
...***...
"Tinggalkan saja laki-laki tak berguna itu. Lagipula, apa yang akan kamu harapkan dari dia, dia sudah jelas-jelas selalu membela wanita itu. Bukankah sudah jelas, Cia! Berkali-kali kamu melihat dia bermesraan dengan wanita itu." Pram mulai mengarahkan pemantik elektrik pada lintingan tembakaunya.
"Tapi, Cia mencintai Delfin, Kek. Cia masih sangat menyayanginya." Cia masih keukeuh mengedepankan perasaannya. Memang ia masih begitu mencintai sang suami. Ia sadari kedekatannya dengan Farel hanyalah sebatas rasa nyaman. Ia membutuhkan sandaran, dan Farel datang di saat yang tepat.
Duduk bersekat meja dengan sang kakek di depan sana. Ia memijat pangkal hidungnya. Sedari tadi, Pramono menahannya di ruang kerja. Dan inilah tujuan sang kakek memanggilnya.
Pram tetap diam dengan tenang sembari mengepulkan asap ke udara. Mengulanginya lagi dan lagi.
"Kamu jangan mau dibodohi oleh cinta, Cia! Nyatanya, bukan hanya sekali kamu disakiti olehnya. Jika kamu memaafkannya lagi, dia pasti akan mengulanginya lagi."
Cia yang tidak terima, memandang Pram dengan tajam. Apa benar dia sebodoh itu untuk mempertahankan rumah tangganya?
"Kenapa, Cia? Benar, kan, apa yang kakek katakan?" Pram berdiri, berjalan pelan mendekati dinding kaca ruangannya. "Pikirkan kata-kata kakek!" Pram melirik sekilas pada sang cucu. Melihat Cia begitu bimbang, membuat Pram mengulas senyum. Tipis sekali.
Kali ini Cia diam. Dan memutuskan keluar dari ruang kerja Pram.
Cia diam di balkon kamarnya. Memikirkan saran Pram—sang kakek. Sudah seminggu sejak perkelahian Delfin dengan Farel. Selama itu pula ia tak pernah bertemu barang sekilas pun pada sang suami. Tidak adanya usaha Delfin kembali menemuinya membuat Cia harus mengambil keputusan.
...***...
Satu amplop berukuran besar mendarat sempurna di meja Delfin. Ia menaikkan wajahnya kala sebuah amplop itu bergeser menyentuh sebelah tangan yang ia letakkan di meja. Sedang tangan yang lain telah memegang satu bendle kontrak kerja.
Delfin yang tengah sibuk di ruang kerja apartemennya, sampai tidak menyadari kehadiran sang istri. Kegiatannya masih memeriksa kontrak baru untuk beberapa minggu ke depan.
Akses masuk apartemennya masih dengan kode yang sama, yaitu tanggal pernikahan mereka. Jadi, mudah bagi Cia untuk keluar masuk apartemen kapan pun ia mau.
__ADS_1
Sedikit terkejut dengan kehadiran sang istri dengan wajah datar. Mata indah berbalut kaca mata merk ternama menggantung sempurna pada pangkal hidung dan kedua telinganya. Sedangkan bibir tipis yang masih menjadi candunya terlihat dipoles dengan warna nude.
"Apa ini?" tanya Delfin. Tangannya meraih amplop berwarna putih dan membukanya. Matanya terbelalak kala melihat kop surat yang tertera paling atas. "Apa maksud kamu, Cia?" Delfin berdiri menghempaskan kertas dengan kasar. Membuat Cia memalingkan wajahnya. Sedikit takut akan reaksi sang suami.
"Kamu gila, Cia!" Delfin mulai tersulut emosi. Dengan cepat mendekati Cia. "Kamu ke sini bukanya mencari solusi rumah tangga kita, tapi makin memperburuk keadaan. Sadarlah, Cia!"
Sudut mata Cia mulai memupuk cairan. Tak dipungkiri, ada rasa sakit yang teramat saat ia meminta surat itu di kantor urusan agama tadi pagi. Perkataan kakek selalu berputar-putar di benaknya. Semakin bertambah yakin, saat ia teringat hal-hal yang menyakitkan sejak kehadiran manager baru sang suami.
"Solusi?" Cia melepaskan kacamata berwarna brown sugar dari wajahnya. Menampilkan wajah sembab karena banyak mengeluarkan air mata dari tadi pagi. Lebih tepatnya, saat ia mendapatkan surat atas laporannya.
"Ya. Ini solusi yang terbaik untuk kita, Delfin!" teriak Cia. Bersamaan dengan meluncurnya aliran air mata di kedua sudut matanya.
