Perahu Apung

Perahu Apung
05


__ADS_3

...Diatas Perahu Phinisi di Tengah Laut...


...****************...


Kini aku bermain dan berlayar mengarungi lautan kehidupan. Di dasar sana banyak ikan-ikan lagi asyik bermain yang hampir sama denganku dan Rindu. Ikan-ikan itu ada yang setia pada rumahnya, ada yang pergi-pergi, migrasi untuk sebuah kehidupan.


Perahu Phinisi Bugis Makassar. Rindu yang membawa arah, membawa sejuk, membawa etintas, membawa etnis, membawa rasa lain yang mengenakan hati.


Kecurigaan ku padanya telah bersemai seperti ombak, burung, seperti siulan mesin yang berbunyi keras di dasar dalam kapal. Aku berdiri berjalan pelan dan berpegang pada tali-tali kapal yang ada di sisi-sisi atas kapal menuju depan kapal (tanduk) hanya sekedar ingin melihat bagaimana dasar depan kapal menembus ombak dilaut.


Rindu yang lihai, saat aku berdiri dari sampingnya. Dia menunjukkan bakatnya padaku. Sebenarnya bukan menunjukan tapi aku sendiri yang melihatnya sendiri kemudi Phinisi dia ambil alih.


Dalam degup jantung bersimpah kekagetan ku. Dia melebihi laki-laki lakalantas lautan yang pionir begitu lincah. Sekali lagi aku ingin bertanya namun dia pasti tidak akan menjawab ku lagi.


Sudah lumayan jauh. Hijau pulau masih adem dipandangi. Mereka para pelaut berlomba-lomba mengejar Tuna, Cakalang dengan perahu kayu biasa. Burung-burung kecil putih pemakan ikan sarden masih memimpin pasukan angkasanya. Para penjaring ikan panjang apung berlomba memasang jaring hanya karena makna otentik sebuah hidup.


Dia, Rindu masih didepan kemudi kapal. Sesekali memanggil ku untuk mendekat padanya. Dia ingin agar aku belajar membawa kapal Phinisi ini, belajar mengendalikan kemudi, belajar menjelajahi lautan luas. Mengapa bukan cinta yang kau ajari, aku memikirkannya.


...****************...


"Aku tidak mau !."


Itu yang aku katakan pada Rindu ketika aku menghampirinya.


"Apakah benar kamu tidak mau, Eden ?."


"Iya, aku tidak mau. Jika aku belajar memegang kemudi kapal Phinisi pasti aku akan belajar memperbaiki mesin, akan belajar menjadi ABK kapal atau koki kapal. Bisa sih asal kamu juga ikut mengajariku cara-cara memegang kemudi."

__ADS_1


"Kamu ini laki-laki Eden. Harus belajar membawa kapal apalagi kamu tinggal di pesisir laut. Agak heran ada laki-laki yang tidak tahu membawa kapal. Bukankah kamu sejak kecil sudah bermain perahu-perahu kertas, Eden ?."


"Kok Rindu tahunya dari mana ?."


"Tahu saja. Pesisir laut itu jiwanya adalah kapal. Kalau masih anak-anak pasti mainnya dilaut dan perahu kertas biasanya adalah mainannya. Di kota saja yang jauh dari laut. Anak-anak masih bisa juga bermain kapal-kapalan apalagi perahu kertas. Buktinya aku, aku sewaktu masih kecil saat hujan turun maka aku pergi mengambil buku untuk membikin perahu kertas. Masa kamu yang dekat dengan laut, nggak tahu megang kemudi."


"Rindu. Eden, sudah bilang jika mau ajarin megang kemudi ya Eden pasti akan belajar tapi kalau tidak mau untuk apa belajar pegang kemudi. Wuih mendingan kita pulang. Balikan arah kapal menuju kampung daripada aku yang disuruh pegang kemudi. Kalau kapalnya terbanting akibat salah pegang kemudi ha, gimana itu ?."


