Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Menebus Kesalahan


__ADS_3


...***...


Tawa Delfin tak henti-hentinya menggema di dalam apartemennya. Sejak pengakuan Ziya beberapa menit tadi, Delfin merasa selama ini ia hidup dikelilingi dengan tipu muslihat. Betapa tidak, setelah Ziya membongkar semua rencananya mendekati Delfin dan merusak rumah tangga sang artis demi masa depan panti asuhan, Ziya rela masuk ke dalam lingkaran permainan yang sudah di sutradarai oleh Kakek Pram.


“Kamu becanda, Zi?” Pertanyaan itu sarat dengan luka. Terlihat dengan jelas dalam manik indah itu bahwa pemiliknya tengah terluka begitu parah. Ia berharap apa yang dikatakan Ziya adalah kebohongan belaka.


“Maaf, tapi itu kenyataannya. Aku benar-benar terpaksa.” Rasa sesal dan sesak bergelung menghantam ulu hati Ziya. Ini sungguh kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.


Delfin kembali termangu, merasa dirinya manusia paling bodoh sedunia. Yang tidak peka dengan insting yang ada di sekitarnya. Ia baru sadar setelah penjelasan panjang lebar yang diutarakan Ziya.


Delfin tidak habis pikir, Kakek Pram sampai melakukan hal sejauh ini guna memisahkan dirinya dengan Cia. Pramono tidak sudi memiliki cucu menantu seperti dirinya. Kini, Delfin berpikir ulang dengan hubungan yang selama ini ia rajut bersama sang istri. Meski awalnya, Delfin tidak ambil pusing dengan restu Kakek Pram, dirinya tetap nekat menikahi Cia tanpa tahu jika selama ini Pram hanya berpura-pura baik di hadapannya. Ternyata di balik perbuatan kakek tua itu, menyimpan sejumlah rencana besar yang membuat rumah tangga yang ia bangun bersama Cia berada di ujung tanduk.


Betapa malang nasibnya saat ini mengingat kehidupan rumah tangganya yang sudah di ambang kehancuran. Sulit bagi dirinya dan Cia bersatu kembali.


"Fin—"


"Pergi!"


Ziya yang mau berusaha menenangkan Delfin langsung diusir.


"Tapi, Fin ...."


"Aku bilang pergi, Ziya! Sebelum aku bertindak kasar kepadamu, pergi!" Delfin membentak Ziya dengan kasar.


Derai air mata mengalir di pipi Ziya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia memang salah. Ziya menuruti apa kata Delfin. Pengakuannya membuat Delfin membencinya. Biarlah, mungkin lebih baik jika seperti itu. Daripada dia semakin terperosok dalam lubang penyesalan.

__ADS_1


Sudah dua jam sejak Ziya meninggalkan apartemen Delfin. Pemilik apartemen itu masih duduk termenung di atas sofa yang berbahan lembut nan empuk. Ia tidak menyangka jika dalang di balik kehancuran rumah tangganya ternyata rencana Kakek Pram yang tidak menyukai dirinya sejak dulu. Terlebih yang membuatnya kecewa, adalah keterlibatan Ziya. Orang yang paling dia percaya.


Namun, Delfin tidak menyalahkan Ziya secara penuh. Karena manajernya itu melakukan hal tersebut dengan terpaksa. Ziya melakukannya demi kehidupan anak-anak panti asuhan yang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun di sudut hatinya terbesit rasa marah dan kecewa. Namun, sepenuhnya ia yakin jika Ziya terpaksa menerima tawaran tersebut karena kondisi yang terdesak dan tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran Kakek Pram.


“Seandainya aku sadar diri. Seharusnya aku tidak memaksakan diri, mungkin ini semua nggak akan terjadi. Kenapa rasanya begitu sakit? Ini sungguh teramat sakit.” Bulir bening itu merembas dari sudut mata tanpa ia sadari.


Sejenak Delfin mengingat pembicaraan mamanya dengan Farah kemarin. Apa yang dikatakan Farah memang benar adanya. Selama ini ia bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sang istri agar tidak dipandang sebelah mata oleh Pram. Namun, semua hasil kerja kerasnya tidak satu pun yang mendapat pengakuan dari kakek Cia itu.


Pram menutup mata seolah-olah Delfin tidak sebanding dengan Cia yang lahir dari sendok emas. Beda dengan dirinya yang harus berjuang jatuh bangun dulu membangun karir agar bisa mencapai puncak popularitas. Dengan demikian, Delfin bisa membuktikan kepada Pramono bahwa ia sanggup menghidupi Cia dan membahagiakannya.


