
...***...
Setelah puas dan lelah mengumpat, melempar, dan menghancurkan semua benda yang berada di hadapannya, Delfin pun duduk tersandar di bibir tempat tidur. Melipat satu kaki kananya dan tangannya memijit kepalanya yang berdenyut. Kali ini tidak hanya tubuhnya yang terasa sakit, tetapi kepala dan hatinya pun juga ikut sakit. Sakit karena luka yang diciptakan oleh Farel di tubuhnya, bahkan tidak begitu terasa. Namun, sakit yang tercipta karena hubungan terlarang antara Cia dan Farel sungguh menyakitkan dan melukai harga diri Delfin sebagai seorang suami. Serta sakit karena kepercayaan yang Delfin berikan kepada Cia harus ternoda karena sebuah perselingkuhan.
Saat ini Delfin tengah memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur, berharap apa yang ia alami hari ini hanyalah sebatas mimpi di siang bolong. Tetapi sayang, apa yang Delfin lakukan adalah hal yang sia-sia, karena bayangan wajah Cia dan Farel yang tertawa bahagia terus menari dalam ingatannya sehingga membuat Delfin kembali kesal. Akhirnya Delfin yang merasa sesak saat berada di apartemennya memutuskan untuk pergi ke panti guna menemui Ziya. Ia berharap dengan bercerita dengan Ziya, ia dapat mengurangi rasa sedihnya. Karena menurut Delfin, Ziya bukan hanya seorang manajer yang handal, tetapi Ziya lebih dari seorang sahabat yang bisa diandalkan karena selalu memberinya solusi di setiap masalahnya.
Setelah berkendara selama kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya sampailah Delfin di depan gerbang panti asuhan Kasih Bunda. Namun, Delfin hanya terdiam tanpa ingin beranjak dari mobil sport miliknya sedikit pun, hingga akhirnya ada dua orang anak panti yang menyadari keberadaannya. Kedua anak panti tersebut mengetuk kaca mobil Delfin sehingga membuat sang empunya mobil terlonjak kaget.
“Kak Delfin,” panggil Dio dan Fajar dari luar mobil Delfin. Delfin yang merasa terkejut karena ketukan di luar jendela pun mulai menurunkan kaca mobilnya.
“Hai, Dio, Fajar. Sedang apa kalian di sini?” tanya Delfin kepada dua orang anak panti tersebut.
“Hai, Kak, kami dari tadi melihat mobil Kak Delfin terparkir di sini,” terang Dio.
“Tapi kami heran kenapa Kak Delfin tidak turun dari mobil. Makanya sekarang kami berdua berinisiatif untuk mendatangi kakak ke mobil dan mau mengajak kakak masuk ke dalam,” lanjut Dio lagi. Dio adalah salah satu anak panti yang terkenal pendiam, tetapi ia akan mulai banyak bicara jika ia bersama dengan Ziya dan Delfin.
“Kakak mau ketemu sama kak Ziya, ya?” tanya Fajar. Dan diangguki oleh Delfin dengan senyum terkembang seraya mengusap pucuk kepala bocah berusia lima tahun yang ada di hadapannya tersebut.
“Ayo, masuk, Kak! Kakak pasti capek menunggu di dalam mobil,” lanjut Fajar lagi dan mulai mengajak Delfin masuk ke dalam area panti.
“Ayo, tadinya kakak sudah mau turun. Eh, malah keduluan kalian yang nyamperin kakak di mobil,” elak Delfin. Delfin telah memarkirkan mobilnya di depan gerbang panti, sudah lebih dari setengah jam yang lalu.
Setelah turun dan mengunci mobilnya dengan remote, Delfin pun mengikuti Dio dan Fajar masuk ke area panti. Tidak hanya Dio dan Fajar saja yang senang karena kedatangan Delfin. Namun, seluruh anak panti pun sangat senang karena kedatangannya.
“Kak Delfin,” teriak Rosiana, gadis kecil berusia empat tahun yang cantik dan menggemaskan itu pun berlari menghambur ke dalam pelukan Delfin. Delfin pun dengan senang hati mulai merentangkan kedua tangannya menyambut gadis cantik tersebut dengan hati bahagia.
“Apa kabar gadis kecilnya Kak Delfin? Sepertinya kesayangan Kak Delfin ini semakin cantik saja,” puji Delfin sambil mengendong Rosi dengan sayang.
