
...***...
Kedatangan Cia dan Pram di apartemen Delfin membuat semuanya kembali seperti semula. Delfin kembali jatuh cinta kepada Cia saat mengetahui janin yang ada dalam perut Cia adalah anaknya. Saat itu juga, Delfin kembali meminta restu pada Kakek Pram untuk rujuk dengan cucunya. Kakek Pram pun tanpa banyak kata langsung menyetujuinya.
Cia begitu senang saat mendengar sang kakek langsung merestui mereka. Namun, Pram melarang Delfin dan Cia untuk tinggal di apartemen saat mereka nanti kembali bersama. Pram meminta pada cucunya untuk tinggal serumah dengannya, agar bisa memantau keadaan Cia saat Delfin tak bisa menemaninya. Delfin pun setuju. Cia memang butuh pengawasan extra saat hamil. Apalagi saat ini Delfin masih disibukkan dengan tour album keliling, dalam negeri maupun luar negeri. Cia akan lebih aman jika tinggal bersama kakeknya nanti.
...***...
Setelah melakukan persiapan selama beberapa hari, akhirnya hari ini Delfin akan kembali mengucap ijab kabul. Mereka mengadakan acara secara tertutup dan tak ingin dihadiri oleh siapa pun. Cukup penghulu dan beberapa saksi sebagai orang penting dalam acara pernikahan. Bahkan media pun tak ada yang tahu tentang kabar tersebut, sebab kabar perceraian Delfin pun tidak sampai tercium ke publik.
Saat ini, Cia tengah dirias oleh salah satu MUA yang sering datang ke butiknya. "Kek, apa memang Cia harus berdandan seperti ini? Cia malu, Kek, karena ini yang kedua kalinya," tutur Cia pada sang Kakek yang berdiri di belakangnya.
"Sudah selesai, Mbak Cia. Saya tinggal keluar dulu, ya," ucap periasnya.
Cia menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Mbak."
Setelah kepergian perias, Pram pun mendekati Cia. "Cia, kakek paham. Jika dulu kakek begitu membenci pernikahan kalian, saat ini justru kakek sangat mendukung. Jadi, sekarang kakek tidak ingin mengulang kesalahan itu lagi. Walaupun memang tidak akan ada pesta besar untuk merayakan pernikahan kalian," ucap Pram sambil mengelus rambut Cia yang sudah tersanggul dengan model twisted bride.
"Kamu cucu kakek satu-satunya. Kali ini kakek benar-benar ingin melihat kamu bahagia," imbuh Pram.
Ada rasa tak rela saat ia harus kembali melepas cucunya pada lelaki lain. Namun, rasa bahagia jauh lebih mendominasi saat melihat begitu bahagianya Cia saat ini. Harta berharga yang ia miliki satu-satunya adalah Cia. Seluruh hidupnya ia pertaruhkan untuk cucunya. Ia hanya ingin memberikan kebahagiaan untuk Cia.
__ADS_1
"Cia akan tetap sayang sama Kakek, kok," ucap Cia lalu segera berdiri dan menghambur ke dalam pelukan kakeknya. "Cia sangat berterima kasih sama Kakek. Sudah merawat Cia, dan menyayangi Cia selama ini."
"Sudah, jangan menangis. Jangan sampai riasanmu luntur dan biaya riasnya jadi nambah dua kali lipat," canda Pram sambil melerai pelukannya.
Tak lama kemudian, Cia pun menuruni tangga bersama Pram. Lelaki tua itu tak pernah melepas genggaman tangannya pada Cia. Walaupun sesekali tangannya ia gunakan untuk mengusap air matanya.
Cia nampak anggun menggunakan kebaya putih, walaupun dengan riasan yang natural. Lipstik warna nude dengan sedikit glossy membuatnya terlihat lebih fresh.
Sepanjang ia berjalan, senyumnya tak pernah memudar. Pandangan matanya tak pernah berhenti menatap sosok lelaki yang sudah menunggunya di kursi tempat ijab qobul.
Lelaki berjas hitam dengan wajah tampan dan senyum yang akan membuat siapa saja yang melihat akan merasa bangga memilikinya. Delfin, lelaki yang Cia cintai sejak dulu, sekarang, hingga nanti. Lelaki yang sudah mengobrak-abrik dunianya. Lelaki kuat yang sudah ia hancurkan hatinya, tetapi masih mau menerimanya.
