
...***...
Setelah puas berteriak dan memaki tentang kisah rumah tangganya di pantai, Delfin beranjak ke tepian sambil menunduk penuh luka batin. Sungguh simalakama, mau bertahan, tetapi tersiksa. Berakhir, tetapi rasa itu akan selalu hadir di dalam jiwanya. Cia adalah sumber dari segalanya.
Entah akan ke mana lagi kaki melangkah. Telah dirasa lelah badan dan juga hati. Pikiran Delfin hanya tentang Cia dan Cia saja. Akankah Cia pun berpikiran seperti dirinya? Atau saat ini sedang menikmati waktu berduaan dengan Farel—si laki-laki brengsek yang telah merebut hati sang belahan jiwa.
Ziya. Satu nama itu terlintas dalam benaknya. Menyelip di antara nama Cia yang penuh sesak di pikiran. Hanya Ziya saat ini yang bisa menenangkan dan mendengarkan semua keluh kesah Delfin. Entah mengapa Ziya begitu bisa memahami perasaan Delfin di segala suasana.
Dengan kecepatan sedang Delfin mengendarai mobil sport-nya menuju tempat yang biasa didatangi oleh Ziya, Delfin, dan Bagus. Dengan langkah pasti ia memilih tempat yang agak sedikit ke pojok agar tak terlihat oleh yang lainnya. Ia tidak mau jadi sorotan karena sekarang dirinya memang sedang naik daun. Benda pipih keluaran terkini telah mendarat cantik di telinga sang artis yang memulai debutnya di chanel youtube itu. Dengan wajah terlihat berharap semoga yang berada di seberang sana menerima panggilannya dan tak lama berselang panggilan pun terjawab dengan jelasnya.
"Halo, Fin. Ada apa? Oh, ya, kamu di mana sekarang?" tanya Ziya.
“Satu-satu, dong, nanyanya, Ziya. Bikin bingung harus jawab yang mana dulu," sahut Delfin di balik benda pipihnya.
"Iya. Maaf," seru Ziya sambil tertawa pelan.
__ADS_1
"Aku sedang di tempat biasa, nih. Bisa nggak kamu datang temani aku untuk minum kopi?" Delfin berkata penuh harap.
"Oke, deh. Tapi tunggu, ya! Aku siap-siap bentar," jawab Ziya dan telepon pun terputus dengan diakhiri oleh sang manajer.
Kurang lebih tiga puluh menit Delfin menunggu, Ziya datang dengan costum kasualnya. Celana levis dan kaos putih pas body. Serta tak ketinggalan jaket levis belel. Rambut yang ia ikat tinggi seperti ekor kuda menambah kesan cantik nan sexy. Delfin sampai menelan salivanya perlahan akibat ulah si manajer berpenampilan sangat sexy. Menganggu akal sehat saja.
"Zi, sini!” panggil Delfin sambil melambaikan tangan. Ziya melangkah perlahan menuju meja yang dipesan Delfin.
"Ada apa, nih? Sepertinya penting sampai-sampai nekat bertemu di tempat umum kayak gini. Nggak takut ada yang histeris lihat kamu nongkrong di sini?" cerocos Ziya sambil menarik kursi di hadapan Delfin.
"Ada hal penting yang aku ingin ceritakan padamu, Zi. Tentang Cia," jawab Delfin lesu.
"Ada apalagi, sih, dengan kalian berdua? Jujur, ya, aku terkadang jenuh mendengar kisah kalian berdua yang hanya itu-itu saja tanpa adanya perbaikan. Justru semakin hari semakin tak jelas arah akan dibawa ke mana hubungan rumah tangga kalian berdua," sentak Ziya emosi dan tak tahu apa rasa yang ada di dalam jiwanya. Senangkah? Marahkah? Atau malahan iba dengan keadaan Delfin.
"Aku juga bingung, Zi. Ke mana arah rumah tanggaku sekarang ini? Cia semakin hari semakin sulit kugapai. Aku lelah dengan kemelut ini, Zi." Delfin menundukan wajah ke meja sambil sedikit terisak. Menunjukkan betapa sakit hatinya kali ini bahkan terlalu sakit.