“Kabar Rosi baik, Kak. Rosi kangen banget sama Kak Delfin. Kakak harus sering-sering main ke panti, ya, kak," ucap Rosi dengan gaya imut dan polosnya.
“Oke, Sayang. Nanti kalau kakak sudah gak sibuk lagi, kakak akan lebih sering main ke sini, ya.” Delfin berjanji pada Rosiana, dan diangguki penuh semangat oleh Rosi.
__ADS_1
Mendengar tawa bahagia di luar panti membuat atensi Ziya, Bu Erna, dan Anggun—salah satu anak panti yang sedang memasak di dapur teralihkan, mereka bertiga pun keluar dan menemui Delfin yang sedang tersenyum bahagia. Senyum bahagia yang terbalut dengan ribuan luka. Luka fisik dan luka hati.
“Eh, ada Nak Delfin, to.” Bu Erna terlebih dahulu menyapa Delfin.
“Iya, Bu. Maaf, ya, kalau saya jadi sering kesini.” Delfin merasa tidak enak karena ia sering datang ke panti untuk menemui Ziya.
“Gak pa-pa, Nak, ibu juga sudah menganggap Nak Delfin sebagai anak sendiri. Karena kebaikan hati Nak Delfin, kebutuhan anak-anak panti jadi terpenuhi,” terang Bu Erna.
“Nak Delfin, ayo masuk! Kita makan malam bersama. Sekalian nanti ibu buatkan teh hangat buat Nak Delfin.” Bu Erna mempersilakan Delfin masuk dan mengajaknya untuk makan malam bersama. Tatapannya terlihat berbeda ketika menatap wajah lelaki tampan itu.
Sedari awal kedatangan Delfin, Bu Erna sudah melihat luka lebam di pipi mulus sang bintang tersebut. Namun, Bu Erna urung untuk bertanya karena hal tersebut menyangkut privasi Delfin. Ia takut Delfin akan tersinggung. Berbeda dengan Ziya, rasa penasarannya terlihat sangat besar dengan luka lebam di wajah bintangnya tersebut. Ziya menduga jika pertemuan antara Delfin dan Cia kali ini akan berbuah petaka, apalagi jika Delfin bertemu Cia di rumah kakeknya.
“Terimakasih, Bu.” Setelah mengucapkan terimakasih, Delfin beserta seluruh anak panti pergi ke ruang makan bersama. Menikmati makan malam sederhana yang dibalut dengan kebahagiaan bagi seluruh penghuni panti. Namun, berdeda dengan Delfin yang masih memiliki perasaan kecewa yang ia bungkus dengan senyum penuh luka.
Setelah selesai makan malam, Ziya mengajak Delfin duduk di bangku yang berada di halaman panti. Ziya yang sedari tadi sudah menahan semua pertanyaannya pada Delfin akhirnya tidak dapat menahannya lagi.
“Kamu, kenapa Fin?” tanya Ziya seraya mengelus luka yang ada di pipi Delfin.
“Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? Seharusnya saat ini kamu sedang beristirahat di rumah, kan?” Ziya bertanya dengan perasaan sedih di hatinya.
Deg!
Ziya yang mendengar perkataan Delfin pun terkejut. Ada perasaan aneh yang saat ini Ziya rasakan karena mendengarkan pengakuan Delfin jika Cia sedang hamil.
“Wah, selamat, ya! Akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah. Aku turut bahagia mendengarnya,” ucap Zia dengan tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam, "harusnya kamu, tu, bahagia, Fin. Bukan seperti ini. Datang dengan muka babak belur, dan kusut kayak gini. Seperti mau ngasih kabar duka aja. Kamu berantem sama siapa?” Ziya memberikan tatapan curiga. Namun, ia senyuman pelik tersemat di bibirnya.
“Tapi anak itu bukan milikku, Zi.” Setelah mengatakan hal itu, Delfin merasa kembali frustrasi dan meraup wajahnya dengan kasar.
“Maksud kamu apa, Fin. Kenapa anak itu bukan milikmu?” Senyuman di bibir Ziya perlahan pudar mendengar kabar mengejutkan tersebut.
“Kata Farel, si lelaki brengsek itu. Janin yang dikandung Cia adalah miliknya,” ucap Delfin kesal seraya mengepalkan kedua tangannya.
Ziya lebih terkejut lagi. Kedua matanya sampai membulat sempurna. “Kamu yakin kalau anak itu adalah milik Farel? Bisa saja, kan, jika semua itu tidak benar,” ujar Ziya.