Sejak awal berpacaran dengan Cia yang notabene selalu menghabiskan uang setiap harinya, Delfin merasa harus bekerja keras agar bisa sebanding dengan Cia. Maka dari itu, sejak lulus SMA Delfin berjuang ikut audisi dan casting ke sana ke mari dengan modal fisik nan rupawan dan suara yang merdu. Delfin akhirnya bisa masuk ke salah satu PH yang ada di ibu kota.


Semua pengorbanan yang Delfin lakukan semata-mata demi membahagiakan Cia. Karena sudah cinta mati kepada sang kekasih. Sebagai laki-laki, Delfin ingin membuktikan jika dirinyalah yang berhak dan pantas mendampingi Cia. Maka dari itu, Delfin berusaha keras agar tidak dipandang sebelah mata oleh Pram. Karena ia tidak ingin harga dirinya terinjak-injak hanya karena ia tidak mampu memenuhi kebutuhan Cia yang selama ini glamor. Delfin tentu punya harga diri yang tinggi. Jadi sebisa mungkin Delfin memenuhi kebutuhan Cia asalkan gadis pujaannya selalu tersenyum dan tetap berada di sisinya.


Namun, sekarang semuanya tidak berguna lagi. Cia sudah mengkhianati pernikahan suci mereka. Dengan mengandung anak lain dari laki-laki lain yang memicu pada kehancuran rumah tangga yang ia bina selama dua tahun.


“Semuanya sia-sia belaka. Karena kenyataannya, aku tak pernah sebanding dengan kamu, Ci.”


...*** ...


"Sial! Walaupun kenyataannya ini adalah rencana kakek. Tetap saja Cia tidak akan kembali kepadaku. Dia sudah hamil anak orang lain!" Delfin memukul dinding kamar mandi di bawah guyuran air shower.


Selama berada di dalam kamar mandi, Delfin semakin yakin jika gugatan cerai yang diajukan Cia tidak akan ia cabut. Delfin merasa Cia sudah salah besar. Buktinya bayi yang ada di dalam kandungan Cia adalah anak Farel. Tunggu sampai Cia melahirkan. Hakim pasti akan langsung menjatuhkan palu untuk gugatannya sekarang, karena perempuan hamil tidak bisa diceraikan. Di sini yang bersalah dan mengkhianati pernikahan adalah Cia. Sehingga tidak ada alasan bagi Delfin untuk mempertahankan rumah tangganya.


...*** ...


Delfin masih meringkuk di pembaringannya saat suara bel apartemen berbunyi berulang kali. Ia tidak tidur, hanya saja terlalu malas untuk melakukan sesuatu. Ia mengingat semua perjuangannya untuk Cia. Jatuh bangun ia ikhlas asal senyum bahagia tersungging di bibir sang istri. Meski pada akhirnya kini semua sia-sia.

__ADS_1


Dengan langkah gontai ia ke luar dari kamar untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, Delfin termangu melihat sosok yang berdiri di depannya.


“Pergi!” usir Delfin.


“Fin, aku—“


“Jangan membuat aku semakin marah, Zi!” bentaknya.


“Aku sungguh menyesal, Fin.”


Ya. Delfin pun dapat melihat penyesalan itu dalam diri Ziya, tetapi amarah dan rasa kecewa masih menguasai hati, membuat ia menolak kehadiran Ziya.


“Sesalmu tidak berarti apa-apa, Zi. Karena kenyataannya sebentar lagi aku dan Cia akan berpisah.”


Ziya menatap sendu wajah tampan yang tengah terluka hatinya itu. Hatinya pun turut merasa teriris. Ternyata menyakitkan melihat orang yang kita cintai terluka. Apalagi ia terluka karena ulahnya. “Aku akan coba jelaskan pada Bu Cia.”


Delfin menatap manik Ziya dengan tajam. “Lalu, apa yang kamu harapkan dengan menjelaskan semua pada Cia? Karena kenyataannya, Cia tengah hamil anak Farel.”


Delfin dan Ziya kembali terdiam. Dalam hati Ziya membenarkan apa yang dikatakan oleh Delfin. Andai sekarang ia jelaskan pada Cia, itu tak akan merubah apa pun.


“Selamat karena kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik. Kamu berhasil, Zi, meski tidak sepenuhnya itu salah kamu.” Kalimat itu benar-benar menghujam hati Ziya. Membuat dadanya terasa sesak seketika.


“Jangan membuat aku semakin membencimu. Jadi, jangan tunjukkan wajahmu dulu di hadapanku sebelum aku memaafkanmu. Pergilah, Zi!”


Delfin menutup pintu apartemennya. Meninggalkan sosok Ziya yang kini luruh ke lantai karena digelayuti rasa sesal dan bersalah.


“Aku akan tetap berusaha menjelaskan semua pada Bu Cia. Meski aku nggak tahu akhirnya akan seperti apa, setidaknya itu yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku.”

__ADS_1


...***...



__ADS_2