Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Maaf!


__ADS_3


...***...


Hampir dua jam Delfin menunggu kedatangan istrinya, bahkan minuman yang diberikan untuknya pun sudah habis tak tersisa. Namun, sosok yang dirindukannya belum juga datang. Ia pun memilih berkeliling di ruang tamu.


Melihat beberapa foto yang dipajang di atas meja dan beberapa yang digantung di dinding. Terlihat beberapa poto Cia saat masih kecil, di antaranya saat Cia tertawa dengan berlatar belakang komedi putar sambil memegangi sebuah gula-gula di tangannya. Cia tampak begitu bahagia.


Delfin kemudian meraih salah satu foto istrinya saat masih SMA. Terlihat cantik dengan menggunakan seragam abu-abu dan rambut yang tergerai indah. Ternyata di rumah Kakek Pram yang sebesar ini, lebih didominasi oleh poto Cia, menandakan betapa sayangnya Kakek Pram pada Cia.


"Kamu tetap cantik seperti saat pertama kali kita ketemu," ucap Delfin dengan penuh senyuman.


Setelah puas menikmati foto istrinya, Delfin kembali menuju sofa. Tak lama, pintu ruang tamu terbuka, menampilkan sosok Cia yang sedang tertawa.


Kedatangan Cia membuat Delfin begitu bahagia Namun, kebahagiaan itu sekejap sirna saat melihat Farel tengah menggandeng tangan Cia begitu erat. Lelaki yang selama ini mengusik rumah tangganya.


Sedangkan Cia yang baru menyadari kehadiran suaminya langsung terdiam. Ia langsung melepas genggaman tangan Farel. "D-Delfin?"


Dengan mengepalkan tangannya, Delfin berjalan ke arah Cia dan Farel. Cia semakin dibuat ketakutan saat melihat rahang Delfin mengeras, menandakan bahwa lelaki itu sedang emosi. Apalagi tatapan matanya yang tajam saat melihat sosok Farel.


"Kamu kapan datang, Fin?" tanya Cia.


Mata Delfin yang tajam langsung melunak saat mendengar pertanyaan Cia. Delfin pun tersenyum melihat wajah Cia yang terlihat sedikit lebih tembam.


"Baru kemarin, Sayang. Kamu ke mana saja selama ini? Aku berulang kali ngehubungin kamu, tapi nggak ada respon dari kamu."


"Maaf, aku memang sibuk belakangan ini," ucap Cia bohong.


Delfin manarik tangan Cia dan membawanya ke sofa. "Kamu jangan terlalu capek, Sayang. Kamu harus jaga kesehatan, agar anak kita baik-baik saja di dalam sini," ucap Delfin sambil mengelus perut Cia.


Cia begitu kaget saat mendengar ucapan Delfin, karena selama ini ia merasa tidak memberitahu Delfin tentang kehamilannya. "K-kamu tau dari mana?"


"Tadi Bi Lea bilang, katanya kamu hamil. Maafkan aku, ya! Aku tidak bisa menemanimu, aku malah sibuk konser. So, kita tidak jadi bercerai, kan, Sayang?"


Farel yang mendengar ucapan Delfin begitu geram ingin menghajarnya. Bagaimana mungkin Delfin dengan sepercaya diri itu mengatakan bahwa itu anaknya? Namun, Farel mengurungkan niatnya. Biarlah Cia yang menjelaskannya sendiri apa yang terjadi selama Delfin tidak bersama Cia.

__ADS_1


Farel juga ingin memberi waktu untuk mereka berdua menyelesaikan masalah, agar ia secepatnya bisa menikahi Cia.


"A-aku ...." Cia menatap ke arah Farel. Lelaki itu hanya duduk berjauhan dari Cia dan Delfin.


Delfin mengikuti arah pandang Cia. "Kenapa dia masih ada di sini?" tanya Delfin pada Cia. Namun, tidak ada jawaban.


"Selesaikan urusanmu dengan dia, Cia. Aku akan menunggu di depan. Panggil aku jika dia menyakitimu lagi," ungkap Farel.


"Lebih baik kau pulang saja! Tidak ada gunanya kamu di sini!" teriak Delfin saat Farel berjalan meninggalkan ruang tamu.


Delfin kembali menatap Cia yang menundukkan wajahnya. Ada sesuatu yang Cia coba sembunyikan darinya, terlihat dari jemari Cia yang tidak berhenti bertaut untuk menyembunyikan keresahannya.


"Cia, kamu kenapa? Katakan sama aku. Apa kamu disakiti lelaki itu?" Cia menggeleng. "Lalu kenapa, Sayang."


Cia semakin menunduk tidak berani menatap mata Delfin. Seharusnya ia bahagia karena kedatangan Delfin. Seharusnya ia bahagia, karena melihat Delfin yang bahagia dengan janin di dalam perutnya. Seharusnya Cia bahagia karena sebentar lagi ia akan memiliki keturunan.


Namun, semuanya tidak seperti yang ia harapkan. Anak yang ia kandung bukan anak Delfin, melainkan Farel. Cia takut rasa bahagia yang Delfin rasakan akan hilang saat ia tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya.


