Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Saat yang Tepat


__ADS_3


...***...


Delfin yang baru tiba di apartemen terkejut saat melihat sosok sang istri.


Inginnya merengkuh tubuh Cia, membawanya ke dalam pelukannya, tapi nalar mengikatnya untuk diam di tempat. Terikat oleh luka yang masih menganga bahkan masih tersisa perihnya.


Lama Delfin memandangi Cia. Rupanya Cia tak juga sadar akan kehadirannya. Hingga Delfin melihat Cia terhuyung. Dengan sigap Delfin menangkap tubuh yang sepertinya telah kehilangan keseimbangannya tersebut.


"Cia!"


Cia berusaha menjaga kesadarannya. Melihat raut wajah khawatir Delfin membuat hatinya seperti di remas-remas. Ia yang sudah begitu banyak menyebar luka masih mendapatkan perhatian tulus dari sang suami.


"Kamu sakit, Cia?"


Cia menggeleng. "Enggak, Fin. Aku hanya kelelahan saja." Cia berkilah.


Di sana Cia hanya berbincang sebentar sekedar berbasa-basi. Ia sengaja menghindari percakapan serius yang akan membuatnya tertekan. Pengakuan Ziya, sudah cukup membuatnya terguncang. Ia tak mau memperburuk keadaan.


Cia pamit pada Delfin. Meski Delfin terlihat keberatan, Cia tetap ingin menenangkan diri.


...***...


Dengan tergesa Farel keluar dari ruang meeting. Meskipun asistennya berkali-kali mengingatkan jika masih ada agenda jam lima sore nanti, Farel tak menggubris. Ia tetap melangkahkan kakinya menuju lift khusus.


"Pak Far–,"


Farel menyela perkataan asistennya dengan mengangkat sebelah tangan. "Cukup. Saya ada pertemuan yang lebih penting. Kau atur saja." Farel juga mengibaskan tangan agar asistennya tak banyak protes lagi. Meskipun ia tahu. Mungkin saja asistennya saat ini tengah mengumpat padanya. Lagi-lagi, ia tak ingin menghiraukannya. Baginya, Hanya Cia yang lebih penting dari urusan apapun.


Sore ini Farel berniat mengunjungi Cia di butik. Melalui chat sebelum meeting tadi Cia katakan sedang malas dan ingin rebahan saja di sana.


SUV berwarna silver tengah membelah jalanan. Berbaur dengan kesibukan khalayak lainnya. Berlomba-lomba untuk sampai pada tujuan masing-masing.


Berkali-kali Farel memeriksa ponselnya, tak ada balasan dari Cia. Sungguh hal itu membuat Farel di dera panik. Tangan yang mengepal. Serta hadirnya pengguna jalan yang lain seperti tengah menggodanya saja.


Terakhir kali Cia membalas pesannya, hanya dengan voice note. Suaranya terdengar lemah dan juga lirih. Farel semakin dalam menginjak pedal gas dengan kakinya. Agar cepat sampai di tempat pujaan hati.


Sayangnya, sang pujaan hati merupakan istri orang. Mengingat hal itu, Farel jadi kesal. Namun, tak apa. Semua telah terjadi. Perduli setan jin dan persepupuannya. Ia mencintai Cia sejak lama. Rasa yang dulu tengah berkobar harus terpaksa padam dengan bara yang masih pekat mengeluarkan asapnya. Saat ia kembali dipertemukan, Cia datang dengan luka pernikahannya. Jiwa lelakinya mulai bangkit kembali. Bak Rama yang ingin merebut kembali Sinta dari Rahwana. Hanya saja, seorang Cia di sini tak pernah menganggapnya spesial sebelumnya. Kembali, ia di pertemukan dengan keadaan yang membuatnya meragu di antara keyakinan yang membuncah. Ada sosok bernyawa yang ia rasa adalah darah dagingnya. Maka, tak ingin melewatkan kesempatan yang ada meskipun dengan cara yang salah, merebut istri orang. Ia ingin terus melangkah menggapai impian yang dulu sempat kandas.

__ADS_1


Tiba di butik Cia, Farel segera masuk. Meskipun ada rasa segan pada karyawan di sana, Farel segera menepisnya.


Seorang pekerja menemui Farel yang mengungkapkan maksud tujuannya. Pekerja itu mengatakan jika Owner mereka bermalam di butik dan tak terlihat pulang ke rumah. Mendengar itu, Farel kembali merasa di dera sakit berlipat-lipat. Ia berfikir pasti Cia sangat tertekan dengan kehamilannya.


Farel di bimbing menuju ruangan pribadi Cia.


"Silakan, Pak. Jika sudah ada janji sebelumnya. Bapak tinggal masuk saja." Pekerja itu mempersilakan Farel untuk masuk lalu ia kembali pada pekerjaannya.


"Cia, kau di dalam." Farel beberapa kali mengetuk pintu namun. Tak ada sahutan dari dalam.


"Cia, aku masuk, ya." Kali ini Farel menunggu respon Cia dari balik pintu. Farel tahu Cia di dalam. Menurut pengakuan CIA tadi saat bertukar pesan.


Dengan pelan Faren membuka kenop pintu dan masuk di ruangan Cia.


Hal pertama yang Farel lihat adalah Cia yang tengah tertidur di sofa. Beberapa anak rambut terlihat menghalangi paras ayunya. Farel memberanikan diri menyingkirkan beberapa helai rambut Cia.


Sedikit sentuhan yang mengenai wajah pucat itu, membuat pemilik wajah mulus tanpa noda sedikitpun itu terbangun dari tidurnya.


