Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Amarah Cia


__ADS_3


...***...


Marah, itulah yang Cia rasakan saat ini. Hatinya begitu sakit, Cia merasa sangat kecewa dengan sikap Delfin. Pikirannya kalut, rasa cemburunya begitu besar hingga ia tak bisa lagi berpikir positif kepada suaminya. Cia ingin menolak dengan apa yang ia lihat, tetapi foto itu memang benar suaminya.


"Fin, apa yang kamu lakukan? Teganya kamu bermain di belakangku," ucap Cia. Air matanya tak bisa lagi ia bendung, pipi mulus itupun akhirnya basah, dan menjadi saksi sakitnya hati seorang Cia saat ini. "Kenapa kamu lebih mementingkan wanita murahan itu, Fin? Kamu berubah sejak ada dia. Mana janji manis yang dulu pernah kamu ucapkan? Semudah itu kamu berpaling? Aaargh!!" Cia berteriak melampiaskan amarahnya. Ia juga melempar vas bunga yang baru saja ia isi dengan bunga ke lantai.


Tidak puas dengan itu, Cia kembali mengobrak-abrik apa pun yang ada di atas meja kerjanya. Ia tak bisa menahan emosinya. Ia sangat marah. Jika saja wanita itu ada di hadapannya saat ini, ingin sekali ia menampar wanita murahan itu. Wanita yang telah berani menggoda suaminya.


Ruangan yang tadi pagi masih bersih dan rapi, kini menjadi berantakan. Banyak pecahan barang-barang mewah dan juga serpihan keramik yang berceceran karena vas bunga yang Cia lempar tadi. Beberapa map dan buku-buku agenda juga sudah tak beraturan letaknya. Ruang kerja Cia memang dibuat kedap suara, sehingga tidak ada yang bisa mendengar apa pun yang terjadi di dalam sana.


"Cukup Cia. Kamu tidak boleh lemah. Buktikan pada wanita murahan itu kalau kamu lebih segalanya darinya." Cia mengatur napasnya yang memburu. "Aku akan buat perhitungan sama kamu, Ziya. Kamu belum tahu siapa aku," gumam Cia.


Belum reda amarah Cia, tiba-tiba ponselnya berdering, untung saja ponsel itu tidak ikut menjadi sasaran amukan Cia tadi. Nama Delfin tertera di layar ponsel Cia. Segera Cia menggulir tombol hijau di layar ponselnya. "Aku mau kamu pecat wanita murahan itu sekarang juga, atau kamu akan kehilangan aku untuk selamanya." Dengan penuh penekanan, Cia menjawab telepon dari Delfin. Tanpa memberi kesempatan Delfin bersuara, Cia segera mematikan teleponnya.

__ADS_1


...***...


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Delfin segera menarik tangan Ziya keluar dari toko perhiasan tempatnya membeli hadiah untuk Cia. Ia tak sabar ingin segera bertemu dengan istri tercintanya. "Zi, kita langsung ke butik Cia, ya! Aku kangen sekali sama dia, Zi. Aku yakin dia pasti suka sama hadiah aku ini," ucap Delfin sambil menunjukkan kotak bludru berbentuk hati berwarna merah itu kepada Ziya.


"Iya, pasti. Bu Cia suka," jawab Ziya disertai senyuman yang sedikit dipaksakan. Delfin masih menggenggam jemari Ziya saat mereka berdua berjalan keluar dari mall, menuju ke mobil. Genggaman itu baru dilepas Delfin saat mereka akan masuk ke dalam mobil.


Setelah masuk ke dalam mobil, Ziya segera menormalkan irama jantungnya yang saat ini berdetak lebih kencang. Ada desiran aneh yang mulai mengganggu detak jantungnya, mungkin bagi Delfin genggaman tangan tadi adalah hal biasa. Namun, bagi Ziya ini berbeda. Ia merasa nyaman dengan perlakuan Delfin tadi.


"Fin, sebenarnya kamu seperti apa? Selama aku menjadi manajer kamu, aku nggak pernah melihat kamu bermain-main dengan wanita lain. Aku justru melihat kamu sebagai seorang suami yang sangat bertanggung jawab dan menjaga perasaan wanitamu. Tapi, apa mungkin ini hanya bagian dari niat buruk kamu kepada istrimu? Baiklah, kita lihat saja sejauh mana rasa cintamu kepada Nyonya Cia Lubis, dan sepertinya aku memang perlu mengenalmu lebih jauh, Delfin," batin Ziya.