"Delfin ... sepertinya kita tetap harus bercerai," ucap Cia masih dengan menunduk.


Cia perlahan menatap Delfin dengan sorot mata sayu. "Kita tetap harus bercerai, Fin," lirih Cia.


"Kamu kenapa, Cia? Bukankah seharusnya kita bahagia dengan adanya anak kita? Kita akan menjadi seorang ayah dan ibu, Cia. Kenapa kamu justru meminta bercerai dari aku?"


Cia bergeming. "Jangan bilang kamu akan menikah dengan Farel dan membuatnya menjadi ayah dari anak kita."


Pertanyaan yang Delfin lontarkan membuat Cia kembali menunduk. "Astaga! Pikiran macam apa itu, Cia? Ibu macam apa kamu yang justru rela bercerai padahal ada anakku di dalam sana?" ucap Delfin dengan nada tinggi.


Delfin mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar marah saat ini, sebab pilihan yang Cia ambil. Mengapa ia tetap meminta perceraian di saat tengah hamil anaknya?


Delfin mengembuskan napasnya perlahan. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar. "Delfin, kamu mau ke mana?" teriak Cia sambil mengikuti Delfin.


Saat sampai di teras, Delfin mencari keberadaan Farel. Begitu Delfin menemukannya, ia berjalan cepat menghampirinya. "Kau!" geram Delfin.


Saat tubuh Farel sudah berada tepat di depannya, tak menunggu lama lagi Delfin mendaratkan bogem mentah tepat di pipi sebelah kiri Farel. Membuat Farel terjatuh lalu memegangi pipinya yang terasa panas. Tak lama kemudian ia mencengkeram kerah Farel dan melakukan hal yang sama di pipi sebelah kanannya.

__ADS_1


"Farel!" teriak Cia saat melihat apa yang dilakukan Delfin. Ia pun segera menghampiri Farel dan melihat keadaan lelaki itu.


Saat melihat darah keluar dari sudut bibir Farel, Cia langsung menatap tajam ke arah Delfin. "Apa yang kamu lakukan, Delfin?" ucap Cia dengan napas memburu, lalu membantu Farel untuk duduk.


Delfin memalingkan wajahnya. "Cuih! Drama apalagi yang coba kalian mainkan, hah?" ucap Delfin sinis. "Ah, aku tau sekarang. Jangan-jangan anak itu juga anak lelaki br*s*k ini? Iya, Cia?" tanya Delfin sambil menunjuk ke arah Farel.


Cia yang juga tersulut emosi saat mendengar pertanyaan Delfin mulai bangkit dan hendak menampar wajah Delfin. Namun, belum sempat ia lakukan tubuhnya ditahan oleh Farel. Kini, giliran Farel yang mencoba berdiri, walaupun masih terasa perih di kedua pipinya.


"Cukup, Cia, jaga emosimu. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan anak kita," jelas Farel menenangkan Cia.


Delfin langsung menatap tajam kedua manusia yang ada di depannya. "Cia, apa maksud lelaki ini? Jadi dugaanku benar?" tanya Delfin. "Cia! Jawab aku, Cia!" Emosi Delfin semakin meningkat saat tidak ada jawaban dari Cia.


Setelah membantu Cia untuk tenang, Farel berdiri menghadap Delfin. "Iya. Dugaanmu benar. Anak yang dikandung Cia adalah anakku," ucap Farel santai.


"Br*ngs*k!" Delfin kembali melayangkan pukulan pada Farel. Tidak terima dipukul, Farel pun membalas Delfin, membuat mereka terlibat baku hantam.


Cia langsung memanggil Bi Lea dan sopirnya untuk membantu memisahkan kedua lelaki yang sedang adu kekuatan tersebut.


...*** ...


Kini, Delfin kembali duduk di sofa ruang tamu dengan muka penuh lebam dan darah yang mengalir di beberapa sudut wajah. Sedangkan Farel memilih langsung pulang setelah berpamitan dengan Cia. Ia tidak ingin terjadi keributan yang lebih parah lagi.


Dengan telaten, Cia mengobati luka di wajah Delfin lalu mengompresnya. Bagaimanapun, ia masih berstatus istri Delfin.


Delfin terus memandangi wajah Cia yang hanya berjarak beberapa senti karena mengobatinya. Wajah wanita yang selama ini selalu memenuhi pikirannya. Namun, ternyata membuatnya kecewa.


Delfin menghentikan tangan Cia. Ia menarik dagu wanita itu untuk menatap wajahnya. "Sejak kapan? Sejak kapan, Cia?" tanya Delfin lirih. Wajah yang sebelumnya cantik itu mulai terlihat buram karena tertutup cairan di matanya.


"Sejak kapan kamu melakukannya?" ulang Delfin. Ia lalu membungkukkan badannya. Kedua tangannya bertumpu pada kakinya untuk menutupi wajahnya yang tak lagi tampan.


"Maaf." Hanya kata itu yang selalu diucapkan Cia di sela-sela tangisnya. Ia tak bisa mengatakan apa-apa, ia tak bisa lagi berbuat apa-apa.


...***...


__ADS_1


...Gimana, Readers? Kalau kalian jadi Delfin, kira-kira mau ngapain? 🤔...


__ADS_2