Perahu Apung

Perahu Apung
69


__ADS_3

...Prahara...


...********...


Sudah hampir satu jam kapal Phinisi membawa Eden meninggalkan Makassar. Itu artinya, Eden sudah tak melihat wajahnya Rindu sejak kapal berlayar menuju tengah laut.


Murung, sedih, dan tak bahagia adalah suatu bentuk sikap yang Eden tampilkan pada Resky. Kapal Phinisi yang mestinya di nakhodain olehnya, ia percayakan ke gondrong. Eden, tak mod, ia hanya pergi ke kamarnya untuk membayang-bayangkan, apa artinya hubungan yang ia perjuangkan jika seluruh kekuatan batinnya tak mampu menangkis terkikisnya sebagian jiwanya.


Eden menyendiri dalam kamar Pribadinya yang dulu pernah menjadi tempat skandal. Skandal yang tak benar itulah yang pernah membawanya hingga masuk kedalam penjara untuk beberapa hari.


Resky yang hanya ingin menghiburnya, lalu mengetuk pintu kamarnya setelah ditinggal di atas kapal. Karena tidak dikunci, Resky masuk dengan sigap, ia melihat Eden sedang tiduran tanpa menutup matanya.


Ada perasaan yang tak enak di hatinya Resky ketika melihat Eden tiduran memikirkan sandiwara nasib cinta yang dialaminya. Ia ingin mendekatinya, khawatir ! Tidak mendekatinya juga, khawatir !. Sebab cintanya pada Eden hingga Resky memberanikan diri untuk mendekatinya.


Dalam untaian harapan yang selalu Resky pikirkan tersimpan sebuah makna abadi yang menjinakkan kehampaan dalam diri setiap hati, hati yang ingin di satukan dengan hatinya Eden. Apakah bisa ? Hanya usahalah yang bisa menjawabnya.


Hampir malam, sedikit lagi matahari akan meninggalkan langit-langit cinta. Setiap cahayanya akan ikut masuk ke alam lain, disanalah kehidupan sesungguhnya didapatkan seperti kehidupan yang Resky impikan.


Dengan impian yang tak hilang, membayang di kepala Resky, berputar sedemikian indah. Saat ini, Resky hanya melihat bahwa ada seorang laki-laki yang ia cintai sedang membutuhkan usapan jemari halus di setiap sensasi, kecil areanya tapi jauh lebih subur untuk perjalanan musim panas ditengah laut.


"Mendekat atau tidak ?!." Tanda degup kencang pertanyaan dalam dadanya bersuara detakan jantung yang menyuruhnya untuk mendekatinya. "Biarkan dirimu ada disampingnya." Karena suara itu berulang kali menyuruhnya. Akhirnya, ia putuskan untuk mendekatinya dengan sejuta impian kecil yang hidup dengannya.


Kakinya mulai melangkah kearahnya Eden. Pintu sudah ditutup dengan rapat. Sambil duduk disampingnya, Resky mengucurkan suara hatinya kembali.


"Aku hanya ingin menemanimu, dengan memberimu senyum mungkin Eden akan terasa baikkan. Dia tidak harus memikirkan yang terjadi di atas dermaga." Sahutnya sendiri sembari membiarkan dirinya mendekati Eden.


Kali ini, Resky benar-benar menegurnya dengan ucapan yang belum sempat Eden dengar dari Rindu.


"Wahai lelaki idaman, apa yang membuatmu larut sedemikian surutnya wajahmu hingga nampak pun matahari tenggelam, engkau tidak ingin melihatnya. Hadapkan lah wajahmu padaku, mungkin dengan menghadapkannya padaku, engkau akan melihat ada seorang wanita yang rela melakukan apapun untukmu."


Namun, kecil sekali harapan yang bisa Eden perlihatkan pada Resky. Walau dia tahu, Resky mencintainya, dia tetap tidak bisa menduakan Rindu apalagi menempatkan nama wanita lain dalam hatinya.

__ADS_1


Resky, tak berputus asa dengan sikap acuhnya Eden padanya. Resky tetap berusaha untuk melihat senyum yang masih tersembunyi dibalik wajahnya.


Hingga sedikit colekan darinya membuka kegamangan yang diam diantara lesuh nya gairah hidup, Eden mulai berbalik arah menghadap pada Resky yang duduk disampingnya.


"Apalah aku Resky ?." Tegurnya pada Resky dengan wajah yang tak semangat.


Perbincangan hangat, hangatnya pun mulai agak nyambung dalam upaya meluluhkan hati, hati keras mereka.


"Eden, mengapa justru bertanya itu ? Semestinya, akulah yang harus bertanya itu padamu. Apalah aku Eden ? Yang hanya kau panggil menemanimu pulang kampung namun tak kau colek dengan upaya menyambung sisi manusia kita. Aku paham, sejuta cinta yang mungkin mencintaimu tapi ada seribu cinta yang tak akan tergantikan. Rindu adalah wanita yang beruntung karena mendapatkan dan memperoleh posisi yang paling tinggi dalam hatimu."_


"Apakah sebesar itukah cintamu pada Rindu hingga wanita yang respeknya lebih besar darinya yang memperhatikanmu, yang menyimpan namamu dalam dadanya, kau tak mampu melihatnya ?."


