akan memaafkannya kali ini, karena dari kemarin malam saat peristiwa penyerangan Cia terhadap Ziya, lelaki itu belum mengunjungi istrinya. Jangankan meminta maaf, memberikan penjelasan saja tidak.
Kesibukannya yang padat beberapa hari ini, membuat Delfin mengacuhkan kecemburuan Cia. Delfin bahkan tidak berusaha menghubungi Cia lewat panggilan telepon saking sibuknya. Pekerjaan Delfin bertambah berat, ketika Ziya tiba-tiba izin tidak bisa bekerja, lantaran mengurusi ibu pantinya yang katanya sedang sakit.
Langit sudah terlihat menggelap ketika mobil yang Delfin kendarai terparkir rapi di depan butik Cia. Lekas ia turun dari mobilnya dan mengayunkan langkah untuk masuk ke dalam butik itu. Namun, rasa kecewa harus diterima oleh Delfin ketika tidak mendapati istrinya di sana. Kata asisten yang menjaga butik tersebut, beberapa hari ini atasannya tersebut selalu pulang ke rumah kakeknya.
"Makasih, Mbak, atas infonya. Saya akan menyusul Cia ke sana," ucap Delfin kepada pegawai Cia sebelum meninggalkan butik.
Kembali ia kemudikan mobilnya, membelah jalanan ibu kota yang terlihat ramai lancar. Beberapa kali ia menyugar rambutnya dengan kasar, diiringi decakan dari bibirnya yang kerap terlontar. Delfin kesal, jika sudah berurusan dengan kakeknya Cia. Masalahnya pasti akan melebar.
...***...
"Permisi, Tuan! Di luar ada Mas Delfin." Pram yang sedang duduk bersantai menikmati secangkir teh hangat bersama Cia di ruang keluarga, langsung mengalihkan pandangan. Seorang pengawal yang bertugas berjaga di depan rumah Pram sedikit membungkukkan badan, setelah selesai memberikan laporan.
"Masih berani dia untuk datang ke sini," ucap remeh Pram dengan nada sinis.
Cia yang juga mendengar suaminya datang langsung berdiri. Jujur, walau hatinya masih sedikit nyeri, rasa rindu pada suaminya tidak bisa dipungkiri lagi. "Kamu mau ke mana?" Langkah Cia terhenti saat Pram mencegahnya.
"Mau menemui Delfin, Kek," jawab Cia dingin.
__ADS_1
"Tidak boleh! Biar kakek saja yang menemui lelaki itu," sergah kakeknya. Cia masih bergeming di tempatnya. "Apa kamu udah lupa sama pengkhianatan lelaki itu, Cia? Kamu mau menemui dia, lalu kembali luluh dengan cinta palsunya dan memaafkan kesalahannya, begitu?" Lagi, ucapan Pram membuat hati Cia kembali meradang, manakala mengingat pengkhianatan suaminya tempo lalu.
"Nggak semudah itu, Kek!"
Pram tersenyum smirk. Ia puas karena kebencian masih menguasai hati cucunya tersebut. "Kalau begitu jangan temui dia!" titah Pram yang diangguki oleh Cia.
Setelah berhasil menahan Cia untuk bertemu dengan Delfin, Pram pun dengan senang hati menemui cucu menantunya tersebut. Senyum kemenangan selalu tersemat di bibirnya yang sudah keriput.
"Masih ingat sama istri kamu?" Pertanyaan itu membuat Delfin yang sedang berdiri membelakangi pintu rumah Pram, langsung membalikkan badan. Pria tua yang kini sedang berdiri congkak di hadapannya itu, tidak mengizinkan Delfin masuk ke dalam.
"Apa kabar, Kek?" tanya Delfin basa-basi.
"Seperti yang kamu lihat. Saya masih sehat wal'afiat," jawab Pram dengan senyum sinisnya.
"Aku ke sini mau menjemput Cia. Tolong bilang padanya!" Delfin tidak mau berlama-lama di rumah itu. Sebagai suami, ia berhak untuk membawa istrinya pergi.
"Aku suaminya. Jadi aku berhak membawa istriku ke mana pun yang aku mau."
