Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Laki-laki yang Baik


__ADS_3


...***...


Malam ini hati Ziya semakin tidak tenang, ucapan Erna tadi masih terngiang jelas di telinganya. Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata, tetapi Ziya tetap terjaga. Ziya dilema, ia bingung dengan pikirannya sendiri.


"Haruskah aku berhenti? Tapi bagaimana dengan nasib panti asuhan ini? Bunda dan adik-adik panti sangat membutuhkan tempat ini. Dalam situasi seperti ini, siapa lagi yang mau membantuku selain pak Pramono. Hasil tabunganku waktu masih kerja di kafe Lenggah kemarin juga belum seberapa. Kak Arsen juga nggak boleh tahu tentang hal ini. Kalau sampai Kak Arsen tau pasti dia tidak akan membiarkan aku berkorban sendiri seperti ini. Maafkan aku Delfin, aku terpaksa melakukan semua ini," gumam Ziya lirih, ia mengacak rambutnya frustasi.


"Gini amat sih, jadi orang miskin," gerutu Ziya lagi, lalu menarik ke atas selimut tidur hingga menutupi kepalanya. Tak lama berselang, akhirnya Ziya terlelap juga.


...***...


Di salah satu restoran ternama di Jakarta, saat ini Ziya berada. Untung saja hari ini Delfin sedang tidak ada jadwal pekerjaan. Jadi ia tidak perlu mencari alasan kepada Delfin untuk menemui seseorang.


Setelah sekitar sepuluh menit Ziya menunggu, akhirnya sosok yang ia tunggu pun tiba. Pramono sengaja mengajak Ziya untuk bertemu. Ia ingin membicarakan tentang rencana apa lagi yang harus Ziya lakukan, tentu saja untuk secepatnya membuat Delfin dan Cia berpisah.


Tanpa banyak kata, Pramono langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Ziya. Laki-laki tua itu masih terlihat tegas dan berwibawa. Meski umurnya sudah menginjak kepala tujuh.


"Bagus Ziya, aku suka dengan cara kerjamu. Cia sudah mulai meragukan Delfin. Sebentar lagi, aku yakin Cia pasti akan pergi meninggalkan laki-laki brengsek dan tidak berguna itu," tutur Pramono.


"Iya, Pak. Sepertinya sejak kejadian kemarin di taman, Pak Delfin dan Bu Cia bertengkar lagi. Pak Delfin terlihat begitu marah dan kecewa, sampai tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Tapi, Pak …." ucapan Ziya terhenti, ada keraguan dalam benaknya untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.


"Tapi apa?" tanya Pramono. Ia terlihat begitu penasaran dengan apa yang akan Zia sampaikan hingga menautkan kedua alis tebalnya.

__ADS_1


"Maaf, Pak, kalau saya lancang. Apakah anda benar-benar yakin kalau cucu menantu anda seorang hidung belang? Saya takut anda akan menyesal karena sudah menghancurkan rumah tangga cucu anda sendiri,” jawab Ziya ragu-ragu, ia sendiri takut kalau Pram akan marah dengan apa yang baru saja ia katakan.


“Maksud kamu apa?” Benar saja, Pram terlihat tidak suka dengan penuturan Ziya.


“Jadi begini, Pak. Selama saya menjadi manajer pak Delfin, menurut saya tidak ada yang salah dengan pak Delfin. Dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Dia juga selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Dia sangat mencintai cucu Bapak. Dia juga sedang berusaha memantaskan diri agar bisa membuat cucu Bapak bahagia. Dia bekerja keras agar albumnya sukses di pasaran hingga bisa membuat Bu Cia bangga,” urai Ziya panjang lebar.


Setidaknya jika Pram tetap bersi keras membuat Delfin dan Cia berpisah dan jika pada akhirnya mereka benar-benar berpisah, Ziya sudah memberikan pembelaan untuk Delfin. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa bersalah pada Delfin dan Cia.


“Hanya ini yang bisa aku lakukan, Fin. Maafkan aku jika Pak Pram tetap memintaku untuk menggodamu dan membuatmu terpisah dari istrimu,” batin Ziya.