"Intinya belajar saja dulu. Hal-hal baru yang ada jika tidak dipelajari maka kamu tidak akan pernah tahu, Eden. Dunia ini kompleks dan universal bahkan hal terkecil pun yang dianggap bisa dilakukan kalau tidak dipelajari mustahil bisa kamu tahu. Masa kamu kalah sama aku yang perempuan ini. Empat kaki-laki yang ada dikapal ini, mereka sebelum nya juga tidak tahu. Mereka mau belajar sampai pada akhirnya kapal Phinisi ini bisa mereka aplikasikan dengan benar"


"Kamu kalau aku lihat orangnya memang tidak ingin pusing dengan hal-hal baru. Padahal hal itu baik untukmu. Kapal ini tidak akan mungkin terbalik dengan hanya belajar pegang kemudi, Eden. Gimana mau tidak ?."


...****************...


Dalam hatiku berbicara pada Rindu yang memaksaku untuk belajar memegang kemudi. Andainya aku bisa membahagiakanmu dengan hanya memegang kemudi itu dari tadi sudah aku lakukan. Aku khawatir terhadap diriku sendiri jangan sampai bisa merebut perhatianmu padaku sementara Ibuku sudah berpesan untuk menjaga keamanan hatiku padamu.


Sudah lumayan lama sejak kapal Phinisi miliknya berlayar meninggalkan pelabuhan dermaga. Kami sudah mengelilingi pulau-pulau tetangga bahkan telah melihat berbagai kenikmatan alam di daratan sana. Pohon-pohon kelapa yang tumbuh subur menjulang tinggi yang buahnya ada yang hijau, kuning, ada tua, belum lagi tumbuhan jambu-jambu mente yang rindang diatas lahan yang baru saja di babat. Gundul nan liar jalar disekitarnya.


"Asyik" katanya padaku.


"Eden, cobalah lihat keajaiban itu. Tuhan itu luar biasa, Eden. Perkara sederhana sehari-hari yang dilihat oleh manusia adalah perkara perkiraan ringan bila dipikir-pikir. Namun keajaiban itu sama sekali tidak bisa kita lakukan. Kita manusia kecil hanya mampu menafsirkan, memikirkan, merasai secukupnya keajaiban Nya tapi lupa bagaimana caranya untuk dirawat, ditata tanpa harus menggundulkan rerumputan hijau disana. Padahal semua itu berpengaruh pada kehidupan biologis alam dan manusia"


"Contohnya Phinisi ini. Berlayar sudah berjam-jam membawa kita sampai pada tengah lautan hitam. Struktur kerangkanya begitu kuat. Mesin didasar dalam kapal dari tadi marah, mengeluarkan bunyi getarannya, kapal ini masih bisa menahannya dengan sabar. Mestinya manusia harus seperti kapal Phinisi yang kita tumpangi ini. Sabar dalam mencari penghidupan tidak harus merusak lahan. Usahakanlah jadi manusia yang sederhana dan mapan."


"Rindu betul yang kamu jelaskan. Tapi mungkin akan lebih baik jika kita harus berlayar balik menuju kampung. Hari sudah semakin menua, mesin juga yang berbunyi itu sudah ingin di istirahatkan. Ibuku tadi mengatakan padaku untuk pulang lebih cepat, Rindu."


"Biarkan hari menua, Eden. Kamu tidak pernah tahu bahwa dibaliknya ada kelopak-kelopak mata waktu yang ingin berpamitan kepada kita. Paling indah saat menikmati senja sore yang tenggelam dari atas kapal. Selama ini baru beberapa kali aku melihat ufuk Barat betah diduduki oleh Sang Merah Merona berjingga dan berparas ganteng. Seperti kamu sedikit ada kelucuan dari wajahmu saat kamu tersenyum. Aku biasa imut-imut sendiri bila melihatmu tertawa."

