
...***...
Ruangan yang tadinya tegang dan hening kini sedikit mengharu biru. Betapa tidak. Alangkah senang hati seorang Ziya yang statusnya diangkat sebagai salah satu cucu oleh pengusaha terkenal Agung Lubis Pramono. Inilah akhir dari semua pengorbanannya untuk panti asuhan "Kasih Bunda" tempat ternyaman buat semua adik-adik Ziya.
Senyum mengembang di sudut bibir tidak pernah surut dari mantan manajer Delfin tersebut. Ia sangat berterima kasih kepada Pram atas kehormatan yang diberikan kepadanya. Pram seperti malaikat tanpa sayap baginya. Serta anak-anak penghuni panti lainnya. Berkat kejujurannya kepada Delfin dengan menceritakan semua rencana Pram, akhirnya sikap yang dulu ia lakoni sebagai perusak hubungan sang artis akhirnya berbuah manis setelah ia berhenti dan mundur dari pekerjaannya.
...***...
Hujan di ujung senja menambah resah hati pemuda tampan yang sedang patah hati sepatah-patahnya. Dengan tatapan kosong ke depan ia pandangi tamanan di belakang teras rumah orang tuanya. Begitu banyak jenis tanaman bunga yang ditanam sang mama. Arisa selalu telaten merawatnya.
"Seperti inikah rasanya patah hati? Sehina inikah rasa cinta yang diawali pengkhianatan? Tapi aku tetap bersyukur karena bisa mengenalmu dengan baik, Cia. Walaupun harus berakhir dengan kecewa." Farel bermonolog diiringi embusan napasnya yang terlontar kasar ke udara.
Dari dalam rumah, sang mama melihat keresahan yang tampak dari raut wajah anak tunggalnya. Ia sengaja membawa nampan berisi dua cangkir teh pahit dan sepiring bolu kukus yang masih panas buatan Arisa. Ia pun mendekati Farel guna menghibur putranya.
"Pamali melamun menjelang Magrib. Yang ada nanti kamu kesambet setan-setan yang sedang berkeliaran,” kata Arisa sambil meletakan nampan di meja kayu kecil. Wanita paruh baya itu pun mengambil tempat di sebelah kursi putranya. Di mana tempat tersebut sering Farel jadikan untuk menenangkan pikiran. Mendengar perkataan dari wanita yang melahirkannya, Farel pun sedikit terperanjat dengan kedatangan sang mama.
"Lagi mikirin apa, sih?" tanya Arisa sambil menyodorkan secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap ke udara.
Farel tersenyum kecut, sambil menerima cangkir teh yang disodorkan Arisa. Setelah mengucapkan terima kasih dia menyeruput sedikit cairan berwarna hijau terang lalu meletakkan cangkir tersebut di atas meja. Sejenak Farel menarik napas. "Aku masih belum bisa melupakan Cia, Ma. Salahkah cintaku itu, Ma?" Pandangan Farel kembali menerawang ke depan. Ia teringat momen yang dihabiskan bersama Cia.
Arisa tersenyum tipis. Ia mengerti perasaan putranya tersebut. "Cinta tak pernah salah, Nak. Hanya terkadang hati yang salah dalam menentukan tempat dan waktu," jawabnya terdengar teduh.
"Rasanya aku ingin pergi jauh dan melupakan semua ini, Ma. Aku ingin menjauhi sumber rasa sakit ini." Farel menjawab dengan suasana hatinya yang begitu sesak.
Sebagai orang tua, Arisa sangat paham betul kondisi sang anak. Ia pun tidak mengekang membiarkan Farel tetap tinggal di sini. Jika memang keputusan Farel pergi dari Jakarta adalah keputusan yang tepat, maka ia pun akan mendukung penuh pilihan Farel.
“Mama tidak melarangmu. Silakan jika itu pilihan terbaik. Pergilah, Nak. Kalau dengan begitu bisa mengobati luka di hatimu. Tapi sebelum kamu pergi cobalah meminta maaf kepada Delfin dan Cia. Bagaimanapun kamu punya salah kepada mereka."
__ADS_1
Farel mendengus. Kembali mengambil cangkir teh yang masih ada isinya, lalu meminumnya. "Aku begitu percaya kalau Cia pun mencintaiku, Ma. Namun, kenyataannya ...." Farel tak mampu melanjutkan kalimatnya. Terlalu sakit untuk mengakui jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Cia tak pernah mencintaimu, Nak. Ia hanya menghargai dan menghormati kamu saja, sebab kamu begitu baik padanya. Kamu selalu ada saat ia membutuhkan kehadiran suaminya yang selalu sibuk. Tapi sekarang mereka sudah berbahagia dan bersatu lagi, tapi kamu masih saja merenungin takdir cintamu. Bangkitlah, Nak! Tunjukkan kalau kamu mampu untuk berdiri tegak walau harga dirimu sudah diremehkan,
"Mama dan papa sebagai orang tua kamu sebenarnya begitu sakit hati, anak kami diperlakukan seperti itu. Hati orang tua mana yang akan diam saja bila buah hatinya dimanfaatkan oleh ambisi seseorang. Tapi di sini kamu juga salah, Nak. Kamu harus menerima dengan lapang dada." Arisa menangis terisak, mengingat begitu terpuruknya Farel di saat dia tahu dirinya hanya digunakan sebagai alat untuk mempermudah rencana licik Tuan Pram.