Cia yang tak dapat tidur nyenyak di malam hari membuat jadwal istirahatnya tidak teratur. "Kamu, Rel." Sapa Cia sembari berusaha untuk bangun. Namun, kondisi badannya yang lemah membuat Cia terasa berat mengangkat beban tubuhnya.


Farel sigap membantu Cia untuk duduk dengan benar. Melihat wajah Cia yang begitu pucat membuat Farel kembali panik. ''Cia, kamu pucat sekali. Kita ke dokter, ya."


"Aku nggak apa-apa, Rel. Hanya kecapekan," sanggah Cia berusaha tersenyum.


Bagaimana Cia tidak lelah? Berkali-kali masalah datang bertubi-tubi. Rumah tangganya berantakan karena kehadiran Ziya. Kesalahpahaman yang berkelanjutan. Hadirnya Farel bak tempat mengadu di saat yang tepat lalu bertambah dengan adanya sosok bernyawa dalam tubuhnya. Semua itu bagai ribuan anak panah yang terus menghujani raganya.


"Sebentar, Rel. Aku ambilkan minum." Cia mencoba berdiri, tetapi tubuhnya kembali limbung dan nyaris jatuh bila Farel tak menangkapnya.


"Cia," pekik Farel. Farel kembali menegakkan tubuhnya juga Cia dan membawanya duduk. Mulutnya masih berusaha membujuk Cia agar mau di ajak periksa. Ia juga mengambilkan minum untuk Cia. Farel takut Cia dehidrasi dan itu dapat berakibat buruk pada calon anak mereka.


Sungguh, Farel sudah seperti sosok suami siaga bagi Cia. Tapi tidak untuk, Cia. Pikirannya entah kemana. Ingin marah namun pada siapa untuk menyayangkan takdirnya. Ia bersalah tapi ada sosok yang lebih bersalah di balik ini.


Terlihat, Farel sedang menghubungi seseorang dari sambungan telepon. Tak lama, Farel menawarkan untuk membopong Cia yang terlihat tak bertenaga.


"Tidak, Rel. Makasih. Kamu nggak perlu repot-repot ngelakuin ini." Cia menepis pelan tangan Farel.


"Cia, apa maksud kamu?"


Farel memegang tangan Cia yang sedingin es. Rambut Cia yang sedikit berantakan, tetapi tak mengurangi kadar kecantikan kelas premium yang mengalir dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa, seorang ayah tega membiarkan ibu dari anaknya mengalami kesusahan. Itu bukan lelaki sejati, Cia. Itu bukan aku."


Entah mengapa perkataan Farel sangat menohok hati Cia. Kembali, Cia tak habis pikir dengan kakek sekaligus seorang yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri, sosok yang selalu ada untuknya justru menjadi akar kebahagiaannya menjadi hancur.


Mengingat itu, Cia menjerit histeris. Farel pun semakin panik. Disusul beberapa karyawan Cia yang berdatangan. Tak menunggu lama, Farel membawa Cia menuju mobilnya. Dengan beberapa karyawan yang membantu membawakan barang-barang Cia menyusul di belakangnya.


"Hubungi, kakeknya Cia!" Titah Farel membuat salah satu karyawannya cekatan menghubungi nomor orang penting di hidup owner-nya.


Beberapa pekerja Cia saling bergunjing. Sedangkan Cia sendiri sudah hilang kesadarannya. Menyisakan Farel yang bermandikan keringat karena membawa beban Cia yang terkulai lemas.


Farel membenahi posisi Cia agar lebih nyaman. Setelahnya ia bersiap di balik kemudi. Dengan Cia di bangku belakang dengan seorang karyawan wanita menopang kepala Cia.


Sepuluh menit, Farel sudah membawa Cia menuju ruang UGD. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada karyawan Cia dan menyuruhnya kembali bekerja.


Cia mendapatkan pemeriksaan dari dokter Obgyn. Farel masih mondar-mandir menunggu di depan. Teringat akan Tuan Pram, Farel bersiap menghubungi sendiri. Namun, belum sempat ia menekan tombol hijau pada genggamannya , nama Tuan Pram sudah muncul di sana.


"Hallo, Tuan."


"Benar."


"Cia sudah mendapatkan pemeriksaan dan saya sedang menunggunya."


"Baik. Akan saya jaga melebihi nyawa saya sendiri."


Telepon terputus, Farel kembali mendekati ruang tempat Cuma mendapat pemeriksaan. Bersama dengan itu, Dokter (xxxx) keluar dan mengatakan kondisi Cia.


"Sebaiknya di rawat saja, Dok. Saya takut terjadi apa-apa dengannya." Farel mengusulkan.


"Bisa di bilang ini masalah serius, Farel. Stres yang di alami ibu hamil akan membuat dampak buruk bagi kesehatan keduanya." Ucapan dokter Obgyn yang Farel kenal membuat pikirannya kembali resah.


"Lakukan! Lakukan apapun asalkan keduanya tak mengalami hal buruk apapun, Dok!"


Setelahnya, Dokter membawa Cia ke ruang perawatan dengan Farel yang mengurus administrasinya. Selesai di ruang administrasi, Farel kembali ke ruangan Cia. Di sana sudah ada Pramono bersama Burhan asistennya.


"Terimakasih, Farel. Lagi-lagi, kamu ada pada saat yang tepat saat Cia membutuhkan."


Ada rasa bersalah yang tak dapat ia ungkapkan melihat bagaimana berantakannya Farel di hadapan Pram. Sebagian kemejanya terlihat kusut bahkan sudah keluar dari tempatnya. Kancing lengan yang sudah terbuka dan digulung asal menjadi bukti bahwa Farel juga ikut khawatir akan keadaan cucu kesayangannya. Bahkan Farel sendiri lupa di mana jas hitam yang tadi membalut tubuhnya.


...***...

__ADS_1



__ADS_2