Perahu Apung

Perahu Apung
01


__ADS_3

...Siapa Yang Datang...


...****************...


Saat malam yang tidak biasa merubah rasa yang ada dalam diriku. Rasaku semakin terputus-putus oleh stigma antara iya dan tidak. Mau menjawab atau menghindar adalah dua rasa yang bertentangan dalam diriku. Tapi apa dayaku, aku harus pulang untuk menyambut intan itu.


Rindu adalah gadis yang imut yang datang dari Makassar sampai kesebuah pulau kecil diujung selatan tepatnya pulau Karumpa. Dalam rangka penyelesaian studinya dia tiba dengan kapal Phinisi milik Bugis Makassar.


Dia tinggal dirumah kecilku bersama kedua orang tuaku termasuk aku. Hebat memang, aku menyebutnya sebagai wanita yang paling cantik juga berpakaian menarik. Bagaimana tidak penampilannya selama ini belum pernah aku lihat ada wanita dikampungku yang seperti dia.


Dia di bawa oleh Kepala Desa langsung menuju rumahku untuk sementara ini, dia tinggal bersama kami selama studi dikampungku. Saat itu aku masih berada dipantai bersama teman-teman menikmati suasana malam. Cahaya bulan yang menyinari laut menembus relung tenang dasar laut. Pasir yang berkilau-kilau seperti bintang menambah keceriaan di malam itu. Disana, pasir berbaring memercikan cahaya putihnya nan indah seperti bidadari.


Yang benar saja, teman-temanku masih sibuknya bermain gitar melupakan dunia dan wanita bahkan ada yang memukul gendang, ada yang menyanyi, ada juga yang berjoged bak lupa siapa diri kami malam itu.


Datang jemputan dari rumah. Anak tetangga yang mendatangiku, dia memanggilku untuk pulang kerumah sebentar saja. Ical, namanya !.


"Eden, dirumahmu ada Kepala Desa bersama rombongan dari kota entah mereka siapa ?. Aku disuruh oleh Ibumu untuk memanggilmu pulang kerumah !" Katanya sebentar saja.


"Cepat, Eden ! Kalau tidak pulang sekarang kamu akan menyesalinya karena kamu tidak akan melihat kecantikan wanita itu malam ini."


Kata cantik gitu. Pemuda dikampungku kalau mendengar sebutan wanita cantik mereka akan berlomba untuk pergi melihatnya.


"Yoi Cal, kasitahu Mamaku sebentar lagi aku nyusul. Disini, masih ada yang ingin aku selesaikan. Bilangin begitu Mamah ya, Cal."


"Kamu pasti akan nyesal Den. Kapan lagi kamu bisa melihat cewek secantik dia, yang datang dari kota. Putih bersinar seperti cahaya bulan malam ini. Disini, kamu hanya melihat bulan dari kejauhan kalau kamu pulang, sekarang hmm...! Kamu akan melihat bulan lebih dekat."


"Ah anak kecil, kamu tahu apa ?. Wanita itu sama Cal. Tidak ada yang cantik dan tidak ada yang sempurna. Dan jika memang wanita itu secantik bulan dilangit sana, kukasi uang."

__ADS_1


Aku pamit pada teman-temanku yang masih asyik memainkan gitar dan gendang seadanya itu.


"Cal, apa betul yang kamu katakan tadi ?."


"Eden, tidakkah kau lihat kapal Phinisi yang berlabuh di dermaga sana, yang dipenuhi dengan banyaknya lampu yang menerangi sekitar termasuk ikan-ikan, cumi-cumi yang ada di laut, menari mendekati kapal itu. Kamu malah tidak ingin melihat gadis itu yang datang dari kota, cantik juga terang kulitnya. Bersih baru dilihat dari jauh, mata sudah nampak terbuka lebar karena sinar kulitnya. Untung kau ! Dia mau tinggal dirumahmu !."


"Anak kecil, kamu ini tau banyak juga urusan wanita. Belajar dimana kau tentang wanita ?. Aku kalah sama kamu yang masih kecil sudah tau mana kulit putih mana kulit hitam. Kepala kau yang hitam itu karena tersengat matahari setiap hari, gara-gara banyak main dilaut."


Sambil berjalan menuju rumah, kami berdua bersendawa mengenai wanita kota itu.


"Cal, kamu pernah dengar tidak nama kapal Phinisi yang Nakhoda dan ABK kapalnya semua adalah wanita. Aku pernah mendengar nama kapal itu Cal, tapi dulu. Waktu aku masih kecil, kira-kira usiaku saat itu, seperti kamu."


