Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Trik yang Licik


__ADS_3

...***...


Tepat pukul sebelas siang, Delfin tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Delfin, Cia, dan Bagus segera melaju ke tempat butik Cia untuk mengantarkan Delfin sesuai keinginannya kemarin malam. Sesekali Ziya melirik Delfin yang sedang menutup matanya di kursi belakang dari spion yang menggantung di depan.


Tiba-tiba dering di ponsel Ziya pun membuat tatapannya pada Delfin terputus. Ia segera menerima panggilan tersebut yang memperlihatkan nama Lukman.


"Hallo selamat siang, Pak."


"...."


"Iya, Pak. Ini sudah sampai di Jakarta."


"...."


Ziya kembali melirik Delfin dari spion. "Harus sekarang, Pak?"


"...."


"Baik, Pak. Akan saya sampaikan ke Delfin."


Setelah memastikan bahwa sambungan itu terputus, Ziya mengembuskan napas panjang. "Kenapa, Mbak?" tanya Bagus yang menyadari reaksi Ziya.


"Itu ... Pak Lukman telepon, katanya disuruh ke kantor sekarang. Ada pembahasan mengenai video klip."


"Lalu?"


"Mau bilang ke Delfin, tapi orangnya masih tidur. Mau bangunin takut ganggu," keluh Ziya.


"Ya udah, Zi. Langsung ke sana saja. Kita putar balik, Gus." Suara dari kursi belakang membuat Ziya terlonjak kaget.


"Sudah bangun, Fin?"


"Aku nggak tidur. Cuma merem aja, tadi," jawab Delfin sambil membetulkan posisi duduknya.


"Jangan-jangan dia tau aku meliriknya dari tadi?" batin Ziya, kemudian langsung membekap mulutnya sendiri ketika menyadari tingkahnya.


"Kenapa, Mbak?" tanya Bagus.


"Eh, enggak, Mas," jawab Ziya nyengir.


"Aku tau apa yang kamu pikirkan, Zi." Delfin kembali menyahut dari tempatnya.


Ziya merasa ingin tenggelam saat Delfin mengatakannya. Bayangan dirinya yang melirik wajah Delfin membuat wajahnya seketika memerah. "Sorry, Fin."


Sedangkan Delfin hanya menahan tawa begitu melihat Ziya yang salah tingkah. Apa yang diucapkannya hanyalah bohong, bahwa ia tahu apa yang Ziya pikirkan. Kenyataannya, lelaki itu tidak tahu apa yang ada di pikiran Ziya, hingga membuat wanita itu kini bersemu merah. Delfin hanya begitu menikmati perannya saat menggoda Ziya.


Delfin kembali memejamkan mata, lalu mengembuskan napas berat. Niatnya untuk memberi kejutan pada Cia pun terpaksa gagal, saat ia mendengar ucapan Ziya yang mengatakan bahwa Pak Lukman mencarinya.


Semalam Delfin begitu senang mendengar Cia merindukannya, itu tandanya amarah Cia sudah mulai mereda. Hal itu yang membuatnya berniat untuk memberi kejutan pada istrinya, agar Cia tidak kembali marah dan kembali menuduhnya.

__ADS_1


Delfin heran, sebenarnya siapa yang mengirimkan foto itu pada Cia? Apakah Dea? Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Delfin hanya tertuju pada si pengirim foto. Jika memang itu Dea, dia akan sangat marah pada rekan seprofesinya itu.


Sampai di kantor agensi, Delfin langsung disambut oleh kedatangan Dea. "Hai, Fin!" sapa Dea dengan senyum ramahnya.


"Oh, hai!"


"Fin, sebaiknya kita segera ke atas menemui Pak Lukman." Ziya segera menahan Delfin yang akan berhenti berbincang dengan Dea.


Dea memutar bola matanya. "Please, deh! Kenapa lo jadi kayak istrinya, sih? Risih tau, nggak, liat lo ngatur-ngatur Delfin kayak gitu! Lo itu cuma manajernya," protes Dea.


"Maaf, Mbak Dea. Justru karena saya manajernya, saya harus mengutamakan kepentingan pekerjaan daripada kepentingan pribadi." Saat menyebutkan kata pribadi, Ziya sengaja melirik tajam ke arah Dea, membuat wanita itu semakin dibuat geram.


"Sudah, cukup!" ucap Delfin melerai, "Zi, ayo ke atas!"


Ziya mengangguk. Saat Ziya berjalan melewati Dea, dengan sengaja kaki Dea terulur ke depan hanya untuk membuat Ziya tersandung, kemudian ia melenggang pergi.


Hal itu hampir membuat Ziya terjerembab ke depan, jika saja tangan Delfin tidak refleks menangkap tubuh Ziya. Aksi penyelamatan itu justru membuat Ziya semakin gugup. Pasalnya, tangan Delfin tepat berada di pinggangnya. Debaran dada yang sangat cepat membuat aliran darahnya berdesir. Apalagi tatapan mata mereka bertemu. Blush!


"Kamu nggak apa, Zi?" tanya Delfin, masih pada posisi yang sama.


Suara bass milik Delfin mengembalikan kesadaran Ziya. Ia segera menarik dirinya dari Delfin dan pura-pura memperbaiki bajunya. "Aku nggak apa, Fin," jawab Ziya dengan suara bergetar.


Setelah memastikan kondisi Ziya baik-baik saja, keduanya lekas berjalan menuju ruangan milik Pak Lukman.


...***...


"Sudah dapat?" tanya seorang wanita lewat sambungan ponselnya.


"Oke, kirim ke saya segera!"


Tak lama kemudian, ponsel wanita itu mendapat kiriman apa yang ia inginkan. Kedua sudut bibirnya menyunggingkan senyuman licik. Apa yang dilakukannya tadi adalah trik untuk membuat sebuah konflik.