Delfin membuka masker dan topi yang ia gunakan untuk penyamaran tadi, lalu Ia ambil ponsel di saku celananya. Senyumnya mengembang melihat wanita cantik yang tersenyum manis menghiasi layar ponselnya. Ia segera melakukan panggilan ke nomor Cia, hanya sekali nada tunggu panggilan teleponnya sudah tersambung. Terdengar suara Cia dengan nada yang penuh amarah padanya. Bahkan, belum sempat ia menjawab, Cia sudah lebih dulu menutup panggilan telepon itu.


"Apa terjadi sesuatu, Mas?" tanya Bagus.


"Kenapa, Fin? Apa ada masalah dengan persiapan launching album kamu?" Ziya ikut memastikan.

__ADS_1


Delfin bergeming, ia tak menjawab pertanyaan Bagus dan juga Ziya. Ia bingung, haruskah masalah ini ia ceritakan kepada Ziya? Ataukah ia sendiri yang harus mencari solusinya? "Gus, kita balik ke studio saja. Ada yang harus aku diskusikan dengan Ziya. Bangunkan aku kalau sudah sampai. Aku tidur dulu." Delfin segera memejamkan matanya, sebagai tanda tak ingin diganggu.


"Baik, Mas." Bagus segera memutar kemudi untuk kembali ke studio Delfin. Padahal tinggal beberapa kilometer saja mereka akan sampai di butik Cia. Namun perintah bos adalah mutlak, jadi ia pun tak bisa menolak keinginan Delfin.


Bagus menoleh sebentar ke arah Ziya, mencoba mencari tahu namun hanya gelengan kepala Ziya yang ia dapat. Tak ingin pusing, Bagus kembali fokus mengemudikan mobil SUV merah kesayangan Delfin. Ziya pun merasa aneh, ia mencoba menerka-nerka apa yang membuat mood Delfin berubah dalam sekejap. Namun dia sendiri tak menemukan jawabannya.


Sampai di studio, Bagus membangunkan Delfin. Sedangkan Ziya turun lebih dulu dan segera membuka pintu studio. Saat Ziya akan masuk ke dalam, tiba-tiba tangan Ziya ditarik paksa oleh seorang wanita, dan langsung dihempaskan begitu keras. Tubuh Ziya jatuh ke lantai, belum sempat Ziya mengumpulkan tenaganya untuk berdiri, wanita itu kembali menghampiri dan menampar Ziya begitu keras hingga sudut bibir Ziya berdarah.


Melihat adegan itu, Delfin langsung turun dari mobil dan mengehentikan Cia. "Cia, hentikan! Kamu sudah keterlaluan. Jaga emosi kamu, Ziya tidak seperti yang kamu tuduhkan. Kenapa kamu jadi seperti ini? Semudah itu kamu meragukanku, Cia?" ucap Delfin membantu Ziya berdiri.


"Kamu nyalahin aku, dan lebih membela wanita murahan ini, Fin? Aku ini istri kamu. Kamu benar-benar berubah." Cia semakin marah melihat Delfin yang lebih membela Ziya. Ia benar-benar kecewa. "Jangan temui aku sebelum kamu pecat dia, atau aku akan adukan ini semua kepada kakek. Aku muak dengan kebohongan kalian," ucap Cia penuh emosi lalu pergi meninggalkan Delfin dan Ziya.


"Kejar Bu Cia, Fin. Dia pasti salah paham dengan kita. Aku nggak mau dia semakin marah nanti." Delfin belum beranjak demi memastikan Ziya tidak terluka parah. "Aku nggak apa-apa, ini hanya luka kecil," tutur Ziya pura-pura bijak, padahal sebenarnya memang ini tujuannya. Semakin cepat ia memisahkan Delfin dan Cia semakin cepat juga Ziya bebas dari pekerjaan yang sebenarnya sangat berbanding terbalik dengan pribadinya.


...***...

__ADS_1



...Othor minta dukungannya, ya. Biar tambah semangat nulisnya. Sedih banget lihat view sama favorit 🤧...


__ADS_2