
...***...
Semudah itukah Cia berpaling dari cinta dan kasih sayang Delfin? Laki-laki tampan yang sedang berjuang untuk membuktikan kepada semua keluarga besar Cia, tetapi akhirnya tak berarti apa-apa. Tak ada jawaban dari Cia yang memuaskan hati lelaki tersebut, Delfin pun pamit dari kediaman Kakek Pramono sang konglomerat ternama itu dengan hati yang kecewa.
"Baiklah, kalau memang kamu tidak mau menjawab pertanyaanku, aku pamit dulu. Jaga janin dalam kandunganmu, serta jaga dirimu baik-baik! Sepertinya aku memang bukan lagi seseorang yang kau cinta dan dinanti kehadirannya. Semoga berbahagia walau tak bersamaku, Cia. Aku akan pergi dari kehidupanmu." Sang bintang pun berjalan perlahan ke arah wanita tercintanya dan memeluk dengan erat. Pelukan penuh rindu yang teramat berat. Sakit, tentu saja. Namun, Delfin sangat mencintai Cia. Jika Farel bisa membuat Cia bahagia, Delfin rela.
Cia pun membalas pelukan erat Delfin dan menangis terisak. "Maafkan aku, Fin. Maafkan aku! Aku yang salah." Mereka menangis penuh rasa menyesalan. Tanpa meraka sadari Kakek Pram melihat dari atas balkon kamarnya.
"Hanya pura-pura saja," celetuk Pram penuh kebencian melihat hal tersebut. Entah kenapa ia sangat sulit menerima Delfin, walau pria itu sudah membuktikan kepada dunia bahwa ia mencintai cucunya. Pram selalu menutup mata dan telinga tidak peduli dengan itu semua. Sering Ziya bercerita bahwa Delfin tak seburuk yang ia sangka, tetapi tetap saja ia tak menyukainya.
...***...
Waktu pun berlalu. Tak terasa Delfin semakin terkenal dan albumnya pun terjual laris manis, sangat berbanding terbalik dengan cerita penuh luka rumah tangganya. Haruskah perceraian menjadi solusi terbaik dalam biduk rumah tangganya dengan Falencia Lubis Pramono yang begitu ia cintai? Sekarang ia tak dapat membedakan mana cinta dan kekecewaan, yang ia rasakan saat ini hanya hampa dan kesakitan.
Semua yang dilakukan Delfin hanya sia-sia. Cia telah membuatnya kecewa. Dia bahkan terlalu berambisi untuk membahagiakan Cia dengan caranya, tetapi sebenarnya bukan itu yang wanitanya harapkan. Cia hanya butuh pasangan yang selalu ada buatnya, tetapi kakeknya tidak demikian. Sehingga kesalahpahaman pun menjadi pemicu perpisahan. Entahlah. Hanya takdir yang bisa menjelaskan.
...***...
Pagi ini Delfin hendak berolah raga pagi di taman. Dengan berbalutkan kaos dan celana training serta sepatu sport merk ternama, ia melangkah dengan pasti. Delfin mengelilingi taman dengan berlari dan mengerakan badannya. Ia berusaha membuat bahagianya sendiri, walau sebenarnya batinnya tersiksa. Berusaha baik-baik saja di saat hati penuh kegalauan.
Setelah lelah bergerak, ia pun duduk di bangku taman di bawah pohon yang rindang sambil meminum air mineral yang ia bawa. Peluh keringat membasahi wajah tampannya, yang saat ini sedang memandang laki-laki yang menemani wanita hamil terlihat bahagia. Seharusnya ia pun merasakan hal itu. Akan tetapi, semuanya hanya bayangan semu.
__ADS_1
“Seandainya aku adalah halangan kamu bahagia, aku rela melepasmu. Lanjutkanlah hidupmu tanpa diriku, sebab aku bukanlah kebahagianmu. Raihlah kebahagiaanmu, karena kamu pantas mendapatkan kebahagiaan itu walau tak bersamaku," batin Delfin sambil memejamkan matanya, ia sudah lelah dengan drama rumah tangganya.
Cia yang berkhianat dan usahanya yang tak pernah dihargai. Maka dari itu ia akan mengikuti apa yang Cia inginkan yaitu sebuah perceraian. Sepertinya itulah akhir dari bahagianya. Dengan langkah lebih pasti Delfin kembali ke apartemen untuk membersihkan diri. Dia berniat untuk menemui istri tercintanya. "Inilah caraku mencintaimu, Cia," monolognya sebelum pergi.
...***...
Kali ini Delfin tak memakai mobil mewahnya, ia jalankan motor sport terkini yang dimilikinya. Semakin hari rezeki dan karir semakin melambung, tetapi tak diiringi oleh kehidupan asmaranya. Akankah berakhir dengan cara seperti ini?
Dilajukan motor buatan negara bermaskot menara miring tersebut dengan kecepatan sedang ke rumah mewah bak istana.
