Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Memperburuk Keadaan


__ADS_3

...***...


Farel bergegas mengejar kedua orang tuanya. Melihat kedua punggung yang semakin menjauh ia segera mengeluarkan suara, meski rasanya tercekat di tenggorokan. Ia sudah yakin untuk membicarakan masalah besar ini pada orang tuanya. Cepat atau lambat, mereka harus tahu.


“Ma, Pa,” panggilnya membuat langkah keduanya terhenti. Mereka berbalik menghadap ke arah sang putra. “Ada yang perlu Farel bicarakan. Bisa kembali masuk?”


Sadam dan Arisa memenuhi permintaan anak mereka. Kembali duduk di sofa, menunggu sang putra bicara. Setelah menunggu beberapa saat untuk menenangkan hati, Farel pun mulai merangkai kata untuk ia utarakan pada orang tuanya. Ia tertunduk, merasa tidak mampu menatap wajah kedua orang yang sangat ia hormati dan cintai.


Ia sadar semua yang telah ia lakukan bersama Cia akan membuat orang tuanya kecewa. Akan tetapi, apa pun yang terjadi ia tetap harus segera membicarakan rencana pernikahannya bersama Cia dengan orang tuanya. Apalagi kehamilan Cia semakin hari akan semakin membesar.


Semua kemungkinan terburuk sudah ia perkirakan. Bagaimanapun, ia telah melempar kotoran di wajah orang tuanya. Kemungkinan paling buruk adalah ia dikeluarkan dari kartu keluarga, maka ia akan terima. Itu konsekuensi yang harus ia terima dengan lapang dada. Ia sudah memikirkan masa depannya bersama Cia. Dengan tabungannya, ia akan membangun kerajaan bisnisnya sendiri seandainya yang ia pikirkan terjadi.


“Maaf jika semua tidak berjalan sesuai harapan Mama dan Papa. Tapi Farel benar-benar mencintai Cia. Dan sekarang, Cia tengah hamil anak Farel. Farel akan bertanggung jawab atas kehamilan Cia. Farel akan menikahi Cia setelah ia resmi bercerai dengan suaminya.”


Sebuah tamparan keras mendarat dengan mulus di pipi kiri Farel. Bibirnya terasa robek dan mengeluarkan darah. Ia terima kemarahan dari papanya karena ia sadar, ini semua sebuah kesalahan, tetapi tidak dengan cintanya. Cinta itu hadir begitu saja tanpa bisa ia cegah.


Sang mama menutup mulut dengan kedua tangan. Diikuti kepalanya yang terus menggeleng, mencoba menolak apa yang telah sang buah hati sampaikan. Dada Sadam naik turun menahan gejolak amarah yang tidak lagi bisa dibendung.


“Tidak! Katakan itu tidak benar, Nak. Kamu tidak melakukan hal sejauh itu, kan?” rintih sang mama. Terdengar seperti kesakitan dengan kenyataan yang baru saja didengarnya.


Tidak dapat dipercaya jika putra kesayangannya sudah melakukan dosa yang teramat besar. Bagi Arisa, Farel adalah anak yang baik. Ia percaya jika sang anak tidak akan terjerumus dalam pergaulan bebas sampai meniduri istri orang.


“Maaf,” lirih Farel.


“Bodoh kamu, Farel!” Sadam mengepalkan kedua tangan. Ingin sekali menghajar anaknya. Melampiaskan semua amarah yang tengah bergemuruh mengusik dada, tetapi ia sadar, menghajar Farel hingga babak belur juga tidak akan menyelesaikan masalah.


Air mata jatuh berlinang membasahi pipi yang mulai terlihat kerutan tipis di sana. “Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu? Mama tidak percaya. Kamu bohong, kan, Sayang?” Arisa masih berharap bahwa semua ini hanya kebohongan semata.


“Maaf, Ma. Tapi Farel benar-benar melakukannya,” lirih Farel. Terdengar ada penyesalan di sana, membuat Arisa semakin tergugu.

__ADS_1


“Apa kamu yakin, jika anak itu anak kamu? Bisa jadi itu anak suaminya,” geram Sadam.


“Cia sudah lama tidak melakukan itu dengan suaminya. Terakhir ia melakukan itu bersama Farel.”


Penjelasan Farel membuat dada Sadam dan Arisa semakin sesak. Mereka merasa kecolongan dengan apa yang telah dilakukan Farel. Sadam pikir, Farel dan Cia hanya sebatas sering pergi bersama.


“Farel harap, Mama dan Papa mau memaafkan Farel. Menerima Cia dan calon anak kami dengan lapang dada. Bagaimanapun, dia adalah cucu kalian,” pinta Farel.


Sadam menghembuskan napas dengan kasar. Arisa hanya mampu menangis sambil memegangi dadanya yang semakin sesak. Sadam harus memikirkan jalan ke luar untuk masalah yang pelik ini.