Ziya hanya memandangi Delfin dengan tatapan iba. Melihat Delfin menangis kecil dan terdengar sangat menyayat hati Ziya.
__ADS_1
"Fin, boleh aku kasih pendapat sedikit aja?" Setelah membiarkan Delfin meluapkan tangisnya agar mengurangi sesak di dada, akhirnya Ziya memulai pembicaraan.
Dengan berat Delfin mengangkat kepalanya dari meja. "Apa pendapatmu, Zi? Katakan saja! Jujur, saat ini aku benar-benar bingung,” ujar Delfin resah.
"Kalau menurutku, nggak ada salahnya untuk saat ini kamu egois dengan tidak selalu memikirkan prahara rumah tanggamu dengan Bu Cia. Ingat, Fin, kamu akan mengadakan tour promo album terbaru dan kamu harus berkonsentrasi penuh agar semua fans kamu melihat artisnya bersemangat dan mempunyai performa yang bagus, Fin! Jangan sampai fans kamu kecewa bila melihat sang idola tampil dengan tidak maksimal. Ingat itu!” Ziya menarik napas dalam sebelum mengutarakan pendapatnya. Sedikit jahat memang, tetapi karir Delfin juga tidak kalah penting sekarang.
"Nggak apa, untuk saat ini kamu memikirkan karir kamu dulu. Kalau memang Bu Cia jodoh yang ditakdirkan untuk kamu, sudah dipastikan kalian akan kembali bersama, Fin. Untuk saat ini fokuslah dengan masa depanmu dan raihlah apa yang sudah menjadi impianmu. Dengan kamu sukses sekarang ini, apakah kakek Bu Cia melihat semua perjuangan dan pengorbananmu untuk membahagiakan cucu tercintanya? Coba kamu pikirkan lagi, Fin. Bukan berarti masalah rumah tanggamu tidak penting, tapi setidaknya ini juga usaha kamu agar rumah tanggamu tidak lagi direcoki kakeknya Bu Cia. Jadi kamu harus tunjukkan skill kamu di sini.” Ziya terlalu emosi dengan kakek Pram yang selalu memandang Delfin sebelah mata.
Delfin merenungkan semua perkataan Ziya yang menurutnya benar. Selama ini kakek Pram selalu saja menganggap ia tak dapat membahagiakan Cia. Tidak bisakah dia melihat hasil dari perjuangan dirinya hingga saat ini?
“Kita pikirkan lagi nanti tentang rumah tanggamu, Fin. Kumohon saat ini fokuslah pada kehidupanmu. Melangkahlah dengan pasti, hingga tak ada keraguan dalam gerak langkahmu. Melangkahlah dengan iringan irama, hidup yang nyata dan pasti. Melangkahlah dengan tegak tanpa melihat ke belakang, agar bisa melangkah lebih jauh dan menatap harapan indah. Melangkahlah dengan tertatih walau perih dan sakit. Jangan pedulikan yang ada di kiri dan kanan. Angkatlah wajah dengan keyakinan bahwa akan ada pelangi setelah hujan.”
Ziya memberikan kata-kata penyemangat kepada Delfin agar ia bisa lebih tegar dalam keadaan apa pun. Seperti halnya dengan dirinya, yang akan tetap berdiri tegak walau apa pun yang terjadi, sebab ia telah terbiasa dengan kesakitan di separuh hidupnya. Begitulah prinsipnya seorang Ziya.
Mungkin saat ini hal yang terbaik untuk Delfin dan Cia adalah menjauh beberapa waktu. Bukan karena sudah tak ada rasa cinta atau sayang. Akan tetapi, memberi jeda untuk hati mereka masing-masing. Daripada bersama tetapi saling menyakiti satu sama lain.
Delfin menghela napas kasar sebelum dirinya mengulas senyuman miris. Dalam hatinya ia bertekad untuk melakukan apa yang Ziya sarankan, yakni berkonsentrasi untuk promo album dan tour ke luar kotanya nanti.
__ADS_1
...***...