Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Memutuskan


__ADS_3


...***...


Keputusan Delfin untuk lebih fokus pada tour album barunya menjadi keputusan final yang ia ambil. Ia menuruti masukan dari sang manager untuk lebih fokus pada impiannya. Bukannya tak mementingkan permasalahan rumah tangganya. Ia hanya ingin fokus pada salah satunya lebih dulu.


'Benar kata Zi, jika aku sudah sukses dengan tour albumku. Akan kubuktikan pada Cia bahwa aku mampu membahagiakannya. Menuruti apa maunya. Hingga tak ada celah lagi bagi lelaki itu untuk merusak rumah tanggaku. Semoga dengan ini, kakek juga tidak akan meragukanku lagi.'


Delfin mengembuskan napasnya yang terasa berat. Persiapan tour dari kota ke kota kian matang atas kerja keras Ziya dan agensinya. Beberapa kali meeting untuk menyiapkan segala sesuatunya agar ia dapat tampil maksimal. Sekecil apapun kekurangan pasti selalu ada. Tapi berkat kerja otak dan tangan Ziya semua itu dapat diatasi.


Meskipun waktu sudah mulai larut, Delfin masih betah berada di ruangannya. Studio merupakan rumah kedua Delfin. Segala sesuatunya sudah Ziya persiapkan. Lebih dari sekedar persiapan tour. Bahkan untuk makan pun Ziya sudah mengaturnya.


Delfin ingat saat pagi tadi melihat crew sedang berbincang santai dengan beberapa kudapan bersama kopi, Ziya begitu selektifnya memilih makanan untuknya.


"Jangan makan sembarangan, Fin." Ziya mengambil pelan risoles goreng yang hendak Delfin masukkan ke dalam mulutnya lalu cepat menggantinya dengan kue pie yang ia beli lewat aplikasi ponsel pintarnya. "Jangan sampai salah makan, Fin. Tour sudah di depan mata. Dan aku tidak mau hanya karena salah makan semuanya jadi gagal."


Perlakuan Ziya terhadap sang artis tentu mengundang perhatian para crew. Mereka memandang Ziya sudah paket komplit.


"Cieeee,"


"So sweet banget, sih, Mbak Zi. Andaikan aku masih single, Mbak," celoteh team dokumentasi.


"Lo masih single juga belum tentu Mbak Ziya mau sama lo," timpal yang lain.


" Serah gue, lah,"

__ADS_1


"Sama gue aja yang single, Mbak," imbuh team studio yang berparas lumayan.


"Lo masih kicik, Cil. Mbak Ziya ini udah type-type siap berumah tangga. Ya, kan, Mbak!"


"Iya, Dul. Gue hargai usaha lo, tapi lihat sikon juga."


"Ya elah, nasip orang belakang layar gini amat."


Berbagai celotehan pun terlontar, sedangkan sang objek pembicaraan hanya terus mengulas senyum. Ziya menanggapinya dengan santai. Berbaur dengan mereka tentu merupakan hiburan tersendiri di sela kesibukannya menghandle seluruh jadwal Delfin.


"Mbak Ziya. Mau ada rencana menikah di usia berapa, sih, kepo aku jadinya?" tanya lelaki bertato elang di pergelangan tangan.


Pertanyaan yang dilayangkan untuk Ziya, membuat sang objek terdiam. Sudut hatinya sendu mengingat hal ini. Yang ada dalam pikirannya saat ini tentu hanya sang artis yang duduk tak jauh darinya. Saat mata Delfin pun menunggu jawabannya seperti yang lain, Ziya segera mengalihkan netranya kemana saja asalkan bukan pada Delfin. Ziya menggeleng cepat sembari tersenyum canggung pada semuanya. Senyum yang hampir membuat Delfin terpana untuk sejenak.


Suara ponsel yang bergetar menyelamatkan Ziya dari situasi mendebarkan. Ia lekas berlalu dari sana untuk menerima panggilan penyelenggara salah satu tempat tour album.


Siang hari, Ziya kembali harus meeting dengan pihak iklan yang sempat tertunda. Kali ini mereka bersedia datang ke studio dan bertemu langsung dengan Delfin. Awalnya pihak iklan ingin mengubah jadwal yang sudah mereka sepakati bersama. Namun, bentroknya jadwal Delfin terkait tour album terpaksa masih harus diundur lagi. Bukan kesalahan pihak Delfin, melainkan kesalahan itu murni dari pihak advertising yang ingin menyela jadwal Delfin. Agar mereka tidak begitu kecewa, dengan bijak Ziya memberikan penawaran yang tentu akan menguntungkan semua pihak.


