
...***...
Setelah panggilan telepon ditutup sepihak oleh Pramono, Ziya semakin gelisah. Rasa bersalah semakin merajai hatinya, tetapi ancaman Pramono tidak bisa dianggap main-main. Jika Ziya berani melanggar perjanjian mereka, dalam sekejap Pramono pasti akan mengambil alih panti asuhan. Itu berarti Ziya dan semua penghuni panti harus bersiap angkat kaki dari tempat itu. Lalu, kemana Ziya akan membawa mereka pergi, jika ia nekad melawan Pramono.
Ziya sudah bersiap untuk tidur di atas ranjang kesayangannya. Namun, sudah hampir dua jam berlalu ia masih terjaga. Pikirannya masih tertuju pada sang artis yang kini telah membuatnya tergoda.
Seharusnya Ziya senang, karena sebentar lagi tugasnya untuk menghancurkan rumah tangga Delfin dan Cia akan berhasil. Namun, nyatanya Ziya semakin dirundung rasa bersalah. Ia tak sanggup membayangkan akan semarah apa Delfin, jika mengetahui Ziya adalah penyebab kehancuran rumah tangganya bersama Cia. Tak tahu lagi harus mengadu kepada siapa, Ziya hanya bisa pasrah. Ia sudah tidak punya pilihan lain, Ziya tak ingin egois.
"Aku sudah berusaha, Fin, tapi Tuan Pramono tetap tidak mau mendengar penjelasanku. Maafkan aku, Fin, maafkan aku!" lirih Ziya, air mata yang ia tahan tak bisa lagi dibendung. Ziya menangis, menyesali perbuatannya. Entah berapa lama Ziya menangis, hingga akhirnya ia terlelap.
...***...
Sudah seminggu berlalu, sejak Delfin dan Farel berkelahi di kediaman Pramono. Cia kembali tak pernah bertemu dengan Delfin. Perang dingin kembali terjadi di antara mereka. Cia menganggap Delfin tak mau memperjuangkannya lagi, karena selama seminggu ini Delfin juga tak pernah menghubunginya. Sedangkan Delfin yang masih kecewa dengan sikap Cia yang lebih membela Farel, memilih untuk menghindari Cia untuk sementara. Delfin takut jika tak bisa mengendalikan dirinya ketika bertemu dengan Cia. Pun dengan ucapan Cia yang melarangnya untuk menemui atau menjemput istrinya tersebut.
Ia tak mau salah dalam mengambil keputusan. Walau bagaimanapun ia masih mencintai Cia, ia masih ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Cia. Mungkin ini adalah ujian rumah tangga yang harus ia lalui bersama Cia
"Delfin, aku kangen sama kamu. Kenapa kamu nggak mencoba menemui aku? Apakah cintamu benar-benar sudah berubah untukku? Semudah itukah kamu melupakan aku, Fin. Kamu mengabaikan aku." Cia mengusap air mata yang membasahi pipinya, ia dekap bingkai foto yang menampilkan foto dirinya dan Delfin saat pernikahan mereka.
__ADS_1
Sementara itu, di ruang tengah keluarga Pramono terlihat dua orang pria beda generasi sedang duduk berhadapan. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu hal yang serius.
"Farel, aku tak mau berbasa-basi, aku tahu kamu mencintai cucuku. Tapi bukan berarti kamu bisa berbuat di luar batas hingga membuat Cia hamil. Kamu tahu Cia masih bersuami, seharusnya kamu bisa sedikit bersabar untuk melakukan itu," tegas Pramono saat berhadapan dengan Farel.
"M-maksud, Tuan?" Farel tercengang mendengar penuturan Pramono, tetapi tak dipungkiri ada sedikit rasa bahagia yang ia rasakan. Bayangan kejadian malam itu kembali berputar dalam ingatannya. Meskipun ia tak bisa mengingat dengan jelas apa yang telah ia lakukan dengan Cia malam itu, karena semua itu terjadi di luar kendalinya.
"Cia hamil anakmu, bicaralah dengannya. Selesaikan urusan kalian secepatnya. Yakinkan dia kalau kamu pantas bersanding dengannya. Aku harap kamu bisa mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Kamu tahu Cia adalah pewaris tunggal keluarga Lubis, jangan sampai kejadian ini membuat nama besar keluar Lubis tercemar. Aku yakin kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan," tutur Pramono lagi.
