Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Meminta Pengampunan


__ADS_3


...***...


Kata-kata Farel seolah tercekat di tenggorokannya. Kepalan tangannya begitu kuat mencengkram secarik kertas yang barusan dia baca isinya. Ia ingin sekali menumpahkan segala rasa kecewa yang bergejolak dalam dada, tetapi tidak bisa. Jika saja manusia di hadapannya itu bukanlah seorang tua renta, mungkin bogem mentah akan dilayangkan Farel di pipi lelaki itu saat ini juga.


Farel tidak tega. Ia takut satu hantaman saja bisa membuat lelaki itu langsung kehilangan nyawa, dan terutama Farel masih menghormati statusnya sebagai orang tua.


"Kenapa Tuan lakukan ini pada saya? Mempermainkan cinta saya kepada Cia!" Farel beranjak berdiri, menggebrak meja dengan luapan emosinya yang membuncah.


Pramono yang terkejut langsung mendongakkan kepala. Tatapannya terlihat sayu dan merasa bersalah. "Maaf, Farel. Saya melakukan ini hanya untuk kebahagiaan cucu saya. Saya pikir kamu adalah laki-laki yang cocok untuk jadi suaminya Cia. Namun, ternyata saya salah. Kebahagiaan dia bukan bersama kamu, melainkan dengan suaminya. Saya menyesal karena sekarang dia membenci saya setelah mengetahui kebenarannya."


Kedua mata Farel memicing tajam. Urat-urat di lehernya terlihat tegang menahan kesal. Farel tidak tahan, lalu memutuskan untuk segera dari sana. Membawa rasa kecewa yang teramat menyakiti hatinya. Kenapa Pram harus mengatakannya sekarang? Saat dirinya sudah hampir mendapatkan Cia seutuhnya.


Kenyataan bahwa dia berhasil menitipkan anak di rahim Cia, membuatnya merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia. Ketidakmungkinan dari cintanya yang mencintai istri orang tidak lagi jadi alasan. Farel bisa berbangga diri karena akhirnya dia yang menang.


Namun, semua itu harus kandas di penghujung jalan menuju titik pelaminan. Tinggal selangkah lagi Farel meniti kebahagiaan. Kini semua itu hanya tinggal angan-angan.


...***...


"Kurang ajar! Berani-beraninya Pak Pramono mempermalukan keluarga kita!" Emosi yang membumbung tinggi juga dirasakan oleh Sadam. Dia yang baru saja mendengar kenyataan yang dibawa oleh putra semata wayangnya tentu saja tidak terima.


"Sabar, Pa. Ini malah berita baik menurut mama. Dengan begini anak kita tidak akan dicap sebagai perebut istri orang lagi. Dia tidak perlu bertanggung jawab terhadap anaknya Cia." Arisa yang duduk di samping suaminya ikut menimpali. Mereka bertiga sedang duduk berdiskusi di ruang keluarga.

__ADS_1


Sadam menoleh pada sang istri, lalu beralih pada putranya lagi. "Mamamu benar, tapi tetap saja mereka harus diberi pelajaran. Hentikan semua kerja sama kita dengan keluarga Lubis! Papa nggak mau ada urusan lagi dengan keluarga itu. Kalau perlu tuntut keluarga mereka atas tuduhan penipuan."


"Itu nggak perlu, Pa. Melibatkan polisi hanya akan menambah beban pikiran Cia. Kasian dia, sekarang saja masih dirawat di rumah sakit lantaran kesal dengan kelakuan kakeknya. Cukup dengan menghentikan semua kerja sama kita dengan mereka. Aku tidak tega melihat Cia semakin menderita." Farel langsung membantah usulan papanya yang menyuruhnya agar menuntut ke pengadilan. Ia tidak mau perempuan yang dicintainya semakin tertekan. Cia tidak salah, dia hanya korban dari keegoisan kakeknya.


"Cih, kamu masih saja membela perempuan itu!" Sadam berdecih kesal dengan kebodohan Farel. Sangat menyayangkan kenapa putranya harus melabuhkan cintanya kepada istri orang.


Sedangkan Arisa merasa kasihan dengan nasib anaknya. Sang mama langsung beranjak, berpindah tempat duduk ke samping anaknya. Tangannya mengusap punggung Farel dengan lembut, seolah mentransfer kekuatan agar anaknya lebih kuat untuk menghadapi masalah ini. "Sabar, ya, Sayang! Kamu harus sadar, kalau Cia memang tidak pantas kamu kejar. Dari awal cinta kamu sudah salah. Bagaimanapun kamu harus meminta maaf kepada suaminya Cia, karena kamu sudah menghancurkan rumah tangga mereka."


Farel terdiam mendengar perkataan mamanya. Kedua matanya mengerjap bingung, entah harus mengatakan apa pada Delfin. Selama ini Farel tidak peduli, walaupun ada hati yang tersakiti.


