
...***...
Dengan langkah pasti Dea berjalan menuju mobilnya, sambil sesekali terdengar umpatan dari bibirnya yang seksi. Dia benci keadaan ini, sebab khawatir Delfin akan semakin menjauhi dirinya dan akan membuatnya semakin sulit untuk menggapai Delfin.
Di dalam pikirannya hanya Delfin saja. Dia harus bisa selalu dekat dengan Delfin dan akan segera menyingkirkan Ziya sang pengacau. Ia pun harus berpikir keras sekarang, karena saingannya bertambah. Memisahkan Delfin dari Cia saja, ia merasa kesulitan. Ditambah keberadaan Ziya, semakin mempersulit mencapai angannya bersanding dengan Delfin.
Hari ini Dea berniat menghubungi Cia dan akan membuat drama. Hal itu dilakukan agar Ziya bisa dijauhkan dari Delfin.
Dea memainkan benda pipih yang berlogo apel tergigit sebelah. “Aku akan membuatmu jera, Ziya. Berhenti berpikir untuk mendekati Delfin,” monolog Dea.
Tak beberapa lama, terdengar dering di kejauhan. "Selamat siang, Bu Cia," sapa Dea begitu panggilannya diangkat.
"Selamat siang. Siapa ini?" tanya Cia sambil melihat nomor telepon tak dikenal yang tertera pada layar ponselnya.
"Saya Dea, Bu. Kawan satu manajemen dengan suami Ibu–Delfin," jawab Dea dengan penuh percaya diri.
"Lalu, ada perlu apa kamu menelepon saya?" tanya Cia sedikit ketus, sebab dia tahu siapa Dea. Perempuan yang selalu ingin dekat dengan suaminya.
Sudah sering Cia memergoki Dea yang mencoba mengambil perhatian Delfin. Termasuk mengirimkan chat penuh perhatian ke ponsel Delfin. Untungnya Delfin sama sekali tidak menanggapi pesan dari Dea, membuat Cia bisa bernapas lega.
"Saya ingin berbincang sedikit sama Bu Cia. Apa Ibu punya waktu?" Dea menyeringai sambil memainkan rambut hitamnya.
"Cepat katakan ada apa?! Saya tidak mau membuang waktu untuk urusan yang tak berguna," bentak Cia kesal.
"Bu Cia ini terburu-buru sekali. Baiklah, jika Ibu ingin ke pokok pembicaraan. Saya sarankan Bu Cia berhati-hati dengan Ziya, manager baru Delfin. Saya bisa merasakan kalau Ziya punya niat lain selain menjadi manajer Delfin. Jangan percaya dengan sikap lemah lembutnya, bisa jadi itu untuk menarik perhatian Delfin." Dea memulai dramanya untuk memanas-manasi Cia.
"Jangan bertele-tele. Maksudmu apa?" Cia mulai terpancing emosi.
“Kemarin saya melihat Ziya begitu manja dengan Delfin. Mereka berdua terlihat begitu intim.”
“Jangan ngawur kamu! Saya percaya kalau suami saya orang yang setia dan tidak mudah tergoda oleh wanita murahan.” Cia sudah kehilangan kendali diri.
__ADS_1
“Jangan naif, Bu Cia! Lelaki mana yang tidak akan tergoda kalau terus dipepet oleh wanita cantik,” ejek Dea.
“Brengsek! Jangan asal bicara! Delfin tidak seperti itu,” marah Cia.
“Tapi saya punya buktinya.”
“Bukti apa?” Cia semakin tersulut, sedangkan Dea tersenyum penuh kemenangan.
"Ops, sabar dong, Bu, sebentar aku kirim foto Delfin dan Ziya yang sangat mesra."
Tidak menunggu lama, setelah mematikan panggilan telepon, Dea mengirimkan foto Deflin dan Ziya saat mereka sedang makan siang bersama beberapa kru, tetapi Dea hanya mengambil posisi mereka berdua secara diam-diam dan ia mendapatkan sesuai yang diinginkannya.
Dea pun tersenyum puas, sebab Cia tak lagi membalas pesannya. Drama akan segera dimulai.
...***...
Usai menerima pesan dari Dea, wajah Cia merah menahan amarah. Ia segera menghubungi Delfin guna meminta penjelasan. Sekali dering, telepon itu segera diangkat oleh sang suami.
“Bisa-bisanya, ya, kamu selingkuh sama manajer baru kamu itu!” tuding Cia dengan amarah yang membuncah, merasa dikhianati oleh sang suami.
“Maksud kamu apa, sih, Yang? Yang selingkuh siapa?” elak Delfin.
“Nggak usah pura-pura nggak ngerti! Kamu ada affair sama manajer baru kamu itu, kan?”
