
...***...
Beberapa saat setelah Delfin dan Ziya meninggalkan Dea seorang diri di lobi Star Production dengan perasaan kesal, Delfin dan Ziya pun menuju ruang make up sebelum akhirnya masuk ke sebuah ruangan di mana sudah banyak wartawan yang menunggunya. Dalam jumpa persnya, Delfin menjelaskan ia sangat bersyukur, karena debut pertamanya mampu menggemparkan dunia permusikan di tanah air, dan mampu menduduki chart number one tangga lagu teratas MTV Asia. Serta rencana Delfin untuk melakukan tour konser keliling Indonesia dan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura dalam waktu dekat hingga beberapa bulan ke depan.
Konferensi pers yang dilakukan Delfin di Star Production pun berjalan dengan lancar. Delfin selalu bersama Ziya, orang yang selalu berada di sampingnya saat ini, sebagai manajer tentunya. Delfin cukup puas bekerja bersama Ziya, karena Ziya melakukan pekerjaannya dengan sempurna tanpa kesalahan sekecil apa pun. Delfin salut dengan cara kerja Ziya yang cekatan dan profesional.
“Selamat, ya, Pak, atas kesuksesan Bapak,” ucap Zia memberi selamat kepada Delfin.
“Terima kasih Ziya, tapi ini belum seberapa. Aku ingin menjadi penyanyi yang lebih sukses dari ini, agar aku bisa membahagiakan Cia,” ucap Delfin yakin sehingga membuat kening Ziya mengeryit bingung dengan ucapan Delfin. Pasalnya, apa yang Ziya tahu dan yakini tentang Delfin adalah Delfin bukanlah pria setia.
“Maksud Bapak?” tanya Ziya pada Delfin.
“Ya. Semua yang aku lakukan saat ini, semata-mata hanya ingin membuat Cia bahagia, agar aku bisa memenuhi semua keinginannya tanpa kekurangan suatu apa pun,” ucap Delfin kali ini dengan senyumnya yang meneduhkan. Terdengar tulus dan tidak ada kebohongan.
“Kenapa aku merasa jika sepertinya Pak Delfin benar-benar mencintai Bu Cia, ya? Apa Tuan Pram sudah salah dalam menilai Pak Delfin? Ah, tapi sepertinya itu nggak mungkin. Mana ada seorang kakek yang ingin keluarga cucunya berantakan? Mungkin aja pak Delfin hanya menutupi kebusukannya saja, ” batin Zia.
“Zi, kok, kamu bengong? Kamu nggak pa-pa, kan?” tanya Delfin yang melihat Ziya hanya terdiam.
“Ah, nggak pa-pa, kok, Pak.” Ziya terkejut karena tiba-tiba Delfin menepuk bahunya. Namun, setelah itu Ziya berusaha bersikap normal kembali.
__ADS_1
“Bu Cia pasti beruntung sekali memiliki suami seperti Bapak,” jawab Ziya di sela kekikukannya.
Delfin yang mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Ziya pun tersenyum. Namun, belum sempat Delfin membalas perkataan Ziya. Delfin dan Ziya kembali dikejutkan oleh kehadiran wanita cantik dan seksi. Siapa lagi kalau bukan Dea Arsyad, model sekaligus penyanyi berusia 25 tahun yang bernaung di satu agensi yang sama dengan Delfin. Gadis yang sudah lama menaruh hati pada Delfin, sejak awal bertemu di dunia keartisan.
“Hai, Delfin. Selamat, ya, atas pencapaian yang sudah kamu dapat saat ini.” Dea yang baru saja datang tiba-tiba bergelayut manja di lengan Delfin. Delfin pun mulai risih dengan perlakuan Dea. Ziya yang menyadari jika Delfin mulai tidak nyaman akan kehadiran Dea, mulai melakukan tugasnya sebagai manager yang memang harus menjauhkan Delfin dari rasa tidak nyaman bersama Dea, serta dari fans fanatiknya.
“Maaf, Bu, sepertinya Pak Delfin tidak nyaman dengan sikap Ibu. Jadi, bisa minta tolong menjaga jarak dari Pak Delfin?” Ziya berusaha menjauhkan Dea yang selalu menempel seperti perangko pada Delfin.
“Ba, bu, ba, bu, emang elo pikir gue ibu lo?" ketus Dea, lalu mengadu pada Delfin, "Delfin, ini siapa, sih? Resek banget,” tunjuk Dea kesal pada Ziya.
“Dia manager baru aku.” Delfin menjawab sambil menurunkan tangan Dea dengan perlahan dari lengannya, karena ia takut akan membuat Dea tersinggung. Delfin pun takut jika ada wartawan atau heaters yang melihat adegan tersebut, akan mencoreng citra dirinya yang sudah susah payah ia bangun saat ini.
