
...***...
Tekad kuat sudah Farel tanamkan di dalam hati. Pergi adalah pilihan yang ia rasa tepat saat ini. Karena hanya dengan cara inilah ia dapat menyelamatkan hatinya agar tak semakin hancur.
"Farel pergi dulu, Ma."
"Jaga diri baik-baik, Farel." Arisa menyeka sudut matanya seraya melepaskan pelukannya pada anak tunggalnya.
Farel berganti memeluk sang papa yang berdiri mengulas senyum. Ia menerima tepukan pelan di punggung. "Papa percaya, kamu bisa, Farel." Farel mengangguk dalam pelukan.
Panggilan keberangkatan dari pengeras suara di bandara memupus kebersamaan satu keluarga itu. Selangkah demi selangkah Farel berjalan sambil menarik tuas koper berwarna hitam dalam genggaman tangan kanannya. Sedangkan satu tangan yang lain ia gunakan untuk menyeka sudut mata yang berair. Senyum getir menghiasi wajah tampannya.
Andaikan ia dapat mengendalikan rasa cinta yang dia punya. Ia akan memilih pada orang yang tak terikat pernikahan. Sayangnya, cinta yang ia miliki telah datang pada orang dan waktu yang salah.
Surabaya. Di sana, ia akan memulai hidup barunya. Menyibukkan diri dengan bekerja dan mulai menata hatinya kembali.
Ia sadari, jalan hidup masih panjang. Tak ingin berlarut-larut menyesali takdirnya. Hanya pada waktu ia berharap, agar ia dapat memaafkan rasa bersalah yang tak sengaja ia buat.
Pengalaman akan jadi pelajaran dalam kehidupan siapa pun tak terkecuali Farel. Pemuda gagah nan tampan yang sedang patah hati, kecewa dan marah atas semua takdirnya, tetapi semua harus dijalani dengan langkah pasti agar tak melihat lagi kebelakang yang begitu banyak liku.
...***...
Sedangkan di tengah pusat kota, ada sepasang anak manusia yang sedang berlipat-lipat merasakan kebahagiaan. Delfin dengan ditemani istri tercinta tengah mempersiapkan perlengkapan untuk malam penghargaan yang akan diadakan nanti malam.
Di butik Cia, Delfin sedang sedikit berbeda pendapat tentang jas yang akan ia pakai untuk nanti malam. Jika sebelumnya ia tidak pernah risau akan keperluannya, kali ini ia sedikit kewalahan karena Cia sedang memaksakan kehendaknya. Hingga akhirnya istri cantiknya itu menggerutu dan sedikit merajuk.
Delfin keluar butik dan menuju ke mobilnya. Ia akan mengambilkan sesuatu yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Kenapa mukanya asem gitu, Pak."
Suara Bagus membuat raut masam itu semakin masam. "Cia sedang merajuk karena aku nggak pilih kostum yang ia pilih, Gus."
__ADS_1
"Memang kenapa dengan kostum yang dipilih Bu Cia, Pak? Bukankah pilihan orang tercinta itu tak akan pernah salah."
"Bukannya salah, Gus. Hanya saja menurutku tak sesuai konsep nanti malam."
"Mungkin bawaan bayi, kali, Pak."
"Sok, tahu, kamu."
"Oh, soal tema Music Award nanti malam." Bagus mengangguk lalu mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas dasboard. Perlahan jarinya menggulir layar untuk menekan kontak seseorang.
"Mau apa kamu?" tanya Delfin yang menelisik sopirnya seraya mengantongi sesuatu ke dalam sakunya. Delfin bahkan memegang bahu Bagus yang tengah dalam mode panggilan.
"Mau hubungi Ziya, lah, Pak. Dia, kan, orang yang paling bertanggung jawab dalam hal ini."
Delfin termangu mendengar penuturan Bagus. Ya, di saat seperti ini kepiawaian Ziya memang tak ada yang bisa menandingi. Sejak Ziya mengundurkan diri dari manajemen yang menaunginya. Delfin seakan tengah kehilangan sebagian dari raganya. Ada yang harus ia dahulukan dalam hidupnya kali ini. Yakni menjaga perasaan Cia. Karena suasana hati Cia sangat berpengaruh bagi kehamilannya.
"Cukup, Gus. Kamu lupa. Ziya sudah melepaskan tanggung jawabnya beberapa hari yang lalu. Ziya sudah tidak ada di antara kita lagi, Gus." Delfin memegang bahu Bagus. Antara kesal, benci, juga perasaan kehilangan tengah menyelimutinya.
Wajah yang tadinya terlihat bercampur aduk, kini telah berubah. Delfin tersenyum. Dalam hati ia sangat membenarkan ucapan Bagus. Hati dan harinya seakan ada bagian yang hilang. Maafkan bila selama kita bersama, saya pernah menyakiti perasaan kamu, Ziya.
Tanpa Delfin dan Bagus sadari panggilan pada Ziya sudah terhubung dan Ziya telah mendengarkan semuanya. Ziya tak lagi sanggup mendengarkan percakapan mereka selanjutnya. Ia segera menekan tombol merah. Mengakhirinya sebelum Bagus menyadarinya.
Sakitnya masih terasa dan Ziya justru membenci keadaan ini. Ini tidak benar!
