
...Fatal...
...*****...
Penyelesaian tak pernah datang diawal masalah. Jika penyesalan datang di awal masalah, tentu Eden tak akan merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi.
Ia lalu kembali ke mobilnya tanpa harapan lagi. Terlihat dari caranya merefleksikan perkataannya sendiri.
"Aku minta maaf, Rindu !" Ini bukan keinginanku, aku hanya tak habis mikir lalu larut dalam keterbelahan batinku sendiri hingga meluapkan nya pada wanita yang tidak aku cintai.
Kukira, kamu tidak akan menemuiku dalam urusan keresahan ini. Kalau aku tau kamu akan datang menemuiku, aku akan membawamu malam ini pergi bersamaku kekampung halamanku. Kita berdua akan menikah disana, dikampungku, kita hanya membutuhkan sedikit pengorbanan untuk menyatukan hubungan kita untuk selamanya.
Ini kedua kalinya kita berpisah ditempat yang sama diwaktu yang berbeda. Rindu, kembalilah ! Jangan membawa masalah ini sendiri kedalam hidupmu.
Ini bukan sesuatu yang harus kita pisahkan untuk selamanya. Aku dan kamu pasti akan tersiksa dengan kondisi ini.
Jujur, aku sudah tak bisa lagi hidup dengan beban yang begitu menyiksaku. Akan lebih baik jika aku pergi dari Makassar, dan menciptakan kehidupan yang baru daripada aku tinggal disini tapi tidak menemukan kebahagiaan yang aku cari.
"Seharusnya kamu bahagia, Pak" kata Ayu padanya. "Aku sudah memberikan yang aku jaga selama ini hanya untukmu. "Sekarang Bapak justru ingin pergi meninggalkan kota Makassar, setidaknya bawa aku, Pak jika ingin meninggalkan kota Makassar."
"Pak...!" Jangan diam saja !." Suara Ayu agak membesar kepada Eden. Namun, penyesalan yang Eden rasakan sekaan mencekik lehernya.
"Pak...!" Jawab !."
"Ayu, tolong !" Jangan tambahkan lagi beban kedalam pikiranku. "Aku hanya ingin pergi dari Makassar, aku tidak ingin siapa-siapa ikut denganku, termasuk kamu. "Kumohon Ayu, lupakan lah yang baru saja terjadi diantara kita barusan, toh aku belum terlalu begitu melihatnya. "Hanya merasakan yang tidak aku lihat, apa ruginya ?."
"Sungguh ! "Bapak mengatakan tidak ada ruginya. "Lalu apa yang Bapak sentuh dariku, itu bukan barang mainan yang bisa seenaknya orang lain bisa sentuh. "Aku hanya memberikannya pada laki-laki yang aku cintai, setidaknya, bertanggung jawablah agar aku tidak dirugikan."
Perdebatan Ayu dan Eden di dalam mobilnya begitu elok. Ayu yang merasa dirugikan tidak tinggal diam apalagi sampai membiarkan Eden pergi begitu saja sebelum ia dinikahi. Sementara Eden tetap mempertahankan keinginan nya yang ingin pergi dari Makassar.
__ADS_1
"Apa kamu bilang ?" Aku harus bertanggung jawab !. "Tidak !" Aku kira, apa yang sudah kita lakukan adalah kehendak kita masing-masing. "Aku tidak pernah memaksamu untuk melakukannya denganku. "Lagian, aku tidak mencintaimu, kamu pahami itu, Yu...!" Jadi jangan menambah bebanku lagi. "Rindu yang barusan melihat kita, adalah korban dari kebodohan kita berdua. "Seharusnya, dari awal kamu kerja denganku, kamu menjaga pakaianmu, tapi apa ? kamu malah tampil lebih dari yang aku lihat. " Siapa coba yang tidak tergoda dengan melihat penampilanmu seperti itu."
Plaaak...! Telapak tangan Ayu langsung mendarat di pipinya Eden. "Kurang ajar !" Pantasan Rindu meninggalkanmu. "Ternyata, kamu hanya ingin bahagia tapi lupa membahagiakan orang lain terutama wanita yang mencintaimu."
"Mengapa kamu menamparku ?" Aku akan memecatmu dari pekerjaan." Dengan tatapan mata yang marah, Eden ingin membalas tamparan itu. "Turun kau dari dalam mobilku !" Gara-gara kamu hingga aku harus berpisah dengan Rindu."
"Oww....!" Okelah !" Aku akan turun tapi ingat, besok atau malam ini, kamu akan mendapatkan balasannya dariku. "Jangan bilang, setelah ini, kamu akan merasa aman, tidak !" Makassar ini Coy. "Seperti air mataku yang turun malam ini maka seperti itu yang akan keluar dari matamu. "Baru kali ini, aku mendapatkan seorang laki-laki pengecut sepertimu, yang hanya mau merasakan kenikmatan dari wanita, dan setelah itu melupakannya dalam sesaat."
