
...Ekstrim Ah...
...***********...
Apakah ia jika Eden mengalami lagi gangguan ingatan yang menyebabkannya hingga tidak bisa mengingat yang baru saja terjadi. Malam itu setelah ia diantar kerumahnya, masih begitu pagi untuk sebuah aktifitas yang berlangsung. Walaupun larangan hubungan mereka sudah didengarnya sendiri, Rindu masih tetap menemui Eden setelah ia mendapat informasi dari gondrong bahwa Eden masih mengidap penyakit amnesia.
Kali ini bukan sebuah mobil mewah yang parkir didepan halaman luar rumahnya Eden melainkan sebuah motor ojek. Panggilan dari luar pagar terdengar begitu bising oleh gondrong yang sedang duduk sambil minum kopy. Sekitar jam enam lewat, dibalik pintu pagar Rindu berdiri tanpa membawa apa-apa selain Hp yang ia pegang.
Gondrong berdiri dan berjalan menuju pintu pagar rumah. Dilihatnya lah siapa yang menggendor-gendor pintu sepagi ini. Sebuah lubang kecil segi empat dibukanya. Rindu sedang menangis sambil menyuruh gondrong untuk membuka pintu pagar untuknya.
"Gondrong, buka pintunya. Bagaimana keadaan Pak Eden."
Pintu pun dibuka. Gondrong kemudian memberitahu Rindu bahwa Pak Eden dalam keadaan sehat. Hanya saja, ia tidak mengingat kejadian tadi malam yang terjadi padanya.
"Sebaiknya Mbak Rindu masuk kedalam untuk melihat keadaan sebenarnya. Tadi malam sewaktu diantar pulang, ia masih memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan. Tidak tahu pagi ini, semoga saja ada tanda yang lebih baik."
"Kasihan dia. Iya aku akan masuk kedalam." Rindu lalu berjalan menuju dalam rumah.
Sementara itu, dua asisten rumah yang standby di rumah Pak Eden memberikan keterangan pada Rindu. Baru saja Pak Eden selesai mandi dan ia ingin berangkat ke Bali. Kedengarannya serius mengingat Eden telah membuat jadwal berlayar sebelumnya. Tapi ia dalam keadaannya sekarang Eden akan berangkat ke Bali.
"Apa kata Pak Eden ?. Apakah dia tidak bercanda." Tanya Rindu pada asisten wanita yang saat ini masih menyiapkan makanan di meja makan.
"Iya Bu. Bapak bilang barusan mau ke Bali. Aku juga tidak tahu jam berapa Bapak akan berangkat. Bapak cuma bilang semua yang ada dirumah ini termasuk aku juga harus pergi ke Bali."
Rindu lalu bergegas menemui Eden yang baru saja selesai merapihkan tubuhnya dengan memakai baju warna putih polos. Ketika di kamar, Rindu melihat Eden tidak seperti orang Amnesia.
Eden lalu menyapa Rindu dengan sebuah tatapan menakjubkan hati.
"Mengapa menatapku begitu ?."
Gumam Eden sambil menggeleng kepalanya. Eden yang masih melipat pakaian yang mau ia bawa kemudian tidak meneruskan lipatannya. Eden beranjak dari tempatnya menghampiri Rindu yang masih berdiri didepan pintu kamarnya.
"Kamu kenapa hanya berdiri saja. Bukankah sepagi ini, kamu harus berada dirumahmu ?. Ada masalah apa lagi hingga sepagi ini kamu sudah datang kesini ?"_ Eden lalu menyuruh Rindu agar duduk sebentar diatas ranjang kamarnya.
"Ayo dong cerita padaku biar aku tahu angin apa yang membawamu kesini sepagi ini ?."
Rindu masih tetap menatap Eden yang berbicara padanya. Rindu seakan tidak percaya dengan informasi yang ia terima yang mengatakan bahwa Eden mengalami lagi Amnesia. Untuk memastikan kebenarannya, Rindu lalu bertanya langsung kepada Eden yang kembali melipat pakaiannya.
Sambil menarik nafas panjangnya, Rindu duduk dan membantu Eden melipat pakaiannya.
__ADS_1
"Bicaranya sudah ?." Tanya Rindu.
"Emang ada apa ?. Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan ?."
"Sangat penting sekali bahkan dari tadi malam sampai pagi ini, aku hanya memikirkan mu. Aku bahkan tidak tidur dari tadi malam. Aku kabur dari rumah setelah mendapat informasi bahwa kamu tidak mengingat lagi orang-orang sekitarmu. Makanya aku datang sepagi ini kerumahmu."
"Oh... berarti kedatanganmu sepagi ini hanya karena itu. Kamu tenang aja Rindu, aku baik-baik saja bahkan aku masih mengingat siapa kamu. Hal itu tidak usah lagi dibahas ya. Sebenarnya tadi malam saat di dalam mobil, aku hanya berpura-pura untuk tidak mengenal Mad, gondrong, dan Security itu. Urusan tadi malam dilupakan saja ya. Daeng mu benar, aku yang salah karena membuatmu menjagaku terlalu lama. Jika aku juga sebagai Daeng mu pastilah aku marah karena seorang laki-laki sudah membawamu terlalu lama dari yang dikehendaki keluargamu"_
"Jangan pikirkan itu ya. Untuk sementara waktu ini, aku akan pergi berlibur ke Bali. Tapi sebelum ke Bali, aku akan kekampung ku dulu bertemu kedua orang tuaku setelah itu baru aku akan ke Bali"_
"Sebaiknya kamu pulang sebelum kedua orang tuamu mencarimu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu."