"Kak Eden, jangan dulu cerita kapal atau apa ?. Cepatan saja jalannya karena dirumah, Mamah, dan Kepala Desa serta wanita cantik itu, menunggumu disana !. Hmm..., kamu rugi jika dia sampai mau tinggal dirumahnya orang lain. Aku pengen, dia tinggal di rumahku Kak, Eden."


"Anak kecil, kamu tau juga ya urusan perhatian sama wanita ?. Orang tua dulu bilang, anak-anak yang belum cukup umur yang matanya jelalatan, otaknya nakal, dia tidak akan tumbuh besar sepertiku. Mau, kamu jadi anak kecil terus tidak besar-besar ?."


"Tidak maulah ! Kalau kecil terus, tidak besar-besar, siapa yang mau menikah denganku nanti ?."


"Cal, kamu saja yang kesana ! Kalau Mamah bertanya dimana Eden, bilangin kamu tidak menemukanku. Ya...! Bilangin begitu Mamaku, Cal."


"Kak Eden, kamu mau ajarin aku berbohong ya ? Tidak boleh begitu, Eden. Kalau tidak mau kesana bilang saja tidak mau. Jangan pakai menyuruhku untuk berbohong, Kak. Kan tidak baik itu_"


"Bibi Jahe, Eden disini !. Dia tidak mau kesitu, katanya takut sama Kepala Desa."


"Palamu tuh yang takut kepala Desa. Tidak Mah, aku akan kesitu."


Mendengar laporan Ical ke Mamah, sehingga membuat gadis kota itu sedikit tertawa. Mimik wajahnya semanis gula.

__ADS_1


Aku menuju mereka bahkan semakin dekat aku nampak memperhatikan dengan mencuri-curi pandang. Agak takut sih sebenarnya jangan sampai ketahuan sama si gadis kota itu.


Aduh ! Ternyata Kepala Desa yang memperhatikanku. Dia mengedipkan matanya padaku, mengisyaratkan jangan, kalau ketahuan bahaya itu.


Andainya gadis kota ini menjadi pacarku mungkin aku tidak makan dua hari untuk merayakan kesyukuranku pada Tuhan.


Dalam perbincangan hangat itu, aku yang tetap diam yang hanya sesekali menjawab pertanyaan mereka. Kali ini Kepala Desa langsung yang bertanya padaku "Eden, kamu setuju tidak kalau Tamu yang datang dari jauh ini, sementara waktu tinggal dirumah kalian ?."


Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan itu. Apakah mungkin Kepala Desa sudah rabun bahkan dia tidak melihat kalau rumah kami ini kecil juga sempit. Mana cukup untuk Tamu yang enam orang ini.


"PakDe, jangan tanya aku, coba tanya Mamaku. Rumah kami ini kecil. Mana mungkin bisa menampung mereka yang datang dan berjumlah berapa orang ini." Kami bercakap dalam bahasa daerah yang tidak mereka mengerti, jawabku pada PakDe.


Sesekali aku melihat kearah wanita itu. Dia sangat begitu cantik. Apakah mungkin mataku yang salah melihat atau Ical yang berbohong padaku.


Mencoba untuk mencubit kulit lengan tanganku ternyata sakit. Melihat lagi kearahnya nampak bulan bersinar tepat di depanku. Memang tidak rugi aku memenuhi panggilan Mamah. Biasanya kalau lagi main gitaran sama teman dipanggil juga makan pasti aku banyak alasan agar bisa berlama-lama untuk pulang.


Ini mungkin adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku. Sebelum imajinasi ku melayang melampaui pandangan ku sendiri.


Melamun sedikit membayangkan ada sentuhan rasa yang menyentuhku . Ini karena menghayal jadinya Kepala Desa saat berbicara padaku aku tidak memperhatikannya.


"Eden, kamu kenapa ?. Jangan melamun gitu ?. Aku tanya malah diam saja."


"Ohh oh. Iya... iya..., apa, apa ?."


"Begini ini kalau menghayal. Jawab cepat kalau tidak bisa, biar aku carikan rumah untuk gadis ini. Tidak semua yang akan tinggal disini. Temannya cuma dua orang saja yang mau tinggal disini, dia sama itu."


"Boleh kalau gitu tapi tahukan kalau rumah kami ini kecil. Tidurnya entar, pasti tidak akan nyenyak."

__ADS_1


Dia baru menyahut sedari tadi hanya diam saja "Asal nyaman !" Katanya.


Aduh bagaimana dia bisa nyaman tidur di rumah kecil begini. Di kota mungkin dia tidak pernah melihat model rumah seperti rumah kami. Tidak apalah, yang penting aku bisa kenal dengannya.


__ADS_2