"Jadi kamu mengancam ku ?" Aku tidak takut !" Di dunia ini, tidak ada yang perlu aku takuti. "Aku hanya takut jika aku tidak menikahi Rindu. "Ancaman mu padaku, tidak membuatku khawatir. "Sekarang kamu turun dari dalam mobilku, jika mau ambil sisa gajimu maka datanglah ke rumahku besok."
Ayu pun turun dari dalam mobilnya Eden dengan keadaan kecewa. Rindu mungkin juga kecewa karena telah melihat kekasihnya bermesraan didalam mobil dengan wanita lain. Tapi, kekecewaan itu, tidak begitu sakit ketimbang yang Ayu rasakan.
Terlihat mobilnya Eden telah berjalan meninggalkan Ayu di dermaga. Eden hanya membuka kaca mobilnya lalu menjatuhkan jaketnya yang tertinggal didalam mobilnya.
"Jaketmu !." Katanya lalu berlalu.
Dengan kemarahan yang membara, Ayu lalu menelepon Kakaknya yang merupakan mantan napi tahanan Polda Makassar dengan kasus pembunuhan. "Kak, tolong jemput aku !" Aku sekarang di dermaga."
Dan di perasaan yang sama, Rindu yang sudah sampai dirumahnya, justru mengundang perhatian dari kedua orang tuanya sebab kedatangannya dirumah, kali ini dipenuhi dengan air mata yang tak berhenti.
Eden memilih untuk menyusul Rindu sampai dirumahnya. Tapi sayang, ia mendapat hambatan dari security nya. Eden tidak dibiarkan masuk kedalam rumah.
"Biarkan aku masuk, Pak ?" Dari luar pagar, Eden memohon agar dibiarkan masuk kedalam rumahnya Rindu.
"Maaf, Pak !" Pesan dari Rindu, jika kamu kesini, maka jangan biarkan masuk kedalam." Jawab security itu.
"Tapi kenapa, Pak ?" Biarkan aku masuk, Pak !" Aku akan memberikan uang pada Bapak, berapapun yang Bapak inginkan."
"Maaf, Pak !" Ini amanah !" Aku tidak ingin mencurangi amanah yang sudah dibebankan padaku."
__ADS_1
Dengan kegundahan hati, perasaan dan tidak adanya kelonggaran yang diberikan kepadanya untuk menemui Rindu, Eden pun pulang kerumahnya dengan segudang masalah yang tidak akan pernah habis bahkan di masalah yang sama, ia tidak berpikir bahwa ancamannya Ayu, itu akan benar-benar terjadi padanya.
"Mengapa aku harus terlibat hubungan percintaan dengan Ayu ?" Aku yang salah !" Sangat wajar jika Rindu begitu marahnya padaku. Aku bodoh !." Tak ada lagi waktu yang bisa dibalikin, Eden hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini. Kenyataannya, dia harus menyiapkan dirinya untuk menikahi Ayu.
Sesampainya dirumah, ia merasa kaget dengan banyaknya orang yang sudah menunggunya dirumahnya sendiri.
Baru saja pintu mobilnya di buka, seorang laki-laki yang agak tua sedikit darinya, mendatanginya dengan berkata "oh, jadi ini ?."
Karena heran, Eden pun menanyainya "kamu siapa ?" Dan bikin apa dirumahku ?. "Mana gondrong ?."
"Ayo masuk dulu kedalam rumahmu sendiri" Didalam, baru kita bicarakan !."
Eden mengikuti arahan laki-laki itu. Dia mulai curiga bahwa ini adalah ulahnya Ayu. "Sial !" Ternyata Ayu, memang benar-benar ingin, agar aku bertanggung jawab." Hatinya berbicara dalam keadaan khawatir.
Pas didalam rumah tepatnya diruangan tamu, Eden melihat Ayu dan mantan napi yang saat itu pernah dilihatnya dalam tahanan.
"Oh !" Ternyata kamu yang merusak adikku ?." Dengan amarahnya, Eden hampir saja dipukul oleh Kakaknya, Ayu. Untung saja, Ayu bisa menghentikannya.
"Aku, memang curiga padamu, sewaktu aku melihatmu dulu di penjara. "Seorang pengusaha Phinisi yang banyak terlibat kasus percintaan. " Dulu, kamu masuk penjara, kan kasus itu juga ? Apakah aku akan membawamu lagi ke penjara atau aku harus membunuhmu malam ini."
"Aku, ingin malam ini, kamu nikahi adikku sebelum pikiranku berubah. "Kamu lihat semua yang hadir disini, mereka semua termasuk aku sendiri akan menjadi saksi dari pernikahanmu bersama adikku malam ini. "Jangan bilang tidak mau !" Aku juga sudah membawa penghulu untuk menikahkan kalian. "Kalau sudah berbuat, harus bertanggung jawab, jangan main usir saja anaknya orang."
Tak ada yang bisa Eden lakukan selain mengikuti kehendak Kakaknya Ayu.
Menikah tanpa sepengetahuan Rindu adalah masalah besar.
That's it friend 🙏
#Dukung Penulis nya dengan
__ADS_1
#Vote, Komen, Like dan beri Masukan
#Sampai ketemu lagi