
...***...
Ziya masih diam sambil memeluk Delfin. Memberikan usapan lembut di punggung lelaki itu seolah memberinya kekuatan agar bisa bersikap tenang. "Kamu kuat, kok, Fin. Aku tahu itu," ucap Ziya lirih.
Delfin sedikit tersentak. Ia merasa malu karena sudah menangis di pelukan seorang perempuan. "Makasih, Zi. Aku jadi malu udah nangis kayak gini. Kayak perempuan aja," ucap Delfin sedikit tersenyum getir setelah mengurai pelukannya. Suasana jadi sedikit canggung, dan kedua pun jadi salah tingkah.
"Nggak apa-apa, Fin. Kadang-kadang seseorang butuh tangisan untuk meluapkan rasa sesak yang mengganjal dalam dada. Bukan hanya perempuan, laki-laki juga sama. Karena keduanya sama-sama dianugerahi air mata."
Ziya menatap Delfin sambil tersenyum tipis. Menyeka air mata yang masih tersisa di pelupuk mata lelaki itu dengan ibu jarinya. "Tidak ada yang tidak pantas di dunia ini, Fin. Semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Terlepas ditakdirkan atau tidaknya hal tersebut menjadi milik kita, setidaknya kita sudah berusaha. Aku yakin Tuhan itu adil. Segala usaha yang kamu lakukan dengan sungguh-sungguh, pasti akan membuahkan hasil." Ziya menambahkan lagi untuk memberikan semangat kepada Delfin.
"Kamu bener, Zi. Tapi seberapa besar usahaku sekarang rasanya sia-sia, jika Cia sudah tidak mau mendukung aku lagi. Cia udah berubah, Zi. Dia udah kehasut omongan kakeknya. Aku memang tidak berguna sebagai suami. Tidak bisa mempertahankan cinta istriku sendiri." Delfin meraung lagi.
"Apa kamu yakin Bu Cia sudah berpaling dari kamu? Mungkin saja kamu salah paham, Fin. Selama ini dia selalu cemburu sama aku. Itu artinya, Bu Cia masih sangat mencintai kamu."
Delfin terdiam sejenak, mencerna dengan baik penuturan Ziya barusan. Apa benar Cia masih mencintainya? Lalu kenapa dia berbohong dan masih berhubungan dengan Farel di belakangnya?
"Tapi, Farel—"
"Coba tanyakan baik-baik dengan Bu Cia lagi! Aku ini perempuan, Fin. Kami mempunyai hati yang sama ketika mencintai seseorang. Aku tahu bagaimana sikap perempuan yang sangat mencintai laki-lakinya seperti Bu Cia." Ziya memotong perkataan Delfin.
"Apa aku benar-benar salah paham?" Delfin bergumam sendiri, tetapi masih bisa terdengar jelas oleh Ziya.
"Seperti salah pahamnya Bu Cia terhadapku, kamu juga seperti itu sekarang."
__ADS_1
Delfin yang semula menundukkan wajahnya jadi mendongak. Ia tersenyum kikuk melihat senyum Ziya yang seperti meledek dirinya. Dari senyum itu dia tahu, jika Ziya mendengar gumamannya tadi.
"Aku pikir kamu nggak denger," ucap Delfin sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Tentu saja. Telingaku masih berfungsi dengan baik," ledek Ziya sedikit tertawa. Berusaha mengusir kesedihan Delfin dengan sedikit bercanda.
Mendengar itu Delfin tertawa juga. Walaupun rasa sedihnya masih banyak tersisa. Nasihat dari Ziya membuat Delfin semakin kagum pada sosok dewasa Ziya. Di mata Delfin, Ziya adalah sosok yang baik, bak malaikat yang menolongnya, selalu ada untuknya. Namun, tanpa Delfin ketahui, Ziya lah sumber masalah dalam rumah tangganya sekarang ini.
"Sekali lagi makasih, ya, Zi. Kamu udah mau menghibur aku. Aku sedikit lebih tenang sekarang. Setidaknya semangatku untuk mempertahankan pernikahan ini jadi hidup kembali." Delfin meraih tangan Ziya untuk ia genggam. Tatapan mereka pun tak ayal saling pandang. Pikiran mereka sama-sama menerawang dengan khayalan masing-masing. Ziya dengan angan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, sedangkan Delfin dengan angannya hidup bahagia bersama Cia di masa depan.
"Ayo, Mas Delfin. Lanjut syuting lagi!" Suara asisten sutradara mengingatkan, jika jam istirahat sudah habis. Sontak saja pegangan tangan Delfin dan Ziya terlepas begitu saja.
