
...***...
Tiada yang bisa memahami sepotong hati yang terluka. Tersiksa akibat penyesalan yang mencekik kebebasan. Mengunci senyum yang dulu begitu indah untuk dinikmati. Mematikan harapan yang pernah ia impikan sepanjang masa remaja. Meskipun akhirnya, hanya kata perpisahan.
Sementara senyum penuh kemenangan menghiasi wajah yang mulai renta. Binar matanya begitu bangga akan keberhasilan yang ia sandang saat ini. Pramono menikmati sebatang rokok yang dia sesap sedari tadi sambil menikmati sore yang mulai menghangat.
"Maafkan kakek, Cia. Kakek hanya ingin yang terbaik untukmu. Kakek tidak ingin kejadian dulu terulang kembali." Pramono menyentuh gambar putra semata wayangnya yang tidak lain adalah papa Cia.
"Aku harus segera memberi imbalan pada gadis itu. Bagaimanapun Ziya menjalankan peran ini dengan baik." Pramono mengambil ponselnya untuk mengirimkan bayaran yang semula ia janjikan. Namun, sebelum hal itu terjadi ponselnya lebih dulu berdering.
"Ya, halo."
" ...."
"Aku tidak mau tahu. Terserah cara apa yang akan kamu gunakan. Yang penting perceraian itu harus terjadi." Tanpa menunggu jawaban, Pramono mematikan ponselnya secara sepihak.
Lelaki tua itu segera memencet aplikasi dan mengirimkan sejumlah nominal ke rekening Ziya. Beberapa menit kemudian, Pramono menghubungi gadis itu.
"Aku sudah mengirim bayaranmu beserta bonusnya. Untuk pekerjaanmu sebagai manajer masih harus tetap kamu jalani sampai mereka resmi bercerai."
...***...
Sementara itu di tempat lain, Ziya tidak pernah bisa tenang memikirkan Delfin. Sejak kabar Cia mengandung anak Farel, Ziya setiap saat mengawatirkan Delfin. Ziya tahu benar betapa lelaki itu sangat mencintai istrinya. Ziya takut jika Delfin akan berbuat di luar kendali. Di kantor agensi pun, sekarang Delfin lebih suka menyendiri. Ia tidak ingin berbaur dengan kru lain setiap habis latihan. Hal ini tentu menjadi pekerjaan Ziya untuk mengalihkan kecurigaan para kru.
"Mas Delfin tumben langsung ngilang. Padahal biasanya dia baru menghilang setelah ocehan Babe berakhir." Sang juru lampu menyenggol bahu Ziya yang sedang membereskan tas Delfin.
"Delfin lagi nggak enak badan. Dia pasti ingin segera istirahat." Ziya harus siap dengan berbagai alasan untuk melindungi artisnya.
Sementara di dalam ruangan, terlihat Delfin berdiri di dekat jendela. Melihat kendaraan yang melintas di depan kantor agensi dari lantai tujuh, tempat di mana ia begitu sering menghabiskan waktunya ketika tidak ada kegiatan tour luar kota.
Di saat seperti ini, ingatannya kembali kepada Cia. Dulu kondisi seperti ini sering terjadi di antara mereka. Namun, di tengah kesibukan, mereka selalu menyempatkan diri untuk bertukar sapa meskipun hanya melalui ponsel. Di dekat jendela ini, dulu Delfin sering menghabiskan waktunya bercanda dengan Cia. Tidak seperti saat ini, Delfin hanya bisa meratapi perjalanan cintanya yang berakhir menyakitkan.
"Jadwalku dalam waktu dekat ini apa, Zi?" tanya Delfin begitu Ziya masuki ruangannya.
"Seminggu ini masih kosong. Hanya ada dua jadwal latihan," jawab Ziya setelah melihat jadwal yang ada di tangannya. "kenapa? Apa jadwalnya perlu diganti?"
"Ya. Seminggu ini aku ingin pulang ke rumah orang tuaku. Kosongkan jadwal. Aku tidak ingin diganggu!" perintah Delfin tanpa mengalihkan pandangannya dari lalu lintas yang begitu padat.
__ADS_1
"Baiklah. Aku atur ulang dan segera kuajukan permohonan cuti."
Melihat Delfin begitu terpuruk, hati Ziya seolah ikut teriris. Beberapa kali Ziya memergoki Delfin menangis ketika ia sendirian. Ziya tahu bagaimana perasaan Delfin. Sebab hatinya juga terluka ketika ia harus memupus rasa cintanya pada Delfin. Itu semua semata karena Ziya ingin melihat Delfin bahagia bersama Cia.
...***...
Sudah hari keempat sejak pengajuan cuti Delfin disetujui oleh atasan. Selama itu pula, Delfin tidak pernah menghubunginya. Tentu saja Ziya khawatir. Namun, ia tidak berani mengusik artisnya. Sesuai perintah Delfin beberapa hari lalu, bahwa ia tidak ingin diganggu. Ziya berpikir positif, bahwa saat ini tempat terbaik bagi Delfin adalah bersama keluarga. Orang tua Delfin pasti bisa menghibur Delfin.
Ponsel di tangan Ziya bergetar. Gadis itu selalu membawa ponselnya ke mana pun ia pergi. Bahkan saat memasak di dapur Ziya juga membawanya. Dalam hati, ia berharap Delfin akan menghubunginya. Mungkin rasa khawatir Ziya telah berubah menjadi rindu.