Diusapnya punggung tangan mamanya dengan penuh sayang, "Maafkan Farel, ya, Ma. Mama menangis sebab ulahku. Maafkan aku, Ma. Maaf …." Sambil menundukkan kepala Farel pun ikut terisak. Isak penuh pilu dan menyayat kalbu.
...***...
Setelah bercerita semua tentang rasa dihatinya dan menerima saran dari mama Arisa, Farel pun melangkah dengan pasti akan menuju kediaman Agung Lubis Pramono ,ia ingin pergi jauh dengan tanpa membawa dendam dan rasa sakit hati.
"Pagi, Bi Lea," sapa Farel pada asisten rumah tangga Tuan Pram, yang membukakan pintu utama rumah mewah itu.
"Pagi juga, Den Farel. Bagaimana kabarnya sudah lama, ya, nggak main ke sini?” kata bi Lea sambil berjalan beriringan ke arah ruang tamu dan mempersilakan Farel duduk di sofa empuk nan mahal itu.
"Baik, Bi. Oh, iya, orang-orang pada ke mana, Bi, kok tumben sepi?" tanya Farel sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah megah itu.
“Cia sama Delfin, Bik.”
“Oh, baik. Bibi sampaikan pada mereka perihal kedatangan Aden. Oh, iya, Den Farel mau minum apa?”
"Seperti biasa aja, Bi. Jangan terlalu manis, ya, karena saya sudah manis,” gurau Farel.
“Nanti diabetes, ya, Den?” Lea pun menimpali gurauan Farel. Sontak hal itu membuat Farel tertawa.
“Bener, tahu aja si Bibik. Terima kasih sebelumnya, Bi Lea cantik,” goda Farel seperti biasa, membuat Bi Lea tersenyum sembari menggelengkan kepala.
Lea berlalu dari hadapan Farel. Setelah memberi tahu Delfin dan Cia, Lea bergegas membuat minum untuk Farel.
__ADS_1
Sambil menunggu minuman yang dibuat Lea juga Delfin dan Cia turun, Farel melihat sekeliling ruangan luas itu. Poto pujaan hatinya terpajang indah di sana. Ada juga poto pernikahan Cia dan Delfin. Sakit itu pasti, tapi ia harus ikhlas melepaskannya. Berharap akan ada sosok Cia lain di masa depan yang bisa mengisi relung hatinya yang kosong.
Beriringan Bi Lea datang membawa secangkir minuman dan setoples cookies, tuan rumah turun menemui tamu di pagi hari ini.
"Hai,” sapa Farel melihat Delfin dan Cia yang tengah menghampirinya, “Sorry, aku ganggu pagi-pagi gini."
"Hai juga," balas Delfin dan Cia.
Tanpa Farel duga, Pram pun menghampirinya.
“Pagi, Kek,” sapanya. Farel menghampiri kakek Pram dan mencium tangan pria tua itu.
Setelah sedikit berbasa-basi, Farel menyampaikan maksud dan tujuannya berkunjung ke rumah keluarga Lubis. "Maafkan atas semua kesalahan dan khilaf yang kulakukan,” ucapnya.
“Aku juga minta maaf untuk semua kesalahpahaman ini,” balas Delfin.
“Aku titip Cia padamu, Fin. Aku percaya kamu laki-laki setia dan penuh cinta. Selalu luangkan waktu sesibuk apa pun dirimu untuk wanitamu dan anak-anakmu kelak,” tutur Farel.
"Hem, itu pasti. Aku sudah belajar dari kesalahan yang telah aku buat. Aku tidak akan menyia-nyiakan wanita yang aku cintai untuk kedua kalinya,” terang Delfin.
"Baguslah. Oh, ya, aku ada rencana melanjutkan usaha papa yang ada di luar kota, maka dari itu aku ingin pergi tanpa membawa dendam dan marah. Aku berdoa semoga kalian bahagia selalu dan menjadi orang tua yang bijak.”
Mereka pun terlibat obrolan ringan dan berlanjut ke meja makan untuk sarapan. Pagi ini suasana terasa penuh kedamaian dan terbebas dari rasa bersalah. Mereka pun bisa memulai kembali kehidupan baru dengan baik.
"Falencia Lubis Pramono, berbahagialah dengan kehidupanmu yang baru. Jadilah pendamping Delfin sampai maut memisahkan,” pesan Farel pada Cia sebelum ia meninggalkan kediaman keluarga Lubis.
Itulah do'a terbaik Farel untuk wanita yang sangat dia cintai. “Bukanlah perpisahan yang aku tangisi tapi pertemuan kita lah yang aku sesali, tetapi, aku tetap berterima kasih untuk semua pelajaran hidup yang telah aku dapatkan darimu, Cia,” monolog Farel di depan rumah megah itu sebelum melajukan kendaraannya dan melanjutkan semua rencana barunya.
...***...
__ADS_1