"Bayangkan saja, jika Delfin harus membagi waktu yang harusnya bisa untuk fokus pada iklan ini, tapi di tengah jalan justru konsentrasinya Pak Delfin masih pada tour. Bukankah akan tidak maksimal hasilnya? Bagaimana menurut Anda?" ungkap Ziya pada ketua tim produksi dari pihak iklan.


Sesaat dari pihak iklan berdiskusi singkat. Lalu semuanya menyetujui saran dari Ziya. "Baiklah, deal. Kami yang akan menyesuaikan kembali jadwal dengan Pak Delfin." Uluran tangan dari pihak iklan membuat Delfin yang sempat tegang akhirnya bisa bernapas lega. Dan dapat mengakhiri meeting siang itu dengan kata sepakat.


...***...


Sederet kesibukan Delfin membuatnya benar-benar seperti mengabaikan Cia. Hingga sang pemilik mata indah itu selalu dirundung kekesalan yang bertumpuk-tumpuk.

__ADS_1


Pramono tidak tinggal diam melihat celah yang ada. Melihat sang cucu hanya duduk termenung di depan balkon kamarnya, ia lekas mendekati Cia.


Sejenak ia terdiam memikirkan jurus apalagi yang akan ia keluarkan untuk membuat Cia mengambil keputusan yang paling tepat.


"Ini kesempatanku untuk menjerat Farel. Persatuan dua perusahaan raksasa di kota ini tidak akan aku sia-siakan. Ini bukan soal keuntungan. Dari pihakku dan pihak Farel juga akan mendapatkan keuntungan ini. Cukup membaca mata anak itu maka Pram sudah cukup pintar mencari celah yang ada." Pram mulai bersorak dalam hatinya. Ia mengangguk mantap dengan sedikit senyuman. Sedikit sekali, nyaris tak terlihat.


"Cia, masihkah kamu bimbang?" tanyanya lembut sambil membelai surai sang cucu.


Cia hanya melirik sekilas lalu kembali pada posisinya lagi. Terus memandang keramaian kota dari atas balkon kamarnya. Pikirannya terus berputar-putar semakin sakit kala tak ada satu pesan pun terkirim dari ponsel suami tercinta.


"Semua terserah padamu, Cia." Pram beralih menumpu kedua tangannya pada pagar pembatas balkon. "Jika kamu masih mau mempertahankan lelaki itu, kakek tidak bisa menjaminnya. Dia akan lebih marah saat tau kamu mengandung bukan darah dagingnya. Bukankah sama saja? Kamu akan berpisah sekarang atau besok dengannya." Kejam memang Pram mengucap itu. Namun, ini adalah satu pukulan yang paling tepat yang akan merobohkan keteguhan hati Cia.


"Kakek hanya memberikan saran. Selebihnya terserah kamu." Pram menepuk bahu Cia. "Kakek pergi dulu. Pastikan kamu makan dengan benar. Jangan menyiksa diri. Bisa saja suami kamu sedang asyik bersama perempuan itu. Dan kau akan menyesalinya jika kau tak menjaga tubuhmu dengan baik."


Setelah itu, Pram benar-benar pergi. Meninggalkan Cia yang kembali meloloskan bulir air matanya. Bayangan Ziya yang terus berada di sekitar sang suami membuat dadanya penuh sesak menerima kenyataan ini. Suaminya banyak menghabiskan waktu bersama perempuan lain daripada dirinya.


"Kali ini aku sudah memutuskan." Cia mengambil ponsel yang tergeletak asal di sampingnya. Ia menekan satu kontak dan segera terhubung.


"Ajukan kembali surat kemarin. Dan pastikan surat itu juga sampai pada tangan suami saya ... saya yakin untuk kali ini ... terimakasih."


Cia menatap nanar ponselnya yang sudah tak tersambung dengan orang kepercayaannya di sana. Ia sudah memutuskan untuk berpisah dengan suami tercintanya. Ia membenarkan perkataan kakeknya. Dia juga salah, tapi akar kesalahannya tentu juga dari Delfin kesayangannya. "Apakah aku sungguh kalah sekarang?" gumamnya lirih.


...***...


__ADS_1


...Ada yang setuju Cia bercerai sama Delfin? Yuk, angkat kaki 🙋🏻😅...


__ADS_2