Perahu Apung

Perahu Apung
52


__ADS_3

...Puncak...


...*******...


Enak aja main pulang. Aku belum selesai bicara padamu. Eden kena mental lagi. Dia harus menanggung teguran dari sang Gub, Ayah dari Rindu.


"Omong-omong kamu habis darimana ? kamu membawa anakku terlalu lama. Emangnya anakku ini Phinisi milikmu yang seenaknya bisa kamu bawa pergi berlayar. Andai bukan karena Rindu yang selalu memberitahuku bahwa kamu seorang yang dia cintai. Aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu."


Eden hanya mampu terdiam. Ia mungkin emosi namun apakah ia memang perlu harus membalas amarahnya Pak Gub padanya.


Rindu yang sudah beranjak meninggalkan Eden diruangan tamu hanya bisa menahan air matanya. Ia tidak rela jika Daeng nya begitu marahnya pada Eden. Mengingat semua yang telah terlewatkan diantara mereka selama Eden mengalami Amnesia, bukan seutuhnya menjadi kesalahannya.


Dia belum benar-benar masuk kedalam kamarnya. Dia menguping dibalik dinding dekat pintu kamarnya. Terdengar Daeng nya masih menasehati kekasihnya itu.


"Kamu jika memang serius mencintai anakku semestinya, kamu menjaga dia. Bukan membiarkannya bermalam dirumahmu. Sudah berapa hari Rindu menemanimu ?. Begitu beruntungnya dirimu dirawat gratis oleh anakku. Kami saja orang tuanya jika kurang enak badan, kami tidak membiarkannya merawat kami, dia melakukannya dengan semaunya. Kamu siapa ? berani sekali membawanya."


Eden masih menundukkan wajahnya. Ia belum bercakap-cakap apa-apa. Ia masih mendengarkan Ayahnya Rindu berbicara memuntahkan amarahnya padanya.


"Sebagai Ayahnya, aku sangat kecewa padamu. Kamu tidak bisa menjaganya dengan baik. Kamu memanfaatkan penyakitmu agar bisa bersama dengannya. Katanya pengusaha kapal Phinisi tapi kelakuanmu bukan sebagai pengusaha, sebutan lebih tepat untukmu adalah pengemis, kamu mengemis kan untuk mendapatkan cinta anakku. Kamu hanya memanfaatkannya demi popularitasmu kan, kamu ingin menjadi menantu orang nomor satu di Sulawesi Selatan ini kan dengan begitu, orang-orang bukan hanya mengenalmu sebagai pengusaha kapal Phinisi melainkan sebagai menantuku."


Tak disangka, Ayahnya Rindu menunjukkan taringnya. Ternyata betul, ujian yang dulu sempat diberikan ke Eden bukan sebagai jalan mempererat hubungan mereka tapi sebagai fase awal larangan hubungan mereka.

__ADS_1


Tak disangka, Eden yang dari tadi hanya mampu menerima amarah itu. Kini dia membuka mulutnya bahkan gondrong, Mad, dan Security yang ada di luar rumah berlomba masuk kedalam rumah.


"Oh, Bapak menilaiku serendah ini. Siapa yang ingin menaikan popularitasnya. Cintaku pada anak Bapak bukan seperti apa yang Bapak lihat dan Bapak tau. Dari tadi ini, aku hanya diam mendengar kemarahan Bapak. Aku mau bicara apa karena semua yang mau aku bicarakan, Bapak sudah merangkumnya. Bahkan aku tidak pernah meminta Rindu untuk menjagaku, dia yang mau, dia yang tidak tega melihatku menderita"_


"Memang sejak awal aku datang ke Makassar dan tinggal dirumah Bapak, Bapak sudah tidak menyukaiku. Bapak memberiku ujian yang aneh-aneh, waktu aku berpikir mungkin karena aku bukan orang kota, mungkin aku baru di Makassar, mungkin karena aku mencintai anak Bapak hingga mengujiku sedemikian rupa. Apakah pernah ada laki-laki yang mencintai Rindu yang sepertiku yang Bapak uji dengan hal-hal yang tidak masuk akal ?."


"Kamu memang tidak pantas menjadi menantuku. Baru kali ini ada seorang pemuda yang tidak jelas asal usulnya berani melawanku, berani berbicara demikian padaku. Untung, aku belum menikahkan mu dengan Rindu, kalau tidak, aku akan sangat bersalah pada diriku. Kamu tau tatakrama atau tidak ?."


"Pak, jangan tanya aku soal tatakrama, aku tidak seperti Bapak yang punya pendidikan bahkan begitu dihargai disini. Aku hanyalah orang biasa yang tidak sengaja bisa sukses di Makassar ini. Dari tadi, aku hanya diam tapi Bapak juga terlalu menilaiku bahkan dimata Bapak, aku ini masih sama beberapa tahun yang lalu, hanyalah laki-laki desa yang tetap tidak memiliki apa-apa."


