Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Masih Mencintai


__ADS_3


...***...


Kejenuhan sejenak melingkupi atmosfer di ruangan yang ditempati oleh Ziya dan Delfin. Lelaki yang tengah meroket kesuksesannya tersebut tampak berpikir, sedangkan Ziya hanya terdiam menunggu tanggapan dari Delfin.


Delfin galau, karena di saat kesuksesan kariernya di depan mata, ia harus menelan pil pahit jika rumah tangganya berada di ujung tanduk. Padahal ini adalah impiannya bersama sang istri sejak lama. Kini, saat semua terwujud, justru keharmonisan mereka malah terpuruk.


"Aku bingung, Zi. Sudah beberapa kali aku mengalah, tetapi dia tidak pernah berubah. Cia tetap keras kepala. Dia tidak mau mendengarkan permintaanku untuk menjauhi Farel. Dia bahkan sudah merendahkan aku yang tidak bisa memberikan barang-barang mewah untuknya. Aku seperti tidak mengenal Cia lagi, dulu dia tidak pernah membahas tentang materi, tapi kini ...."


Delfin tertunduk diakhir kalimat panjangnya. Keheningan yang sempat melebur oleh perkataan Delfin, kembali muncul beberapa detik sebelum Ziya mengulurkan tangannya mengusap bahu Delfin dan berkata, "mungkin Bu Cia tidak bermaksud merendahkan kamu, Fin. Kamu jangan berprasangka buruk dulu!" ujar Ziya, membuat kepala Delfin mendongak seketika.


"Lalu apa artinya? Akhir-akhir ini dia sering membahas tentang hal itu. Bahkan dengan bangganya dia memamerkan hadiah mewah dari Farel di depanku."


Ziya menghela napas kasar. Semuanya itu sudah diketahuinya dari awal. Dia yang merencanakan semuanya bersama Pram, dan sekarang seharusnya dia senang. Delfin sudah mulai meragukan Cia, tetapi entah kenapa hatinya merasa tidak tega.


"Sudahlah, jangan bahas Cia dulu! Kamu jadi ambilkan air buat aku, nggak?" Belum sempat Ziya memberikan tanggapan, Delfin sudah memberikan ultimatum seperti itu. Membuat Ziya hanya bisa menelan kembali kata-katanya untuk menasihati Delfin.


"Iya, jadi. Tunggu sebentar. Aku ambilkan kamu air minum dulu." Ziya pergi setelah berucap seperti itu.


Delfin merebahkan kembali tubuhnya pada sandaran sofa yang ia duduki. Bermain dengan ponsel pintarnya setelah beberapa saat diacuhkan ketika ngobrol dengan Ziya. Delfin mengecek apakah ada pesan masuk dari istrinya, karena sesungguhnya dalam hatinya pun sangat merindukan perempuan yang masih menjadi ratu dalam hatinya itu.


Ting!


Satu notifnya pesan masuk dari Farah. Adik perempuan Delfin itu mengirimkan foto. Sejenak terdiam dengan kening berkerut dalam, Delfin menatap layar datar di hadapannya tersebut dengan bimbang. Ibu jarinya dengan ragu menekan icon foto yang belum terbuka jika tidak diklik tanda panah di atasnya. Delfin takut, foto yang dikirimkan adiknya tersebut akan membuatnya bertambah kesal.

__ADS_1


Pasalnya, terakhir kali Farah sudah mengirimkan foto Cia bersama dengan Farel. Itu sukses membuatnya jengkel. Kali ini, dia takut seperti itu lagi. "Buka jangan, ya? Tapi Kalau nggak dibuka gimana aku bisa tahu."


Akhirnya rasa penasaran Delfin pun menang. Ibu jari Delfin dengan cekatan meng-klik foto tersebut. Kedua mata Delfin terbuka lebar saat foto itu terpampang jelas di layar ponselnya. Tubuhnya sontak duduk tegak menatap foto tanpa berkedip. Dalam foto itu terlihat Cia yang tengah bergandengan mesra dengan Farel.


"Brengsek!" Benar saja. Emosi Delfin langsung menguap begitu saja. Tanpa berpikir panjang ia lemparkan ponselnya sembarangan. Berbarengan dengan kedatangan Ziya yang membawa sebotol minuman dingin di tangannya. Ziya terkejut saat sebuah ponsel melayang dan jatuh tepat di bawah kakinya.


