
...***...
Sebuah foto yang menunjukkan wajah seorang gadis yang babak belur berhasil membuat Cia tersenyum puas. Sebuah pelajaran yang dirasa pantas gadis itu dapatkan karena berani menggoda suaminya.
“Mampus kamu! Ini hanya teguran kecil dariku karena kamu sudah berani main-main denganku. Tidak ada yang boleh mengganggu milikku, apalagi berniat mengambilnya,” batin Cia.
“Apa kamu bahagia?” Sebuah suara menarik Cia kembali pada realita, setelah ia larut dalam pikirannya sendiri.
“Tentu. Kakek nggak pernah mengecewakanku. Makasih. Cia sayang sama Kakek,” ucapnya dengan bangga. Sebuah pelukan hangat ia berikan untuk sang kakek tercinta.
“Okey. Kakek rasa sudah cukup bagi gadis itu mendapatkan pelajaran. Kakek akan melepaskannya sekarang.”
“Secepat itu?” Cia mengurai pelukannya sembari mengernyitkan kening, merasa kurang puas jika gadis itu lepas begitu saja.
Rasanya, Cia ingin menghajar gadis itu sendiri. Memberikan tamparan berulang kali hingga hatinya puas. Akan tetapi, ia juga tidak sudi mengotori tangannya untuk menyentuh ****** itu. Lagi pula ia juga masih memikirkan nama baiknya, berjaga-jaga jika gadis itu mengadukannya pada Delfin.
“Kakek tidak bisa lama-lama menyekap gadis itu. Sudah dua hari ia ditahan, pasti keluarganya akan mencari dan lapor polisi. Kakek tidak mau semua menjadi runyam dengan adanya campur tangan pihak berwajib,” terang Pram panjang lebar. Ia mencoba memberi pengertian pada Cia. Bagaimanapun juga, Ziya adalah orang suruhannya sendiri, ia tidak mau menahannya lama-lama agar misinya segera berhasil.
Dengan berat hati, Cia pun menyetujui untuk melepaskan gadis itu dari sekapan kakeknya. Tanpa Cia ketahui, semua itu justru permainan dari Pram. Lebam dan semua yang terpampang dari wajah gadis yang ada di foto itu tak lain adalah hasil rekayasa make-up saja. Nyatanya Ziya baik-baik saja di sana. Tidak terluka sedikit pun.
“Nanti malam kakek mengundang seseorang ke rumah. Kamu dandan yang cantik, kakek ingin mengenalkan kamu dengannya.”
“Siapa?”
“Rekan kerja kakek,” jawab Pram sembari berlalu meninggalkan Cia yang termangu.
“Apa kakek mau nikah lagi?” tanya Cia pada dirinya sendiri. Cia terkikik geli dengan pikirannya sendiri, lalu bergegas menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
__ADS_1
...***...
Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Meja makan sudah tersaji berbagai hidangan yang menggugah selera. Tamu yang digadang-gadang oleh Pram sudah berada di ruang tamu, tengah berbicara santai diselingi tawa riang.
Cia yang baru saja turun dari lantai dua mendadak kepo, dengan siapa kakeknya berbincang hingga membuat sang kakek tertawa. Hal yang sangat jarang terjadi, mengingat Pram adalah orang yang tidak mudah dekat dengan orang lain.
“Eh, Sayangnya kakek kenapa baru turun. Sini, sini!” pinta Pram saat melihat Cia melangkah memasuki ruang tamu. “Cia, kenalin, ini Farel. Farel, ini cucu saya, Falencia.” Pram memperkenalkan keduanya.
Kedua tangan itu saling bersambut dengan mengucap nama masing-masing. Netra hazel milik Farel begitu lekat menatap Cia. Cantik, bahkan teramat cantik, itu penilaian Farel pada sosok wanita yang kini tengah tersenyum di depannya. Hingga Farel menyadari, jika Cia adalah wanita mabuk yang ada di bar kemarin. Namun, lelaki itu memilih untuk pura-pura baru bertemu. Saat itu Cia mabuk, sudah pasti tidak akan mengenali Farel dengan baik.
Tidak lama setelah perkenalan itu, Pram mengajak Farel dan Cia untuk makan malam. Mereka makan dalam keheningan, hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring. Sudah menjadi aturan dalam keluarga Lubis, jika makan tidak boleh sambil berbicara.
Usai makan malam, Pram mengajak Cia dan Farel duduk di teras belakang, sembari menikmati suasana malam yang begitu syahdu. Langit tampak bertabur bintang, bulan pun membulat sempurna. Suara gemercik air dari pancuran air di tengah kolam ikan membuat suasana semakin hangat.
