Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Begitu Menyakitkan


__ADS_3


...***...


“Apa sangat sakit?” Delfin membelai lembut pipi Ziya yang kemerahan akibat tamparan dari Cia.


“Aku nggak apa-apa, Fin,” ucapnya lirih.


“Gus, tolong ambilkan air dingin juga handuk kecil buat kompres!”


Tanpa banyak bertanya Bagus segera melesat, melaksanakan titah majikannya.


“Aku beneran nggak pa-pa, Fin. Cuma sakit sedikit aja.”


“Diam dan turuti aku!” Delfin tak lagi ingin dibantah. Melihat pipi mulus itu merah membuat hatinya berang. Ia tak menyangka Cia bisa melakukan hal sekasar itu. Terlebih dilakukannya di depan matanya sendiri. Ziya hanya terdiam menunduk, tak mampu membalas tatapan tajam Delfin.


Bagus yang datang membawa baskom berisi air dingin juga handuk pun segera menghampiri Delfin dan Ziya. “Ini, Mas.”


“Makasih, ya, Gus.” Bagus hanya mengangguk sebagai jawaban. Diam-diam ia ikut menelisik pipi Ziya. Yang ada dalam benaknya hanya rasa kasihan untuk Ziya.


Pelan-pelan Delfin mengompres pipi Ziya, terdengar ringisan kecil dari bibir tipis Ziya. “Sakit?” tanyanya memastikan.


“Biar aku sendiri, Fin,” pintanya.


“Biar aku yang obati sebagai bentuk tanggung jawab atas kelakuan istriku.” Delfin menolak dan tetap mengompres pipi Ziya dengan pelan. “Gini kata kamu nggak apa-apa. Ini kalo dibiarkan bisa bengkak,” sungut Delfin.


“Maafin aku, ya, Fin. Sekali lagi aku bikin kalian bertengkar. Maafkan aku yang memberikan masalah dalam hidupmu. Aku bener-bener minta maaf.”

__ADS_1


Permintaan maaf itu tulus dari hati Ziya. Terlepas itu hanya tugas yang diberikan Pram, nyatanya itu menyakiti banyak orang. Butiran bening itu tak kuasa ia tampung hingga meluncur dengan bebas membasahi pipinya. Rasa sesal dan juga bersalah begitu menggerogoti hati, tetapi ia tak mungkin mundur. Delfin segera meraih Ziya dalam pelukan.


“Udah, ya. Ini bukan salah kamu. Cia aja yang terlalu cemburu. Aku minta maaf atas perlakuan Cia sama kamu.”


Setelah beberapa saat, Delfin sudah menyelesaikan tugasnya mengobati Ziya dan menghapus air mata Ziya yang terus menetes hingga Ziya lebih tenang. Sekali lagi Delfin menanyakan keadaan Ziya. Rasa khawatir masih merajai hati Delfin tentang kondisi mental Ziya. Bagaimanapun, Ziya pasti shock dituduh sebagai pelakor.


Ziya pun hanya mengatakan kalau dia baik-baik saja atau lebih tepatnya sedang berusaha baik-baik saja di hadapan Delfin. Sebenarnya ia pun masih merasa bimbang dengan drama yang dia lakoni saat ini.


Delfin di mata Ziya adalah lelaki yang baik dan setia, tetapi entah mengapa Kakek Pramono selalu beranggapan kalau Delfin itu berselingkuh. Ziya tidak mau lagi memikirkan hal yang bukan ranahnya, yang terpenting anak-anak panti terjamin tempat tinggalnya.


Ziya kini tengah duduk di sofa sambil memandang wajah Delfin dengan seksama dan tatapan sendu.


"Maafkan aku yang hadir di antara kalian dan selalu membuat kesalahpahaman terus menerus. Aku hanya ingin bekerja sebaik-baiknya dan seprofesional mungkin sebagaimana tugasku sebagai manajermu, Delfin. Terlepas dari apa yang hatiku rasakan saat ini,” batin Ziya.


Ziya menundukkan kepala, lalu mengusap setitik air mata yang kembali mengalir di pipi mulusnya. Sesakit inikah berjuang? Ia harus kuat demi adik-adik panti. Ziya pun kembali ke rumah dan memikirkan langkah apa yang akan dia tempuh kembali dengan rencana Kakek Pram selanjutnya.


...***...


