
...***...
Selepas pertengkaran hebat di kafe yang berakhir dengan permainan panas di ranjang, Cia dan Delfin kembali mesra. Delfin yang saat ini sedang bebas dari semua jadwal tidak melewatkan kesempatan untuk menunjukkan rasa pedulinya kepada istri tercinta. Dia mengantar Cia ke butik dan menemani istrinya bekerja meskipun kadang Delfin merasa jenuh akibat tidak memahami dunia kerja istrinya.
“Sayang, aku temuin klien dulu di bawah, ya. Aku tinggal nggak papa, ‘kan? Dia klien penting, nggak enak kalau aku biarin dia sama asisten,” ucap Cia mengecup kening Delfin yang sibuk bermain game di ponselnya.
“Hmm …,” jawab Delfin singkat tanpa beralih dari permainannya.
Menunggu adalah hal yang membosankan, apalagi bagi Delfin yang biasanya justru menjadi orang yang selalu ditunggu. Ia mulai bosan dengan game yang ia mainkan dan berdiri mondar-mandir dalam ruang kerja milik Cia. Lelaki itu membuka tirai jendela, melihat aktivitas kota yang sibuk di hari itu. Tiba-tiba ia teringat akan Ziya. Gadis itu sudah berhasil memenuhi pikirannya.
“Dia lagi ngapain, ya? Semalam pulang sama siapa? Ah, sial! Kenapa aku jadi kepikiran gini, sih!” lirih Delfin sembari mengusap kasar wajah tampannya.
Hingga jam makan siang, Cia tidak juga kembali ke ruang kerjanya. Hal itu memaksa langkah kaki Delfin untuk meninggalkan ruangan menuju ke lantai dasar. Delfin tersenyum melihat sosok yang sangat ia cintai sedang sibuk memaparkan detail sebuah gaun kepada pasangan muda yang tampak berwibawa. Delfin berkeliling dalam ruangan itu, melihat betapa berkelasnya semua desain hasil karya Cia.
“Pantas saja dia lebih memilih menghadiri event di Paris daripada liburan denganku. Sepertinya hal ini sudah menjadi hidupnya. Apa aku ikut ke Paris saja, ya?”
“Maaf, Pak. Bapak bicara apa, saya enggak paham,” kalimat dari seorang pekerja Cia yang berdiri tidak jauh dari Delfin membuat lelaki itu tersentak.
“Eh, enggak. Aku enggak bicara apa-apa.” Delfin berbalik meninggalkan gadis yang sedari tadi tidak Delfin ketahui keberadaannya. Ia malu kekonyolannya diketahui orang lain.
...*** ...
Delfin termenung dalam ruangan yang sedikit temaram setelah rekaman usai. Dengan cekatan Ziya mengulurkan sebotol air mineral kepada artisnya. Delfin menerima dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Tentu hal itu membuat Ziya bertanya-tanya. Keningnya berkerut, gadis itu merasa Delfin sedikit berubah. Senyumnya tidak selepas hari-hari kemarin. Ziya mulai berpikir adakah kesalahan yang telah ia perbuat hingga Delfin bersikap seperti itu?
“Oke, kita sudahi hari ini. Kalian berdua siap-siap untuk peluncuran album perdana, ya. Aku pastikan tidak akan lama lagi semua beres dan siap kita luncurkan,” kata produser yang menggarap lagu Delfin. Dengan kompak Ziya dan Delfin menganggukan kepala sebelum produser itu berlalu.
“Aku bawa ini ke ruanganmu sekarang. Kamu mau makan apa, biar aku carikan,” tawar Ziya sambil menata barang milik Delfin.
“Nanti aja, Zi. Aku belum berselera.” Delfin meninggalkan tempat itu diikuti Ziya dan kru yang lain.
Delfin menjatuhkan tubuhnya di sofa, begitu ia tiba di ruang pribadinya. Ziya yang mengekori segera menata barang Delfin. Melihat artisnya terlihat begitu capek, dengan hati-hati Ziya mendekati Delfin dan duduk di samping Delfin.
__ADS_1
“Kamu ada masalah lagi sama Bu Cia? Aku perhatikan dari tadi kamu seperti lelah, nggak mau cerita, nih?” ujar Ziya dengan suara lembutnya. Intonasi suara yang berbeda ketika Ziya bekerja inilah yang selalu Delfin rindukan. Bagi Delfin, Ziya bukan hanya seorang manajer, tetapi juga teman yang menyenangkan untuk berbagi cerita.
