Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Surat Perjanjian


__ADS_3


...***...


Pagi ini, Ziya sudah bersiap untuk bertemu Cia. Ia sudah berniat untuk menjelaskan semua tentang perjanjian antara dirinya dan Kakek Pramono, sebab selalu dihantui rasa bersalah atas perceraian Delfin dan Cia. Apalagi saat ia mendengar kabar tentang rencana Cia dan Farel. Ziya semakin tidak ingin terjebak oleh rasa bersalah itu sendiri.


Setelah berpamitan dengan Bu Erna, Ziya segera memesan kendaraan lewat aplikasi untuk mengantarnya sampai tujuan. Cia sudah meminta izin pada Delfin jika hari ini ia tidak bisa menemani kegiatan Delfin, dengan alasan urusan panti.


"Cia, maafkan aku. Aku akan tebus rasa bersalahku terhadap kalian dengan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Tunggu, Cia!" batin Ziya.


...*** ...


Rumah Cia nampak sepi hari ini. Mungkin karena Kakek Pram sudah berangkat ke kantornya. Saat ini, Ziya sedang menunggu kedatangan Cia yang sebelumnya sudah dipanggil oleh Bi Lea


Dulu, Ziya akan datang ke sini untuk kepentingannya dengan Kakek Pram. Sekarang ia duduk di sofa ruang tamu, menunggu seorang wanita yang sangat ingin ia temui sejak kejujurannya di depan Delfin. Wanita yang sudah ia hancurkan hati dan rumah tangganya.


Mengingat hal itu, tepat di sudut hati Ziya kembali terusik. Selama menjalani tugas dari Kakek Pram, Ziya memang tak pernah begitu nyata menyatakan perasaannya. Namun, secara tidak langsung ia sudah menghancurkan cinta yang mereka bangun. Ia yang menyebabkan semua ini terjadi. Jika bukan karena panti, ia pun enggan untuk melakukan semuanya. Bukan untuk membela diri, tetapi itulah kenyataannya.


Setelah beberapa menit menunggu, Cia pun menuruni tangga secara perlahan dengan dituntun Bi Lea. "Non Cia, saya ke belakang dulu," pamit Bi Lea setelah membantu Cia duduk di sofa.


Pertemuan yang sangat tidak Cia inginkan. Atmosfer yang tercipta antara keduanya begitu menegangkan. Cia yang tidak ingin berbicara pada Ziya dan Ziya yang terlihat ragu untuk mengutarakannya.


"Bu Cia ...." Suara lirih Ziya terdengar begitu menyakitkan di telinga Cia. Entah mengapa ia masih tidak rela jika Ziya bersama Delfin. Bahkan, hanya mendengar suaranya saja, Cia enggan. Namun, saat Bi Lea memberitahu alasan Ziya ingin menemuinya, Cia akhirnya menyetujui permintaan Ziya.


"Sebelumnya saya minta maaf, kalau kedatangan saya membuat Bu Cia kurang nyaman. Saya ingin mengutarakan kejujuran yang selama ini saya dan Kakek Pram simpan," ungkap Ziya.

__ADS_1


Mendengar nama kakeknya disebut, Ziya langsung menoleh ke arah Cia. Mengapa nama kakeknya dibawa? Apa yang Ziya dan kakeknya sembunyikan?


"Kakek? Ada apa dengan kakek?" tanya Cia.


"Saya dan Delfin tidak ada hubungan apa-apa. Mungkin, Bu Cia akan menganggap saya berbohong, iu hak Bu Cia. Tapi, saya sudah berusaha jujur. Di sini, saya hanya ingin mengungkapkan satu kejujuran lagi yang menyangkut Kakek Pram. Alasan mengapa saya berada di sisi Delfin dan menjadi manajernya, karena campur tangan Kakek Pram."


Cia masih dibuat bingung dengan ucapan Ziya. Ingin ia menanyakan apa maksud kehadirannya di sisi Delfin karena Kakek Pram? Namun, ia mengurungkan niatannya untuk bertanya. Ia menunggu apa yang selanjutnya dikatakan oleh Ziya.


"Saya tau, pasti Bu Cia bingung, mengapa dalam hal ini Kakek Pram turut andil dalam keberadaan saya di sisi Delfin."


