Perahu Apung

Perahu Apung
63


__ADS_3

...Being Lied To...


...*************...


Seorang anak desa yang sukses di kota Makassar adalah kebanggaan tersendiri tapi tidak pada urusan hati.


"Apakah aku tidak pantas mencintai wanita pilihanku sendiri ?. Setiap perjuangan yang aku lakukan untuk mendapatkan cintaku justru selalu penderitaan yang aku dapatkan. Pernikahan yang sudah ditetapkan oleh keluarga nya Rindu tapi karena kebodohan ku, batal dengan meninggalkan rasa sakit ini untukku."


Emosi yang dari tadi bertengger di ruang dadanya, ia luapkan di rumahnya. Seisi rumah yang ada di ruangan tamu, roboh tanpa sisa.


Gondrong yang ada disitu mencoba mendekati Eden dengan harapan agar apa yang disampaikan nya diterimanya dan bisa menerima kenyataan ini.


"Pak, aku minta maaf sebelumnya pada Bapak ! Tapi kalau boleh, sebaiknya Bapak lupakan Rindu. Aku ikut prihatin dengan yang Bapak alami. Tapi, dengan membanting barang-barang ini, Bapak tidak akan merasa tenang atau bahkan Rindu akan kembali pada Bapak. Perasaan yang tersakiti, sebenarnya masih bermetamorfosis pada prinsip perkembangan nya secara unik."


"Diam !" Aku tidak ingin mendengar apa-apa dari orang lain. Aku hanya pengen, Rindu tidak memutuskan hubungan ini." Dengan tatapan mata yang tidak menentu itu, tangannya meraih sebuah foto yang ukuran 10Rx10R yang dipajang di dinding atas televisi. "Foto ini harus hancur, aku tidak mau melihatnya."


"Bapak mau apakan ?" Tanya Gondrong. "Jangan Pak ! Kasihan foto itu jika Bapak mau melemparkannya lagi."


"Apa pedulinya padaku ?. Aku sudah berusaha merawat hubungan antara kami, tapi dia memilih untuk mempercayai yang dilihatnya. Foto ini adalah kenangan di atas kapalnya, waktu itu, dia bersandar di dadaku ketika matahari mau tenggelam. Katanya, akan dia abadikan, aku juga mengatakan demikian padanya. Sekarang, tak ada gunanya foto ini berada dirumahku, aku akan selalu bertambah sakit jika melihat foto ini." Jawabnya pada gondrong sesaat sudah mengambil foto yang dipajang itu. Bahkan televisi yang ada di bawah foto itu, juga menjadi bagian cerita yang dihancurkan nya.


"Pak, sebaiknya masalah ini disikapi dengan tenang. Jika Bapak marah-marah, orang sekitaran rumah Bapak, malam ini akan semakin bertanya-tanya dan mereka akan menganggap Bapak sebagai seorang laki-laki yang tidak punya harga diri. Asal Bapak tidak marah, dan jika mau, malam ini, aku akan membawa Bapak kesebuah tempat. Di tempat itu, malam ini, Bapak bisa melupakan masalah ini hanya dalam sekejap."


Tanpa berpikir panjang, Eden pun diam sejenak tapi nafasnya naik turun. Ia lalu melemparkan foto yang masih dipegangnya begitu saja dengan satu teriakan yang begitu keras.


"S i a a a a l !."


Ia lalu duduk menenangkan pikirannya, memegang kepalanya, menggaruk kepalanya walau tak gatal. Sedikit agak mengangkat mukanya, Eden bertanya pada gondrong "tempat apa itu ? Dan dimana ?."

__ADS_1


Sebenarnya gondrong tak berniat membawa Eden ketempat yang ia maksudkan itu tapi karena melihat kegaduhan yang dibuatnya tak berpikir itu, gondrong menawarkan padanya.


"Cepat ! Jawab. Tempat apa itu ?. Tak usah dijawab jika tak ingin memberitahuku. ayok kita ketempat itu !." Perintahnya sambil mengambil kunci mobilnya.


Dalam hati yang tak bersahaja dan tak berkenan itu, gondrong tak begitu respek dengan tindakannya itu. Gondrong nampak berpikir dengan serius bahwa apa yang ia arahkan pada Eden, jangan sampai menuai kemarahan nya lagi. Sebab tempat yang di maksud itu tidak lain adalah tempat wanita malam.


Mereka berdua kini tengah berada di dalam mobil. Jam telah menunjukkan pukul 03:02, itu artinya sebentar lagi akan memasuki waktu sholat shubuh.


Sejak awal, mobilnya keluar dari pengarangan rumahnya. Hanya ada bahasa dan kalimat inklusif yang tak wajar Eden keluarkan dari mulutnya. Ia marah-marah tak berhenti, lidahnya tak capek, ujung-ujungnya Eden akan berkata "Rindu, jangan putuskan hubungan kita."


"Kasihan Eden !" Suara hati itu berdetak seirama pendengaran yang gondrong dengar dari setiap kalimat pahit dari Eden.


