Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Sejenak Melupakan


__ADS_3


...***...


Dengan luka lebam di wajahnya , Delfin pun berlalu dari rumah Kakek Pram. Luka di wajahnya tak seberapa dibandingkan luka hatinya. Cia–sang istri tercinta menghardiknya pergi. Sudah tak adakah rasa cinta di antara keduanya? Semuanya hilang ditelan keegoisan dua anak manusia yang sedang dihadapkan kepada permasalahan yang seharusnya bisa diselesaikan secara baik-baik. Namun, hati yang sedang diliputi cemburu membuat hati mereka tertutup oleh rasa pembenaran terhadap diri sendiri.


Api cemburu yang berkobar mengalahkan akal sehat dan perasaan cinta yang tulus, semoga tak ada penyesalan di antara keduanya di kemudian hari. Delfin hanya bisa memandang dengan rasa tidak percaya melihat semua kenyataan yang ada di depan matanya, sedekat itukah Cia dan Farel? Dan sesakit inikah hati Cia waktu Delfin mengusirnya di depan Ziya? Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran Delfin saat ini.


...***...


Delfin bingung harus ke mana dengan kondisinya saat ini. Kembali ke rumah orang tuanya tentu tidak mungkin. Mereka pasti akan bertanya panjang lebar. Ia menepikan mobilnya setelah beberapa saat melaju tanpa tujuan. Ia berpikir akan ke mana dirinya pergi.


Seketika, bayangan Ziya melintas dalam benaknya. Senyum manis gadis itu seolah menjadi tujuan untuk Delfin berbagi. "Ya, aku akan ke panti asuhan," ucap Delfin pada dirinya. Setelah yakin jika Ziya sudah berada di panti asuhan, Delfin segera melajukan mobilnya menuju ke tempat di mana Ziya dan Bu Erna merawat anak-anak penuh kasih sayang.


Perjalanan tak memakan waktu lama dan sang artis pun tiba di depan pintu pagar berwarna hitam yang nyaris pudar.


Terlihat anak-anak bermain dengan riang, mereka tertawa lepas tanpa beban. Delfin menertawakan dirinya saat ini. Di saat ia berhasil meraih impiannya, di sisi lain kebahagiaannya tergadaikan. Kesuksesan yang ia raih harus dibayar mahal, yaitu dengan kenyataan bahwa perahu rumah tangganya terancam karam.


"Eh, Pak Delfin. Mari masuk, Pak!" seru Mang Deden–penjaga panti berusaha membukakan pintu untuk Delfin.


"Iya, Mang. Maaf menganggu. Apa saya boleh masuk?" tanya Delfin kepada Mang Deden.


"Tentu saja boleh, Pak. Silakan!" jawab Mang Deden. Mobil Delfin pun segera masuk setelah pagar terbuka sempurna.


Delfin berjalan menuju teras rumah sederhana itu. Duduk di kursi kayu sembari menatap anak-anak yang bermain di halaman. Sesekali ia meringis memegang wajahnya yang perih. Perlahan ia mengeluarkan benda pipih dari kantong celananya dan menghubungi Ziya.

__ADS_1


"Halo, Zi. Aku ada di teras rumahmu. Bisakah kamu keluar sebentar?" pinta Delfin.


Tak lama Ziya pun muncul. Gadis itu terkejut melihat kondisi sang artis yang babak belur.


"Loh, kamu kenapa, Fin? Kok, bisa seperti ini, sih?" Ziya yang begitu khawatir segera menghampiri Delfin. "Ayo, masuk, Fin! Aku obati lukamu."


Delfin pun menuruti permintaan Ziya. Tak lama kemudian Bu Erna datang. Sama halnya dengan Ziya, Bu Erna pun terkejut melihat keadaan lelaki tampan itu dengan wajah yang penuh lebam.


"Ziya, bawakan air hangat dan handuk kecil! Biar ibu kompres dulu untuk mengurangi rasa nyerinya!" titah Bu Erna.


Dengan telaten Bu Erna merawat Delfin setelah menerima air hangat yang Ziya bawakan. Ziya pun melakukan apa yang Bu Erna titahkan, tak lupa Ziya membawa salep yang pernah Delfin berikan kepadanya dulu sewaktu Cia menampar pipinya.


"Kalau boleh tahu, sebenarnya ada apa sampai kamu seperti ini, Nak?” tanya Bu Erna dengan lembut setelah membersihkan luka Delfin.


Dengan berat hati akhirnya Delfin menceritakan apa yang terjadi sehingga ia kacau seperti ini.


"Semua masalah pasti ada solusinya, dan sekarang kalian sedang dalam emosi tinggi dan tidak adanya rasa kepercayaan dari keduanya. Kalau menurut ibu, lebih baik dibicarakan baik-baik, sehingga tak ada kekerasan dan juga kemarahan," nasehat Bu Erna kepada Delfin. Sejenak terjeda saat melihat Delfin meringis merasakan perih pada sudut bibirnya yang tengah diolesi salep oleh Erna, "maaf, sakit, ya?" tanya Erna prihatin. Lalu melanjutkan mengobati luka Delfin ketika lelaki itu berkata 'tidak apa-apa'.


