Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Ancaman Pram


__ADS_3


...***...


Di sebuah taman tak jauh dari butik miliknya, Cia menangis pilu merutuki kebodohannya. Ia menyesali setiap detik pertemuannya dengan Farel, hingga membuatnya berkhianat dari sang suami. Bahkan tanpa berpikir panjang ia mampu menduakan Delfin. Sementara di kediaman Pramono, pria tua itu terlihat sangat geram akan sikap Ziya. Pramono kembali ke rumah beberapa saat setelah lelah mencari keberadaan Cia. Pram tidak berhasil menemukan cucunya.


“Lea, apa yang dilakukan gadis itu? Apa yang dikatakannya pada Cia sampai cucuku meninggalkan rumah ini?” tanya Pramono setelah sampai rumah. Ia berusaha tetap tenang meskipun hatinya dipenuhi dengan amarah.


“Ma-maaf, Tuan Besar. Nona Ziya datang ingin bertemu dengan nona muda. Setelah mereka berdua bertemu, Nona Ziya hanya memberikan sebuah amplop berwarna coklat, Tuan. Awalnya Nona muda tidak ingin mendengarkan perkataan Nona Ziya, bahkan tadi nona muda sempat menampar dan mengusir Nona Ziya dari rumah ini." Lea mencoba menjelaskan dengan perasaan gugup dan air mata yang terus membasahi pipinya.


“Apa isi amplop itu?” tanya Pramono pada Lea.


“Saya tidak tau apa isi dari amplop tersebut, Tuan. Namun, setelah membuka dan membaca sepucuk surat dari dalam amplop tersebut, nona muda langsung terlihat sedih dan menangis sejadi-jadinya, lalu pergi begitu saja," terang Lea kepada Pramono. Ia enggan menjelaskan kalau sebenarnya Cia sudah tahu tentang kelicikannya. Lea berpendapat bahwa akan lebih baik jika tuannya mengetahuinya sendiri. Karena menurut Lea, urusan seperti itu sangat mudah untuk di ketahui oleh Pramono.


“Surat? Surat apa, Lea?” Mendengar kata surat, kedua netra Pramono yang sudah kuyu itu tampak memicing. “Cepat ambilkan aku surat dan amplop yang kamu katakan tadi. Cepat! Aku tak ingin menunggu lama.” Pramono mulai gelisah, terlihat jelas dari sorot matanya, jika ia begitu khawatir. Setelah mendengar perintah tuannya, Lea pun segera berlari menuju ruang tamu dan mengambil amplop yang tadi diberikan Ziya kepada Cia dengan tergesa.


“Ini, Tuan.” Lea memberikan amplop dan surat tersebut dengan tangan bergetar. Pasalnya saat ini wajah Pramono sedang merah padam menahan marah.


“Brengsek! Gadis sialan! Berani-beraninya dia memberi tahu Cia tentang semua yang kulakukan." Pramono memaki Ziya setelah menerima dan membuka amplop coklat yang diberikan Lea padanya. Ternyata amplop tersebut berisi uang dan surat perjanjian antara dirinya dan Ziya. Keduanya matanya melotot tajam seperti mau keluar dari kelopaknya. Jika saja Ziya ada di hadapannya, mungkin Ziya hanya akan tinggal nama.


“Burhan.” Pramono memanggil sekertaris sekaligus tangan kanannya dengan suara yang keras, pertanda kakek Cia itu marah besar.

__ADS_1


“Iya, Tuan. Apa yang harus saya lakukan?” Seakan tahu jika ia sedang dibutuhkan, pria bertubuh tegap itu pun datang tergopoh-gopoh, siap untuk menerima perintah.


“Suruh anak buahmu mencari cucuku lagi sampai ketemu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Jika sudah ketemu, jangan paksa dia untuk pulang! Suruh saja anak buahmu mengawasi dan menjaganya dari kejauhan. Aku akan menemuinya nanti setelah urusanku dengan ‘gadis' itu selesai," tegas Pramono pada Burhan. Pramono yakin, jika Cia pasti kecewa kepadanya. Pram akan membiarkan Cia untuk menyendiri dan menenangkan pikirannya sementara waktu. Sampai hati Cia sudah tenang, Pram akan bicara baik-baik dengan cucunya tersebut.


“Baik tuan, saya akan melakukan perintah tuan besar.” Setelah menjawab perintah dari Pramono, Burhan pun segera menghubungi anak buahnya. Kemudian ia lanjutkan mengantarkan Pramono menemui Ziya, orang kepercayaannya yang tega mengkhianatinya.


...***...