Sebelum melanjutkan ucapannya, Ziya menarik napasnya dalam untuk menenangkannya. "Saya lahir dan dibesarkan di sebuah panti asuhan. Beberapa bulan yang lalu, semua penghuni panti terpaksa harus pergi karena masalah hak milik. Saat itu Kakek Pram datang membawa sebuah penawaran."


"Penawaran?" tanya Cia sinis.


"Ya. Kakek Pram menawarkan kerja sama agar panti asuhan kembali menjadi milik kami. Tentu tidak mungkin untuk Kakek Pram memberikan penawaran tanpa syarat sebagai jaminan. Dan jaminan itu adalah memisahkan Bu Cia dari Delfin."


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan Ziya. Membuat wanita itu hampir saja terjatuh dari sofa. Sedangkan Cia sudah berdiri tepat di depan Ziya setelah berhasil mendaratkan tangannya.


Rasa panas menjalar ke seluruh wajah Ziya terutama pipi kirinya. Namun, ia tak melawan. Rasa sakit ini tak sebanding dengan rasa penyesalan yang nantinya akan ia alami jika kenyataan ini tidak diungkapkan.


"Sekarang kamu menyalahkan Kakek? Setelah kamu merusak hubunganku dengan Delfin, kamu mencoba merusak hubunganku dengan Kakekku sendiri? Dan setelah ini mungkin kamu akan mendapatkan harta dari Kakek? Dasar kamu memang wanita yang tidak tau diri! Kamu datang jauh-jauh ke sini hanya untuk mengatakan omongan nggak berguna ini? Ck!" Dengan amarah Cia membentak Ziya yang masih tertelungkup di atas sofa.


Bi Lea yang mendengar suara keras Cia, memilih untuk menelpon Kakek Pram untuk kedua kalinya. Ya, semenjak kedatangan Ziya, ia sudah memberi kabar pada Kakek Pram, sebab ia takut terjadi sesuatu yang buruk.


"Lebih baik kamu pulang, Zi! Nggak ada gunanya kamu di sini! Omongan kamu sampah semua!"

__ADS_1


Bi Lea pun datang untuk menenangkan Cia. "Non, sabar. Ada bayi yang harus Non Cia jaga. Ingat, Non!" ucap Bi Lea. "Mbak Ziya sebaiknya pulang dulu. Kasihan Non Cia, Mbak. Dia sedang hamil."


Ziya akhirnya berdiri dari duduknya dengan memegang pipinya yang memerah. "Baik, saya akan pulang. Namun sebelum itu, saya ingin memberikan ini." Ziya mengeluarkan satu amplop besar warna coklat dari dalam tasnya. Ia pun menaruh salinan surat perjanjiannya dengan Kakek Pram di atas amplop coklat tersebut.


"Saya mohon, setelah saya keluar dari rumah ini, Bu Cia membaca surat ini agar Bu Cia percaya apa yang saya ungkapkan barusan. Sebab ini akan menjadi pertimbangan Bu Cia untuk melangkah bersama Farel. Dan di dalam amplop coklat ini, adalah uang yang pernah kakek Pram berikan pada saya karena adanya perjanjian ini."


Ziya pun melangkah keluar dari rumah Cia. Ia sudah berusaha jujur dan mengembalikan semua uang Kakek Pram. Kewajibannya untuk mengutarakan kebenaran sudah ia lakukan.


...*** ...


Setelah kepergian Ziya, Cia pun membuka amplop coklat yang diberikan oleh Cia. Ada beberapa bendel uang nominal seratus ribu yang ia tak tahu jumlahnya. Kemudian ia beralih mengambil selembar kertas putih yang sebelumnya di taruh di atas amplop coklat.


Awalnya ia ragu untuk membacanya. "Apa perlu Bi Lea bacakan, Non?" tanya Bi Lea saat melihat majikannya nampak ragu.


Cia menggeleng. "Tidak perlu, Bi. Biar aku yang membacanya sendiri," ucapnya.


Cia membaca perlahan isi surat yang diberikan Ziya. Ia pun tak bisa menyembunyikan kekagetannya saat mengetahui kebenaran dari ucapan Ziya.


Lembar surat perjanjian yang awalnya dipegang Cia perlahan jatuh di pangkuannya. Entah siapa yang harus ia percaya kali ini. Bahkan, kakeknya sendiri adalah penyebab perceraiannya dengan Delfin.


...***...



...Kasih terus dukungan kalian, ya. Jangan lupa like dan komentar di tiap bab 🥰...

__ADS_1


.


__ADS_2