...***...


Delfin terlihat menarik tangan Ziya begitu keluar dari kantor agensi dan segera membawa Ziya menuju mobilnya dengan tergesa-gesa.


"Gus, kita lanjut ke mall dulu. Aku mau belikan sesuatu untuk Cia."


"Baik, Mas."


"Zi, nanti bantu aku memilih hadiah untuk Cia, ya?"


Ziya mengangguk mantap "Siap, Fin."


Dea yang melihat Delfin keluar dari kantor dengan menarik Ziya dibuat penasaran dengan ke mana Delfin pergi. Ia pun mulai mengikutinya.


Begitu memasuki area parkir mall, Ziya segera menyerahkan topi dan masker untuk Delfin. "Terima kasih, Zi."


Mereka langsung menuju bagian perhiasan. Delfin memang berencana membelikan liontin untuk Cia. Setelah melihat beberapa model, telapak tangan Delfin terulur ke leher Ziya. "Sepertinya sama," ucap Delfin membuat Ziya kebingungan.

__ADS_1


"Zi, tolong kamu pilihkan mana yang bagus antara empat liontin itu."


Ada empat pilihan kalung berbeda di depan Ziya. Berbentuk bulan sabit dengan ujung bintang kecil, bentuk sayap kupu-kupu dengan full berlian, berbentuk love dan yang terakhir hanya berhias satu kristal berlian.


"Yang ini saja, Fin. Melihat bagaimana istrimu, sepertinya dia lebih suka yang simple, tetapi tetap terlihat elegan dan mewah." Pilihan Ziya jatuh pada kalung dengan berhias satu kristal berlian. Itu akan telihat mewah ketika Cia yang memakainya.


"Mbak, bisa ambilkan yang dipilih teman saya?" tanya Delfin pada karyawan toko.


Karyawan itu kemudian mengambilnya dan menyerahkan pada Delfin. "Ini, Pak."


Delfin mencoba kalung itu pada leher Ziya. Ternyata benar, ukuran leher Ziya dan Cia sama. "Untung aku membawa orang yang benar," gumam Delfin sambil melepas liontin dari leher Ziya. Jangan ditanya bagaimana kabar jantung Ziya sekarang. Jika saja alat pendeteksi detak jantung ditempelkan, mungkin gelombang yang ditimbulkan akan terlihat berantakan.


"Oke, Mbak. Saya pilih yang ini," ucap Delfin menyerahkan liontin. "Zi, silakan pilih satu buat kamu."


Ziya menggeleng. "Nggak, Fin, makasih. Aku nggak terlalu suka perhiasan."


"Ayolah, Zi. Sebagai tanda terima kasih."


"Nggak, Fin. Jadi ngasih kejutan buat Cia, nggak?"


"Oke. Janji, lain hari kamu harus nerima, ya?" pinta Delfin tanpa bisa didebat.


...***...


Cia sangat bersemangat pergi ke butik sejak pagi tadi. Perasaannya perlahan membaik, karena sikap Delfin yang terus saja membuatnya luluh.


Sebenarnya, Cia tak ingin marah-marah pada Delfin. Ia begitu mencintai suaminya, bahkan rela membantah perkataan kakeknya dan menolak perjodohan hanya untuk menikahi Delfin.


Delfin terlihat bertanggung jawab dan serius untuk membuktikan pada Kakek Pram. Sebenarnya, Cia tidak membutuhkan pembuktian itu, karena ia yakin bahwa Delfin mampu membuatnya bahagia tanpa harus bergelimang harta.


Namun, adanya Ziya di samping Delfin membuatnya merasa tersisihkan belakangan ini. Walaupun Delfin sesekali menghubunginya, tetapi waktunya banyak dihabiskan bersama perempuan lain.


Tentu itu membuat Cia agak takut dengan posisinya. Pasalnya, Ziya pun masuk dalam kategori wanita cantik dan seksi. Apalagi, sekarang banyak muncul berita artis ketahuan selingkuh dan berakhir pada perceraian. Cia mencoba menenangkan dirinya saat mengingat berita-berita itu.


Ponsel Cia berdering, menampilkan nama Dea di layarnya. Cia berdecak. "Ck! Untuk apa lagi, sih, telepon?"


Cia membiarkan panggilan itu berlanjut hingga panggilan ke-3. Namun, ia langsung meraih ponselnya ketika nomor Dea mengirimkan dua foto. Membuat Cia penasaran dan langsung membuka pesan dari wanita itu.


Di foto pertama, Cia melihat sepasang manusia yang terlihat berpelukan di kantor agensi milik suaminya. Ia dapat melihat dari layar belakang di mana foto itu diambil. Ia menyipitkan matanya untuk melihat detail siapa yang ada di balik foto itu, sedetik kemudian matanya melebar ketika menyadari bahwa suami dan manajernya yang ada di sana.


Kemudian Cia menggeser layar ponselnya dan menampilkan dua orang dengan baju yang sama seperti foto pertama. Bedanya, di foto kedua suaminya terlihat memakaikan sesuatu di leher Ziya, seperti sebuah liontin.


Cia ingat, jika Delfin belum terlibat film atau pun sinetron. Bahkan, video klip untuk albumnya pun masih dalam tahap rencana. Itu yang Delfin katakan padanya beberapa hari lalu.


Tangan Cia menggenggam erat ponsel di tangannya. Ini bukan permainan film ataupun video klip. Apa yang mereka lakukan saat ini membuat amarah kembali menguasai Cia.


...***...


__ADS_1


...Yuk, dukung novel ini biar bisa masuk karya lomba pelakor 😁😘...


__ADS_2