"Kenapa, sih?" Ziya berjongkok mengambil ponsel milik Delfin. Mengecek kondisi ponsel tersebut yang ternyata sudah retak layar depannya, "ini udah rusak. Memangnya dia salah apa? Kenapa dilempar?" Ziya berkata sambil berjalan mendekati Delfin, lalu duduk di sebelah lelaki itu.


Delfin masih bergeming. Urat kemarahan masih terlihat di lehernya. Napasnya kian memburu seperti ingin menghantam sesuatu.


"Kenapa? Ada apa?" Ziya bertanya lagi. Kali ini sambil menyodorkan sebotol minuman dingin yang sudah ia buka tutup botolnya, "minum dulu, deh. Kayaknya kamu lagi kesal."


Delfin menyambar minuman tersebut lalu meneguknya hingga tandas. Ziya sampai melongo takjub melihat itu. Ada apa dengan artisnya tersebut? Baru beberapa menit yang lalu ia meninggalkan Delfin dalam keadaan baik-baik saja, yang masih bisa mengontrol emosinya walaupun sejak dilanda banyak masalah.


"Cia benar-benar selingkuh dengan Farel, Zi. Dia udah nggak menghargai aku lagi sebagai suaminya."


"Kamu tahu dari mana?" tanya Ziya.


"Tadi Farah mengirimkan foto kemesraan mereka."


"Jadi karena foto itu kamu melempar HP kamu? Ini, kan, mahal." Ziya mendengus seraya menggelengkan kepalanya. Artisnya itu memang mempunyai kebiasaan buruk melempar barang jika sedang kesal. Tidak peduli barang itu mahal.


Delfin mendelikkan mata. Berdecak sebal menatap Ziya. Bukan itu respon yang ia harapkan dari perempuan itu.


"Mungkin saja mereka tidak sedang jalan berdua. Bisa aja ada orang lain juga, seperti foto yang dikirimkan Farah tempo lalu." Kalimat berikutnya mampu menggagalkan bibir Delfin untuk bersuara. Ia ingat pernah bercerita akan hal itu terhadap Ziya.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana?" Delfin meraup wajahnya kasar. Membaringkan kembali tubuhnya untuk menekan rasa kesal.


"Aku sudah bilang, hubungi Bu Cia dan bicara baik-baik dengannya."


"Aku takut tidak bisa mengontrol emosiku kalau di telepon."


Ziya menghela napasnya. Pasangan ini memang sama-sama keras kepala. "Kalau gitu tunggu sampai kita pulang dari tour konser ini. Jangan sampai kamu menyesal, jika suatu saat kamu benar-benar kehilangan Bu Cia, Fin. Kamu masih mencintai dia, kan?" Pertanyaan itu sebenarnya sangat melukai hati Ziya, tetapi harus diutarakan agar dirinya sadar jika mencintai Delfin itu hanya akan menyakitinya saja. Namun, semua itu tidak berpengaruh sama sekali. Nyatanya, perasaannya terhadap Delfin masih tetap sama.


"Aku memang masih mencintai Cia, bahkan sangat mencintainya." Kalimat itu hanya terlontar dalam hati Delfin. Ia ingin menjawab itu, tetapi bibirnya terasa kelu. Dia ragu.


Delfin menghela napas panjang sebelum dirinya beranjak berdiri. "Aku mau tidur dulu, lah. Pusing mikirin Cia terus," ujar Delfin sambil melengos pergi.


Ziya menatap punggung Delfin tanpa mencegah lelaki itu. Dia memang butuh istirahat untuk memenangkan pikiran. "Jangan lupa besok pagi ada briefing bersama panitia konser selanjutnya. Jangan sampe kesiangan!"


"Iya." Delfin menjawab malas sembari terus berjalan. Namun, teringat sesuatu lalu berhenti dan berbalik lagi menghadap Ziya, "Zi ...."


Ziya menoleh saat Delfin memanggilnya. "Apa lagi?" tanyanya.


"Besok belikan aku HP baru, ya! Pokoknya yang lebih bagus dari itu." Delfin menunjuk ponsel rusak yang masih dipegang oleh Cia menggunakan tatapan mata.


Ziya mencebikkan bibirnya. "Makanya kalau kesal jangan suka lempar barang. Mubazir, tahu!"


Delfin sedikit tertawa mendengar itu. Senyumnya bertambah lebar manakala melihat pipi gembung Ziya kala cemberut. Hatinya yang sedang kalut, sedikit terobati dengan tingkah Ziya tersebut.


...***...

__ADS_1



__ADS_2