“Jangan ngomong sembarangan, Sayang. Setiap kata itu adalah doa. Jangan pernah ngomong kalau nggak ada bukti yang valid nanti jatuhnya fitnah,” urai Delfin.
“Aku nggak asal bicara, ya! Aku punya bukti,” marah Cia.
“Bukti apa? Aku sama Ziya nggak seperti yang kamu tuduhkan.” Delfin masih dengan sabar menjelaskan pada istrinya yang sudah meledak-ledak.
“Aku punya bukti, Fin!” Tidak mau mendengar sanggahan lagi dari sang suami, ia bergegas mengirim foto yang ia dapat dari Dea untuk dikirim ke nomor Delfin. “Brengsek!” umpatnya, “Aku nggak bakal diam aja kamu menggoda suamiku wanita murahan.” Tangan Cia mengepal. Emosinya benar-benar tersulut kali ini.
Setelah mengemasi meja kerjanya, Cia segera meninggalkan butik. Dengan wajah memerah menahan marah Cia melajukan mobil ke studio tempat sang suami berada. Tangannya mencengkram erat kemudi mobil, sebab kesal dan amarah di hatinya. Ia yakin, setelah konferensi pers, mereka akan langsung ke studio Delfin.
__ADS_1
Saat tiba di studio Delfin, Cia pun membuka pintu dan menutupnya dengan kasar.
Dilihatnya Ziya yang sedang berjalan menuju pantry, ia hendak membuatkan kopi untuk artisnya. Dengan kasar Cia menarik lengan Ziya ke arah ruang meeting. Ziya yang tak siap dengan tindakan Cia hampir saja terjatuh.
Sesampainya di ruang meeting tubuh gadis itu dihempaskan ke sofa. Dengan wajah marah, Cia memaki manajer baru suaminya itu. “Brengsek kamu, ya!”
Ziya masih belum mengerti akan apa yang tengah menimpa dirinya. "Maaf, Bu. Maksud Ibu apa, sehingga memperlakukan saya seperti ini?” tanya Zia.
"Nggak usah pura-pura bodoh kamu, ya!" Cia semakin emosi kala mendapati wajah Ziya yang polos tanpa merasa bersalah. "Lihat! Ini maksud kamu apa? Kamu mau menggoda suami saya?” Cia memperlihatkan foto antara Ziya dan Delfin yang ada di ponselnya. Ziya melongo melihat gambar dirinya.
"Jangan harap kamu bisa menggoda suami saya. Kamu tidak akan pernah berhasil!" bentak Cia murka, sampai urat di sekitar leher jenjangnya yang putih terlihat menonjol.
Ziya masih saja melihat foto-foto sambil mengerutkan dahinya. Ia merasa ada yang aneh. Kenapa hanya foto mereka berdua saja yang ada di sana, padahal ada kawannya yang lain.
"Maaf, Bu, sepertinya ini salah paham." Ziya mulai mengerti kenapa ia dituduh menggoda Delfin, meski memang tujuan utamanya adalah menggoda Delfin, tapi tidak dengan cara murahan seperti itu. Ziya punya cara sendiri untuk memisahkan Delfin dari Cia. Ziya pun berusaha setenang mungkin menjelaskan pada Cia.
"Memang benar saat itu kami keluar untuk makan siang, tapi kami tidak hanya berdua. Kita bersama dengan beberapa kru. Saya pun bingung kenapa hanya kami yang terlihat," jelas Ziya. Akan tetapi, Cia tak menghiraukan hal itu.
"Saya hanya percaya dengan apa yang saya lihat! Ingat perkataan saya, sekali lagi kamu menggoda Delfin, kamu akan habis di tangan saya, karena saya tidak akan tinggal diam. Camkan itu!” Cia melenggang pergi meninggalkan Ziya yang masih termangu.
Ziya sedikit was-was akan ancaman yang Cia berikan padanya. Ia pun segera menghubungi Pram, menceritakan apa yang terjadi. Pram pun berjanji akan melindungi Ziya dari Cia.
Okey! Ini adalah tantangan terberat dalam hidup Ziya, tetapi demi panti, ia tak bisa mundur lagi. Ia akan segera menyelesaikan semuanya dengan cepat.
“Maafkan saya, Cia. Ini semua demi kebahagiaan kamu. Saya hanya membantu kakek kamu untuk menjauhkan kamu dari pria brengsek seperti Delfin.” Ziya menghela napas kasar. Ia merapikan pakaiannya yang terlihat sedikit kusut. Lalu pergi ke pantry. Ia pun membuat minuman dingin untuk menyegarkan otak juga hatinya.
...***...
...Othor minta dukungannya 🙏...
Klik tombol favorit, agar nggak ketinggalan update ❤
__ADS_1