Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Mabuk


__ADS_3


...***...


“Brengsek!” Wajah itu terlihat begitu kesal karena pemandangan yang baru saja ia lihat. Kedua tangannya mengepal kuat menahan amarah yang tengah membuncah. “Lo bakal nyesel, Zi, udah berurusan sama gue. Setelah gue berhasil nyingkirin lo, gue bakal singkirin juga Cia yang sok perfect itu,” geramnya.


Ia lihat sekali lagi gambar yang baru saja tertangkap oleh kamera ponselnya. Lagi, hatinya terasa mendidih melihat keintiman Ziya dan Delfin. Sudah setahun ini ia berusaha mendekati Delfin, sayangnya ia tak pernah punya kesempatan untuk seintim itu. Kecuali dengan cara licik, baru ia bisa membodohi Delfin yang polos. “Gue harus bisa dapetin Delfin bagaimanapun caranya. Walau harus dengan cara kotor sekalipun,” racau Dea sembari melangkah meninggalkan agensi.


Sesampai di mobil, Dea kembali memainkan ponsel. Secepat kilat jari itu berseluncur di layar ponsel, mengirimkan pesan pada seseorang, hingga senyum miring tercetak jelas di wajahnya.


“Mampus lo, Zi. Gue bakal menikmati drama panjang yang seru. Cia bakal ngamuk sama lo, hingga lo diusir. Lalu Delfin bakal jengah dengan sikap Cia dan itu bakal jadi kesempatan gue buat dapetin Delfin. Rencana yang sempurna, De,” gumamnya sendiri.


...***...


“Argh!!!” teriakan sarat akan rasa frustrasi itu menggema di ruang kerja milik wanita cantik yang tengah meluapkan emosi. Tangannya mengepal, lalu menghamburkan semua yang ada di meja hingga berserakan di lantai.


Ia tergugu menahan cemburu. Butiran bening meluncur begitu saja dari kedua mata sayu miliknya. Tubuhnya pun turut limbung. Ia remas baju bagian dada berharap mengurangi sesak yang ada. Tubuh itu ia sandarkan pada kaki meja, ia butuh sandaran untuk menopang tubuhnya.


“Bagaimana bisa?” tanyanya pada diri sendiri menatap nanar sebuah gambar di mana sang suami tampak tengah mencium seorang wanita. “Bagaimana bisa kamu khianati aku, Fin? Apa kurangnya aku sampai kamu tega lakuin ini semua?”


Rasa kecewa itu menggerogoti hati. Sakit itu seakan terasa begitu nyata. Bagai ratusan anak panah menghujam hati, perih, dan begitu menyesakkan. “Wanita brengsek! Wanita sialan! Akan kubuat kamu menderita seumur hidupmu hingga kamu tak akan mampu menahan sakitnya. Kamu harus merasakan sakit yang lebih dari apa yang kurasakan!”


Buru-buru ia menghubungi salah satu kontak yang ada di ponselnya. Tak lupa ia kirimkan pula foto Delfin yang terlihat tengah berciuman dengan Ziya.


“Halo, Sayang,” sapa suara orang di seberang.


“Cia nggak peduli, pokoknya wanita yang ada dalam foto itu harus diberi pelajaran yang setimpal. Cia mau wanita murahan itu menderita!” Tanpa menunggu jawaban, ia memutuskan sambungan telepon membuat orang yang dihubungi tersenyum penuh kemenangan.


...***...


Pram segera menghubungi Ziya sesaat setelah menerima foto Ziya dengan Delfin.

__ADS_1


“Iya, Pak,” sapa Ziya.


“Kerja yang bagus, Zi. Saya baru saja mendapatkan foto kamu dan Delfin dan itu berhasil membuat Cia marah besar,” tutur Pram.


“Kalau boleh jujur, sejujurnya foto itu tidak sesuai dengan kenyataannya, Pak. Hanya saja saat pengambilan gambar berada di angle yang tepat, jadi seolah-olah saya sedang berciuman dengan Delfin.”


“Apapun itu, yang penting kamu berhasil membuat Cia marah. Oh, ya, kamu harus berhati-hati. Setelah ini, saya rasa Cia tidak akan tinggal diam.”


“Saya percaya Bapak bisa melindungi saya.”


“Good! Saya suka kinerja kamu dan rasa percaya kamu terhadap saya. Besok kamu hanya perlu berpura-pura hilang untuk beberapa hari, agar Cia tetap percaya pada saya. Nanti akan ada anak buah saya yang menjemput kamu dan menyembunyikan kamu,” terang Pram membeberkan rencananya.