"Gimana ini ! Jika aku bawa Eden ketempat itu, mungkin aku tak akan bisa mempertanggung jawabkan tindakan ku ini." Gumamnya sendiri sambil mencari alternatif terbaik untuk menenangkan gejolak yang ada dalam dirinya Eden.


Gondrong pun kemudian mengendurkan niatnya demi masa depan Eden. Ia berpura-pura mengeluh kesakitan perut untuk mengalihkan emosi yang masih meluap dalam dirinya Eden.


"Kamu ini, gimana sih ? Katamu, kita ingin pergi kesebuah tempat yang kamu bilang. Kalau mendadak sakit perutmu, gimana solusinya ?. Jangan bercanda."


"Serius, Pak. Perutku mendadak sakit. Mungkin pengaruh belum pernah makan ini. Kayak mual-mual tapi aku rasa juga kembung, ini Pak."


"Gondrong, gondrong..., kamu ada-ada saja. Mengapa tidak dari rumah, perutmu dirasakan sakit. Harus dijalan begini baru dirasakan. Jangan-jangan, kamu hanya pura-pura sakit."


"Tidak, Pak !" Serius, Pak. "Perutku tiba-tiba sakit ini. Aduh... Pak, sakit sekali ini perutku. Masa yang beginian pura-pura."


"Hii..., kamu ini ada-ada saja. Ia, kita singgah di Apotik dulu."


"Tidak usah ke Apotik, Pak. Aku ingin pulang saja kerumah ku. Sudah dua hari ini, aku belum pernah pulang kerumah. Istri dan anakku menungguku dari kemarin. Sebenarnya dari kemarin, aku mau pulang tapi nggak ada kesempatan mau izin pulang."

__ADS_1


"Bilang saja mau pulang cuma memang tidak berani izin makanya kamu bilang ingin ketempat itu, kan ?. Aku akan antarkan kamu pulang tapi beritahu aku, tempat yang kamu maksud itu, dimana alamatnya ?."


"Ini saatnya." Sahut gondrong dalam hatinya. "Pak, boleh aku jujur ! Sebenarnya, aku berbohong pada Bapak mau ketempat itu. Aku hanya tidak ingin melihat Bapak larut dalam kesedihan dengan membanting barang-barang dalam rumahnya Bapak sendiri. Memang sih ! Bukan barang milikku, tapi dengan membanting semua milik Bapak, tidak akan bisa memperbaiki masalah yang sudah terjadi. Sebagai orang baru saja mengikuti Bapak, cukup prihatin dengan yang Bapak alami. Aku, pengennya Bapak itu lebih percaya diri bahwa diluar sana masih terlalu banyak wanita yang bisa Bapak dapatkan. Rindu adalah salah satu wanita yang cantik yang tidak ditakdirkan hidup dengan Bapak."_


"Maafkan aku, Pak ! Karena sudah berbohong pada Bapak. Cuma itu niatku, aku tidak ingin melihat Bapak larut dengan masalah ini. Sejatinya cinta itu, Pak, memberi kekuatan bukan melemahkan. Cinta itu memberi senyum bukan emosi, walau bermasalah, cinta tidak akan pernah hilang dari hatinya Bapak. Contohnya, diluar sana, ada banyak orang yang ditinggalkan baik dalam keadaan sudah menikah atau masih dalam keadaan pacaran. Saat mereka berpisah, mereka bangkit kembali hanya untuk menikmati kehidupan esok hari. Santai dan tidak terlalu perduli dengan keputusan cinta_. Bapak, seharusnya demikian, apalagi Bapak adalah orang yang mapan. Sangat gampang bagi Bapak untuk mendapatkan seorang wanita apalagi mendapatkan cinta dari wanita yang mencintai tanpa melihat siapa Bapak."


Sangat berpengaruh. Untaian nasehat yang gondrong masukan kedalam hatinya Eden, mampu mengalihkan situasi yang tak berpihak padanya. Penyesalan mulai nampak di wajahnya, Eden sadar bahwa yang dikatakan oleh gondrong merupakan suatu ketetapan dalam hubungan.


"Aku harus bangkit, bertahan untuk menata kehidupan esok. Gondrong, terimakasih banyak ya ! kamu sudah membuka dan menunjukan ku jalan. Kamu benar, diluar sana, masih banyak wanita yang menungguku, aku tak harus tersakiti dengan keputusan Rindu."


"Nah, begitu dong, Pak !" Aku merasa bersyukur mendengar nya, Pak. Alhamdulillah ! Bapak bisa mengendalikan emosi itu."


"Jadi jujur ya, sakit perutmu tadi itu, juga bohong toh ?."


"Hehe..., iya, Pak."


"Ya, udah !" Aku antar kamu pulang ya tapi karena sudah mau masuk waktu sholat shubuh, kita singgah dulu di Mesjid terdekat. Setelah itu, aku akan antar kamu pulang."


Apapun usahanya Eden, hanya dia sendiri yang bisa memahami keadaan hatinya. Mungkin gondrong berhasil mengalahkan emosi dalam dirinya tapi tidak pada pikirannya.


Wait for the sequel


Ayok dukung Penulisnya dengan cara;


#Vote, like, dan komen


Matur Nuwun🙏

__ADS_1


__ADS_2