Sepulang dari rumah mewah milik Pramono, dan mengungkapkan kebenaranya pada Cia, hati Ziya merasa sedikit lebih lega. Rasa bersalah dan penyesalan yang selalu menggelayuti hati Ziya sedikit demi sedikit mulai berkurang, walau tidak sepenuhnya berkurang. Setidaknya ia berharap semuanya akan baik-baik saja dan perceraian antara Delfin dan Cia dapat dibatalkan. Saat ini, Ziya masih tetap berharap jika bayi yang di kandung Cia adalah darah daging Delfin dan bukan darah daging Farel. Sebab sedikit banyak penyebab kesalahanpahaman antara Delfin dan Cia adalah kesalahannya.


Saat ini Ziya tengah duduk seorang diri di sebuah halte bus, menikmati lalu lalang pengendara mobil dan motor yang melintasi jalan tersebut. Serta melihat para pejalan kaki yang menikmati suasana sore sepulang kantor.


“Maafkan aku Delfin, Cia. Karena sudah menjadi duri dalam hubungan kalian,” lanjut Ziya dengan sedih.


Saat Ziya tengah menyesali perbuatannya seorang diri, tiba-tiba handphone miliknya berbunyi dan menampilkan nama Pramono dalam panggilan tersebut. Dengan ragu Ziya menatap layar ponselnya yang menyala-nyala lampu layarnya. Ziya tahu, jika Pramono menghubunginya pasti ada hubungannya dengan kedatangannya menemui Cia barusan. Walau awalnya ragu, pada akhirnya Ziya pun mengangkat panggilan dari nomor tersebut.


“Hal-,” Belum selesai Ziya menyapa orang yang menghubunginya tersebut, Pramono sudah memotong panggilan tersebut dengan tegas.


“Temui aku di restoran D, sekarang!” tegas Pramono. Perkataannya seperti tidak ingin di bantah.


Belum sempat Ziya menjawab ajakan pertemuan Pramono tersebut. Sambungan telepon pun sudah terputus secara sepihak. Ziya hanya mendengus pasrah. Semua ini sudah diprediksikan sebelumnya.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan menemuinya. Aku harus menghadapinya. Aku akan menanggung semua konsekuensi dari semua kesalahanku.” Ziya bermonolog sendiri, kemudian beranjak pergi. Menemui Pramono di tempat yang sudah ditentukan.


Setelah memesan ojek online dan menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya Ziya pun sampai di restoran yang dituju. Ziya merasa takut karena tidak ada satu pengunjung pun yang datang ke restoran tersebut. Sepertinya Pramono sudah memesan dan membayar seluruh restoran tersebut agar tidak ada satu orang pun yang berada di sana.


Saat ini, Pramono tengah duduk sembari memegang tongkat di depannya. menumpukan kedua tangannya di atas tongkat tersebut dengan wajah penuh amarah yang ia tujukan pada Ziya. Perempuan itu sudah berdiri di hadapan Pram sepuluh menit yang lalu, tetapi enggan mendekat karena dirinya gugup dan takut. Ziya ragu.


“Ap—apa kabar, Tuan?” sapa Ziya dengan gugup. Walaupun takut, Ziya harus menyelesaikan masalahnya dengan cepat. Dia pun memberanikan diri untuk menyapa lebih dulu.


Pramono tidak menjawab sapaan Ziya. Pria tua itu malah dengan kasar melempar map coklat yang tadi Ziya berikan kepada Cia. Ziya menatap amplop coklat yang terlempar di bawah kakinya. Dengan perlahan ia membungkukkan badan, meraih amplop tersebut.


“Maaf, Tuan." Ziya berucap dengan lirih, namun masih didengar oleh Pramono. Dia tahu diri, dan langsung mengakui kesalahan.


“Maaf kamu bilang. Maaf saja tidak cukup, Ziya. Karena ulah kamu. Kamu telah menghancurkan semua rencana saya. Bahkan karena ulahmu itu, Cia sampai pergi meninggalkan rumah!” bentak Pramono. Ziya hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya. Ziya sangat ketakutan. Sepertinya Pram benar-benar geram.


“Dengar baik-baik, Ziya. Jika perceraian antara Delfin dan Cia sampai gagal. Kamu dan seluruh penghuni panti Kasih Bunda akan menanggung semua akibatnya. Saya akan meluluhlantahkan panti tersebut hingga rata dengan tanah.” Pramono berkata lagi dengan ancaman yang tegas dan tanpa bantahan.


Setelah mengucapkan hal itu Pramono pun pergi meninggalkan Ziya yang terpekur seorang diri. Ziya bingung tentu saja. Harus bagaimana menghadapi ini semua.


...***...


__ADS_1


__ADS_2