
...***...
“Riska, 15 menit lagi giliran kamu.” Suara lantang seorang lelaki dari arah pintu mengalihkan perhatian dua gadis cantik yang sedang bercanda.
“Siap, Kak Hasbi!” seru gadis cantik yang duduk di hadapan Ziya.
“Giliran kamu setelah Riska, Zi. Kamu siap, kan?” tanya Hasbi pada Ziya yang hanya dibalas Ziya dengan mengacungkan jempolnya.
Sepeninggal Hasbi, kedua wanita itu tertawa cekikikan. Pasalnya beberapa saat yang lalu Riska baru saja membicarakan bos tampan mereka.
“Bener, kan, Zi. Emang Kak Hasbi, tuh, perhatian banget sama karyawannya. Dan itu bikin aku klepek-klepek,” lirih Riska di telinga Ziya membuat Ziya bergidik.
“Ya, udah. Lamar aja Kak Hasbi. Ntar keburu digaet Devita, kejer lo!” canda Ziya sembari mematut dirinya di depan cermin.
“Mana aku berani, Zi. Tahu sendiri Kak Hasbi gimana sama cewek. Bisa-bisa gue ditendang dari sini.” Riska menimpali candaan Ziya dengan muka sedih. “Ya, udah. Gue turun dulu, ya. Lo siap-siap aja. Sepertinya malam mini lo bakalan dapat banyak bunga seperti minggu lalu.” Riska tertawa mencolek Pundak Ziya sebelum meninggalkan ruangan itu.
Malam ini adalah malam minggu ketiga Ziya berada di kafe ini. Takdir memang tidak bisa ditebak. Tanpa sengaja Ziya akhirnya terbang ke Surabaya untuk menggantikan penyanyi yang waktu itu tidak bisa mengisi acara di kafe ini, dan menolak tawaran Arsen untuk bergabung dengannya di Bali.
...***...
Langkah Ziya perlahan meninggalkan kerumunan yang berebut mengajukan beberapa pertanyaan kepada Delfin. Sorot lampu blitz dari kamera beberapa stasiun televisi membuat wajah Delfin dan Cia terlihat semakin bercahaya. Ziya bahagia melihat pencapaian yang Delfin peroleh. Hal ini membuat Ziya semakin yakin bahwa ia harus benar-benar pergi dari kota ini. Pergi dari segala kenangan yang membuatnya merasakan arti cinta.
Malam tidak membawa wanita itu menuju ke Panti Asuhan tempatnya dibesarkan. Langkahnya justru memaksa Ziya memasuki sebuah kafe besar yang nampak begitu elegan. Dilihat dari desain arsitekturnya, Ziya yakin bahwa pemiliknya bukanlah orang sembarangan. Rasa penasaran membuat Ziya memasuki tempat itu. Ziya yang dari dulu terbiasa manggung di kafe tentu saja paham akan hal-hal yang ia anggap layak dan tidak. Semua itu bisa Ziya lihat dari beberapa pengunjung yang keluar masuk di kafe tersebut.
“Namanya unik,” ucap Ziya pada dirinya ketika membaca tulisan ‘With Love’ yang terpampang di bagian luar gedung megah tersebut.
__ADS_1
Ziya masuk dan mengambil tempat paling pojok di lantai dua. Memesan kopi sesekali ia lakukan ketika pikirannya butuh ketenangan. Ziya begitu menyukai menyukai aroma kopi. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan bergaya Graffiti Café. Hal ini membuat Ziya begitu takjub.
“Ini kopinya, Kak. Silakan dinikmati. Kak Ziya baru saja menghadiri acaranya Mas Delfin, ya?” ucap seorang waiters yang usianya lebih muda dari Ziya.
Ziya mengalihkan pandangannya ke arah lelaki itu. Ziya lupa bahwa masker yang ia pakai tadi sudah ia lepas. Terpaksa Ziya harus menampilkan senyumnya. “Tidak, kebetulan saja aku penasaran dengan kafe ini. Jadi sengaja datang ke sini. Oya, jangan bilang siapa-siapa kalau aku di sini, ya!” pinta Ziya pada pemuda itu.
“Ok, Kak Zi. Aman, kok. Kalau ada apa-apa silakan panggil saya. Suatu kehormatan bagi saya bisa melayani Kak Ziya. Aku fans Kak Ziya, loh. Suara Kak Ziya bagus waktu duet bareng Kak Delfin. Hhmm … boleh minta tanda tangan?” Pemuda itu menyodorkan pena dan buku kecil di meja Ziya. Mau tidak mau Ziya harus segera memenuhi permintaan pemuda itu agar dia segera segera berlalu.
“Kenapa mendadak begini, sih? Kamu pikir mudah mencari penyanyi yang sesuai dengan kriteria kafe kita? Ini tiga hari loh, mana bisa dapat pengganti secepat itu.” Suara panik yang terdengar di telinga Ziya begitu mengganggunya menikmati malam ini. Ziya menoleh, melihat lelaki berpakaian formal yang berjalan tergesa dengan ponsel menempel di telinganya. Wajahnya terlihat begitu panik.
Ziya kembali mengaduk kopinya dan menikmatinya perlahan. Beberapa saat kemudian tampak dua orang berjalan tergesa menuju sebuah ruangan di mana lelaki tadi masuk. Tidak lama kemudian, Ziya melihat waiter’s yang tadi meminta tangannya ikut menyusul ke dua orang tersebut. Karena rasa ingin tahunya, Ziya segera menghentikan pemuda itu ketika sampai di sebelah mejanya.