__ADS_1
“Fin, saranku nih, ya, sebaiknya kamu tenangkan diri dulu, deh, untuk beberapa hari ini. Setelah itu, kamu coba temui Bu Cia dan bicara baik-baik dengannya. Ingat bicaranya pakai otak yang dingin. Bukan pakai otot kaya gini lagi. Jangan sampai kamu tersulut emosi. Aku yakin banyak hal yang ingin Bu Cia ceritakan padamu, dan banyak hal yang ingin kamu dengar dari Bu Cia.” Ziya memberikan nasihat yang cukup panjang kepada Delfin walau pun sebenarnya Ziya adalah orang kedua yang akan merasa bahagia jika perpisahan Delfin dan Cia benar-benar terjadi. Setelah Pramono tentunya.
...***** ...
Selama dua hari ini Delfin benar-benar berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya. Nasihat dari Ziya membuatnya sedikit lebih tenang bahkan saat ini Delfin berusaha untuk menolak percaya jika anak yang dikandung Cia, bukanlah darah daging Farel, melainkan darah dagingnya sendiri.
Hari ini Delfin bangun lebih awal. Walapun hari ini adalah hari terakhir liburan Delfin, lelaki itu tidak mau menggunakannya untuk beristirahat dengan baik setelah konser yang begitu melelahkan. Delfin malah menggunakan waktunya untuk menemui Cia. Istri yang masih sangat ia cintai.
Dengan perasaan yang campur aduk Delfin mulai melajukan mobil sportnya menuju ke kediaman mewah milik Pramono. Karena jalanan yang cukup kondusif, tidak membutuhkan waktu lama untuk Delfin menuju rumah mewah milik kakek mertuanya itu. Bi Lea yang menyadari kedatangan Delfin pun menyambutnya dengan ramah.
“Silahkan masuk, Tuan Delfin!” Bi Lea mempersilakan Delfin masuk dengan sopan.
“Cianya ada, Bi?” tanya Delfin dengan tidak sabar.
“Ada, Tuan. Non Cia sedang duduk di taman belakang. Katanya, sih, mau berjemur biar sehat," terang Bi Lea menjelaskan dengan senyum ramahnya.
“Saya langsung ke taman belakang saja, ya, Bi.” Tanpa menunggu jawaban dari Bi Lea, Delfin langsung menuju ke taman belakang untuk menemui sang istri.
Cia yang sedang duduk menikmati hangatnya mentari pagi di atas kursi yang terletak di tengah taman pun terkejut, karena melihat kehadiran Delfin yang sedari tadi memperhatikannya.
Melihat kehadiran Delfin, Cia yang sedang duduk pun refleks berdiri dan sejenak tertegun melihat kehadiran suami tercintanya.
“D-Delfin. Sedang apa kamu di sini?” Cia bertanya dengan perasaan gugup. Ia berpikir jika Delfin sudah tidak mau melihat wajahnya lagi.
“Aku hanya ingin menemui istriku. Apakah tidak boleh?” Delfin menekan kata ‘istriku’ pada kalimatnya yang seketika membuat Cia tertunduk dan hatinya teriris perih.
“Aku kemari hanya ingin bertanya untuk terakhir kalinya, aku harap kamu akan mengatakannya dengan jujur, Cia.” Delfin berkata lagi dengan penuh ketegasan. Membuat Cia sedikit takut. “Siapa ayah bayi dalam kandungan mu itu, Cia?” Delfin terus mencecar pertanyaannya pada Cia. Cia yang semula menunduk kembali menatap wajah suaminya. Namun, mulutnya masih enggan berbicara.
“Apakah benar bayi itu milik Farel?” Lagi, Delfin masih bertanya, dan untuk yang kesekian kalinya Cia masih tetap diam. Cia hanya menangis merutuki kebodohannya.
“Jika benar bayi itu milik Farel, sejak kapan kamu mengkhianatiku, Cia!" Delfin mulai tidak sabar. Namun, tidak ada satupun jawaban yang keluar dari bibir indah milik Cia. Kebisuan Cia membuat Delfin menyimpulkan, jika anak dalam kandungan Cia memang bukan miliknya. Delfin benar-benar kecewa. Delfin juga yakin, jika sekarang diri dan hati Cia juga bukan miliknya lagi.
...***...
__ADS_1