“Apakah pendapatmu ini karena kamu sudah termakan rayuan bajingan tengik itu?” ejek Pram dengan senyum culasnya.


Ziya tertegun mendengar ejekan Pram, tetapi ia segera menjawab pertanyaan Pram. “Itu hanya menurut penilaian saya, Pak. Maaf jika Bapak tidak sependapat,” kata Ziya sambil menundukkan wajah.


“Jangan pernah gunakan perasaanmu dalam sandiwara ini, jika kamu tak ingin terperangkap dalam permainan laki-laki buaya itu.” Pram mengingatkan Ziya akan perasaannya. Pram bisa melihat ada yang berbeda saat Ziya memberi pembelaan untuk Delfin.


Ziya mengangguk paham, meskipun dalam hatinya terjadi perdebatan. Namun, Ziya tetap yakin Delfin adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.


Mungkin memang benar apa yang dikatakan Delfin kemarin. Pram tidak menyukai Delfin karena perbedaan kasta di antara mereka. Oleh sebab itu, Pram tidak percaya kalau Delfin akan bisa membahagiakan cucu kebanggaannya tersebut.


"Lanjutkan tugasmu, Ziya! Aku tunggu kabar baik darimu secepatnya. Aku pergi dulu." Ucapan Pram menyadarkan lamunan Ziya.


"Baik, Pak," jawab Ziya singkat.

__ADS_1


Pramono segera berdiri dan berjalan meninggalkan Ziya sendiri dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.


“Apa benar aku salah menilai Delfin? Apa mungkin Pak Pram memang lebih mengenal Delfin? Jika Delfin tidak seperti yang disangka Pak Pram, aku juga akan sangat merasa bersalah sudah menghancurkan rumah tangga orang. Lalu apa kabar hatiku jika Delfin tetap bersama Cia? Juga nasib panti bagaimana?”


Setelah melalui perdebatan yang cukup alot dengan hatinya sendiri, akhirnya Ziya tetap memilih berada di pihak Pram. Masalah hatinya, ia pasrahkan pada sang pemilik cinta, nasib panti sudah di ujung tanduk. Ia tak lagi bisa mundur. Ia harus selesaikan semua sesuai rencana semula.


...***...


Pagi ini Delfin sudah siap di studio miliknya, di temani oleh Bagus. Jadwal hari ini, rencananya Delfin akan membintangi sebuah iklan sepatu keluaran salah satu brand ternama dunia.


Hampir setengah jam menunggu, Ziya belum juga tiba di studio. Ziya juga tak memberikan kabar jika ia akan datang siang.


"Gus, Ziya tumben lama banget. Nggak biasanya dia telat begini, kan?" tanya Delfin ke Bagus. "Apa terjadi sesuatu dengan Ziya, ya? Jangan-jangan Ziya sakit, Gus?" Wajah Delfin sudah menunjukkan kekhawatiran yang sangat kentara hingga Bagus dibuat tercenung olehnya.


"Coba di telepon saja, Mas. Mungkin sudah di jalan kena macet." Bagus memberi saran. Dalam hatinya ia bertanya, apa mungkin Delfin menyukai manajernya sendiri. Pasalnya, Delfin tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis selain pada istrinya. Akan tetapi, kali ini Delfin begitu terlihat cemas karena wanita lain yang tak lain adalah manajer Delfin sendiri.


Saat Delfin akan menghubungi Ziya, tiba-tiba saja terdengar suara derap langkah yang berjalan tergesa. Melihat Ziya yang baru saja membuka pintu ruang rekaman, Delfin langsung berlari menghampiri Ziya.


Delfin langsung menarik Ziya dalam pelukannya. Seolah melampiaskan ketakutan dan kegundahannya. Ia lega karena Ziya masih sehat dan tak kekurangan apapun dan itu sukses membuat Bagus melongo. Begitu juga Ziya yang terpaku dalam pelukan Delfin.


...***...


__ADS_1


...Tuh, kan, Delfin mah main peluk aja, sih 😌...


__ADS_2