Delfin segera bangkit dan menatap mata lentik gadis di depannya. Dia hanya diam, seolah ia ingin melepas segala kerinduan selama dua hari tidak bertemu dengan gadis itu. Ziya yang mendapat perlakuan seperti itu tentu saja salah tingkah. Irama jantungnya tidak beraturan, gadis itu tidak kuasa mendapat tatapan yang begitu dalam. Apalagi jarak mereka yang hanya sejengkal membuat Ziya bisa merasakan hangatnya embusan napas dari lelaki yang sudah mencuri kewarasannya. Ziya benar-benar tidak tahan, ia segera berdiri hendak berbuat apa pun asal bisa lepas dari tatapan yang memabukkan itu. Tiba-tiba, tangannya ditahan oleh tangan Delfin yang hangat.
“Boleh aku cerita?” tanya Delfin. Ziya berhenti dan berbalik arah menatap Delfin hingga akhirnya gadis itu duduk kembali di hadapan Delfin.
“Katakanlah! Bukankah selama ini kita selalu berbagi cerita?” balas Ziya diiringi senyum yang begitu manis.
“Cia meminta aku untuk menjauhi kamu, Zi.” Kalimat Delfin begitu menusuk perasaan Ziya. Pedih yang dirasakan gadis itu. Namun, Ziya sadar jika hal ini tetap akan terjadi.
“Aku tahu perasaan Bu Cia. It’s oke. Nggak masalah, aku dengan senang hati akan melakukannya,” ucap Ziya pura-pura kuat menahan desakan air mata yang memaksa meluncur. Ziya bangkit menuju sudut ruangan untuk mengalihkan segalanya. Baru dua langkah dia berjalan.
“Tapi aku nggak bisa, Zi,” lirih Delfin. Ziya menghentikan langkahnya, jelas ia mendengar kalimat yang terucap dari mulut manis Delfin. Dalam hati, Ziya bahagia mendengar pengakuannya. “Kamu sudah menjadi bagian dari perjalanan karirku. Kesuksesanku tidak akan ada tanpa campur tanganmu. Aku merasa berdosa jika harus menjauhimu. Kamu tidak salah, Zi.”
“Sudah jangan dipikirkan. Ayo kita cari makan! Aku tunjukkan tempat makan yang enak.” Ziya menarik tangan Delfin, memaksa artisnya untuk bangkit. Bagaimana pun Ziya harus menjaga Delfin supaya tetap makan. Setelah mengambil tas slempangnya, Ziya dan Delfin keluar dari ruangan itu. Sepanjang perjalanan menyusuri lorong agensi, Ziya berada jauh dari Delfin. Gadis itu tetap menjaga jarak dari artisnya. Ziya tidak ingin merusak reputasi Delfin yang mulai menanjak.
Di luar, Bagus sudah siap dengan mobilnya setelah Delfin menelpon beberapa saat lalu. Bagus membukakan pintu untuk Delfin, dan Ziya segera duduk di samping kemudi. Jalanan mulai macet di jam makan siang seperti ini. Bagus dengan sabar membawa mobil sambil memutar lagu yang bisa menenangkan hati Delfin.
“Kita ke tempat biasa, Mbak Zi?” tanya Bagus tanpa mengalihkan atensinya dari jalanan yang padat.
“Tapi, Mbak. Apa itu nggak papa? Aku takut nanti banyak fans yang melihat, terus kalau mereka dengan brutal menyerbu gimana, dong?” tanya Bagus yang tampak begitu khawatir.
“Tenang saja, semua sudah aku pikirkan,” jawab Ziya enteng.
“Memang kalian mau bawa aku ke mana? Kamu juga sering pergi ke sana sama Ziya, Gus?” tanya Delfin curiga. Ia merasa jika ada yang tidak ia ketahui antara Ziya dan Bagus dan hal ini membuat lelaki itu sedikit kecewa.
“Saya pernah diajak Mbak Ziya ke sana, Mas. Baru sekali, sih. Dan ingin diajak lagi,” jawab Bagus tertawa.