"Haruskah kamu pergi, Eden ?. Bawalah aku untuk ikut bersamamu. Apakah kamu akan membiarkanku disini menjalani hari-hariku tanpa semangat."
"Jangan menangis !. Tidak ada hal yang paling bahagia saat kepergianku dengan melihatmu tetap tersenyum. Aku tidak pergi untuk meninggalkanmu tapi membawa cintamu untuk menemaniku ditengah laut."
Lelehan air mata yang tidak bisa lagi Rindu tahan tumpah dan membiarkan keadaan haru ini berada pada titik yang seharusnya. Entah apa yang terjadi didalam kamar. Hanya ada suara yang berlaku menjadi saksi damai dikamarnya Eden.
Suara lain-lain itu justru mengundang asisten rumah tangganya. Tadinya si Mbaknya ingin memanggil Pak Eden untuk sarapan pagi. Dari balik pintu si Mbaknya mendengar ******* suara yang berlebihan didalam kamarnya.
"Wah apa yang sedang terjadi dalam kamarnya Pak Eden. Tidak mungkin jika Pak Eden dan Ibu Rindu melakukan perbuatan itu. Ini hanya telingaku yang salah mendengar. Tapi bisa saja mereka melakukannya sebab cinta yang mereka bangun sudah begitu akrab."
Ayu lalu mengurungkan niatnya untuk memanggil Pak Eden sarapan pagi. Dengan membawa rasa penasaran itu ia menemui gondrong yang berada di halaman rumah untuk menceritakan yang baru saja ia dengar.
"Mbak kerja disini kan ?." Gondrong menyapa Ayu dengan pertanyaannya.
"Ia !."
"Ada apa ?. Ada pekerjaan untuk aku lakukan ?."
"Tidak ada !. Tadi aku habis dari kamarnya Bapak. Sebelum aku mengetuk pintu kamarnya Bapak, aku mendengar ada suara lain-lain dalam kamarnya bahkan sepertinya suara begituan tidak asing deh."
"Aw... kamu menguping ya. Aku tanya Bapak sebentar ya kalau kamu menguping. Ah masa iya ada suara begituan." Gondrong memastikannya lagi pada Ayu.
"Sumpah !. Benaran tadi aku dengar ada suara lain-lain dikamarnya Bapak. Kalau kamu tidak percaya padaku, kamu bisa kesana mendengarnya."Ayu menyuruh gondrong untuk menguping dibalik pintu kamarnya Eden.
Ketika gondrong dan Ayu hendak pergi menguping. Eden muncul dari balik pintu utama dan menyuruh mereka membeli obat penghangat luka.
Kenyataannya tidak seperti yang dipikirkan dan didengar Ayu.
__ADS_1
"Ada apa, Pak." Tanya gondrong.
"Tolong cepat ya. Rindu terkena panasnya setrika baju. Kejadiannya sangat cepat sampai aku tidak melihatnya bagaimana setrika listrik itu bisa menempel di betis kaki kirinya.
"Bapak tidak lupa ingatan kan ?." Sekali lagi gondrong mempertanyakan perintah atasannya itu.
"Kamu ini apa-apaan ?. Siapa yang lupa ingatan ?."
"Terus tadi malam Bapak lupa ?."
"Gondrong, nanti aku jelaskan ya. Kamu secepatnya pergi cari obat dulu ya. Kasihan Rindu didalam menahan sakitnya."
"Siap Pak !."
"Ayu, kamu tolong lanjutkan lipatan pakaianku dikamar ya."
"Iya Pak. Di kamar ya ?."
"Iya, dikamar. Ayok ikut aku ke kamar."
"Pak, berarti suara yang tadi aku dengar dari didalam kamar itu suaranya Ibu Rindu yang kesakitan ?."
"Kamu dengarkah ?."
"Iya Pak. Tadi aku mau panggil Bapak untuk sarapan pagi tapi suara yang aku dengar dari dalam kamar membuatku tidak jadi memanggil Bapak."
"Iya, itu suaranya Rindu yang mengerak kesakitan."
Kecurigaan Ayu tidak beralasan apalagi ia melihat keadaan Rindu memang menahan kesakitan karena bekas setrika itu.
"Pak, sebaiknya Rindu di bawa kerumah sakit atau setidaknya panggil Bidan kesini untuk mengobatinya."
"Rindu tidak mau. Kalau sudah lipat pakaiannya, biarkan kami berdua disini ya. Oya Ayu sekalian tolong bawakan makanan kesini ya."
"Baik Pak."
"Eden, sentuh betisku dengan air. Panas Eden, hangatkan Eden." Rindu mencoba menyuruh Eden untuk menyentuh bekas setrika di kakiknya.
"Iya, tunggu ya !. Gondrong sebentar lagi kembali membawa obatnya." Jawab Eden.
__ADS_1
"Tapi betisku ingin disentuh."
Ini bukan rencana cinta untuk menguji Eden. Selanjutnya entah apa yang terjadi. Hanya mereka berdua yang tahu.