Di satu sisi, Kakek Pramono semakin memuji kerja Ziya yang dianggap luar biasa dan tak pernah memikirkan hati serta perasaan Ziya yang sesungguhnya. Meski kenyataannya, Ziya teramat galau dengan situasi seperti ini.


Menurut Ziya, Kakek Pram itu selalu melihat segala sesuatunya hanya dari sudut pandangnya saja, tanpa mau melihat dari sudut pandang orang lain. Kakek Pram merasa selalu benar dengan segala tindakannya.


Saat mulut ingin berkata 'tidak', tetapi hati dan pikiran memaksanya harus berkata 'iya' dengan semua rencana Pram. Di situlah Ziya merasa menjadi manusia yang paling munafik. Berbohong dengan dirinya, Bu Erna, dan anak-anak panti.


Hanya demi kebahagiaan mereka semua tanpa memikirkan kebahagian dirinya sendiri. Akan seperti ini kah seterusnya? Menekan perasaannya hanya untuk kebahagian orang lain atau malah merusak hubungan orang lain.


Ziya ingin menangis dan berteriak sekeras mungkin dengan keadaannya saat ini. Ia ingin mengatakan pada Delfin dan Cia jika ia terpaksa melakukan semua ini.

__ADS_1


...***...


Di sisi lain, Delfin sama halnya dengan Ziya, lebih banyak merenungi semua keadaan yang membuat rumah tangganya menjadi kacau. Dia begitu mencintai Cia. Hari ini, esok, dan selamanya. Meski ia sedikit kecewa dengan ulah Cia yang menghajar Ziya kemarin.


Cia adalah poros hidupnya, penyemangat ia bekerja dengan keras agar Kakek Pram dapat melihat kesungguhan cintanya kepada sang cucu tercinta, Falencia Lubis Pramono. Ia tak ingin dipandang sebelah mata oleh keluarga Cia.


Ia pun akan membuktikan bahwa ia mampu membuat Cia bahagia tanpa bekerja di butiknya lagi, tetapi rasanya semua tak pernah dianggap. Lelah itu sudah pasti dengan hal ini, tetapi ia berusaha dan mencoba untuk tak pernah putus asa agar semuanya berjalan sesuai keinginannya. Berbahagia selamanya dengan Cia—sang istri tercinta.


“Aku sangat mencintai kamu, Ci. Bersabarlah sedikit lagi, sayang. Akan aku buktikan, aku mampu membuatmu bahagia.”


...***...


Cia begitu marah dan sakit hati kepada Delfin karena mengusir dirinya di depan wanita yang sangat dibencinya –Ziya.


Kemarahan Cia pun terus berkelanjutan dan selalu saja menyalahkan Ziya tanpa mau bertanya dulu, ada apa sebenarnya. Cia selalu mempunyai pemikiran sendiri tentang Ziya sang penggoda.


"Aku sangat membencimu Ziya, sangat!" teriak Cia di dalam mobil mewahnya saat teringat perlakuan manis Delfin pada Ziya. “Akan kubalas semuanya, kita lihat saja nanti!” seru Cia sambil memukul-mukul stir mobilnya.


"Fin, masih adakah rasa cinta itu untukku? Kamu berubah, Fin. Kamu tidak lagi seperti Delfin yang kukenal.” Cia terisak dalam tangisnya.


Ia meratapi keadaan rumah tangganya sekarang. Seakan tinggal menunggu waktu saja perpisahan itu akan terjadi.


“Apakah hatimu telah berpaling dari diriku? Aku sangat mencintaimu, Fin. Kenapa jadi seperti ini, Fin, kenapa? Seandainya dengan kesuksesanmu menjadikan kita semakin jauh, aku tak berharap kamu sukses, Fin. Aku mau kita seperti dulu, selalu bersama dalam cinta dan suka. Harus kah dibayar mahal semua kesuksesan kamu ini, Fin? Aku rindu kebersamaan kita dulu.” Semua ungkapan itu hanya ada dalam pikiran Cia. Karena ia kini hanya dapat terisak dalam tangisnya.


"Delfin Mahareksa, dirimu semakin sulit kuraih dan kugenggam,” lirih Cia diakhir tangisnya yang pilu. “Haruskah aku menyerah dan pergi atau bertahan dengan keadaan yang begitu menyakitkan?” tanyanya dalam hati sebelum ia pergi, kembali melajukan mobilnya tak tentu arah. Rasa sakit karena merasa dikhianati begitu menyesakkan hatinya.


...***...

__ADS_1



__ADS_2