"Apakah masih ada cinta yang lain yang begitu berarti, Resky ?."


Apakah Eden berpura-pura atau memang ia tak tau atau telah lupa ucapan manis yang pernah Resky ucapkan padanya di hari pertunangan dengan Anggun ?.


Eden tak lupa !? Dia hanya sedikit bertanya untuk memastikan bahwa Resky memang masih mencintainya.


Perasaan itu bukan hanya ingin di ucapkan saja tapi lebih dari itu. Resky yang sejatinya menaruh harapan besar pada Eden sekaan mendapatkan semacam cobaan yang menginginkan nya untuk memperlihatkan pada Eden bahwa inilah cintaku yang berbeda dengan Rindu.


"Eden, jika kamu ingin tau seberapa besar cintaku padamu maka ulurkan tanganmu padaku. Aku ingin menunjukkan mu bagaimana cintaku berbicara padamu, aku ingin memperlihatkan padamu bagaimana kasihku berkata sekujur ragaku adalah milikmu."


Mulailah detakan kedua jantung mereka bertemu disebuah persimpangan lorong yang gelap tak bercahaya, hanya sebersih ungkapan kata yang menoreh makna tanpa jeda.


"Untuk apa, Resky ? Aku takut menyentuh bagian lain yang begitu kamu jaga." Ketika Eden mendengarkan permintaan kecil berharga itu, Eden bangun dan duduk ditempat yang sama, sejajar dengan Resky, mereka paham bahwa muara hati tengah mengalirkan rasa yang mana dirasakan oleh setiap hati.


"Jangan katakan tidak, Eden. Aku ingin menunjukkan sejatinya cintaku padamu. Bukan hanya Rindu yang bergetar hatinya ketika mencintaimu tapi akupun demikian, makanya saat aku melihatmu di dermaga begitu hangatnya kamu memeluk Rindu, aku langsung menuju kapal, aku berdiam di kamar karena tidak ingin melihat kemesraan itu. Hatiku sakit ! Sesakit sesaknya perasaanku padamu. Maka dari itu, ulurkan tanganmu padaku, seperti kataku ingin menunjukan mu apa itu cinta."


Degup, degap, kini nampak bercuaca di wajahnya Eden. Bukan tidak mau atau menolak tapi mikir-mikir, selama ini, baru kali ini, Eden tersengat sebuah ilusi yang mampu membawanya pada kearifan hayati arti dari sebuah perasaan.


Pelan, tangannya diulurkan pada Resky. Lalu Resky mengambil tangannya Eden, telapak tangan yang agak gemetaran itu diangkatnya dengan penuh karisma yang diletakan di dadanya hingga menyentuh kedua saudara kembar yang ada di bukit itu.

__ADS_1


"Itulah cinta, Eden !."


Karena agak tak begitu yakin bahwa itulah cinta, Eden demikian terlihat tegang.


"Haaa...! Apa ? Cinta kamu bilang Resky ?."


"Iya, cinta untukmu, Eden !. Cinta yang telah lama aku jaga hanya untukmu seorang. Sejak hari itu, saat kamu mengatakan padaku bahwa kita akan menikah, aku menjaga dan menyimpan semuanya hanya untukmu seorang. Ungkapan yang juga saat itu pernah aku katakan padamu di hari pertunanganmu adalah secercah impian yang selalu bersemi dalam diriku. Sejak saat itu, aku merapihkan jiwaku, badanku, semata-mata untukmu, Eden. Lakukanlah malam ini, diatas Phinisimu, diatas lautan luas yang mengombak-ambingkan kapalmu juga akan mengombakan tubuhku."


Tentu saja sebagai laki-laki yang membutuhkan hal indah itu, Eden ingin melakukannya namun dia mengingat bahwa ini adalah bagian dilematis cinta yang tak harus terjadi.


"Resky, kita sama-sama membutuhkan nya tapi gayung belum sampai penuh, kita mungkin bisa melakukannya jika jodoh telah memilih jiwa kita untuk bersatu. Bukan aku tak mau, aku sudah merasakan begitu hebatnya degupan jantungmu yang menyebut namaku, aku ingin degupan itu selamanya menyebut namaku tanpa harus menodai kesucian cintamu padaku. Percayalah padaku Resky, jika kita sampai di kampungku, orang tuaku pasti akan memilihmu sebagai pendamping hidupku."


"Eden, maafkan aku ! Jika terkesan melampaui kehendak jodoh, aku hanya ingin agar kita bisa hidup selamanya. Aku rela Eden walau dikemudian hari, kamu akan menikah dengan Rindu. Asal aku sudah menjadi istrimu yang sah."


Pelukan santai pun merapat ketubuh nya Resky sambil menghapus sedikit tetesan air mata diwajahnya.


"Aku nyaman Ky, bila memelukmu."


"Maka peluklah aku sekehendakmu, Eden."


Sampai disini dulu ya...!


Tunggu selanjutnya...


Ayo dukung Penulisnya dengan cara


#Vote, Like, Komen, dan beri Hadiah


agar penulisnya semangat up terus.


Matur Nuwun🙏

__ADS_1


__ADS_2