"Maafkan saya Tuan, saya sudah lancang berani menyentuh Cia. Saya mengaku salah, saya pasti bertanggung jawab, Tuan, karena saya juga sangat mencintai Cia," ucap Farel dengan tertunduk, ia takut Pramono murka karena ia telah berani menjamah cucu kesayangannya.
Setelah perbincangan empat mata dengan Pramono selesai, Farel segera beranjak menemui Cia. Ia tak sabar ingin mendengar kabar bahagia itu dari mulut Cia sendiri.
...***...
Hampir 15 menit berlalu, mereka hanya saling diam. Farel yang tak tega melihat keadaan Cia, berpindah duduk di samping Cia. Ia genggam kedua jemari Cia.
"Maaf." Kata itulah yang pertama keluar dari bibir manis Farel. Tak ada tanggapan, Cia masih diam. Tak lama kemudian air mata kembali membasahi pipi mulus Cia. Dengan lembut Farel membawa Cia ke dalam pelukannya, ia usap bahu Cia yang masih menangis sesenggukan.
"Maafkan aku, Cia. Aku tak menyangka akan seperti ini jadinya. Kumohon jangan sesali yang sudah terjadi, aku pasti bertanggung jawab. Dia adalah darah dagingku, mungkin ini adalah takdir Tuhan agar kita bisa bersama. Aku sangat menyayangimu, Cia. Aku bahagia ada dia di dalam rahimmu." Farel menjeda ucapannya, ia mengurai pelukannya. Ia usap perut Cia yang masih rata dengan lembut
__ADS_1
"Bagaimana dengan Delfin? Dia masih suamiku, Rel. Aku pun masih belum yakin kalau janin yang aku kandung ini adalah anakmu, aku masih mencintai Delfin, Rel," ucap Cia saat tangisnya mulai mereda.
"Cia, dengarkan aku! Aku yakin janin dalam kandunganmu ini adalah anakku. Meski kita tanpa sengaja melakukan itu, tapi aku yakin dia anakku, Cia. Buka matamu, Cia. Delfin sudah mengkhianatimu, dia sudah bahagia bersama manajer barunya. Mereka sudah mengkhianati kepercayaanmu, terimalah kenyataan itu! Cia, sudah saatnya kamu menemukan kebahagiaanmu. Bersamaku, bersama anak kita. Aku berjanji akan setia sama kamu, aku akan membahagiakanmu dan anak kita. Kita akan membina rumah tangga yang bahagia bersama. Tinggalkan Delfin, kumohon segera urus perceraian kalian! Agar kamu bisa fokus dengan kehamilanmu," tutur Farel penuh penekanan.
"Tidak semudah itu, Farel. Apa yang harus aku katakan pada Delfin, aku tak mungkin mengatakan kalau aku mengandung anakmu. Jangan menyudutkan aku, Rel,'' tolak Cia.
"Kamu tak perlu mengatakan kehamilanmu Cia, tinggal bilang saja kalian sudah tak sejalan. Beres 'kan? Kumohon Cia, berpisahlah dengan Delfin! Mungkin janin yang ada dalam rahimmu adalah jalan yang Tuhan berikan, agar kita bisa bersatu," ucap Farel meyakinkan Cia.
"Beri aku waktu, Rel. Aku akan pikirkan semuanya. Aku tak ingin menyesal dengan keputusanku, sendiri. Bersabarlah," ucap Cia.
Cia mulai gamang, di satu sisi ia masih mengharapkan Delfin. Namun, nyatanya sampai saat ini Delfin tak pernah berusaha memperbaiki hubungan mereka. Delfin seolah menggantungkan nasib pernikahan mereka. Sedangkan di sisi lain, Farel begitu memuja Cia. Farel selalu memberi perhatian padanya. Apalagi setelah tahu kehamilannya, terlihat jelas Farel begitu bahagia dengan kabar itu. Namun dalam hati Cia, ia masih mengharapkan kalau janin yang ada dalam rahimnya saat ini adalah buah cintanya dengan Delfin.
"Cia, aku sangat mencintaimu. Kumohon pikirkan lagi permintaanku. Berpisahlah dengan Delfin, dan sambut kebahagiaan barumu bersamaku!" pinta Farel lagi. Ia kembali membawa Cia ke dalam pelukannya. Farel tahu, perbuatannya tidak bisa dibenarkan. Namun, apapun akan ia lakukan demi Cia. Apalagi sekarang ia tahu, Cia mengandung buah hati mereka.
...***...
...Jangan lupa dukungannya. Klik like dan kasih komentar yang banyak, ya. Mamacih 🥰...
__ADS_1