"Halo," ucap Ziya begitu ponselnya berdering. Ia terdiam mendengar penuturan di seberang sana yang tidak lain adalan Pramono.
Setelah panggilan berakhir, Ziya membuka aplikasi untuk mengecek saldo tabungannya. Dan benar saja, saldonya sudah bertambah.
"Ha!" pekik Ziya terkejut melihat nominal yang tertera.
"Ada apa, Zi?" tanya Bu Erna.
"Eh, tidak ada apa-apa, Bun." Ziya segera memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dan kembali melanjutkan kegiatannya di dapur.
Sepanjang apa yang ia lakukan, pikiran Ziya tidak tenang. Hatinya bimbang, di satu sisi Ziya begitu ingin menyelamatkan panti ini. Namun, di sisi lain Ziya merasa sangat bersalah telah menghancurkan hubungan rumah tangga orang lain. Meskipun dari awal Ziya mengerti akan tugasnya, tetapi semakin ke sini, Ziya merasa hal itu tidak sesuai dengan nuraninya.
Sore ini Ziya begitu bingung. Bayangan Delfin yang menangis selalu membuatnya merasa bersalah. Bagaimanapun, Ziya turut andil dalam perpisahan Delfin dan Cia. Meskipun dalang utama adalah Pramono, tetapi Ziya merasa sangat berdosa.
"Tuan, bisakah saya menemui Anda? Ada yang ingin saya sampaikan." Ziya memberanikan diri untuk menghubungi Pramono.
"Ya, kita ketemu jam tujuh di tempat biasa."
Hari mulai gelap ketika Ziya meminta izin kepada Bu Erna untuk keluar sebentar.
"Kamu tidak makan dulu sama adik-adikmu?" Suara lembut Bu Erna terdengar begitu mengkhawatirkan Ziya.
"Ziya ada janji makan malam, Bun. Takutnya nanti Ziya kekenyangan. Ziya pergi bentar, ya, Bun." Ziya segera berlalu dengan ojek online yang sudah menunggu di gerbang.
...***...
Di sudut ruangan dekat jendela, terlihat sosok Pramono sudah duduk menikmati secangkir kopi. Perlahan Ziya mendekat kepadanya..
"Selamat malam, Tuan. Maaf saya terlambat." Ziya sedikit membungkukkan badannya di hadapan Pramono.
__ADS_1
"Duduklah!" perintah Pramono.
Ziya duduk di kursi yang berhadapan dengan Pramono. Ada sedikit rasa takut untuk gadis itu berbicara. Namun, Ziya memberanikan diri dengan segala konsekuensi yang akan ia terima.
"Pesanlah dulu! Kita bicara setelah makan." Pramono menyodorkan buku menu ketika waiters tiba di meja mereka.
"Maaf saya lancang meminta waktu Anda," ucap Ziya begitu waiters meninggalkan meja mereka.
"Kenapa kamu berpikir seperti ini. Sebenarnya, aku ingin mengundang kamu untuk merayakan keberhasilan misi kita. Tapi aku tidak menyangka jika kamu memintanya lebih cepat dari apa yang aku duga." Pramono tertawa penuh kemenangan. Terlihat kebahagiaan dari pancaran matanya.
Sedangkan Ziya dibuat bingung dengan kalimat yang Pramono sampaikan. Ziya benar-benar tidak paham.
Beberapa saat setelah makan malam selesai, mereka menikmati minuman ringan yang masih terhidang di meja.
"Maaf, Tuan. Apa keputusan Tuan untuk memisahkan Bu Cia dari Delfin adalah keputusan final?" tanya Ziya perlahan.
"Oh, tentu. Bahkan sudah lebih dari lima tahun aku menanti saat seperti ini."
"Sejauh pengamatan saya selama ini, Delfin bukanlah orang yang seperti Anda tuduhkan. Bahkan Delfin sangat bertanggung jawab terhadap Bu Cia. Delfin tidak pernah selingkuh. Dia sangat menjaga kesetiaannya," bela Ziya.
"Mungkin itu dulu. Tapi tidak untuk sekarang," sanggah Pramono.
"Kenapa seperti itu?"
"Jika kamu meminta waktuku hanya untuk memberi pembelaan pada Delfin, kamu salah besar. Aku tetap pada keputusanku. Apa pun yang terjadi mereka tetap harus berpisah. Bukankah saat ini aku sudah bisa menunjukkan sisi lain dari Delfin?" Pramono tersenyum licik.
"Sisi yang mana maksud, Tuan?"
"Bahwa di hati Delfin ada wanita lain. Kamu tidak perlu mengelak. Berulang kali sudah aku tekankan, bahwa kamu tidak perlu memakai perasaan dalam tugas yang aku berikan. Nyatanya, perasaan kalian mulai bertaut, kan? Jangan kamu kira setiap tindakan kalian luput dari pengawasanku!"
Ziya tersentak, sepertinya lelaki tua ini bukanlah lawan seimbang untuk berdebat.
...***...
...Author minta dukungannya untuk klik like dan kasih komentar. Jangan kasih racun sama kakeknya, ya. Kasian, udah tua. Entar juga meninggal kalau udah waktunya. ...
...Happy Reading ...
__ADS_1
...😂😂...