"Pagi, Pak Man,” ucap Delfin menyapa penjaga pintu gerbang yang mejulang tinggi milik kakek mertuanya. Mungkin sebentar lagi statusnya akan menjadi orang asing di rumah itu.
"Pagi juga, Mas Delfin," jawab penjaga pagar tersebut menyapa sang cucu menantu Kakek Pram.
"Ada, Mas. Masuk aja!” Penjaga rumah itu langsung mendorong pintu gerbang agar terbuka. Memberikan jalan kepada Delfin untuk memasukan motor sportnya ke dalam parkiran luas di halaman rumah tersebut.
Setelah memarkirkan motornya dengan benar, Delfin pun berjalan menuju pintu rumah nan megah itu. Kedatangannya disambut oleh Bi Lea, perempuan yang sudah mengabdi lama di keluarga konglomerat itu.
"Pagi, Mas Delfin. Non Cia ada di kamar, katanya lagi kurang enak badan. Mungkin bawaan hamil muda.” Tanpa perlu ditanya Mbok Lea langsung memberitahukan keadaan Cia pada Delfin. Perempuan paruh baya itu sudah tahu, jika suami dari majikannya tersebut pasti ingin mencari keberadaan istrinya.
"Makasih, Bi. Aku langsung ke atas, ya.” Delfin berucap sambil melayangkan senyum terbaiknya. Lantas bergerak meniti anak tangga menuju kamar Cia.
Setelah sampai di depan kamar istrinya, dengan perlahan ia membuka pintu. Ia lihat Cia sedang tidur membelakanginya. Tubuhnya menerobos masuk tanpa permisi, lalu berjalan menuju ranjang besar itu dan duduk di bagian sisi ranjang di depan tubuh Cia. Delfin memandang Cia dengan penuh cinta serta membelai sayang kepalanya. Mendapatkan perlakuan seperti itu, sontak ibu hamil tersebut membuka matanya terkejut. Kedua matanya enggan berpaling, menatap manik sayu yang kini juga menatapnya dengan sendu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?" Delfin bertanya tentang keadaan bayi yang ada dalam kandungan Cia.
"Dia baik," jawab Cia lemah. Sejenak keduanya terdiam. Cia ragu ingin memulai obrolan tentang masalah perceraian dengan Delfin. Semua suratnya sudah diurus oleh asistennya Pram. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk membicarakan hal itu. Lebih cepat lebih baik. Begitulah pikir Cia.
"Maafkan aku, Fin. Kakek sudah ...," lirih Cia. Air matanya ikut mengalir tanpa bisa dicegah. Tenggorokannya terasa kering hingga ucapannya terjeda.
"Aku tahu, Cia. Kakekmu memang sudah lama menginginkan hal ini. Dia menang. Mungkin inilah akhir dari kisah cinta kita," seru Delfin dengan wajah sendu, tetapi masih menampilkan senyum palsu.
"Maafkan aku, Fin, maaf." Berkali-kali Cia mengulang kata itu. Kata 'maaf' yang terlontar itu begitu menyayat hati Delfin. Haruskah semuanya akan berakhir setelah perjuangannya selama ini?
Delfin memberanikan diri untuk memeluk Cia, ketika perempuan itu beranjak duduk di hadapannya. "Tuhan, haruskah aku merelakan kisah cinta ini? Kisah cinta yang teramat indah di masa lalu, dengan perjuangan yang begitu berat untuk mendapatkan Falencia Lubis Pramono," batin Delfin.
Begitu banyak lika-liku percintaan mereka berdua. Hanya dua tahun, dan akan berakhir dengan perpisahan. Akankah ia sanggup menghadapi ini semua?
Kehilangan Cia sama dengan kehilangan separuh jiwanya. Ia pun tak akan menyalahkan keadaan. Terkadang kita mesti berterima kasih dengan keadaan, dari keadaanlah kita bisa menjadi manusia lebih dewasa dan berpikiran luas.
Mungkin inilah takdir cintanya dengan Cia, sang pujaan hati. Namun, saat ini, nanti, dan selamanya, posisi Cia tak tergantikan oleh siapa pun. Hanya Cia dan Cia dalam setiap embusan napas, serta aliran darah di dalam nadinya.
Delfin tak akan menyalahkan takdirnya, seperti halnya daun yang tak marah ketika angin membawanya terbang dan jatuh ke bumi. Seperti matahari yang selalu memancarkan sinarnya yang hangat, walau terkadang tak semua memperhatikan kehadirannya.
Walau masih saling mencintai dan menyayangi satu sama lain, tetapi inilah keputusan yang mereka sepakati bersama. Sesal dan sesak pasti tiada bertepi. Berakhir sudah harapan dan impian keduanya. Kini harapan mereka untuk berbahagia sampai tua hanyalah tinggal impian saja. Delfin mendorong tubuh Cia setelah melepas pelukan mereka. "Aku pergi, Cia. Semoga kamu bahagia."
...***...
__ADS_1