
...***...
“Zi, turun, yuk! Kita udah sampai.” Delfin sudah melepaskan sabuk pengaman. Kaki jenjang laki-laki berahang tegas yang dibalut sneakers hitam dari brand Amerika, dipadukan celana jeans warna navy mendarat sempurna di atas lantai lobi hotel. Dengan kaca mata hitam dari brand ternama menggantung sempurna di hidung mancungnya, menyempurnakan penampilan Delfin sebagai sosok mega bintang.
Delfin sudah lima menit berdiri di depan mobil sedan hitam buatan Jerman sembari bermain ponsel. Ia tengah mengecek apakah ada chat dari Cia. Rasanya ia sangat rindu dengan istrinya itu.
“Mbak Ziya, kita sudah sampai,” ujar pak Bagus.
“Ck! Kenapa Ziya belum turun dari mobil.” Laki-laki yang namanya sedang naik daun itu pun melangkahkan kedua tumitnya ke pintu mobil.
Tok! tok! tok!
Seketika pintu kaca terbuka. “Woyyy, bengong aja, kamu! Dari tadi aku nungguin kamu turun dari mobil, ternyata malah melamun sendiri,” cibir Delfin dengan posisi membungkukkan setengah tubuhnya menatap manajernya tersebut.
“Ki-kita sudah sampai di hotel?” tanya Ziya bingung. Kedua ekor matanya tak luput memperhatikan suasana sekitar yang ramai lalu lalang orang-orang berjalan keluar masuk ke dalam hotel. Ini karena otaknya membayangkan menjadi pasangan Delfin. Andaikan itu benar terjadi ia menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia. Sifat dan perilaku Delfin mencerminkan suami-suami takut istri. Apalagi masa kini, sangat jarang ditemukan sosok laki-laki yang setia, mampu menjaga diri dari hingar bingar hiburan malam.
“Iya. Dari zaman Belanda udah di sini. Buruan keluar!”
Ziya pun keluar dari mobil mengikuti langkah Delfin yang melangkah lebih dulu dari dirinya. Sementara itu, sopir yang mengantarkan, menurunkan barang Delfin dari mobil lalu menyusul tuannya.
...***...
__ADS_1
Semakin hari sikap Delfin sangat manis kepada Cia. Walau laki-laki itu masih didiamkan istrinya, Delfin tidak menyerah meluluhkan hati perempuan yang sudah bertahun-tahun mengisi relung hatinya. Seperti saat ini, Delfin mengirimkan sebuah buket bunga mawar untuk hari jadi mereka yang ke dua tahun. Di dalam buket tersebut, Delfin menyelipkan kata-kata romantis untuk Cia. Berharap sang istri tersanjung dan tidak marah lagi kepadanya.
Sebagai publik figur, tentu saja Delfin tahu resiko menjadi seseorang yang terkenal. Segala gerak-gerik yang dilakukan selalu menjadi perhatian fans maupun netizen. Berulah sedikit saja, langsung trending menjadi topik utama di berbagai media. Berbagai cibiran dan pujian sudah biasa menjadi makanan sehari-hari Delfin. Laki-laki berperawakan tinggi itu tidak ingin ambil pusing cuma persoalan sepele. Walaupun agak terkesan cuek, Delfin juga serius di kala terlibat suatu masalah. Apalagi jika sudah menyangkut kehidupan pribadinya. Ia tidak akan tinggal diam dan membiarkan berita simpang siur di luar sana merebak tanpa bukti dan kebenaran. Itu sebabnya ia mengambil tindakan yang bisa membuat para haters bungkam dengan perbuatannya. Oleh karena itu, ia selalu didampingi oleh tim kuasa hukum untuk mengambil langkah yang merugikan karirnya.
Bagi Delfin, karir yang sudah ia bangun susah payah dari nol tidak akan ia sia-siakan hanya masalah sepele. Ia tidak ingin terprovokasi dengan pemberitaan dirinya yang bisa menurunkan citranya di mata para fansnya. Oleh karena itu, sebisa mungkin ia segera memberi klarifikasi jika berita itu tidak benar melalui akun media sosial miliknya.
“Kamu sudah kirimkan bunganya ke rumah?” tanya Delfin pada Ziya yang baru saja masuk ke ruang tunggu. Laki-laki itu sedang di-make over oleh penata rias. Sebentar lagi, ia akan perform di depan para fansnya yang sudah membeli tiket konser.