"Siap, Mas. Saya segera menyusul," seru Delfin, lalu beranjak berdiri dari kursi yang dia duduki.
Kakinya sudah melangkah ketika dirinya memutuskan untuk berputar arah. Tanpa aba-aba lelaki itu mendekati Ziya lalu memeluknya dengan erat.
"Aku benar-benar beruntung mempunyai manajer seperti kamu, Zi. Kamu bukan hanya cantik, tetapi juga pintar dan baik. Beruntung sekali laki-laki yang bisa mendapatkan hati kamu."
"Laki-laki yang beruntung itu kamu, Fin." Tentu saja kalimat itu hanya bisa terlontar dalam hati Ziya. Hatinya begitu sakit mendapati cintanya hanya bisa dipendam saja.
Ziya masih terdiam saat Delfin melepaskan pelukannya lagi. "Aku lanjutin syuting dulu, ya. Bye." Delfin pergi setelah mengucapkan kalimat itu. Meninggalkan Ziya yang masih termenung seorang diri merutuki kebodohannya saat ini.
Bagaimana bisa dia mempermainkan perasaannya sendiri? Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada orang yang hendak dia hancurkan rumah tangganya? Kalau seperti ini, bukankah seperti terjerat dalam umpannya sendiri. "Bodoh banget kamu, Ziya!" erang Ziya ketika Delfin sudah pergi.
...***...
__ADS_1
"Kamu baru pulang, Zi?"
"Iya, Bun. Syutingnya baru selesai," jawab Ziya atas pertanyaan Erna. Ziya baru pulang syuting setelah tengah malam. Ia tersenyum tipis, lalu mencium punggung tangan ibu pantinya sebelum masuk ke rumahnya.
Erna mengunci pintu sebelum ia berjalan mengekori Ziya. "Kamu udah makan?" tanya Erna.
Ziya berhenti melangkah dan berbalik lagi. "Udah, Bun," jawabnya.
"Kamu kenapa? Wajahmu terlihat sedih?" Sebagai perempuan yang merawat Ziya dari bayi, tentu saja Erna tahu jika anak asuhannya tersebut tengah dirundung duka. Mimik wajah Ziya yang sedikit berbeda, mudah sekali ditebak oleh Erna.
Ziya menghela napasnya, sebelum memeluk tubuh ibunya. Ia memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya dengan perempuan yang sudah merawatnya itu.
"Ayo, duduk sini! Cerita sama bunda! Kamu kenapa?" Erna yang khawatir melerai pelukan Ziya, lalu menggiring tubuh Ziya ke kursi tamu yang ada di ruang tengah rumah mereka.
"Ziya nggak apa-apa, Bun. Cuma kelelahan aja," jawab Ziya bohong. Tidak mungkin dia menceritakan kegalauannya itu berasal dari pekerjaannya sebagai perusak rumah tangga orang. Apalagi pekerjaan itu dilakukan karena ingin menyelamatkan panti asuhan. Erna pasti akan merasa bersalah kepadanya.
"Apa kamu yakin? Tapi bunda bisa lihat ada hal lain."
Benar. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari seorang ibu, jika ada perubahan sikap dari anaknya, sang ibu selalu tahu.
"Memang ada, Bun. Tapi Ziya nggak bisa cerita sama Bunda. Maafkan Ziya, ya!" Ziya menundukkan kepalanya ketika Erna menatap kedua bola matanya yang mengkilap. Ia takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis di hadapan ibunya.
"Nggak apa-apa, Nak. Kalau kamu memang nggak mau cerita. Bunda hanya berharap, kamu bisa menjaga diri dan kesehatan kamu. Jangan terlalu lelah bekerja, dan jangan lakukan hal yang dilarang agama! Bunda tahu kamu sedang berusaha untuk menyelamatkan rumah ini, tapi bunda harap kamu tidak memaksakan diri, Nak. Lebih baik kita kehilangan harta, daripada harus kehilangan kehormatan dengan merendahkan harga diri kita."
Ziya begitu tertohok dengan perkataan ibunya. Ziya merasa harga dirinya sudah dibeli oleh Pram. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan nasib ibu dan adik-adiknya yang tinggal dipanti asuhan. Kata maaf tak henti terucap dalam hati Ziya. Ziya tahu ini salah, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Ziya harus melanjutkan usahanya demi menyelamatkan rumah mereka. Jadi, biarkan semuanya berjalan apa adanya. Dalam hati pula, Ziya berjanji. Suatu saat nanti, Ziya pasti akan menebus kesalahannya sendiri.
__ADS_1
...***...
...To be continued .......