Pram mendengus. Napas beratnya membuat pundaknya turun naik, mengatur pasokan udara yang keluar masuk memompa paru-parunya yang sudah renta. "Beraninya kamu, hah? Dasar bocah tidak tahu diri!" Pram sudah melayangkan tangannya hendak menampar Delfin. Hampir saja mengenai pipi mulus pria itu, jika saja teriakan Cia tidak menghentikan gerakannya.
"Kenapa kamu keluar?" seru Pram pada Cia yang tidak mengindahkan perintahnya agar tidak keluar. Tangannya masih mengambang beberapa senti dari pipi Delfin, sebelum Pram menurunkannya dengan kasar.
"Aku mau pulang."
"Apa? Cia, kamu tidak boleh kembali dengan laki-laki brengsek ini!" Pram membulatkan kedua matanya mendengar keinginan Cia. Ia tidak rela jika usahanya selama ini untuk memisahkan mereka berdua jadi sia-sia.
"Kakek tenang aja. Aku akan mengurus semuanya." Cia menyakinkan Pram dengan nada dingin. Ekor matanya tajam menghunus ke arah Delfin.
__ADS_1
"Kamu yakin, Nak?" Pram bertanya dengan raut khawatir, dan Cia menjawabnya dengan anggukkan kepala sambil tersenyum getir.
"Kalau begitu kita pulang sekarang. Maaf, Kek, sudah merepotkan." Delfin mengerutkan kening ketika tangannya ditepis oleh Cia. Lelaki itu hendak menggandeng tangan istrinya untuk mengajaknya pulang bersama.
"Kamu pulanglah lebih dulu. Nanti aku menyusul."
Delfin sejenak terdiam mendengar keinginan istrinya. Ia mengerti, istrinya itu pasti masih sakit hati. Dengan ragu, ia pun menyetujui.
...***...
Malam kian larut menenggelamkan perasaan Delfin yang begitu kalut. Pasalnya, sang istri yang katanya akan menyusul pulang, sampai saat ini belum kunjung datang. Berkali-kali Delfin menghubunginya via sambungan telepon, tetapi tidak pernah direspon. Ia sudah bersiap untuk kembali ke rumah Pram ketika Cia akhirnya pulang.
"Kamu ke mana dulu? Kenapa jam segini baru sampai?" Delfin langsung mencecar Cia. Keningnya berkerut ketika melihat Cia berjalan sempoyongan. "Kamu mabuk?" tanyanya tidak percaya. Selama ini, yang dia tahu Cia tidak pernah menyentuh minuman memabukkan.
"Halo, suamiku yang tukang selingkuh. Apa kamu menyuruh aku pulang, karena udah puas bermain dengan ****** itu, hem?" Cia mulai meracau tidak jelas. Separuh kesadarannya sudah direnggut oleh minuman keras.
"Kamu ngomong apa, sih? Siapa yang tukang selingkuh?" Delfin menahan tubuh Cia yang hampir jatuh tersungkur karena hilang keseimbangan.
"Siapa? Ya, kamu, lah. Kamu selingkuh sama manajer nggak tahu diri itu. Kamu lupa sama aku!" Cia memukul dada bidang Delfin dengan membabi buta. Meluapkan rasa kesal dan kecewa yang sudah menumpuk dalam dadanya.
"Kamu terlalu kekanak-kanakan, Cia. Tindakanmu kali ini sangat keterlaluan." Delfin menganggap Cia terlalu kekanak-kanakan dengan pulang dalam keadaan mabuk seperti itu. Kedua tangannya menghentikan aksi tangan Cia yang terus memukulnya.
Cia pun tergelak. Ia berhasil melepaskan tangannya dengan satu tarikan saja. Lalu mendorong tubuh Delfin hingga terhuyung satu langkah dari tempatnya. "Kamu bilang aku keterlaluan? Kamu yang keterlaluan, Delfin. Ke mana kamu beberapa hari ini, hah? Bahkan kamu tidak berusaha membujuk istrimu yang sedang marah. Kamu lebih memilih bermain dengan ****** itu, kan?" Cia berteriak penuh emosi. Lelehan cairan bening dengan deras mengalir di pipi. Hingga tubuhnya limbung, lalu tidak sadar diri.
"Maafkan aku, Sayang." Delfin berhasil menangkap tubuh Cia. Diusapnya dengan lembut wajah perempuan yang paling dia cintai. Ia sadar, jika dirinya juga salah dalam hal ini.
...***...
__ADS_1