__ADS_1


Mati kutu aku dibuatnya. Wanita kota ini benar-benar pandai mengambil hati. Mungkin juga karena kepandaiannya hingga enam orang di kapal ini selalu mengikutinya.


"Apa bedanya Rindu jika senja sore dilihat dari pesisir pantai dengan ditengah lautan ini ?."


"Beda dong, Eden. Aku tanya kamu apa bedanya kamu melihatku dari jauh dengan melihatku dari dekat ?."


Kes-kesan aku dibuatnya. Mana bisa aku menjawab pertanyaan itu. Jika aku mampu dengan jujur aku akan menjawabnya bahwa melihatmu dari jarak dekat adalah seperti melihat rembulan lima belas hari yang bulat, padat, berisi, yang cahaya nya menembus dasar bumi ke-tujuh. Apakah aku harus menjawab seperti itu saat hati masih ingin melihatmu duduk di depan kemudi yang sesekali menoleh ke arahku. Seakan aku adalah laki-laki yang selamanya akan memberimu sebuah masa depan yang jauh seperti senja sore yang kamu nantikan duduk di ufuk Barat itu.


...****************...


Aku tidak akan mampu menjawab pertanyaanmu Rindu. Aku tidak akan mampu. Biarkan aku berkaca pada rembulan agar aku selalu bisa melihat cahayanya ketika redup. Biarkan aku duduk disampingmu agar aku tahu hangatnya menjadi laki-laki yang bisa kamu ajak berbicara serius.


Lupakan keinginanku untuk memutar haluan kapal Phinisi menuju kampung. Biarkan kondisi ini berlama-lama denganmu mungkin dilain waktu, aku tidak akan pernah lagi bisa bersamamu ditengah lautan melihat burung-burung terbang, nelayan yang memancing, pulau-pulau tadi, dan kamu hanya akan berbicara pada orang-orang terdekatmu bahwa disebuah pulau kecil pesisir laut ada seorang laki-laki yang tidak bisa memegang kemudi. Sebaliknya aku juga akan bercerita bahwa seorang wanita asal Makassar pernah membawaku berlayar hanya untuk menikmati indahnya senja sore dari atas kapal di tengah lautan.


Ya.... Matahari mulai pamit kepada alam dan kepada kami. Dia ingin masuk ke alam lain karena disana cinta menantinya, disana ada kehidupan. Rindu mengalihkan kemudi ke Kapten kapal. Dia naik ke dek atas kapal Phinisi sambil menarik tanganku dengan eratnya.


"Cepat, Eden. Matahari sebentar lagi akan tenggelam. Aku tidak ingin kehilangan momen ini. Sampai diatas kapal, dia mengambil sebuah benda kecil dari tas yang biasa dia bawa. Sebuah iPhone megah lalu dengan sengaja ia menarikku lebih dekat lagi padannya. Rindu bersandar di dadaku sambil menghadap senja sore. Satu dua tiga, kamera iPhone telah berbunyi mengambil gambar kami berdua.


"Eden, jangan marah ya. Inilah yang ku maksud dengan tenggelamnya senja sore. Di dalam iPhone ini telah ada kamu dan ada aku. Sebagai kenangan bila nanti aku balik ke Makassar.


Mustahil aku percaya tapi itulah yang terjadi pada kami. Di saksikan senja sore, dia berbicara padaku "hatiku nyaman, mataku selalu ingin melihatmu."


Bu, aku telah lalai di atas Phinisi miliknya.... Rindu terlalu baik padaku, rapat dan sedikit tertutup. Dia telah meninggalkan kenangan abadi yang mungkin sulit aku lupakan.


Eden. Baru tahu dan paham bahwa ternyata wanita kota Makassar ini terlalu pandai dalam urusan menjaga keakraban.


Tenggelamnya senja sore di ufuk Barat juga beralihnya haluan arah kapal Phinisi miliknya menuju pelabuhan dermaga Karumpa.

__ADS_1


__ADS_2