Cukup Ziya, kau benar-benar harus menjauh agar hatimu tetap selamat. Jangan membuatnya semakin sakit. Kau harus kembali berbaur dengan orang-orang baru. Dunia baru dan kehidupan baru.
...***...
Malam Akbar Penghargaan Musik Award sudah dibuka sejak sepuluh menit yang lalu. Di atas Mega stage kini menjadi pusat perhatian beberapa tamu undangan. Berbagai persembahan penampilan beberapa artis telah tersaji di atas sana.
Dua ragam nominasi telah dibacakan seiring dengan naiknya nominasi terpilih yang telah mengucapkan beberapa kata pada mereka-mereka yang telah mendukung dan berpengaruh.
Riuh tepuk tangan penonton serta tamu undangan berkali-kali memenuhi arena perhelatan Akbar yang ditunggu-tunggu oleh khalayak umum.
__ADS_1
Pembacaan Nominasi terus disebutkan. Sampai pada pembacaan untuk yang ketiga kalinya, nama Delfin Mahareksa telah dibacakan dan beberapa saat yang lalu baru saja Delfin berdiri untuk kedua kalinya dia menerima tropi.
Meja nomor 10 yang berisikan Delfin, Cia, Pramono dan kedua orang tua Delfin kembali saling berpelukan. Merasakan kebahagiaan berkali-kali atas penghargaan yang diberikan oleh salah satu anggota keluarga mereka.
Dengan mantap, Delfin kembali melangkah. Kali ini dengan Cia yang menyertai langkahnya menuju panggung besar.
Menerima tropi piala dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Cia terus mengulas senyumnya. Sedangkan satu tangan Delfin terus menggenggam tangan kanan Cia.
Delfin terdiam sejenak. Menata perasaannya. Ia memejamkan mata rapat-rapat agar kata-kata kali ini dapat di terima oleh masyarakat dan orang-orang terdekatnya.
"Saya berdiri di sini untuk yang ketiga kalinya pada malam hari ini. Tak akan pernah saya bosan dan lewatkan untuk mengucap syukur pada Tuhan YME. Untuk selanjutnya, berbeda untuk tropi ke tiga saya kali ini. Jika penghargaan pertama dan kedua saya saya berikan pada isteri tercinta beserta calon anak saya dan juga untuk kedua orang tua saya."
"Kali ini, penghargaan ini saya khususkan pada dua sosok seseorang. Namun, kini salah satunya sudah tak lagi ada di sekitar saya. Karena tanpanya saya juga tak mungkin ada di titik ini. Adalah manager saya dan juga teman setia saya, yang selalu mengantarkan saya ke mana dan kapan pun saya membutuhkan mereka dalam satu tahun terakhir ini. Terima kasih pada kalian berdua. Tropi ini untuk kalian." Delfin mengangkat tropi kembali setinggi telinga seolah telah memberikan tropi itu pada Ziya dan Bagus, orang yang telah membersamainya hingga di titik ini.
Delfin menggenggam tangan Cia lebih erat. Wajahnya ia tundukkan agar satu tetes air matanya tak dapat di lihat oleh hadirin maupun kamera yang kini fokus padanya.
Segera Delfin membawa Cia dan memberikan senyum terbaiknya pada istri tercintanya.
Sampai di mejanya, kembali Pram menyambut sepasang suami istri itu dengan haru. Kali ini, Pram benar-benar mengakui Delfin memiliki hati yang tulus pada sang cucu. Ia juga tak lupa pada orang-orang yang berjasa dalam perjalanan karirnya. Sekalipun itu pada manager sekaligus asisten dan juga seorang supir pribadinya.
Sementara di antara ribuan penonton yang hadir. Tengah berdiri seorang wanita yang berbalut jaket warna gelap dengan punggung bergambar Delfin Mahareksa, dengan celana jeans yang membalut kaki jenjangnya. Topi yang menutup kepala serta masker yang menutupi sebagian wajahnya tak membuat orang-orang sekitarnya menyadari siapa dirinya. Ziya hadir di sana. Menyaksikan sang artisnya yang tengah dikelilingi ribuan kebahagiaan.
"Teruslah tersenyum, Delfin. Teruslah berbahagia dan semoga kesuksesan selalu menyertaimu," ucapnya tertelan ramainya bangku penonton yang hadir.
Teruntuk pasangan suami istri, kejujuran dan kepercayaan adalah pondasi awal di dalam biduk rumah tangga, mau sesederhana atau semewah apapun ekomoni keluarga bila pondasinya koyak maka akan dengan cepat tergerus badai, selalu bersyukur dan menikmati setiap proses kehidupan dalam mengarungi mahligai rumah tangga.
Akan bahagia bila kita saling menghargai pasangan satu sama lain, adakalanya mengalah dan adakalanya bertahan, bukan hanya sekedar cinta tapi janji kita kepada sang pemilik kehidupan, seperti halnya matahari yang selalu berjanji akan menerangi semesta.
...~END~...
...Udah ending, Readers. Terima kasih untuk kalian yang selalu setia dan berkenan membaca cerita ini. Semoga cerita eskaer yang lainnya selalu dinanti. Kami minta maaf jika cerita kami masih ada kekurangan. Kami masih terus belajar agar bisa tetap menghibur kalian. Walaupun ini udah ending, besok masih ada bonchap, ya..... ...
...See you in the next novel. Semoga selalu suka karya eskaer. Love you all, 🥰🥰...
__ADS_1