"Kurang ajar, aku akan memenjarakanmu atas dasar kamu telah membawa anakku tanpa izin dariku."


"Silahkan saja jika itu keinginan Bapak tapi aku tidak yakin Bapak akan memenjarakanku. Bagaimana pun usaha Bapak untuk memenjarakanku, Rindu pasti tidak akan pernah menyetujui langkah Bapak itu. Dia pasti akan membelaku dengan sekuat tenaga dan pikirannya. Bapak memang adalah orang tuanya, orang yang membesarkan Rindu tapi Bapak tidak pernah tau, siapa yang dia cintai."


"Kalian lihat apa ?." Emosi Ayahnya Rindu dilemparkan kepada Security, Mad, dan gondrong.


"Tidak Pak !."


"Kalian dengar, si bajingan ini begitu berani melawanku. Siapa yang mau menjadi saksi kalau dia bersalah atas kemarahanku, aku ingin dia dipenjara. Kalau ada yang mau menjadi saksi, seret orang ini kedalam penjara."


Tidak tanggung-tanggung. Security, Mad, yang memang adalah anggota kepolisian itu langsung menyeret Eden.

__ADS_1


"Kamu ini, begitu berani membuat onar disini. Dari tadi memang, sejak masih didalam mobil dan seharian ini, aku tidak suka padamu. Kamu terlalu banyak maunya, kamu membuat orang semua pusing. Aku sudah bilang bahwa dijalan jangan singgah-singgah kalau mau pulang kerumah, kamu malah mau melaporkanku ke Ayahnya Rindu. Sekarang sini kamu !." Mad langsung marah saat Pak Gub memerintahkan mereka untuk menyeret Eden dari hadapannya bahkan telapak tangan kanannya Mad sudah melayang satu kali menimpali wajahnya Eden.


Eden bahkan di tendang lagi oleh Security. Untung saja, tendangan keduanya ditahan oleh gondrong.


Keributan tidak terhindarkan. Bukan hanya Rindu yang dari tadi ia tidak tidur. Tapi Ibunya pun bangun ketika mendengar suara teriakan dalam rumahnya.


"Kalian jangan pernah menyentuh Pak Eden ?. Sekali lagi kalian berani memukulnya, aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan melaporkan kasus kekerasan ini tapi aku akan membakar seisi rumah ini. Aku tidak takut kalau aku dipenjara, kalian pasti kenal dengan mantan ketua preman di pasar senggol. Sudah aku ini orangnya."


"Kamu siapa berani membelanya ?. Apa kamu tidak tau kalau aku adalah orang nomor satu disini ?. Hanya dalam satu perintah bukan hanya dia yang dipenjara tapi juga kamu."


"Pak, setidaknya aku sudah pernah merasakan hidup dalam penjara. Seharusnya masalah kecil seperti ini, Bapak selesaikan baik-baik bukan main hakim sendiri. Aku tau kalau Bapak adalah Pejabat disini, orang yang sangat dihargai namun bukan berarti, Bapak bisa seenaknya berbuat sekehendak Bapak"_


"Aku hanya tidak ingin Pak Eden diperlukan sekejam ini. Dia sudah bertanggung jawab dengan datang kerumahnya Bapak. Tapi Bapak malah memarahinya, Bapak terlalu emosi dan tidak bisa mengendalikan diri. Sampai kapan Bapak akan melihat hubungan Pak Eden dan anak Bapak berjalan tanpa restu sementara mereka bukan hanya saling mencintai. Mereka telah berjanji sehidup semati, aku dan langit yang menjadi saksinya."


"Apa maksudmu ?. Kamu ingin aku menghentikan langkahku untuk memenjarakannya. Bawa dia keluar dari rumahku !." Sekali lagi perintah itu nyaring ditelinga nya Mad dan Security yang masih disitu berdiri memegangi Eden.


Rindu dan Ibunya datang. Mereka menyaksikan kejadian dimalam ini namun yang bisa mereka lakukan. Rindu hanya bisa memohon kepada Daeng nya sementara Ibunya hanya bisa menenangkan amarah suaminya.


"Daeng, aku mohon jangan penjarakan dia. Aku yang salah Daeng !."


"Kamu masuk kedalam !. Jangan ikut campur, dia begitu berani melawanku. Apakah laki-laki seperti ini yang ingin kamu jadikan suamimu ?. Bahkan etika pun, dia tidak memilikinya.

__ADS_1


Apakah ini akhir dari hubungan mereka. Rindu menangis sementara gondrong akan menjadi saksi pembela untuk Eden.


Pilu...


__ADS_2