Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Kayak Kamu


__ADS_3


...***...


Delfin yang menyadari perubahan wajah Ziya, merasa tidak enak dengan keputusan Pak Produser. Delfin kemudian mendekati Ziya. “Zi, are you okay?” tanya Delfin sambil menepuk bahu Ziya.


“I-iya, Fin?” tanya Ziya gugup.


“Kamu yang jadi model video klip di laguku.”


“Aku? Kamu serius, Fin?” Ziya kembali bertanya untuk memastikan apa yang ia dengar. Pasalnya, ia tak ingin Dlefin merasa keberatan jika nanti ia harus beradu akting dengannya, mengingat Cia yang selalu merasa cemburu.


“Mengapa tidak? Apa ada yang salah?”


“Bagaimana dengan Cia?” tanya Ziya setengah berbisik.


Delfin tampak berpikir. “Permisi, Pak Produser. Saya mau bicara berdua dengan manajer saya sebentar.”


“Oke. Tapi, beri keputusan segera, waktu kita nggak banyak. Dan saya harap, jawabannya adalah Ziya sanggup melakukannya.”


Delfin segera menarik tangan Ziya keluar dari ruang diskusi. Ziya pun sempat kebingungan, ke mana Delfin akan membawanya. Ia melangkah dengan cepat demi menyeimbangkan langkah Delfin. Ziya terus mengikuti Delfin hingga berhenti di depan ruang wardrobe, lalu masuk ke dalamnya. Tidak ada siapa pun di sana, hanya kumpulan baju yang digantung untuk kebutuhan shooting.


“Zi, kenapa kamu tidak mau melakukannya?” tanya Delfin begitu mereka duduk di salah satu sofa di ruang wardrobe.


“Aku tidak ada bakat di dunia model, Fin. Nanti akan memperlambat prosesnya, atau bahkan merusaknya. Aku tidak ingin itu terjadi padamu, Fin.” Ziya mencoba memberikan alasan yang tepat. Ia tidak ingin tergesa-gesa dalam mengiyakannya, agar Delfin percaya bahwa Ziya benar-benar terpaksa.


“Itu nanti serahkan sama Pak Sutradara. Dia yang bakal ngarahin kamu harus gimana, harus ngapain.”


“Ayolah, Fin, kamu tahu bagaimana sikap Cia padaku. Bisa-bisa aku kena marah lagi, karena aku menerima tawarannya.”


Delfin pun sebenarnya berpikiran sama dengan Ziya. Namun, tidak ada pilihan lagi. Lagi pula jika bersama Ziya, mungkin ia akan lebih nyaman. Mengingat ia sudah terbiasa berinteraksi dengan Ziya. “Sudahlah, nanti biar aku yang menjelaskan pada Cia. Lagi pula ini bukan keinginanmu. Cia juga tidak bisa melakukannya, kan?” ucap Delfin meyakinkan Ziya.


“Tapi, Fin....”


Belum sempat Ziya melanjutkan penjelasan, ponselnya berdering. Ia segera merogoh ponsel dalam sakunya. Melihat nama Lukman tertera di layar ponsel, Ziya pun segera mengangkatnya. “Halo, Pak Lukman.”

__ADS_1


“....”


Cukup panjang Pak Lukman berbicara pada Ziya. Bahkan, Delfin dibuat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh pemilik agensinya itu, sebab Ziya hanya diam mendengarkan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


“Baik, Pak.” Akhirnya Ziya menjawab dengan singkat, kemudian menutupnya.


“Pak Lukman?” tanya Delfin, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Ziya. “Ngomong apa?”


“Katanya, aku harus ngikutin kata produsernya. Jadi, aku terpaksa harus jadi model kamu. Puas, kamu?” ucap Ziya pura-pura merajuk.


Mata Delfin berbinar mendengar jawaban Ziya. “Kamu serius, Zi? Kamu nggak bohong, kan?” Ziya pun tersenyum dan mengangguk.


Tanpa pikir panjang, Delfin membawa tubuh Ziya dalam pelukannya. Memeluk erat wanita yang memiliki tubuh tinggi dan langsing itu. Ziya pun kaget dengan respon Delfin yang tiba-tiba memeluknya. Sungguh, ini di luar dugaannya. Ini tidak ada dalam rencananya. Apalagi sampai membuat jantungnya terpompa dengan cepat akibat tubuhnya yang bersentuhan dengan tubuh Delfin.


Sesaat, Ziya merasakan bahagia yang luar biasa ketika Delfin memeluknya. Terlena dengan perlakuan lelaki itu. Ia tahu, apa yang dirasakannya adalah sebuah kesalahan. Apa yang dilakukannya pun tidak bisa dibilang benar. Ia pun tidak pernah berpikir bahwa sandiwaranya untuk menggoda Delfin, justru membawanya terjerumus dalam permainannya sendiri. Ziya merasa dialah yang tergoda dengan Delfin.


Salahkah Ziya yang berharap untuk bersama Delfin? Salahkah jika ia egois untuk memilikinya? Ziya berpikir, jika Cia dan Delfin tidak bisa dipisahkan, ia masih bisa menjadi istri kedua bagi Delfin. Memberikan kasih sayang dan perhatian yang tidak bisa diberikan Cia padanya. Sebagai seorang lelaki, tentu diperhatikan oleh istri adalah poin utama yang membuatnya nyaman dan betah dalam berumah tangga, dan Ziya sanggup melakukannya.


