
Diva benar-benar merasa marah, karena sudah hampir puluhan kali menelfon tetap saja para anak buah Josep tidak mengangkat panggilan tersebut..
Hingga beberapa menit kemudian, Josep di buat tercengang karena tiba-tiba saja nomor handphone milik anak buah nya telah tidak aktif hanya beberapa detik saja..
Josep langsung membuang handphone milik nya ke atas ranjang, sambil menjerit marah...
"Bangsat.... kenapa tiba-tiba nomor mereka tidak aktif lagi, bahkan aku sudah tidak bisa menghubungi nomor handphone mereka semua, sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan di luar sana,tidak mungkin jika para preman ku gagal melakukan misi yang telah aku perintahkan"
Teriak Josep kesal membuat Diva langsung memasang wajah jelek nya..
"Jadi benar jika para anak buah mu telah gagal Josep,... aku sungguh kecewa dengan kemampuan mu itu Josep"
Teriak Diva yang tak kalah kecewa, dia mulai berjalan menuju pintu kamar, dan dengan cepat Josep memegang tangan Diva agar wanita itu menghentikan langkah nya...
"Jangan pergi sayang..., kau harus percaya kepada ku, jika aku mampu menghabisi Arimbi, dia hanya lah wanita lemah yang tidak memiliki harta apa pun, jadi tentu saja saat ini Arimbi hanya sendiri tidak ada yang bisa melindungi dirinya"
Ucap Josep mencoba merayu Diva,
Diva yang awal nya marah pun langsung merasa percaya dengan perkataan Josep, sehingga dia mulai membalikkan tubuh nya kembali menghadap Josep berdiri...
"Apakah benar yang kau ucapkan ini Josep? apakah kau masih bisa aku percaya saat ini? "
"Tentu saja sayang, kau harus mempercayai semua perkataan ku, karena aku akan melakukan apapun yang kau inginkan"
"Baiklah... kali ini aku akan mencoba mempercayai mu lagi, oya, sekarang juga kau kirim para anak buah mu untuk mencari kelima preman yang kau perintahkan untuk menghabiskan Arimbi, aku yakin mereka pasti tidak mengerjakan pekerjaan nya dengan baik"
"Iya... baiklah sayang, aku akan mengutus anak buah ku yang lain untuk mencari keberadaan mereka"
Kata Josep dengan tersenyum senang, dan dia langsung naik ke atas ranjang untuk mengambil Handphone yang telah dia lempar...
__ADS_1
****
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan saat ini Arimbi bersama kekasih nya Bara, sedang menghabiskan waktu berdua mereka...
Arimbi tertawa lucu, saat mendengar candaan receh yang Bara ucapkan untuk dirinya...
Membuat Arimbi mulai tertawa sedikit terbahak, dia mencoba menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh para tetangganya, jangan sampai pembicaraan asik nya akan mengganggu orang lain
"Sayang, sudah jangan bercanda lagi dengan ku, aku sungguh tidak kuat mendengar nya"
Ucap Arimbi...
"Iya, baiklah... tapi kau jangan terlalu serius juga sayang, oya apakah ibu Sumi sudah tidur? "
"Iya seperti nya sudah, dia mengatakan jika sudah sangat mengantuk, oya Bara, kira kira bagaimana dengan keadaan papa ku setelah kepergian ku dari rumah ku sendiri, apakah mereka akan memperlakukan papa dengan baik? aku takut jika Diva sampai mencelakai papa ku"
Ucap Arimbi yang mengingat kembali dengan papa nya...
"Apakah itu juga penyebab nya sehingga mereka menginginkan aku mati, agar papa tidak memiliki pewaris lagi? "
Tanya Arimbi menatap mata Bara dengan lekat..
"Kau benar Arimbi.... dan sekarang kita harus melawan semua perbuatan mereka kepada mu, aku akan melakukan sesuatu agar perusahaan papa mu bisa menjadi milik mu"
"Apakah kau sedang bercanda Bara...! memang nya bagaimana cara nya agar itu semua bisa terjadi, sedang kan kau tidak pernah masuk kedalam perusahaan papaku, apakah kau memiliki orang dalam di kantor papa ku? "
"Hahaha...... jangan menatap seperti itu Arimbi....! sekarang kau tenang lah, jangan terlalu banyak berfikir, tetap menjadi Arimbi yang baik dan menurut kepada ibu Sumi,"
Ucap Bara mengelus kepala Arimbi, membuat Arimbi mengernyit kan kening nya menatap tidak yakin kepada kekasih nya tersebut ...
__ADS_1
"Maaf Bara... jika aku telah mengatakan ini, bukan maksud ku ingin menyepelekan keberanian mu, tapi....mereka berdua bukan lah tandingan mu Bara, aku takut memasukkan mu kedalam permasalahan ku ini, aku takut jika kau dalam bahaya"
"Iya... aku mengerti dengan maksud mu itu Arimbi, aku tahu jika kau pasti meragukan kemampuan ku, karena aku hanya lah seorang pria miskin yang bekerja sebagai tukang ojol, tapi... ada hal lain yang tidak kau ketahui tentang kemampuan ku Arimbi, suatu saat nanti pasti kau akan mengetahui nya.. "
Kata Bara dengan penuh teka teki membuat Arimbi merasa pusing dengan perkataan dari pria tampan tersebut...
Arimbi langsung diam tidak mau menanggapi nya, dia takut jika sampai membuat Bara menjadi tersinggung dengan perkataan nya,
Semoga saja Bara bisa mengalahkan kedua wanita ular licik itu, karena jika sampai gagal maka Bara pasti akan dalam keadaan bahaya..
"Ya Tuhan... lindungi lah kekasih ku, berikan lah dia kekuatan agar bisa mengalahkan kedua ular licik itu, aku tahu jika Bara bukan lah tandingan mereka berdua, karena Bara tidak tahu menahu tentang kehidupan mereka, maaf jika aku sedikit meragu kan mu Bara.. tapi sungguh aku hanya ingin hidup tenang dengan mu, tanpa ada nya permusuhan "
Gumam Arimbi di dalam hati nya, sambil memperhatikan wajah Bara dari arah samping..
Jujur Arimbi sebenarnya tidak terlalu menggilai harta, karena dia hanya ingin hidup tenang bersama pria yang dia cintai..
Tapi... di dalam hati Arimbi juga tidak rela jika harta milik kedua orang tua nya harus jatuh ke tangan manusia licik seperti Diva dan mama Lina..
Tepat pukul 10 lewat, Bara sudah berpamitan dari rumah ibu Sumi, dia meninggal kan sang kekasih di dalam rumah tersebut..
Dan kini tujuan Bara adalah menuju ke gedung kosong tempat penyanderaan para tahanan..
Dia akan ikut menginterogasi para preman tersebut agar bisa mengetahui siapa dalang di balik semua ini...
"Kau akan mati di tangan ku Diva, dan aku tidak akan melepaskan mu"
Ucap Bara sambil melajukan motor milik nya..
Bara membelah keheningan malam dengan kencang, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan para preman tersebut..
__ADS_1
Hingga hampir satu jam lama nya, akhirnya Bara telah tiba di sebuah gedung kosong yang di jaga ketat oleh para bodyguard milik nya...