"Solusi macam apa ini, Cia?" Delfin meraih kedua bahu Cia. Menggoyangkan dengan keras agar Cia tersadar akan hal bodoh yang sudah diambil. "Masih bisa kita bicarakan baik-baik, Cia. Kenapa harus dengan cara seperti ini. Ini tidak benar!" Delfin masih berupaya menyadarkan Cia, seolah sang istri bertindak demikian atas bujukan orang lain menurutnya. Delfin seyakin itu, mengingat perjalanan cinta keduanya tidaklah mudah. Ia tidak mungkin melepaskannya begitu saja.
"Delfin, lepas," lirih Cia berucap. Semakin sakit kala ia menatap manik mata Delfin yang mulai memupuk air mata kecewa.
"Lepas, Delfin! Biarkan aku pergi!"
Masih berusaha melepaskan diri. Cia bahkan tengah memukul berkali-kali lengan itu. Sedangkan Delfin mulai menangis sesenggukan. Bukan karena rasa sakit akan pukulan Cia, melainkan rasa sakit karena keputusan Cia.
Tidak. Tidak akan Delfin biarkan hal ini bertambah parah. Sebelum segores tanda tangannya mengakhiri semuanya. Tidak ingin hal itu sampai terjadi. Delfin harus menghentikan Cia.
"Cia ... Sayang. Aku mohon jangan lakukan ini! Kau tahu, kan, aku nggak bisa tanpamu. Coba ingat kembali kisah kita. Bagaimana kita dulu meyakinkan Kakek, Cia. Dan sekarang, kita harus lebih kuat lagi untuk mempertahankan rumah tangga kita."
Perlahan, Cia sudah tidak memberontak lagi. Delfin sedikit lebih tenang. Tapi punggung bergetar sang istri membuat Delfin perlahan membalikkan tubuh sintal itu. Menghadap penuh padanya. Ia mendongakkan wajah Cia dan menghapus air matanya dengan kedua ibu jarinya.
"Maafkan aku, Cia. Kita pupus pertengkaran ini. Kita perbaiki semuanya. Aku nggak mau kita pisah. Aku ingin kita bisa sama-sama seperti dulu lagi."
"Kita bicarakan semuanya. Apa yang membuat kamu taksuka, akan aku coba menghindarinya. Begitu juga permintaanku padamu, Cia. Tolong jauhi Farel, karena itu akan membuatku sakit."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa kamu bisa menjauh darinya?" Cia melerai pelukannya. Menatap lekat wajah sang suami.
"Cia, dengarkan aku. Aku bisa berada di titik ini juga karena ada campur tangan Ziya. Dia yang membantuku. Jika tidak ada dia aku tidak yakin bisa seperti sekarang ini. Percayalah, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Aku menganggapnya sebagai rekan kerja, teman, sama seperti Bagus. Tidak lebih."
"Tap–,"
"Semua yang kamu tuduhkan, hanya salah paham. Mungkin keadaan yang kamu lihat tidak seperti itu adanya." Delfin meraih jemari Cia dan menggenggamnya.
"Jangan hanya karena hal seperti ini, membuat cinta kita goyah, Cia. Apa kamu mau cinta kita kalah dengan keadaan yang sedang tidak berpihak pada kita?"
Cia diam, mencoba mencerna dengan baik setiap kata-kata yang keluar dari mulut sang suami. Cia tak berusaha menyangkalnya lagi.
Delfin beralih membelai pipi Cia. "Kamu percaya sebuah nasihat. Makin tinggi bangunan yang kita bangun semakin besar pula tekanan angin yang siap menghantamnya. Begitu juga dengan rumah tangga kita, Cia. Jika pondasi kita berdua kuat, maka badai sebesar apa pun, pasti tidak akan mampu merobohkannya. Kamu, mengerti?" tekan Delfin menatap lekat mata Cia yang masih menyisakan air mata. "Aku minta maaf atas keadaan ini. Aku minta maaf atas kekuranganku, sehingga kamu mencari kenyamanan dari orang lain. Tolong jangan lakukan lagi!"
Cia tidak mampu berkata-kata. Ia berhambur memeluk sosok yang sangat ia rindukan. Delfin pun mulai bisa bernafas lega, kala merasakan pelukan sang istri begitu eratnya. "Maafkan aku juga, Delfin," lirih Cia di sela isak tangisnya.
"Apa aku boleh pulang?" tanya Cia masih dalam pelukan Delfin.
Delfin melerai cepat pelukan Cia. Menatap takpercaya pada Cia. Ia terhenyak sejenak dan menggeleng cepat. "Kamu mau pulang kemana, Cia? Tempatmu di sini."
Cia sedikit tersenyum. "Boleh aku pulang ke tempat ini lagi?"
Delfin lekas menarik tubuh Cia lagi. Senyum terukir di wajahnya. Ia meluapkan kebahagiaan tak terkira yang begitu ia tunggu-tunggu. "Sejak lama ini sudah menjadi tempat tinggal kita, Sayang. Tempat kembalinya kita. Tempat di mana seharusnya kita berada."
...***...
...Aduh ... Delfin suami idaman banget, sih. Buat othornya ajalah 😅...
__ADS_1