Delfin pun tak berhenti memandang Cia, dari saat wanita itu keluar dari kamarnya. Wanita anggun yang saat ini masih ia cintai, walaupun hampir saja goyah. Namun, akhirnya ia kembali pulang pada pemilik hatinya. Hatinya tahu ke mana ia harus pulang.
Saat sampai di dekat Delfin, Pram melepas genggaman tangannya, dan membantu Cia untuk duduk di dekat Delfin.
"Aku keliatan jelek, ya?" tanya Cia.
"Kamu selalu cantik, Sayang," bisik Delfin di telinga Cia. Sedangkan Cia hanya menunduk menyembunyikan rasa malunya. Ia tidak menyangka akan kembali dipersunting oleh suaminya.
Pram segera duduk di depan Delfin, kemudian segera menjabat tangan Delfin. Dengan lantang dan sekali tarikan napas, Delfin kembali mengucap ijab qobul setelah diawali oleh Pram.
Setelah prosesi ijab qobul dan semua orang kembali pulang, Pram mengajak Delfin untuk pergi ke taman belakang. Meninggalkan Cia yang sedang istirahat di kamar.
__ADS_1
"Fin ...," ucap Pram mulai mengawali.
"Iya, Kek?"
"Cia itu harta saya. Bahkan saya rela menukarkan nyawa saya untuk menyelamatkannya. Dulu, saya begitu marah ketika melihat Cia begitu kerasnya mempertahankan kamu. Dia selalu membanggakan kamu. Mungkin saat itu saya cemburu, karena waktu Cia dengan saya akan berkurang. Ditambah karir kamu yang masih biasa saja dan belum setenar sekarang. Saya selalu khawatir dengan masa depan Cia. Saya merawatnya tanpa ada kurang apa pun. Semua sudah tersedia di depannya tanpa ia harus mengeluarkan keringat. Lalu, apa saya rela melepas dan melihatnya harus berjuang untuk hidup? Kamu tentu paham maksud saya."
Delfin melirik Pram. Mata lelaki tua itu nampak berkaca-kaca. Tentu, Delfin paham bagaimana perasaannya. Ia pun mungkin akan bersikap yang sama seperti apa yang Pram lakukan. Namun, ia juga tidak membenarkan perbuatan Pram yang menjebak Cia dan membohongi dirinya.
Delfin menggenggam tangan Pram, tetapi tidak ada penolakkan dari lelaki tua itu. "Delfin paham perasaan Kakek. Delfin mengerti bagaimana kekhawatiran Kakek. Maka dari itu, selama ini Delfin berjuang untuk Cia. Delfin harus buktikan pada Kakek bahwa Delfin bisa membahagiakan Cia. Kakek tenang saja, Delfin akan menjaga Cia. Delfin tidak akan membiarkan air mata Cia jatuh walaupun hanya setetes saja. Delfin akan berjuang untuk Cia. Karena setelah menjadi suaminya, Delfin yang akan menggantikan Kakek untuk menjaga Cia. Kakek percayakan semuanya pada Delfin."
Pram pun tersenyum. Ia menepuk pelan bahu Delfin, kemudian membawa tubuh Delfin ke dalam pelukannya. "Saya percaya sama kamu. Saya yakin suatu saat kamu mampu menggantikan posisi saya untuk membahagiakan Cia."
Sesaat keduanya hanyut dalam suasana haru, hingga Pram mengurai pelukannya terlebih dahulu.
"Oh, iya. Tehnya diminum, Fin. Ini salah satu teh terbaik untukmu merilekskan tubuh. Dan ingat, walaupun kamu sudah menjadi suami Cia lagi, kamu hati-hati saat kalian berhubungan nanti! Kamu perlu konsultasi dokter. Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan cucu dan cicit saya." Delfin tentu tahu apa yang dimaksudkan oleh kakeknya itu. Senyum tipis tersemat di bibirnya sedikit malu.
"Siap, Kek. Delfin akan laksanakan perintah Kakek asalkan bisa terus bersama Cia."
"Nggak usah banyak gaya kamu. Buktikan saja semua omongan kamu. Lelaki zaman sekarang itu terlalu banyak janji, tapi minim bukti," pesan Pram pada Delfin.
...***...
__ADS_1