“Oh, manager baru, toh. Aku pikir dia saudara kamu.” Dea yang kesal, menatap remeh pada Ziya.
“Oh, iya, Fin, Ini ada hadiah spesial dari aku buat kamu,” Dea menyodorkan paper bag berisi parfum dengan merek terkenal yang ia beli saat ia pergi berlibur ke Paris dua minggu yang lalu.
“Makasih, ya, Dea. Seharusnya kamu nggak perlu repot-repot.” Delfin menerima paper bag dari Dea sambil tersenyum.
“Aku nggak repot, kok, Fin. Aku memang sengaja beli parfum ini buat kamu. Karena aku tau kamu suka banget sama parfum,” ucap Dea dengan genit seraya kembali bergelayut manja di lengan Delfin lagi. Hal itu membuat Delfin benar-benar risih.
“Oke, thank you untuk parfumnya, tapi maaf, sekarang kami harus pergi karena ada ada satu hal yang harus kami selesaikan.” Ziya mengangkat tangan Delfin yang memegang paper bag pemberian Dea tepat di hadapan Dea, kemudian berlalu pergi meninggalkan Dea sambil menarik tangan Delfin dengan segera. Hal itu membuat Dea yang awalnya tersenyum senang berubah 180 derajat, dengan menampilkan wajah marah dan kesal dalam satu waktu. Ia tidak bisa terima melihat Ziya menarik tangan Delfin.
__ADS_1
“Eh, maaf, Pak. Saya sudah lancang menarik tangan Bapak barusan,” ucap Ziya sambil melepaskan tangan Delfin. Dia merasa gugup dan canggung.
“Nggak pa-pa, Ziya. Saya malah berterima kasih, karena dengan begitu saya bisa menjauh dari Dea. Karena saya nggak mau popularitas saya menurun karena tingkah Dea tadi yang selalu bergelayut dengan saya. Kamu, kan, tahu ada banyak wartawan yang ada di sekitar aku. Takutnya ada gosip yang aneh tentang aku dan Dea. Aku nggak mau rumah tanggaku dengan Cia berantakan gara-gara gosip tak berdasar,” jelas Delfin menerbitkan senyuman termanis yang dia punya. Dari kejauhan, Dea masih bisa melihat kelakuan mereka berdua. Perempuan itu mengikuti ke mana mereka pergi.
“Ini buat kamu.” Setelah agak menjauh dari tempat Dea berada, Delfin menyodorkan paper bag pemberian Dea kepada Ziya.
“Loh, ini beneran buat saya, Pak? Ini, kan, hadiah dari Dea Arsyad buat Bapak?" tanya Ziya bingung.
“Iya, beneran. Saya sudah punya banyak di rumah. Lagian saya nggak mau kalau Cia sampai marah karena saya menerima pemberian dari wanita lain,” ucap Delfin yakin.
“Tapi, kan, ini harganya mahal, Pak. Gaji saya aja nggak akan cukup buat beli parfum ini.” Ziya mencoba menolak secara halus, tetapi Delfin tetap memaksa.
“Udah, ambil aja! Atau, kamu bisa menganggap kalau parfum itu adalah bonus dari saya, karena kerja keras kamu yang sudah membantu saya selama dua minggu ini, terutama kamu udah berhasil menjauhkan saya dari Dea. Tapi kalau kamu tetap menolak, kamu bisa memberikan parfum itu ke Bagus,” tegas Delfin sambil berlalu, meninggalkan Ziya yang terdiam dengan berjuta pertanyaan tentang sifat Delfin selama ini. Sikap dan sifat Delfin yang dikatakan Tuan Pram benar-benar berbeda dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Namun, tak jauh di belakang, di dekat lorong yang di lewati Delfin dan Ziya sebelumnya. Ada Dea yang dari tadi mengikuti mereka. Kedua tangannya mengepal erat, karena geram melihat Delfin yang malah memberikan hadiah pemberiannya kepada Ziya.
“Gadis brengsek! Berani-beraninya dia berada dekat dengan Delfinku, dan mengambil perhatiannya.” Dea menggertak dengan giginya yang bergemelatuk kesal.
“Kita lihat saja, seberapa lama kamu akan bertahan di sisi Delfin." Dea berkata lagi dengan sinis. Tatapan matanya seperti pedang yang menghunus pada Ziya. Lalu raut wajahnya tiba-tiba berubah ramah kala melihat wajah Delfin. "Tunggu aku, ya, Delfin sayang. Aku akan menjauhkanmu dari gadis sialan itu,” gumam Dea dengan senyuman smirk-nya.
...***...
__ADS_1