“Farel ini CEO Arfa Group, Ci.” Pram menunjukkan jati diri Farel pada Cia.
“Oh, ya?” Cia menatap takjub pada Farel, membuat Farel tersenyum malu. “Keren, dong, masih muda udah jadi CEO aja,” lanjutnya.
Bagi Farel, Cia tidak hanya cantik, tetapi juga patut diperhitungkan dalam dunia bisnis. FL butik sendiri sudah tidak diragukan lagi hasil rancangan gaunnya, selalu memesona dan itu berasal dari ide wanita yang ada di depannya.
Perbincangan hangat terus mengalir antara Cia dan Farel. Pram tersenyum bahagia melihat itu. Selangkah lagi untuk membuat Cia bercerai dari Delfin, dan Pram akan menjodohkan Cia dengan Farel. Pram dapat melihat ada ketertarikan dalam netra Farel saat menatap Cia.
...***...
Delfin meminta pada sang produser untuk memundurkan penggarapan video klip albumnya. Ziya seperti hilang ditelan bumi. Beruntung sang produser bisa diajak kerja sama meski melalui perdebatan yang cukup alot.
“Kamu ke mana, Zi?” tanya Delfin pada diri sendiri. Kekhawatiran semakin menguasai hatinya. Tidak biasanya Ziya hilang tanpa kabar, bahkan Bu Erna juga kebingungan mencari Ziya. Bagus juga ikut kalang kabut mencari. Hingga tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Sebuah gambar. Gegas Delfin mengunduh kiriman gambar itu.
“Brengsek!” umpatnya. Hatinya meradang melihat gambar yang tengah ia pandang. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya terlihat, terlebih saat membaca pesan yang tertera di bawahnya. ‘Akibat menjadi pelakor'
__ADS_1
“Bagus!!!” teriak Delfin seperti orang kesetanan. Ia berlari ke sana-ke mari mencari keberadaan sang sopir. Bagus yang mendengar teriakkan Delfin pun bergegas menghampiri.
“Kenapa, Mas?” Bagus ikut panik melihat wajah Delfin yang merah padam.
“Lihat ini!” Delfin memberikan ponselnya pada Bagus.
Bagus ternganga melihat gambar yang ada di ponsel itu. “Astaghfirullah, Mbak Ziya.” Sontak Bagus menutup mulut dengan tangan satunya yang bebas. “Ini kenapa Mbak Ziya bisa jadi seperti ini, Mas? Kita harus segera lapor polisi. Ini penculikan namanya.” Bagus pun ikut panik melihat foto Ziya.
“Iya. Ayo, Gus!”
Tidak menunggu lama, Bagus dan Delfin bergegas menuju parkiran. Langkah kaki mereka ayunkan begitu cepat. Rasa khawatir dan takut membelenggu hati. Baru saja Delfin dan Bagus hendak masuk mobil, sebuah suara menginterupsi, hingga menghentikan langkah mereka.
Delfin mematung. Ia mengenali suara itu. “Itu seperti suara Mbak Ziya, Mas?” Bagus bersuara, memastikan pendengarannya.
Secepat kilat Delfin membalik tubuh, begitu juga Bagus. Dilihatnya sosok yang tengah mereka khawatirkan mendekat ke arah mereka. Tidak menunggu lama, Delfin berlari, menerjang tubuh yang tengah dikhawatirkannya. Membawa gadis itu dalam pelukan yang begitu erat. Bagus turut berlari kecil menghampiri Ziya dan Delfin.
“Fin, kenapa?” Ziya kebingungan melihat tingkah Delfin dan Bagus yang begitu panik.
“Syukurlah kamu selamat,” ucap Delfin semakin mengeratkan pelukan.
“Mbak Ziya nggak kenapa-napa, kan? Ada yang sakit, Mbak? Ayo, ke dokter! Kita periksakan kondisi, Mbak.” Bagus menatap Ziya dengan prihatin. Terlihat ada memar di kening dan tulang pipi milik Ziya.
“Fin, sesak,” keluh Ziya saat Delfin tak kunjung melepaskan pelukannya.
“Ma-maaf,” ucapnya sembari mengurai rengkuhannya pada tubuh wanita di depannya. “Aku begitu mengkhawatirkanmu. Kamu hilang begitu saja dan tiba-tiba aku mendapat pesan kamu tengah diculik. Siapa yang sudah melakukannya? Ayo, kita lapor polisi!” ajaknya.
Ziya termangu menatap wajah Delfin yang tengah diliputi rasa khawatir dan panik. Ada rasa yang membuncah di hatinya melihat perhatian Delfin dan Bagus yang begitu besar kepadanya.
...***...
__ADS_1