“Kalian diam-diam sering kencan di belakang aku, ya!” tuding Delfin mendekatkan kepalanya ke depan. Ziya tersentak mendengar kalimat Delfin. Ada amarah di dalamnya.
“Bukan kencan, Mas. Kebetulan saja kita ketemu di jalan. Lagian mana mau Mbak Ziya aku kencani. Mas Delfin ini suka bercanda, deh,” balas Bagus.
“Mas, di depan ada minimarket. Kita mampir sebentar, ya. Delfin harus ganti kostum.”
__ADS_1
“Siap, Mbak Zi!” Bagus menepikan mobilnya di depan sebuah minimarket yang tidak terlalu ramai.
...*** ...
Di sebuah taman di pinggiran kota kini mereka berada. Delfin yang kini memakai baju yang lebih casual tanpa meninggalkan kacamata hitam, masker, dan topinya segera mengikuti Ziya. Mereka menuju ke sebuah gerobak penjual tahu gimbal. Dulu sewaktu masih SMA, Ziya sering datang ke tempat ini bersama teman-temannya. Rasanya enak dengan harga pelajar.
“Bang, pesan tiga, ya. Sekalian es jeruknya,” ucap Ziya pada abang penjual.
“Kalian ngajak aku ke tempat seperti ini?” tanya Delfin kurang yakin akan pilihan Ziya.
“Tenang, Bos. Nanti kalau sudah mencicipi makanannya, barulah berkomentar,” lirih Ziya.
“Saya dulu juga berpikiran seperti itu, Mas.” Bagus tersenyum menatap ekspresi bos mereka.
Tiga porsi sudah terhidang di meja mereka. Meskipun awalnya ragu, akhirnya Delfin pun memasukkan suapan pertamanya setelah melihat Ziya dan Bagus makan dengan lahap. Entah memang cocok dengan lidah mereka atau karena suasana tenang di taman itu membuat mood mereka membaik. Delfin pun lupa akan masalah yang sedang ia hadapi.
Dari kejauhan terlihat mobil mewah berhenti di lampu merah. Seorang perempuan cantik menajamkan penglihatannya melihat sosok seseorang yang sangat dia kenal berada di taman, bercanda dengan perempuan yang tidak asing di matanya. Meskipun lelaki itu berpakaian biasa, tetapi ia bisa mengenali dengan jelas jika itu adalah Delfin—suaminya sedang bersama Ziya. Sontak tangannya mengepal keras menahan amarah.
“Ada apa, Sayang,” tanya Pramono melihat cucunya gelisah. Pramono mengikuti arah pandang Cia dan lelaki tua itu melihat Delfin bersama Ziya—orang suruhannya.
“Kamu masih percaya sama suamimu? Bukankah kakek sudah bilang berkali-kali?” ucap Pramono datar.
“Tapi Delfin sudah janji akan menjauhi ****** itu, Kek. Nyatanya dia bohong sama Cia,” lirih Cia dengan air mata yang mulai mengalir.
Sementara di taman itu, Ziya yang mengenali mobil mewah itu segera tersadar jika mereka sedang diperhatikan. Ziya melihat Cia duduk bersama Pramono. Dia tidak melewatkan kesempatan ini untuk mendapat nilai lebih dari Pramono. Meja kecil di hadapan mereka tidak menjadi penghalang akting Ziya. Gadis itu mengambil tisu dan pura-pura membersihkan mulut Delfin. Tentu saja Delfin terkejut, bahkan lelaki itu menganggap perlakuan Ziya begitu istimewa. Delfin segera menggenggam tangan Ziya. Mata mereka beradu beberapa saat, menautkan rasa yang selama ini hadir di tengah mereka. Rasa yang selama ini mereka tolak kehadirannya.
Hingga lampu merah itu berubah warna, perlahan mobil mewah itu bergerak. Membawa pergi sekeping hati yang kembali terluka. Diiringi air mata dan isak penuh derita. Sekali lagi Pramono tersenyum puas melihat kepiawaian Ziya dalam mempermainkan hati cucunya.
“Mau pulang sekarang, Mas?” Suara Bagus yang beberapa saat lalu pamit ke toilet memutuskan tautan rasa di antara mereka. Delfin dan Ziya pun salah tingkah dan melepaskan genggaman tangannya.
“Iya, Mas. Aku bayar dulu ke Abangnya.”
...***...
__ADS_1