...***...


Pagi yang mendung menambah suasana hati Pram kian murung. Hari ini, dia bertekad untuk menemui cucunya di rumah sakit. Penolakan sudah pasti akan dia terima, tetapi Pram sudah yakin dengan keputusannya. Sudah saatnya dia menghentikan kegilaannya. Cia harus mengetahui fakta lain, mengenai siapa ayah dari janin yang sedang dikandungnya.


"Selamat pagi, Sayang." Pram menyapa Cia sambil mengulas senyuman ketika masuk ke ruangan Cia.


"Untuk apa Kakek ke sini?" tanyanya ketus.


Pram melangkah mendekati ranjang Cia. Di tangannya terdapat sebuah amplop coklat yang semalam dia tunjukkan kepada Farel. Tubuh rentanya sedikit bergetar. Pram yakin setelah Cia tahu rahasia yang dia bawa, perempuan itu pasti marah besar. Maka Pram akan menjelaskannya pelan-pelan.


"Kakek kangen sama kamu. Bagaimana kondisi kamu sekarang? Bagaimana dengan cicit kakek? Apa dia baik-baik saja? Kakek dengar kamu tidak mau makan." Pram langsung memberondong beberapa pertanyaan.


Cia tertawa mendengus. Merasa lucu dengan pertanyaan sang kakek. Kepalanya lantas menoleh dan menatap kakeknya dengan tatapan sinis. "Apa Kakek peduli dengan anak ini?" tanyanya meremehkan.

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Dia cicit kakek. Calon pewaris keluarga kita. Tentu saja kakek peduli padanya. Kakek juga peduli sama kamu, Cia. Kakek peduli kalian berdua." Pram menjawab dengan lirih. Kristal bening sudah membendung di pelupuk matanya. Pram merasa terluka melihat tatapan kebencian yang tersorot dari mata Cia.


"Tapi aku benci anak ini, Kek. Karena dia, aku harus kehilangan Delfin. Kenyataan jika kakek yang sudah membuat rumah tangga kami hancur itu tidak akan mengubah apa-apa. Hanya menyisakan rasa kecewa. Cia akan tetap kehilangan Delfin, Kek. Ini semua gara-gara kakek, gara-gara anak ini!"


Cia menjerit histeris. Emosi yang tertekan dalam dadanya akhirnya keluar. Hampir saja ia memukul bagian perutnya jika saja sang kakek tidak menahan tangannya. Cia kehilangan akal sehatnya, dia ingin melenyapkan janin yang tengah dikandungnya.


"Apa yang kamu lakukan, Cia? Dia tidak bersalah. Kakek yang salah. Kakek yang salah ...." Pram menahan tangan Cia lalu menundukkan kepala. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Tumpah ruah mengiringi pengakuannya saat ini. Pram menangis tersedu. Kedua kakinya yang lemah tertekuk dan berlutut. Mensejajarkan tubuhnya dengan Cia yang berbaring di ranjang.


Cia tidak mau berkomentar. Ia masih sibuk menelan pahitnya kenyataan. Keduanya tenggelam dalam tangisan. Cukup lama mereka lewati tanpa perbincangan.


Dirasa cukup menumpahkan penyesalan, Pram meraih amplop coklat yang sempat ia jatuhkan ketika hendak mencegah Cia memukuli perutnya. Lantas berdiri dan menyerahkannya kepada Cia. "Ini, Sayang. Bacalah! Setelah ini kakek yakin kamu tidak akan membenci anak ini lagi," ungkapnya dengan yakin.


Cia menatap wajah sang kakek. "Amplop apa itu? Apa ada yang sedang kakek rencanakan?" tanyanya penuh curiga.


"Tidak, Sayang. Kakek benar-benar menyesal dengan perbuatan kakek selama ini sama kamu dan Delfin. Anggap saja surat itu sebagai penebus kesalahan kakek, walaupun harusnya kakek jujur dari awal. Kakek minta maaf." Lagi, Pram meminta pengampunan dari cucunya tersebut.


Cia yang penasaran membuka amplop dan melihat isinya. Terkejut, tentu saja. Bahkan kedua matanya pun sampai membulat sempurna. "Jadi ... anak ini adalah anaknya Delfin?" tanya Cia dengan bibir yang bergetar. Pram mengangguk mengiyakan.


Di luar perkiraan Pram. Bukannya merasa bahagia dan berterima kasih kepada Pram, Cia malah beranjak duduk dengan perlahan, lalu mencabut jarum infus yang menempel di tangannya dengan kasar.


"Mau ke mana kamu, Cia?" Pram panik ketika melihat Cia hendak turun dari ranjang.


"Aku mau ketemu Delfin. Delfin harus tahu hal ini," ujar Cia dengan napas yang tersengal.

__ADS_1


...***...



__ADS_2