
...***...
“Maaf, Tuan. Nona Cia sama sekali tidak mau menyentuh makanan yang Tuan kirimkan. Padahal saya sudah mengatakan sesuai yang Tuan perintahkan. Sepertinya Nona Cia tahu jika makanan itu bukan dari rumah sakit.”
“Ya, sudah. Berikan makanan itu kepada siapa pun yang mau menerimanya.” Pramono menutup ponselnya dengan kesal.
Sudah empat hari Cia dirawat di rumah sakit, selama itu pula Pramono hanya bertemu dengan cucu kesayangannya di hari pertama Cia dirawat. Itu pun hanya pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Pramono masih tetap pada pendiriannya, jika semua yang telah ia lakukan semata hanya karena rasa sayang yang begitu besar pada cucunya. Hingga hari ketiga Cia dirawat, seorang perawat yang diutus untuk mengawasi Cia melaporkan kondisi cucunya.
“Hari ini Nona Cia semakin lemah, Tuan. Setiap saat Nona muntah. Tidak ada satu pun makanan yang mau Nona sentuh.” Perawat itu datang ke rumah Pramono untuk memberikan laporan.
Sesaat Pramono terdiam, ia bisa membayangkan bagaimana kondisi Cia. Pikirannya kembali teringat ketika Cia kecil sakit. Pucat dan lemah karena tidak mau makan barang sedikit pun. Namun, kali ini kondisinya berbeda. Cia tidak sendiri, ada nyawa lain yang seharusnya tidak ia abaikan. Pramono bangkit dari kursi besarnya, memikirkan sesuatu yang mungkin bisa membantu cucunya.
“Lea!” teriak Pramono.
“Iya, Tuan.” Terlihat Bi Lea sedikit berlari mendekati Pramono.
“Buatin masakan kesukaan, Cia! Yang banyak, biar nanti dibawa ke rumah sakit,” titah Pramono.
“Baik, Tuan.” Bi Lea segera undur diri untuk menyelesaikan tugas dari Pramono.
“Kamu boleh pergi. Nanti biar orang rumah yang mengantar makanan ke rumah sakit. Kamu cukup pastikan saja agar Cia memakannya!” perintah Pramono kepada perawat muda yang masih duduk dalam ruangan itu.
“Baik, Tuan. Saya mohon diri untuk kembali ke rumah sakit.” Wanita itu berdiri dan membungkuk sopan sebelum berlalu dari rumah mewah itu.
...***...
Siang hari berikutnya, Cia berusaha membuka matanya. Sejak pagi Cia tidur setelah ia memuntahkan semua yang ada dalam perutnya. Kepalanya masih terasa begitu berat. Ditambah rasa perih di lambungnya membuat Cia begitu lemah. Tidak ada sedikit pun nafsu makan. Ia hanya memakan blackfores dari Delfin yang ia simpan di kulkas. Itu pun tidak masuk banyak, hanya beberapa suap saja. Siang ini, indera penciumannya terusik oleh aroma makanan yang dihidangkan oleh seorang perawat. Aromanya begitu menggoda hingga dengan terpaksa ia membuka matanya.
“Makan siang dulu, Nona! Saya siapkan, ya.” Perawat itu membantu Cia untuk bersandar.
__ADS_1
“Siapa yang membawa makanan itu, Sus?” Mata Cia memicing, ia curiga melihat makanan yang beragam meskipun jumlahnya sedikit-sedikit.
“Ini dari dapur rumah sakit, Nona. Khusus untuk pasien VVIP,” jawab perawat itu sopan.
“Singkirkan semua makanan ini, Sus! Aku muak melihatnya.” Tubuh Cia kembali merosot. Ia menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Hatinya bergemuruh. Marah, bahkan sangat marah. Sebab Cia tahu, bahwa semua makanan itu berasal dari rumah kakeknya. Cia sudah hafal bentuk serta aroma masakan Bi Lea.
“Tapi, Nona sama sekali belum makan nasi. Kasihan janin dalam perut, Nona.” Perawat itu masih berusaha untuk membujuknya.
“Aku nunggu jus seperti biasanya saja. Singkirkan semua makanan ini sebelum membuatku muntah!”
“Baik, Nona.” Dengan cekatan perawat itu menyingkirkan semua makanan. Ia lebih tidak tega melihat Cia muntah lagi.
...***...
Dalam rumah besar itu, Pramono mondar-mandir tidak tentu. Rumah itu terasa begitu sepi. Kehadiran Cia beberapa waktu lalu mengembalikan semangat lelaki tua itu kembali melukis impiannya. Pramono sangat menginginkan rumah ini ramai dengan cicit yang akan terlahir dari rahim Cia. Sudah sekian lama hidupnya kesepian. Semenjak kepergian anak dan menantunya, hingga istrinya yang kemudian menyusul putra mereka. Namun, semua impian itu hancur dalam sesaat. Apalagi kenyataan bahwa Pramono tidak menyukai Delfin.
Pramono memandang foto keluarga yang terpajang di ruang kerjanya, di mana Cia kecil ada dalam pangkuannya dan diapit oleh istri, putra beserta menantunya. Saat itu mereka masih begitu bahagia. Rumah besar ini masih ramai dengan tangis dan celoteh Cia, serta teriakan kecil dari istri tercintanya ketika bermain bersama Cia. Tanpa ia sadari, air matanya lolos begitu saja.
