
...***...
"Nggak perlu melapor ke polisi. Aku baik-baik aja, kok." Ziya menolak ajakan Delfin yang hendak melaporkan kasus penculikan Ziya.
"Tapi kamu disakiti kayak gini, Zi. Aku nggak terima." Ziya lebih tertegun lagi. Perhatian Delfin menerbangkan hatinya tinggi sekali. Namun, saat akal sehatnya mengingatkan Delfin telah beristri, hatinya langsung meluncur seolah tertanam di dasar bumi.
"Cuma memar dikit aja. Diobati salep juga sembuh. Aku nggak mau reputasi kamu terganggu kalau berurusan dengan polisi. Wartawan dan netizen pasti akan memberitakan hal-hal yang berlebihan. Apalagi kamu sekarang lagi ada di puncak kesuksesan. Pasti banyak orang yang tidak suka sama kamu dan ingin menjatuhkan kamu apa pun caranya."
Penuturan Ziya yang panjang lebar membuat Delfin tertegun. Perempuan yang belum lama dia kenal begitu perhatian dan memedulikan karirnya, sedangkan istrinya sendiri malah memberikan kesan buruk terhadap namanya, dengan cara pergi ke klub malam dan mabuk-mabukan di sana. Sungguh miris!
Beberapa detik terasa hening. Delfin sibuk dengan pikirannya sendiri sambil menatap wajah Ziya. Ziya yang ditatap sedemikian rupa jadi salah tingkah. Ia pun mengalihkan wajahnya ke sembarang arah. Beruntung masih ada Bagus yang bisa dijadikan objek pelariannya.
"Mas Bagus, Ziya haus. Boleh minta tolong diambilkan minum," pinta Ziya menghempaskan keheningan yang sempat mencekik tenggorokannya.
"Boleh, Mbak. Sebentar, saya ambilkan!"
"Sekalian salep buat memar, Gus!" Delfin ikut menimpali.
"Oke." Bagus segera berlalu mengambilkan minum serta obat untuk Ziya di dalam kantor studio Delfin.
"Kita juga ikut masuk aja, Zi. Di sini panas." Beberapa detik setelah Bagus menghilang. Delfin mengajak Ziya masuk ke dalam studio untuk menyusul Bagus. Delfin begitu perhatian dengan memapah gadis itu pelan-pelan. Khawatir jika Ziya merasa kesakitan akan siksaan yang diterima oleh penculik itu.
Jangan ditanya bagaimana keadaan jantungnya Ziya! Sudah pasti bertabuh kencang dan tidak bisa dikendalikan.
__ADS_1
Di depan pintu studio, mereka bertemu dengan Bagus yang membawa sebotol minuman dingin dan kotak obat P3K.
"Di dalam aja, Gus," ucap Delfin melewati tubuh Bagus masih sambil menuntun Ziya. Membawa tubuh gadis itu untuk duduk di sofa. Bagus pun mengikuti gerak langkah majikannya tanpa membantah apa-apa.
"Ini minumnya, Mbak." Bagus menyodorkan minuman tersebut pada Ziya.
"Makasih, Mas." Ziya pun menerima botol minuman tersebut. Lalu membuka tutup botolnya dan meminum isinya hingga habis setengah.
Sementara itu, Delfin yang sudah duduk di samping Ziya mengambil kotak obat dari Bagus, lalu mengambil salep anti memar di sana. Ia hendak mengoleskan salep itu pada wajah Ziya, tetapi dengan cepat Ziya menarik mundur kepalanya. Ziya sedikit panik. Tidak mungkin, kan, jika memar buatannya itu akan diolesi obat salep itu? Bisa-bisa ketahuan kedok Ziya yang hanya berpura-pura disiksa sebelumnya.
"Kenapa? Biar aku obatin luka memar di wajahmu itu." Delfin mengernyit melihat raut wajah Ziya yang begitu terkejut melihat tindakannya.
"Biar aku sendiri aja." Ziya langsung menurunkan tangan Delfin yang masih mengambang di udara, lalu merebut salep yang dipegang oleh Delfin di tangan yang satunya. "Luka lebamku baru saja diolesi salep sebelum aku ke sini. Nanti aja aku pakai salep ini di rumah," kilahnya lagi.
Walaupun sedikit aneh, Delfin memilih untuk percaya. "Kamu yakin nggak mau ke rumah sakit?" Delfin mengulangi tawarannya seperti waktu di parkiran tadi.