Ziya pun sempat memikirkan masa depannya bersama Delfin. Jika rencananya berhasil dalam memisahkan Cia dan Delfin, selain ia kembali mendapatkan panti, ia juga bisa mendapatkan Delfin.


Ceklek!


Suara pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita yang menjadi salah kru. Kehadirannya membuyarkan aksi Ziya dan Delfin. Reflek Ziya mendorong keras tubuh Delfin hingga terjatuh, membuat tiga orang terlibat adu tatap.


“Maaf, saya kira tidak ada orang.” Wanita tersebut memilih keluar dan menutup pintunya kembali.


Sepeninggalnya kru wanita tersebut, Delfin segera berdiri dan merapikan bajunya.


“Eh! Maaf, Fin. Aku nggak sengaja,” ucap Ziya membantu merapikan baju Delfin. Saat Ziya sedang merapikan bagian pundak Delfin, bersamaan dengan Delfin yang merapikan pundaknya. Seketika mereka kembali bersitatap karena tangan meraka yang bersentuhan. Menimbulkan getaran aneh yang mereka rasakan bersama-sama, tetapi tidak saling mengetahui. Cukup mereka yang tahu bagaimana getaran itu menggangu kerja jantungnya.


“Ti-tidak apa-apa, Zi. Aku yang harusnya minta maaf karena tadi memelukmu.” Delfin terlihat salah tingkah dengan apa yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Ia mengutuk dirinya yang terlalu responsif saat mendengar jawaban dari Ziya tentang menjadi modelnya, hingga berakhir dengan debaran jantung yang kuat.


“Aku sangat berterima kasih, karena kamu mau membantuku untuk proses ini. Aku harap, kamu enjoy dan jangan dianggap beban, ya,” ucap Delfin.


“Iya, Fin. Sekarang kita temui Pak Produser, biar bisa segera digarap dan selesai.”

__ADS_1


Setelah mengatakan kesanggupan Ziya menjadi model di video klip Delfin pada produser dan sutradara, semua kru diminta segera bersiap untuk melakukan shooting. Ziya dan Delfin segera dibawa ke ruang make up untuk di-make over. Di sana Delfin dan Ziya kembali saling melempar senyum.


Setengah jam kemudian, Delfin sudah bersiap di salah satu ruang di studio. Ruang yang akan menjadi lokasi video klipnya. Sebuah ruangan yang dibuat gelap, dengan latar belakang abu-abu. Ada satu lampu yang berada di tengah atas yang akan memberikan penerangan tepat di bagian tengah.


Saat kedatangan Ziya ke ruangan, Delfin dibuat terkejut dengan penampilan Ziya. Menggunakan dress warna putih dengan bahu terbuka, dan bagian bawah yang memanjang. Perpaduan yang pas dengan make up-nya yang terlihat natural. Di tangannya terdapat buket dengan berbagai macam bunga yang diikat menjadi satu.


Ziya menjelma menjadi seperti mempelai wanita yang akan menikah dengan kekasihnya. “Fin!” panggilan Ziya membuyarkan lamunan Delfin. “Gimana? Nggak cocok, ya?” tanya Zia khawatir.


Delfin pun menggeleng dengan wajah kecewa, membuat Ziya pun kecewa dengan respon Delfin. Namun, beberapa detik kemudian Deflin tersenyum sumringah dan memberikan acungan jempol pada Ziya. “Perfect!” Mendapat respon yang positif, wajah Ziya berubah merah.


“Kamu udah dikasih arahan sama sutradaranya, kan?” tanya Delfin, kemudian Ziya mengangguk. “Oke. Pokonya, nanti kamu rileks. Anggap aja aku ini kekasih kamu, biar kamunya juga nggak terlalu kaku. Nikmatin aja prosesnya.”


Video klip dibuat dengan hanya memakai satu ruangan saja, tetapi dengan kostum dan latar yang berbeda-beda. Inilah yang membuat proses pembuatan video klip menghabiskan waktu cukup lama. Bahkan, mereka selesai hampir tengah malam.


Saat perjalanan ke luar studio, Delfin pun kembali mengucapkan terima kasih pada Ziya. “Jujur, aku nggak tau lagi balasnya gimana. Aku berhutang banget sama kamu, Ziya. Aku berterima kasih karena kamu mau membantu.”


“Iya, Fin. Kamu udah bolak-balik bilang makasih, loh. Ibarat makan, udah sampek muntah-muntah akunya.”


Delfin pun terkekeh mendengar ucapan Ziya. “Oh, iya, akting kamu tadi bagus banget. Sumpah! Udah mirip sama pengantin wanita asli. Kayaknya, itu kode kalau kamu harus segera cari pasangan, Zi.”


“Susah, Fin. Nggak segampang yang kamu pikirin, cari pasangan itu.”


“Emang tipe kamu itu gimana?”


“Em ....” Ziya nampak berpikir. “Kayak kamu, Fin,” ucap Ziya lirih.


“Siapa, Zi?” ulang Delfin.


“Nggak ada! Udah, ayo pulang. Kamu harus istirahat, Fin.” Mereka langsung menuju ke tempat mobil, dan sudah ada Bagus di sana.


...***...



...Othor minta dukungan like dan komentarnya 🙏...

__ADS_1


__ADS_2