Dengan Cia tidak mau menemuinya saja sudah membuat hidup lelaki tua itu seperti neraka. Apalagi sekarang Cia sama sekali tidak mau menerima semua pemberian dari Pramono. Di situlah Pramono sadar bahwa apa yang telah ia lakukan pada hidup cucunya sudah begitu fatal. Pantas jika Cia sangat marah padanya. Apalagi jika Cia tahu kebenaran tentang ayah biologis janin dalam rahimnya, sepertinya Pramono mulai sekarang harus benar-benar menyiapkan diri untuk kehilangan Cia.
Pramono meraih amplop coklat dalam laci meja kerjanya. Amplop itu ia terima beberapa minggu setelah Cia diketahui hamil. Pramono sengaja menyembunyikan kebenaran untuk memuluskan rencananya memisahkan Cia dari Delfin. Namun, dengan kondisi Cia saat ini dan semakin memburuknya hubungan antara cucu dan kakek, membuat Pramono berubah pikiran. Ia sudah siap dengan segala konsekuensinya, jika pada akhirnya Cia memilih untuk membenci dan meninggalkannya. Setidaknya, beban berat yang ia sandang selama ini akan berkurang.
...***...
“Selamat malam, Bi Lea. Tuan Pramono ada?” sapa Farel begitu Bi Lea membuka pintu untuknya.
“Silakan masuk, Mas Farel. Tuan sudah menunggu di ruang kerja.”
Farel melangkah memasuki rumah mewah itu. Tadi siang Pramono meminta Farel untuk menemuinya di rumah. Setelah dari rumah sakit, Farel bergegas ke rumah Pramono. Tidak biasanya Pramono memintanya bertemu di rumah. Pasti ini berkaitan dengan Cia yang hingga detik ini masih menolak untuk bertemu kakeknya.
“Selamat malam, Tuan.” Farel mengetuk pintu ruang kerja Pramono yang masih tertutup.
__ADS_1
“Masuk, Farel!” perlahan pintu terbuka otomatis dan menampakkan Pramono yang duduk di kursi kerjanya.
Farel melangkah perlahan. Dilihatnya wajah lelah Pramono di balik kulitnya yang sudah tidak mulus lagi. Pramono tersenyum menyambut Farel dan menekan tombol hingga pintu ruangan itu tertutup kembali.
“Duduklah!” perintah Pramono.
Farel segera duduk di kursi yang hanya terpisah oleh sebuah meja kerja. Wajah datar Pramono membuat Farel semakin bingung. Tidak seperti hari-hari lalu ketika mereka membicarakan pertunangan dirinya dengan Cia.
“Sebelumnya kakek minta maaf telah menyeret kamu dalam masalah ini.” Pramono berhenti sejenak. Lelaki tua itu meraup oksigen semakin banyak untuk memberinya kekuatan, “kakek sadar, selama ini telah melakukan kesalahan yang begitu besar. Hingga cucu kakek marah dan tidak mau bertemu dengan kakek. Sebelum semua terlambat, kakek ingin meminta maaf pada kamu. Kakek akan terima semua yang akan kamu lakukan pada kakek.”
Pramono menyerahkan dua amplop coklat pada Farel. Farel segera menerimanya. Tertulis di bagian luar amplop tersebut nama sebuah rumah sakit swasta terbesar di mana saat ini Cia dirawat.
Tiba-tiba saja jantung Farel tidak karuan. Dalam pikirannya bermunculan berbagai macam pertanyaan yang tidak bisa ia simpulkan. Apakah Cia sakit parah hingga Pramono harus membicarakannya di rumah? Namun, jika terjadi sesuatu dengan Cia, mengapa Andre tidak mengatakan padanya? Bukankah Andre adalah dokter yang menangani Cia saat ini. Sejuta pertanyaan di kepala Farel mendadak membuatnya pusing.
“Bukalah!” perintah Pramono.
Farel membuka amplop itu perlahan, matanya terbelalak membaca judul yang tertera di sana. Meskipun setiap kata yang tertulis tidak bisa dipahami orang awan, tetapi begitu ia membaca kalimat di bawah yang merupakan kesimpulan dari isi surat itu, jantung Farel seolah keluar dari tubuhnya.
“Maksudnya apa, Kek?” Farel membandingkan kedua isi amplop.
“Maafkan kakek sudah membohongi kalian,” Pramono menunduk, menyembunyikan luka yang begitu membuatnya tersiksa.
Mata Farel nanar melihat kenyataan yang terpampang di depan matanya. Tubuhnya lemas. “Bagaimana bisa seperti ini!”
“Maafkan, kakek.” Pramono menundukkan kepala, menopang dahinya dengan telapak tangan yang sikunya bertumpu di atas meja. “kakek sudah mempermainkan perasaan kalian. Kakek yang sudah menjebak kamu dan Cia malam itu. Sebenarnya, malam itu kalian tidak berbuat apa pun. Kakek yang telah merekayasa semuanya. Dan janin yang ada di dalam Rahim Cia adalah anak dari Delfin.”
Mata Farel semakin nyalang menatap lelaki tua itu. Tangannya mengepal keras, dirinya merasa benar-benar bodoh sudah dipermainkan oleh lelaki tua yang pernah begitu ia kagumi.
...***...
__ADS_1