“Maaf, saya mau nambah pesanan,” ucap Ziya.
Dilihatnya pemuda itu bingung. Ia ingin segera menyusul kedua orang tadi, tetapi ia juga harus melayani Ziya. Akhirnya, ia berhenti dan menghampiri Ziya.
“Apa ada masalah? Siapa lelaki yang masuk ke ruangan itu?” Ziya menunjuk sebuah ruangan dengan dagunya.
“Oh, itu Pak Hasbi, Kak. Owner kafe ini. Beliau marah karena mendapat kabar dari kafe cabang Surabaya, katanya penyanyi yang harusnya tampil besok Sabtu tiba-tiba saja membatalkan dengan alasan alasan sakit. Padahal besok Sabtu ada tamu penting di sana,” celoteh pemuda itu.
Ziya berpikir sejenak, mungkin tidak ada salahnya jika dirinya mengajukan untuk menggantikan penyanyi yang berhalangan. Namun, Ziya tidak yakin. Pasalnya dilihat dari tempat ini, pasti kafe yang ada di Surabaya pun tidak sembarang kafe. Dan lagi Ziya juga sedang mempertimbangkan tawaran Arsen.
“Mungkin aku bisa bantu menggantikan posisi penyanyi itu,” ucap Ziya.
Pemuda itu termangu menatap tidak percaya ke arah Ziya. “Kak Ziya serius? Tapi bukan acara besar seperti konsernya Kak Delfin, loh. Apa Kak Ziya tidak keberatan?”
“Bos kamu pun belum tentu setuju, kan?” Ziya tertawa menimpali perkataan pemuda itu.
__ADS_1
“Aku sampaikan kabar baik ini ke Pak Hasbi dulu, Kak.” Pemuda itu berlalu dan menyerahkan catatan pesanan Ziya kepada rekannya yang lain. Sedangkan dirinya menuju ruangan Pak Hasbi.
Beberapa saat kemudian, terlihat pemuda itu keluar dengan wajah sumringah. Ia menghampiri Ziya. “Kak, Pak Hasbi ingin bertemu. Mari saya antar.”
...***...
“Zi, kamu turun sekarang, gih!” Suara Hasbi dari arah pintu membuyarkan lamunan Ziya. Ziya mengingat kenangannya ketika terakhir kali bertemu dengan Selain, dan memutuskan untuk pergi ke tempatnya sekarang ini. Senyum Ziya mengembang sempurna, ia yakin jika keputusannya sudah benar adanya.
“Iya, Pak,” jawab Ziya.
“Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil aku pak, dong, Zi. Aku berasa tua banget.” Hasbi tertawa selepas mengucapkan kalimat tersenyum yang tentu saja juga membuat Ziya tertawa. Sebenarnya Ziya juga geli memanggilnya ‘Pak’ sebab dilihat dari penampilannya Hasbi terlihat begitu muda. Meskipun usianya tiga tahun lebih tua dari Ziya.
“Terima kasih sudah menyelamatkan kafe ini, Zi. Andai kamu tidak ada, pasti mereka tidak akan percaya lagi dengan kafe ini,” ucap Hasbi mengiringi langkah mereka menuju panggung kecil di lantai satu.
“Terima kasih juga sudah memberi saya kesempatan untuk bergabung.”
Di sinilah, malam ini Ziya kembali tampil di panggung. Meskipun panggung yang ia naiki tidak sebesar dan semegah panggung tempat Delfin, tapi setidaknya tempat ini lebih membuat Ziya merasa tenang. Sebab menjadi seorang public figure tidak semenyenangkan yang orang bayangkan. Ziya lebih bahagia berada di panggung ini, di mana ia dapat berbuat sesuai dengan kata hatinya tanpa harus bertindak sesuai settingan demi menjaga reputasi yang akan mempengaruhi karirnya.
Di sini pula Ziya belajar membuka lembaran baru. Berusaha melupakan kenangan akan cintanya dan belajar untuk kembali membuka hati untuk orang lain. Entah kapan ia akan berhasil. Ziya sendiri tidak pernah tahu. Yang jelas Ziya tidak ingin mengulang kesalahan yang pernah ia lakukan.
Ziya sedikit tenang, setidaknya untuk saat ini panti asuhan sudah mendapatkan donator tetap sehingga kehidupan adik-adik pantinya akan lebih terjamin. Semenjak Pramono menjadi donatur tetap, perlahan donatur lainnya mulai berdatangan. Ziya sungguh bahagia. Ia berharap adik-adik pantinya juga mendapatkan masa depan yang layak seperti anak-anak lainnya. Untuk saat ini, Ziya akan fokus untuk kembali menata hidupnya. Ziya tidak mau menggunakan fasilitas yang Pramono berikan. Semenjak diadopsi oleh Pramono, Ziya mendapatkan fasilitas yang bagi Ziya terlalu berlebihan.
Namun, Ziya yang seorang pekerja keras tidak pernah mau menggunakannya. Ziya lebih nyaman hidup sebagai dirinya. Seperti saat-saat lalu sebelum Ziya dipertemukan dengan keluarga Lubis. Itulah alasan mengapa dirinya saat ini berada di atas panggung. Hanya dengan suara emas dan kecantikannya Ziya bisa bertahan hidup, sebelum Tuhan mempertemukan dia dengan jodohnya.
...****...
Selesai ....
__ADS_1
Sampai jumpa di novel eskaer selanjutnya. Terima kasih atas dukungan kalian, ya ...