...***...


Pindah dari satu kota ke kota yang lain sudah Delfin lakukan bersama tim-nya. Rasa lelah juga sudah ia rasakan. Begitu juga Ziya. Ia terlihat lebih kurus, wajahnya semakin tirus.


“Kamu makan yang banyak, Zi. Lihat! Berat badanmu semakin berkurang sejak tour ini dilakukan,” ucap Delfin di saat mereka dalam perjalanan ke hotel setelah menyelesaikan pertunjukan di sebuah mall di Surabaya.


“Masa, sih? Pantes celanaku sedikit lebih longgar.” Ziya hanya bisa nyengir melihat perhatian dari Delfin. “Kamu udah hubungi Bu Cia?” tanyanya pada sang artis.


Ziya selalu mengingatkan Delfin untuk selalu memberikan kabar pada istrinya. Tetapi, karena sibuk latihan vokal juga manggung, kadang semua perkataan Ziya terabaikan. Terlebih kelelahan fisik yang mendera membuat Delfin kepayahan. Seperti sekarang, baru saja mereka ngobrol, kini Delfin sudah tertidur pulas. Latihan dance juga menguras energinya.


...***...


Tanpa terasa, satu bulan sudah Delfin bersama tim-nya berkeliling kota. Penjualan album Delfin laku keras. Rasa lelah terbayar sudah dengan kesuksesan yang ada di depan mata.


Nama Delfin banyak dielu-elukan para fans-nya. Selain Delfin, Ziya pun turut menjadi idola baru karena sesekali tampil bersama Delfin membawakan lagu duet mereka. Pasangan Delfin dan Ziya adalah pasangan yang selalu dinanti kehadirannya, hingga ada akun gosip yang menyatakan mereka adalah pasangan serasi yang mampu mendobrak dunia musik Indonesia.


Dering telepon di kala break membuat Ziya gegas mengangkatnya. “Hai, Kak,” sapanya setelah menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.


“Kamu apa kabar?”

__ADS_1


“Ziya baik-baik saja. Kak Arsen apa kabar?”


“Kakak di sini juga baik. Kamu jaga kesehatan di sana. Jangan terlalu lelah. Jangan sampai sakit.”


“Iya. Ziya bakal jaga kesehatan. Kakak hari ini ke panti?” Karena ia harus ikut promo album Delfin, Ziya menitipkan Bu Erna beserta adik-adik panti pada Arsen. Beruntungnya, Arsen sama sekali tidak keberatan.


“Iya. Kamu tenang aja. Mereka semua aman bersama kakak.”


“Sekali lagi makasih, ya, Kak. Maaf Ziya selalu merepotkan.”


“Tidak sama sekali, Zi.”


Obrolan mereka terus berlanjut hingga tanpa disadari tiga puluh menit sudah berlalu, membuat seseorang yang berada di samping Ziya merasa terabaikan. Delfin berdehem, berharap Ziya peka dan segera memutus sambungan teleponnya.


Ada rasa tidak rela hinggap di hati Delfin melihat Ziya begitu dekat dengan lelaki lain. Terlebih Ziya bisa mengobrol santai dan bercanda tanpa beban. Hatinya terasa panas dan sesak. Ziya tertawa, tapi bukan karenanya. Ada sosok lain yang mampu membuat Ziya tertawa lepas. Sedangkan dirinya hanya mampu membebani Ziya dengan semua masalahnya.


Ziya menoleh sekilas ke arah Delfin sebelum mengakhiri obrolannya. “Kamu perlu sesuatu?” tanyanya setelah menyimpan ponsel ke dalam saku celana.


“Aku haus dan tenggorokanku sedikit sakit,” ujarnya. Ada rasa ingin diperhatikan oleh Ziya setelah ia mendengar obrolan Ziya tadi, yang begitu perhatian pada Arsen.


“Aku ambilkan minum dulu juga obatnya. Kamu jangan lupa kirim pesan untuk Bu Cia, atau telepon kalau perlu.”


Delfin mendengus tidak suka. Ziya berlalu begitu saja. Ingin sekali ia kirim pesan untuk istrinya, tetapi ia merasa malas karena jawaban dari Cia tidak sesuai harapan, bahkan kadang terabaikan. Hal itu juga yang membuat Delfin akhirnya malas untuk menghubungi sang istri. Pada akhirnya mereka menjadi jarang komunikasi.


“Sudah telepon Bu Cia?” tanya Ziya setelah kembali pada Delfin sembari menyodorkan segelas air putih dan sebutir obat.


“Malas.”


Ziya menggelengkan kepala melihat tingkah Delfin yang kadang terlihat kekanakan. “Komunikasi itu penting, Fin, untuk sebuah hubungan. Apalagi kamu tengah LDR dengan Bu Cia. Jangan memperburuk keadaan.” Ziya kembali menasihati Delfin.

__ADS_1


...***...



__ADS_2