Ziya menggelengkan kepalanya. "Nggak usah. Ini hanya luka biasa. Mereka cuma menggertak aku aja," ucapnya meyakinkan.
"Tapi ini tetap nggak boleh dibiarin gitu aja, Zi. Kalau nggak lapor polisi. Suatu saat pasti akan terjadi lagi." Delfin berang. Urat-urat di lehernya terlihat begitu tegang menahan rasa kesal. Ia tidak terima jika manajernya itu diperlakukan seperti itu. Dan tentunya dia tahu siapa pelakunya. Pasti kakeknya Cia yang punya kuasa.
"Jangan, Fin. Aku cuma perlu menjauhi kamu aja, kok, sesuai permintaan mereka. Aku ke sini cuma mau bilang sama kamu. Kalau mulai hari ini, aku akan resmi mengundurkan diri."
"Nggak!" Delfin menolak tegas permintaan Ziya. "Kalau kamu ngundurin diri, dari mana kamu dapat uang buat membayar hutang panti?" imbuhnya lagi.
Ziya menahan senyum tipis di bibirnya. Ia merasa rencananya untuk mengambil simpati Delfin sedikit membuahkan hasil.
__ADS_1
"Tapi, Fin. Aku nggak mau rumah tangga kamu hancur gara-gara aku. Aku nggak mau Bu Cia terus cemburu. Aku nggak peduli dengan luka yang aku dapatkan sekarang. Aku juga bukannya takut sama ancaman mereka, Fin. Aku cuma peduli sama rumah tangga kalian. Bu Cia benar-benar cemburu dengan keberadaan aku jadi manajer kamu. Kamu ngerti nggak, sih?" Ziya berucap seolah dirinya marah dengan sikap Delfin yang egois. Namun, di satu sisi Ziya juga merasa bahagia. Sandiwaranya sesuai rencana.
Delfin bergeming. Pesona Ziya membuatnya menyelipkan rasa. Rasa yang tidak mampu ia utarakan, bahkan tidak tahu namanya apa. Perempuan di hadapannya ini begitu cantik, kuat, tegar, dan berhati mulia. Sungguh potret sempurna seorang perempuan idaman para pria. Namun, Delfin mencoba bersikap biasa saja. Bagaimana pun juga dia adalah pria beristri, yang selalu setia pada satu wanita yang paling dia cintai.
"Fin, kamu dengerin aku, kan?" Teguran dari Ziya mengembalikan kesadaran Delfin yang sempat berfantasi liar.
"Ah, iya. Aku dengar." Delfin tersenyum kikuk. Ia tidak habis pikir, kenapa harus memuja Ziya sampai sebegitunya. Hingga pikirannya tidak fokus dengan kecantikan Ziya.
"Gini aja. Aku akan mencoba bicara baik-baik dengan Cia lagi. Tapi sebelum itu, kamu harus tetap menjadi manajer aku! Setiap hari kamu akan diantar jemput oleh Bagus, untuk menjamin keselamatan kamu."
"Tapi—"
"Aku nggak mau dibantah, Ziya." Delfin menukas perkataan Ziya dengan tegas. Kedua matanya menatap tajam kedua manik milik Ziya. Seolah mengintimidasi perempuan itu, agar dia setuju.
"Ba–baiklah, kalau begitu. Aku setuju." Ziya menelan ludahnya kelat sebelum berkata. Jujur, pesona Delfin terlalu berlebihan saat bersikap dingin penuh wibawa. Seolah tersihir dengan ketampanan Delfin, bibir Ziya terasa berat untuk menolak dan membantah perkataan lelaki itu lagi. Ziya sadar, dirinya benar-benar jatuh hati.
"Hari ini kamu tidak perlu bekerja. Kamu pulang aja, terus istirahat yang cukup. Masalah ini biar aku yang selesaikan," titah Delfin selanjutnya.
"Tapi jangan lapor polisi! Aku nggak mau karir kamu hancur gara-gara itu." Ziya masih berusaha mengamankan sandiwaranya.
"Iya, serahkan semuanya sama aku, ya! Terima kasih, karena kamu begitu peduli dengan karir aku," ucap Delfin sambil mengulas senyuman. Sebelah tangannya ia ulurkan untuk mengusap rambut Ziya dengan lembut.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, tentu saja membuat hati Ziya meleleh seperti bongkahan es yang disimpan di tempat yang panas. Andai saja ini bukan sandiwara, tentu Ziya akan sangat bahagia.
...***...
__ADS_1
...Satu komentar buat Ziya, dong 😁...