“Iya, Fin.”
Delfin tersenyum menampilkan gigi putihnya. Lekas ia mengambil ponselnya di saku celana kemudian mengirimkan pesan pada Cia. Walaupun berbagai pesan tidak dibalas oleh Cia, ia selalu berpikir positif kalau istrinya itu sibuk mengurus butik yang sedang dikelola. Lekas ia berjalan menuju panggung yang sudah dipersiapkan untuk mendukung aksi penampilannya yang memukau.
Sementara Ziya, sejak tadi memperhatikan tingkah Delfin yang berbunga-bunga, merasa sedikit kagum dengan upayanya untuk meluluhkan hati Cia. Laki-laki berpenampilan bak pangeran itu tidak berhenti menyerah demi cintanya kepada sang istri.
Konser malam ini berakhir dengan sukses. Para fans terhibur dengan penampilan memukau yang disuguhkan Delfin untuk fans sejatinya. Seperti biasa, di akhir konser ia selalu mengucapkan terima kasih kepada para fans setianya yang selalu mendukung karirnya. Serta ucapan terima kasih kepada para staf yang sudah bekerja keras membantunya dalam konser ini. Dan tak lupa, sebuah kalimat romantis yang ia ucapkan untuk istri tercintanya membuat para fans yang memadati area venue menjadi baper.
Kau adalah pusat duniaku.
Kau adalah inspirasiku.
Kau adalah semangatku.
Mari menapaki perjalanan kisah cinta yang indah
__ADS_1
Sampai menua kita bersama.
Apalah arti hidup ini tanpa kehadiranmu di sisiku.
Seluruh jiwa dan ragaku hanya untukmu
Wahai kekasih pujaanku.
Kalimat yang diucapkan Delfin diambil dari album ‘My Love’ yang dirilis satu bulan yang lalu. Dengan lagu utama ‘My Love’. Di mana lagu ini ditulis langsung oleh Delfin sendiri. Lagu ini terinspirasi dari perjalanan kisah cintanya dengan Cia sampai maut memisahkan. Delfin yang sangat mencintai Cia, menghadiahkan lagu tersebut sebagai kado hari jadi mereka yang kedua tahun.
“Aku yakin istrimu sangat bangga melihat penampilanmu tadi,” ujar Ziya berada di kursi depan di samping Bagus. Saat ini keduanya berada di dalam mobil melakukan perjalanan kembali ke hotel.
“Yah, aku yakin Cia akan bahagia,” sahut Delfin di belakang seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Laki-laki itu sudah berganti kostum dengan kaos putih dipadukan jaket denim dengan celana senada. Sneakers hitam Adibas kini membalut kedua kakinya yang sebelumnya memakai sepatu perform.
“Apa kamu tidak melihat berita malam ini?” Ziya kembali menoleh melihat artisnya di belakang.
Hanya gelengan kepala Delfin yang didapat sebagai jawaban. Lalu laki-laki itu membuka suara. “Aku sibuk membalas pesan Cia. Ia sangat bahagia dan terharu melihat live konser tadi. Tidak sia-sia aku mengirimkan bunga mawar untuknya.” Delfin tersenyum semangat dengan wajah yang cerah setelah mendapatkan balasan dari istri tercintanya. Ia bisa membayangkan wajah cantik istrinya menari-nari di wajahnya saat ini.
Ingin rasanya Delfin langsung pulang ke rumahnya bertemu istri tercinta mencurahkan segala kerinduan yang mendalam selama beberapa hari ini mereka sedikit cekcok. Namun apa daya, konser yang ia lakukan di luar kota malam ini mengharuskannya bersabar menunggu hari esok, karena tidak ada jadwal penerbangan kembali ke Jakarta. Yang ia lakukan untuk melepaskan rindu saat ini hanya komunikasi lewat Video Call. Sosok wajah cantik Cia terpampang di ponsel Delfin. Selama perjalanan kembali ke hotel, Delfin dan Cia saling bertukar kalimat-kalimat romantis.
Hal itu membuat Ziya merasa sedikit iri sekaligus kagum dengan kepribadian asli artisnya. Namun, sesegera ia tepis agar tidak melibatkan perasaannya yang akan terluka karena ulahnya sendiri.
...***...
__ADS_1
Next 👉