Bu Erna menghela napasnya. Ia menatap Delfin dengan sendu, sebelum kembali melontarkan nasihatnya lagi. "Coba kalian duduk berdua dengan kepala dingin, dan katakan apa yang seharusnya menjadi keinginan kalian berdua. Ingat kembali bagaimana kalian berjuang agar bisa bersama hingga menikah. Jangan menyerah hanya karena keegoisan dan amarah.”


Delfin hanya bisa menunduk mendengar penuturan kepala panti itu.


“Genggamlah hal yang baik teruntuk diri dan hidupmu, Nak! Lepaskanlah apa yang membuatmu menjadi marah dan merusak hatimu. Raihlah semua asa untuk menghargai semua yang telah diperjuangkan. Sayangi dan cintai hati serta perasaanmu agar semuanya menjadi irama dalam jiwamu.” Delfin masih dengan seksama mendengar nasihat panjang lebar yang diberikan Bu Erna untuk dirinya.


Delfin merindu masa-masa di mana ia berjuang untuk cintanya, lalu kenapa sekarang hanya sebatas pasrah saja tanpa mau berusaha kembali berjuang.

__ADS_1


Setelah selesai diobati, Delfin pun kembali ke halaman depan. Ia melihat beberapa anak laki-laki bermain bola sepak. Ia pun berkeinginan bergabung dengan mereka, berniat melupakan sejenak rasa penat di hati dan pikirannya. Sambil berlari kecil ia pun menyapa.


"Hai, semuanya,” sapa Delfin dengan antusias sambil melambaikan tangannya tanda ingan berkenalan.


Anak-anak pun membalas sapaan Delfin dengan senang hati.


"Boleh ikutan main bola juga nggak, nih?” tanya Delfin kepada semuanya.


"Boleh, Kak. Kebetulan tim satunya kurang personil. Jadi Kakak bisa masuk ke grup yang itu, ya!” ucap anak usia sebelas tahun itu memberi instruksi kepada Delfin.


Ucapan anak-anak tersebut membuat Delfin tersenyum. Dengan bersemangat ia pun masuk ke dalam gerombolan anak-anak dan memulai permainan bola tersebut. Begitu riang dan lepasnya ia bermain bersama, walau setelah ini tak tahu apa yang akan terjadi dengan kehidupan rumah tangganya. Ia ingin sesaat menikmati apa yang seharusnya. Setidaknya pikirannya tidak melulu memikirkan masalah.


Ziya melihat Delfin yang telah memberikan warna di dalam hidupnya lewat jendela. Dia tersenyum melihat Delfin begitu ceria bersama anak-anak asuhannya. Delfin adalah pria yang membuatnya merasakan jatuh cinta. Akan tetapi, sebisa mungkin Ziya menepis rasa yang mulai tumbuh tersebut.


Bu Erna melihat anaknya begitu mengagumi Delfin. Dengan langkah perlahan ia pun mendekat Ziya dan merangkul bahu gadis cantik itu.


"Kenapa dipandangin terus Delfinnya, Nak? Ingat, ya, dia itu suami orang. Jangan sampai kamu salah menempatkan hatimu di tempat yang bukan seharusnya. Terkadang kita dipertemukan dengan hal yang salah, agar bisa melihat arti sebuah kebenaran."


Ziya hanya mendengarkan apa yang ibunya katakan. Kenapa ia dihadapkan oleh kenyataan bahwa ia jatuh cinta kepada artisnya. Salahkah Ziya dengan hatinya yang sedang kalah dengan pesona seorang Delfin? Ia akui, ia lemah bila berdekatan dengan Delfin. Meski itu hanya tugas yang harus ia jalani demi masa depan panti asuhan Kasih Bunda. Sebuah panti tempat ia dibesarkan penuh rasa kasih dan sayang.


Kini ia pasrah akan jalan hidupnya. Biarlah semuanya menjadi bagian dari kehidupannya asalkan semuanya bisa berbahagia. Ziya rela.


“Di balik senyummu yang memesona dan menawan, ternyata menyimpan begitu banyak luka yang tertahan, Delfin,” batin Ziya.


Ziya terus saja memandangi Delfin dari kejauhan. Semilir angin yang berembus menembus cakrawala memberikan kesejukan dalam hati. Ziya hanya berharap semua berlalu dengan indah. Malam yang kian larut membuat Delfin dan anak-anak segera menyudahi olah raga malam mereka. Delfin pun pulang dengan hati sedikit tenang. Di tempat Ziya, dia bisa memperoleh kebahagiaan.

__ADS_1


...***...



__ADS_2