“Baik, Pak.”


Sekali lagi Pram tersenyum penuh kemenangan. “Tinggal sedikit lagi, Cia akan benar-benar membencimu bocah ingusan. Cucuku terlalu berharga untuk laki-laki seperti kamu.”


...***...


Rasa sakit dan kecewa tengah meraja meski tak lagi ada air mata. Sudah cukup baginya tadi mengamuk dan menangis melampiaskan semua emosi. Kini, semua sudah ia pasrahkan pada sang kakek. Ia percaya sang kakek akan memberikan hukuman yang setimpal pada wanita sialan itu.


Kesal dengan telepon yang tak berhenti bergetar, dengan malas ia menggeser icon warna hijau.


“Sayang, kamu ke mana aja. Aku khawatir.” Suara di seberang sana tampak begitu cemas.


Cia tersenyum miris mendengar suara sang suami. “Sudah puas main-main sama jalangmu itu? Dan sekarang baru ingat kalau kamu punya istri?” tudingnya sengit.


“Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti.” Di sana Delfin tengah mengernyitkan kening, bingung akan tuduhan sang istri.


“Aku malas bicara dengan pengkhianat seperti kamu.” Tanpa berniat menjelaskan pada Delfin, Cia segera menutup panggilan telepon dan membanting ponselnya ke sofa.


“Brengsek kamu, Fin. Kamu manfaatkan cintaku agar kamu bisa berbuat semau kamu. Bahkan kemarin, kamu lebih memilih wanita sialan itu daripada mengejarku.”

__ADS_1


Cia berusaha menetralkan kembali emosi yang tengah membuncah. Diliriknya jam yang bertengger manis di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tak menunggu lama, ia sambar tas Chanel kesayangannya beserta ponsel yang telah ia lempar tadi.


Setelah berpesan pada staf kepercayaannya agar nanti menutup butik dengan baik, Cia bergegas melesat menuju salah satu klub malam yang terkenal di Jakarta. Tanpa ragu ia melangkahkan kakinya setelah berhasil memarkir mobilnya dengan mulus.


“Wah, tumben lo kembali mampir ke sini,” sapa seorang bartender yang sudah mengenal Cia dengan baik.


“Jangan banyak bacot!” sentaknya, “Kasih gue yang biasanya.”


Bartender itu menyadari raut kesal Cia, hingga ia memilih untuk bungkam. Setelah menyajikan vodka kesukaan Cia, ia memilih untuk meladeni pengunjung yang lain, meninggalkan Cia yang mulai meresapi setiap rasa dari minumannya.


Tanpa Cia sadari, sepasang mata dengan begitu tajamnya mengawasi setiap gerak-geriknya. Cia fokus dengan minumannya. Sudah beberapa gelas ia habiskan sambil meracau tidak jelas. Memaki Ziya dan Delfin dengan kesadarannya yang tak lagi utuh. Hingga seseorang menghentikan Cia saat ia akan menenggak minumannya pada gelas ke sepuluh. Pria itu merebut gelas Cia.


Netra kelam milik Cia beradu dengan netra hazel milik seseorang yang tengah menatapnya tajam. “Anda sudah terlalu banyak minum,” ujar lelaki itu membuat Cia tersenyum miring.


“Lo siapa? Berani-beraninya mengganggu kesenangan gue!” bentak Cia.


“Saya bukan siapa-siapa, hanya saja saya perhatikan Anda sudah terlalu banyak minum, itu tidak baik untuk kesehatan Anda.”


“Jangan sok ngatur gue!” Lagi, Cia membentak laki-laki asing itu.


Lelaki itu hanya diam, menatap lekat wajah Cia yang mulai pias. Kesadarannya mulai menipis. “Cantik,” batin lelaki itu.


“Mari saya antar pulang, sepertinya Anda tidak akan bisa pulang sendiri sebelum Anda benar-benar hilang kesadaran,” tawarnya.


“Nggak perlu! Gue bisa pulang sendiri.” Cia mencoba beranjak dari tempatnya, tetapi baru saja ia berdiri, ia benar-benar kehilangan kesadaran. Untung saja lelaki itu sigap menangkap tubuhnya.


“Anda tak perlu khawatir. Tidak akan ada yang berani macam-macam dengan dia. Sebentar lagi dia akan dijemput,” ujar bartender itu pada pria asing tersebut. Dan benar, tak lama setelah itu, orang-orang Pram menjemput Cia, dan membawanya pulang ke rumahnya.


...***...


Next 👉

__ADS_1


__ADS_2